Embrace Love

Embrace Love
CH 65. Revenge


__ADS_3

Mobil itu melaju membelah keramaian jalan. Membawa Marylin dan Serge kembali ke apartemen mereka.


Serge mengulurkan tangan, menggenggam tangan Marylin dan menjalin jari-jari mereka hingga saling menggenggam.


"Kau selalu membuatku bangga, Mary."


Marylin menoleh, tersenyum pada sahabat setianya itu.


"Tidak, Serge. Beberapa keputusan dalam hidupku adalah kesalahan, bahkan kejahatan. Hanya karena kau selalu ada bersamaku dan mendukungku, aku tetap berani menghadapi semuanya." Marylin menarik napas panjang. Menangkupkan tangannya pada tangan mereka yang terjalin.


"Aku menerimanya karena laki-laki itu menyertakan dirimu. Tetap kaulah yang mengurus semuanya. Aku sangat mempercayaimu. Kau bukan hanya sahabat untukku Serge, kau sudah seperti saudaraku sendiri."


"Tapi entah kenapa aku sedikit takut dengan pria itu, Mary. Seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan ... karena itu aku menolak penawarannya tadi," ucap Serge sambil bersandar. Ia teringat senyum kemenangan yang tampak mengerikan di wajah Alrico Lucca ketika mendengar Marylin menerima penawarannya.


"Aku juga, kilau di matanya seperti memberitahuku sesuatu yang tidak wajar. Aku sungguh tidak mengenalnya ... kau juga kan? Lalu kenapa dia terlihat mengincar kita berdua."


"Well ... apapun mau pria itu, dia sudah berjanji membantu Bernard menyelamatkan adikmu. Kita akan mendengar kabarnya, lalu kita akan menghadapi apapun yang akan terjadi di masa depan bersama-sama. Selalu seperti itu kan... kau mendukungku dan aku mendukungmu," ucap Serge sambil tersenyum optimis.


"Aku senang mendengarnya, Serge. Kau benar, apa yang perlu kutakutkan. Kita akan menghadapinya bersama-sama." Marylin menarik napas lega. Mengetahui apapun yang akan ia hadapi nanti, ia tahu ia tidak sendiri. Selalu ada Serge yang akan menjaganya.


*********


Gedung di pinggiran kota tersebut tampak mulai sepi. Beberapa penghuni yang menempati kamar di sana sudah bersantai di kamar masing masing dengan pintu yang sudah terkunci.


Di salah satu kamar, seorang pria tengah memegang sebuah tongkat baseball, memutar dan mengayunnya berulang kali.


"Aku akan bertanya padamu dan kau harus menjawab dengan benar, Nona Catalina. Apa kau ibu dari Leonard Bernard?" Rodrigo kembali mengayunkan tongkatnya, seolah ada sebuah bola yang tengah dilempar padanya dan ia memukulnya dengan tepat.


"Wuzzzhhhh ...," ucapnya meniru seolah bola yang ia pukul telah melesat jauh.


Catalina menggoyangkan kepalanya, rambut dan bajunya basah kuyup setelah disiram dengan seember air oleh penculiknya itu.


"Apa urusanmu aku ibunya atau bukan!" ucap Catalina ketus.


Tongkat baseball itu kembali melayang, kali ini sasarannya bukanlah bola tak kasat mata, melainkan betis kiri Catalina.


"Ahhhhh!" Catalina berteriak kesakitan. Kakinya tertekuk karena kerasnya pukulan, membuat tali yang mengikat tangannya mengencang dan menggores pergelangan tangannya hingga lecet. Penculik itu tertawa terbahak.


"Itu yang akan kau dapat jika jawabanmu salah!" serunya.


Catalina berdiri dengan kedua tangan terikat ke atas. Sebuah tali menggantung tangannya ke sebuah palang kayu di atas ruangan. Setelah dibangunkan dengan seember air ke wajahnya, Catalina ditarik berdiri lalu diikat sedemikian rupa ke atas palang kayu. Kedua kakinya pun di ikat jadi satu.


