
Vincent berkeliling area tanah villa yang luas setelah mengantarkan Claude dan Catalina ke air terjun. Ia memutar melewati jalan-jalan seputaran Villa. Rencana awalnya hanya berputar dan berkeliling tanpa perlu kembali ke villa. Karena waktu tempuh dari air terjun ke villa butuh waktu 45 menit, jadi ia hanya akan menghabiskan energi jika harus bolak balik lagi ke villa, sedangkan Claude minta di jemput sekitar dua jam lagi.
Di area hutan yang dilalui Vincent, ia melihat jejak roda di tanah. Jejak itu sepertinya baru. Vincent menatap ke dalam hutan tapi tidak melihat apapun.
Vincent memutuskan akan turun dan memeriksa. Ia menarik pistol yang terselip di pinggangnya. Ia membawa benda itu kemanapun sejak percobaan penculikan Yoana.
Perlahan Vincent turun dari mobil dan bergerak mengikuti jejak roda di tanah ke dalam hutan. Beberapa saat kemudian ia melihat sebuah mobil offroad yang seperti sengaja disembunyikan di rerumpunan tanaman perdu.
Vincent mengernyit, sepi, tidak ada orang yang terlihat. Ia menatap dan menyadari tempat ini tidak terlalu jauh lagi dari Villa.
Mengikuti insting, Vincent segera berlari kembali ke mobilnya. Ia memacu mobil secepat yang ia bisa kembali ke arah Villa.
Ban mobil yang dikendarai Vincent berdecit di halaman villa ketika laki-laki itu tiba. Yoana yang berada di ruang tamu segera bangkit dan berjalan keluar, ingin melihat apakah Vincent yang datang.
Yoana keluar ke teras villa, ia tersenyum pada dua pengawal yang berjaga di depan.
"Tidak Yoan! Masuklah kembali!" Vincent berteriak dan berlari kencang.
Yoana mengerutkan kening, ia bergerak ke arah Vincent bertepatan dengan sebuah peluru yang menderu ke arah tempatnya berdiri. Peluru itu tidak mengenai Yoana dan melesak di bahu pengawal yang berdiri sejajar dengan tempat Yoana berdiri sebelum ia bergerak ke arah Vincent. Vincent melompat dan mereka terhempas ke teras. Seluruh tubuh Yoana tertindih oleh tubuh Vincent. Napasnya terasa sesak dan punggungnya sakit. Namun Vincent belum selesai, ia bergerak cepat sambil berteriak ke arah pengawal mereka.
__ADS_1
"Cepat! Masuk!" Vincent menyeret Yoana dengan tetap menutupi tubuh wanita itu dengan tubuhnya. Desingan peluru kembali terdengar, kali ini mengenai bahu belakang Vincent.
Namun mereka akhirnya dapat masuk ke dalam Villa. Rentetan suara peluru masih menderu di luar Villa. Menghancurkan kaca kaca mobil dan juga menembus jendela-jendela Villa.
Masih dalam posisi tiarap di lantai, Vincent memandang berkeliling. Hamilton dan Simon sudah tiarap di lantai dengan kedua tangan menutup telinga. Enam pengawal mereka berusaha membalas tembakan dengan berlindung dibalik beton di dekat jendela. Seorang pengawal yang tadi berjaga di luar memeriksa dan menekan luka tembak di bahu temannya yang tertembak di luar tadi.
"Mereka tidak terlihat, Tuan Nueva!" teriak salah satu pengawal.
"Sniper ...." desis Vincent.
Yoana diam tidak bergerak di bawah tubuh Vincent, jantungnya bertalu dengan ketakutan yang amat sangat. Ia mengira penculikan yang gagal itu bukanlah hal besar. Ia malah menganggap Vincent berlebihan ketika membawa pengawal untuk melindungi mereka ketika berada di tempat ini.
"Vince ... Vince! Kau ... kau tertembak!?" tanya Yoana dengan nada panik. Ia mulai bergerak-gerak ingin melepaskan diri dari bawah tubuh Vincent.
"Sttt ... diamlah Yoan ... mereka belum berhenti menembak!" ucap Vincent tegas.
Kengerian menyebar pekat di dalam villa, Vincent dan para pengawal menyadari jumlah mereka sangat sedikit. Jika orang-orang di luar sana mengepung dan memilih masuk untuk menyerang, maka habislah mereka semua.
Gumpalan awan yang menghitam di atas sana, membuat seorang pria menghentikan bidikannya ke arah villa keluarga Bernard. Ia memandang berkeliling dan menyadari cuaca mulai gelap pertanda hujan dan mungkin saja badai akan datang.
__ADS_1
Pria itu berdecak kesal, ia menyimpan senjatanya dalam tas kanvas panjang dan menyandang tali tas itu ke bahu. Setelahnya, ia berlari menuruni lereng bukit kecil yang berhadapan ke arah villa, tempatnya leluasa menembak siapapun yang berada di depan Villa. Sayang sekali nona besar itu lolos, dia penuh keberuntungan. Ia berlari tanpa merasa kehabisan napas sedikit pun. Butuh waktu lumayan lama sampai ia mencapai offroad yang ia sembunyikan di semak-semak tanaman perdu.
Ia menaiki mobil berbarengan dengan kilat yang menyambar dan suara guntur yang menggelegar, lalu tanpa dapat di cegah, hujan deras mengguyur daerah itu. Membuat pria itu basah kuyup, namun ia tetap menjalankan mobil, pergi mengikuti jalur menuruni pegunungan ke arah sebuah villa yang telah ia sewa sebelumnya.
N E X T >>>
***********
From Author,
Dikit banget ya 😂😂😂 Maaf My Readers 🙏🙏🙏
pekerjaan di real life minggu ini agak padat.. Semoga maklum🙏🙏🙏
Jangan lupa like, love, bintang lima ,komentar dan vote ya🙏🙏🙏😘😘😘
Author ucapin Terima kasih,
Salam, DIANAZ.
__ADS_1