
Luigi mengikuti rapat pertemuan rutin para dokter dan direksi dari beberapa rumah sakit dengan sangat serius. Dunianya sekarang hanyalah bekerja, pasien, rumah sakit, lalu apartemen.
Sudah hampir menjelang dua minggu sejak pernikahannya dengan Natalia. Prosesi itu dilakukannya dengan perasaan mati. Tidak ada kemarahan, kemurkaan, atau bahkan sekedar kejengkelan yang tersirat di wajah Luigi. Ia juga tidak bicara pada siapapun, pada ayah, ibu, Natalia atau bahkan pada kedua mertuanya.
Wajah dingin dan tidak ingin di dekati yang tercetak di wajah Luigi membuat orang tuanya dan juga Natalia menahan diri untuk menegur atau mengajaknya bicara.
Luigi hanya terus bekerja, lalu pulang ke apartemen ketika malam sudah larut dan tubuhnya lelah. Kemudian ia akan tertidur hingga pagi. Memulai lagi semua kegiatan seperti sebelumnya.
Seorang dokter menepuk pundak Luigi. Membuatnya menoleh pada pria setengah baya itu.
"Kau akan langsung kembali ke Eliza?" tanyanya.
"Ya ... aku ada pekerjaan," ujarnya. Tahu pria itu pasti akan mengajaknya keluar jika ia menjawab tidak.
"Sayang sekali. Kami bermaksud mengajakmu pergi, ayo kendorkan ototmu, Anak Muda. Kau terlalu keras bekerja."
Luigi hanya menjawab dengan senyuman, lalu melambaikan tangan pada temannya yang segera berlalu. Ia kemudian keluar dari ruangan pertemuan yang berada di lantai atas sebuah restoran itu.
Luigi melangkah keluar dari lift, ia mengambil ponsel, bermaksud menelepon sopir agar menjemputnya dan kembali ke Eliza Hospital. Lalu matanya tertumbuk pada seorang gadis yang duduk sendiri dengan sebuah daftar menu terhampar di hadapannya.
Senyum tiba-tiba tercetak di wajah Luigi. Senyum yang sudah hilang berminggu-minggu, sampai ia lupa bagaimana rasanya ketika hati kembali merasakan perasaan gembira dan senang lalu mencetaknya di wajah dengan satu gerakan bibir.
"Catalina?" ucapnya setelah tiba di dekat meja gadis itu. Luigi langsung duduk di kursi empuk di depan Catalina.
"Luigi! Oh, astaga ... senang melihatmu, Dok!" ucapnya gembira.
"Aku juga, bagaimana kabarmu?" tanya Luigi. Matanya melirik ke arah bawah meja.
Catalina tertawa, lalu tangannya mengetuk sebuah kruk yang disandarkan di sebelahnya.
"Sedikit demi sedikit aku belajar menapakkan kakiku. Semoga bisa sembuh seperti sedia kala ... secepatnya," ucap Catalina. Kemudian ia memajukan tubuh, menatap menggoda pada Luigi.
"Dan katakan kenapa Anda tidak mengundangku, Dok! Aku tahu kau menikah dari sebuah berita. Itupun hanya di siarkan satu hari. Untung saja aku tidak punya banyak kegiatan selain duduk di depan televisi. Pengantinmu sangatlah cantik ... ehm, tentu saja kau juga tampak tampan, Dok."
Catalina terus berceloteh tanpa menyadari perubahan wajah laki-laki di depannya. Kegembiraan yang tadi membias di wajah Luigi berganti dengan ekspresi dingin dan tertutup.
"Bisakah tidak membicarakannya?" cetus Luigi.
Catalina berhenti, memandang heran, Lalu terdiam melihat ekspresi laki-laki itu.
__ADS_1
"Ada apa? Wajahmu ...."
"Aku berterima kasih bila kau tidak menyinggung wanita mengerikan itu. Anggap saja aku menjalani kehidupan pernikahan yang tidak beruntung. Jadi aku tidak mau membicarakannya," ucap Luigi.
"Kau tampak tidak bahagia, Luigi ...."
Luigi hanya diam, memandang menyeluruh pada Catalina. Mematri wajah gadis yang dicintainya itu di dalam hati. Gadis yang tidak bisa ia miliki.
"Dokter Luigi ... aku bukanlah seorang ahli dalam sebuah hubungan ... namun, cobalah melihat kembali alasan mengapa Anda menikah. Tidak bisa menolak karena kedua orang tua Anda sudah memilihkannya. Kenapa Anda menerima? Kurasa jawabannya adalah karena Anda mau keduanya bahagia, tidak mau membuat keduanya kecewa terhadap Anda. Karena Anda putra yang baik, pria yang baik ...."
Luigi terus menatap, ucapan Lina seperti sihir yang membuat hatinya melembut.
