
Catalina mengerutkan kening melihat wajah kakaknya yang agak pucat setelah mendengar apa yang ia katakan.
"Aku hanya menanyakan pendapatmu, Mary. Tuan Lucca meminta Claude membawaku untuk bertemu dengannya dan aku pergi ke sana untuk mengetahui apa yang pria itu inginkan. Dia ingin bertemu denganmu secara langsung untuk minta maaf,"
Catalina memutuskan tidak menceritakan bagian peristiwa ketika ia menampar Alric.
"Kurasa bertemu dengannya akan membuat semuanya merasa lega, Mary. Meluruskan semua kesalahpahaman. Alric sudah tahu kejadian yang sebenarnya," Serge ikut menambahkan. Ia tidak pernah bisa mengucapkan kata-kata untuk membujuk Mary agar mau bertemu dengan Alric, walaupun pria itu sudah meminta bantuannya secara langsung. Sekarang Catalina membahas masalah itu, jadi tanpa perlu merasa sungkan, ia membantu menambahi.
Marylin menyeruput gelas jus di hadapannya. Mereka mengobrol di cafe di dekat apartemen. Mengobrol dan entah darimana dan siapa yang memulai, pembicaraan mereka tiba pada tema laki-laki bernama Alrico Lucca itu. Mary tidak pernah menceritakan kejadian pemerkosaan pada dirinya kepada Serge maupun Catalina. Hanya Annete yang mengetahuinya, dan Annete menyerahkan semuanya pada Mary, mau bercerita atau tetap terus menyimpannya.
Langkah kaki mendekati meja mereka. Tiga kepala itu menoleh dan menatap Annete.
"Apa yang kalian bicarakan? Sampai tidak ada yang menyadari kalau aku tiba?" tanya Annete sambil tersenyum.
"Ann ... Coba berikan pendapatmu. Pria bernama Lucca yang pernah menjadi majikanmu itu ingin menemui Mary. Katanya ingin minta maaf ... Menurutmu Mary harus menyetujuinya atau tidak?" Catalina langsung bertanya pada Annete. Seketika jantung Annete berdebar setelah mendengar nama putranya disebut.
"Dia memintamu bertemu? Lewat siapa?" tanya Annete. Ia menarik kursi dan duduk. Lalu segera memanggil pelayan lewat isyarat tangannya.
"Lewat aku. Aku bertemu dengannya kemarin," jelas Catalina.
Seorang pelayan menghampiri Annete dan mencatat pesanan minuman Annete, lalu pergi untuk menyiapkan pesanan itu.
Dengan jantung berdebar, Annete berusaha mengatakan kalimatnya dengan nada biasa.
"Kalau jadi kau, Mary ... maka aku akan datang. Kesempatan untuk melihat pria itu menurunkan harga dirinya kemudian meminta maaf."
Hening. Tiga pasang mata itu menunggu untuk mendengarkan ucapan Annete selanjutnya.
"Tentu saja tidak semudah itu untuk memberikan maaf padanya ... tapi setidaknya, datang dulu ... lihat apa maunya pria itu ...." ucap Annete.
"Benar ... Kurasa setiap orang boleh mendapatkan kesempatan kedua. Bukan begitu, Annete?" Serge menatap Annete, meminta dukungan. Ia sedikit tergoda dengan pekerjaan baru yang akan ia dapatkan bila Mary mau menemui Lucca. Menjadi manager bintang sekelas Frans Humberto ... sungguh membuat Serge tertarik. Tapi juga membuatnya merasa seolah menjadi seorang pengkhianat. Itulah yang membuat ia tidak mau membujuk Mary. Namun Catalina sudah membahasnya, sekalian saja ia ikut. Keputusannya tetap akan diambil oleh Mary.
Annete menatap Mary dengan tatapan teduh, lalu mengucapkan bujukan yang ia harap akan membuat Mary mau menerima undangan Alric.
"Jika jadi dirimu, aku akan menemuinya dan melihat ... Dia tulus atau tidak untuk meminta maaf. Lalu aku akan memuaskan diriku dengan sedikit pembalasan," ucap Annete.
__ADS_1
"Pembalasan?" tanya Mary.
"Ya ... Kau dikurung berhari-hari di dalam kandang itu. Aku akan membuatnya merasakan hal itu juga. Aku akan balik mengurungnya ... ia akan mau jika memang berniat tulus untuk minta maaf."
Catalina sedikit terkikik ketika Annete selesai bicara. Ide itu agak menggelitik rasa gelinya.
"Akan sangat lucu melihat pria arogan itu tidur sekandang dengan peliharaannya sendiri," ucap Catalina.
"Ya ... tapi mereka hewan buas. Meski dia tuannya, tetap saja tidur di kandang itu berasa tidak nyaman. Aku mengalaminya beberapa hari ...." Serge sedikit bergidik mengenang hari-harinya bersama macan tutul bernama Lady Rose itu.