"Menikah, dan tidak bisa mencintai wanita itu. Kenapa? Apa kekurangannya? Dia jahat? Culas? Tidak sesuai selera Anda? ... Tapi orang tua anda memilihnya. Tidak ada orang tua yang akan memberikan pasangan yang buruk dan jahat untuk anaknya, Dokter. Bila belum mampu melihatnya sekarang, cobalah nanti ...dengan hati yang lebih tenang. Bila tidak bisa melihatnya dengan mata telanjang, maka cobalah dengan ini ...." Catalina menangkupkan satu tangan ke dadanya. Memberitahu Luigi, hati yang tenang mungkin bisa memberikan pengertian dan pandangan lain.
"Kenapa kau merasa aku tidak bahagia?"
"Wajahmu, Luigi ... kita sudah lama bekerja bersama di klinik, hati yang bahagia terlihat di wajahmu ...."
"Mungkin karena aku mencintai pekerjaanku, maka wajahku terlihat seperti itu saat di klinik."
"Sekarang pekerjaanmu masih sama, Dokter. Hanya posisimu berbeda, sebagai seorang direktur... dengan tanggung jawab yang lebih besar. Maka yang membedakannya adalah hatimu ... Lapangkanlah hatimu, Luigi. Lihatlah apa yang dilihat oleh kedua orang tuamu, tapi tidak dapat kau lihat."
"Dengan Claude. Aku baru saja kontrol dan pulang dari rumah sakit. Dia pamit ke belakang ... kenapa lama sekali ...." Catalina memanjangkan leher, melihat ke arah lorong tempat tadi Claude menghilang.
"Baiklah, aku pergi dulu. Sebelum pria itu kembali dan memarahiku karena mengobrol dengan gadisnya," goda Luigi. Ia tertawa melihat Catalina sedikit merona.
"Kenapa kau menyukainya, tapi tidak bisa menyukaiku?" tanya Luigi sambil lalu dengan mengembuskan napas panjang.
"Karena sedari awal, aku sudah menganggapmu sebagai seorang teman, Dokter Luigi ... kau dokter yang hebat, aku bangga pernah menjadi rekan kerjamu, juga temanmu."
Luigi tersenyum teduh, lalu langkah kaki mendekat membuatnya mendongak. Claude sudah berdiri di dekat meja mereka.
"Maaf Dokter. Anda menduduki kursiku," ujar Claude datar.
Luigi tertawa, lalu berkedip pada Catalina, "Aku pergi dulu, Lina. Anjing penjagamu sudah datang. Aku takut kena gigit." Lalu ia bangkit dan berlalu meninggalkan Claude yang terlihat sangat kesal.
"Kurang ajar! Kau dengar itu! Dia mengataiku Anjing! Dasar idiot!" ucap Claude berapi-api.
"Sttt ... Claude, pelankan suaramu." Catalina tersenyum.
__ADS_1
"Aku diam di balik tembok itu, sengaja memberikan waktu agar dia bisa bicara. Tapi dia mengataiku ...." Claude duduk dan menatap tajam Catalina yang terkekeh.
"Apa yang kau tertawakan?"
"Kau memberi waktu kami bicara ... atau mau menguping pembicaraan? " tanya Catalina sambil bersedekap.
"Well ... dua-duanya, Catty," ucap Claude sambil menyeringai.
**********
Marylin menerima saputangan yang diulurkan oleh Serge kepadanya.
"Sangat panas di sini," ucap Serge.
"Ya, tapi hanya tinggal sehari lagi, Serge. Besok kita akan meninggalkan negara ini."
"Benar. Pengambilan gambar hanya sampai siang, lalu sore kita akan langsung berangkat kembali."
"Hanya tinggal kami berempat. lorena akan pulang setelah sesi foto hari ini."
"Ya ... lalu Rosalie dan Bryan, mereka akan bersama kita hanya sampai dua minggu ke depan. Sisanya kau dan Lionel."
"Setelahnya apa?" Marylin memandang Serge.
"Setelahnya kita menunggu, Sayang. Akan ada pekerjaan baru dari mereka.
Marylin menarik napas panjang. Sejauh ini, Alrico Lucca tidak pernah kelihatan. Hanya Diego yang pernah datang dan melihat perkembangan pekerjaan mereka, dan bicara dengan manajer kru. Itupun hanya sebentar sebelum pria itu akhirnya pergi dan menghilang lagi berhari-hari.
Marylin mulai merasakan ketenangan, hatinya yang was-was perlahan menghilang, hingga ia bisa penuh berkonsentrasi pada pekerjaannya. Melakukannya secara profesional dan sepenuh hati.
N E X T >>>
**********
From Author,
Jangan lupa likenya, love, vote, bintang lima, kometarnya juga ya.
Author ucapin terima kasih.
__ADS_1
Salam, DIANAZ.