"Lalu kau juga bisa balas menamparnya dengan keras, Mary ... bukankah dia memukulmu!? Dasar pria brengs*k! Beraninya memukul wanita!" Catalina menambahkan dengan nada kesal.
"Tentu ... karena pukulan laki-laki lebih kuat, maka akan sah jika kau memukulnya dua kali. Jadi apapun yang ia lakukan, balas dengan melakukannya dua kali ... kurasa itu baru adil. Rasa sakitnya baru akan sebanding," Annete menambahkan dengan berapi-api. Menyeringai di dalam hati ketika mengingat putranyalah yang akan menerima pembalasan itu.
"Kau benar! Itu baru adil, Annete!" Catalina mengangguk-angguk setuju.
Marylin menatap datar tiga orang teman bicaranya itu, ia menyeruput lagi jusnya sampai habis. Sedikit rasa gundah membalut hatinya.
Jika menuruti kata-kata kalian ... dia memperkosaku sekali ... Aku balas dua kali ? begitu? Gurau Mary dalam otaknya sendiri.
Senyum kecil tiba-tiba terbit di bibir Marylin ketika fikiran gila itu melintas di otaknya. Annete yang melihat senyum itu mengira Mary telah menerima usulnya itu.
"Aku akan menghubunginya dan menentukan hari pertemuan. Tentu saja kau tidak akan sendirian. Aku akan menemanimu," ucap Serge.
Marylin menaikkan alisnya dan menatap Annete dan juga Serge.
Apakah aku akan bisa bersikap berani di depan pria itu!?
Mary lama berdiam diri, sampai Catalina menyentuh ujung sikunya dan berucap, " kau tidak perlu memikirkannya bila tidak mau. Aku tahu kau takut pada pria itu,"
Marylin berfikir sejenak, lalu mencoba memberanikan dirinya, karena terus terang saja, ia tergoda membalas Alric seperti yang Annete ucapkan tadi.
"Kau akan menemaniku kan, Serge?" tanya Mary.
Serge menaikkan alis, tidak menyangka Marylin akan menyetujuinya.
__ADS_1
"Tentu, Sayang ... Aku malah ingin sekali melihat pertemuannya." Serge tersenyum lebar.
Annete menyimpan rasa leganya, tahap pertama setidaknya berhasil. Mary akan menemui Alric. Annete berharap putranya menyampaikan permohonan maafnya dengan benar, dengan tulus, dengan wajah penuh penyesalan.
**********
Diego memandang heran pada seringai yang muncul di wajah tuannya. Ia menatap dan menunggu, tuannya pasti akan mengatakan sesuatu, penyebab pria itu menyeringai senang setelah selesai menerima telepon.
Mereka berada di lantai atas ruang kantor tuan Lucca saat ini, tengah membicarakan masalah pekerjaan ketika sebuah panggilan telepon mengalihkan perhatian tuannya.
"Dia setuju, Diego ..." Alric tersenyum lebar. Bersuka cita karena dapat bertemu dan akhirnya mengucapkan kata maaf yang sudah berminggu-minggu menggayuti hatinya dengan perasaan bersalah.
"Nona Marylin mungkin bersedia bertemu Anda. Tapi belum tentu bersedia memaafkan Anda, Tuan." Diego mengingatkan Tuannya.
"Aku tahu, Diego. Tapi aku akan mencari cara agar ia mau melakukannya ... Aku tidak bisa hidup dengan beban perasaan bersalah menggayuti hatiku sepanjang waktu ... sudah cukup beban yang kurasakan ketika tidak bisa melakukan apapun terhadap takdir yang menimpa Alex ... Aku mengingatnya sepanjang waktu, merasa bersalah sepanjang waktu ... aku tidak mau menambah satu beban lagi ...."
Diego mengangguk, mengerti bagaimana perasaan Tuannya.
"Kita akan menemuinya di restoran puncak gedung Premier Building, pemandangan indah malam hari ... siapkan semuanya Diego," perintah Alric.
"Apakah aku perlu mendampingi Anda, Tuan? " tanya Diego.
"Ya Diego. Serge akan ikut, tugasmu menemani Serge ketika aku bicara secara pribadi dengan Marylin."
Diego mengangguk, kemudian pamit dan berlalu dari ruangan itu untuk mulai menyiapkan semua rencana pertemuan tuannya dengan Marylin.
N E X T >>>
***********
From Author,
Jangan lupa tekan like, love dan bintang lima ya. tinggalkan jejakmu lewat komentar.
Yang suka cerita di novel ini, yuk bantu author dengan rekomendasikan ke teman-temannya yah, siapa tahu temannya juga suka dan menikmati ceritanya.
__ADS_1
Terima kasih semua,
Salam hangat, DIANAZ.