"Aku tidak bilang tidak akan menyiksamu. Aku hanya bilang pada Vincent akan menukarmu dengan Yoana dalam keadaan hidup. Tapi bagaimana bentukmu setelah 48 jam ini, itu tidak jadi urusan Vincent." Kembali tawa terbahak menggema di ruangan itu.

__ADS_1


"Akan ada orang yang mendengarmu!" seru Catalina.


"Ruanganku kedap suara, Miss Catalina. Jadi tidak akan ada yang mendengar ketika kau berteriak kesakitan atau meminta tolong."


Catalina menelan ludah, pria penculiknya ini terlihat seperti seorang psikopat yang tidak ragu menghabisinya jika ia tidak menurut.


"Berdoa saja kau cukup berharga bagi keluarga Bernard! Hingga mereka memutuskan akan datang membawa Yoana. Kau ibu bayi itu bukan? Kekasih Claude Bernard ... aku mengawasimu sejak bayi itu diperkenalkan di pesta sebagai penerus dan anggota baru keluarga Bernard," ujarnya .


Catalina memahami posisinya tidak menguntungkan jika pria itu tahu ia hanyalah bibi Leon. Ia akan dihabisi jika posisinya dianggap tidak cukup berharga di keluarga Bernard menurut pria penculik itu.


"Aku bukan hanya kekasih, aku adalah calon istri Claude Bernard dan kau benar, Leon adalah putraku!"


Pria itu menyeringai puas.


"Jadi katakan Miss Catalina ... apakah mereka akan datang dengan Yoana?"


"Tentu saja! Tapi kau tidak akan punya kesempatan!"


"Kenapa begitu?"


"Kau sendirian! Kau akan mati sebelum menyentuh Yoana!"


Pria itu terbahak kencang, ia duduk di sebuah kursi dengan tongkat baseball ditaruh di bahunya.


Catalina terbelalak. Pria ini bermaksud meledakkan mereka semua.


"Kau terlalu percaya diri! Bila Claude setuju menukarku pun tempatnya tidak akan ditentukan olehmu! Mereka yang akan menentukan tempatnya!"


"Aku sudah mengantisipasinya. Aku pembunuh bayaran, Miss Seymor. Rekanku sesama pembunuh berdarah dingin, hanya perlu uang dan sedikit tepukan di bahu agar mereka membantuku. Lokasi itu akan dibidik oleh beberapa penembak jitu yang akan langsung mengenai jantung Yoana Bernard."


Rodrigo memutar tongkatnya di bahu sambil memandang Catalina dengan senyum sinis. Ia terpaksa menunggu 48 jam untuk menjalankan rencananya. Vincent sangat ketat dengan pengawalnya untuk melindungi wanita itu. Setelah mengintai bersama Amber, seorang pembunuh bayaran yang bekerja bersamanya, akhirnya Yoana terlihat keluar dan ia punya kesempatan. Namun tetap saja ia dan Amber tidak dapat mendekat.


Sampai rencananya berubah ketika di dalam lift ia menangkap basah Catalina tengah memandanginya ketika ia sedang menatap Vincent. Menjadikan Catalina sebagai alat tukar lebih mudah dilakukan.


Rencana baru bisa ia lakukan setelah dua hari. Setelah meletakkan Catalina di kamar sewaannya, ia harus keluar lagi melakukan satu pekerjaan. Uang nya habis untuk menyembuhkan wajahnya. ketika dulu ia jatuh dari tebing, ia masih hidup dengan wajah hancur. Ia melarikan diri dan bersembunyi. Sengaja meninggalkan robekan pakaiannya di dekat darahnya yang berceceran agar Vincent mengira ia sudah mati oleh binatang buas di bawah tebing itu.


Bertahun-tahun sedikit demi sedikit ia berhasil mengumpulkan uang dan membiayai pembedahan yang mesti di lakukan beberapa kali. Ia akan butuh bantuan pembunuh lainnya, Amber dan Lucaz ketika nanti akan menukar Catalina. Amber dan Lucaz tidak akan meleset, keduanya penembak jitu yang sangat akurat. Tapi keduanya harus di bayar.


Ada kontrak pekerjaan yang akan dilakukan dalam 2 hari ke depan dengan bayaran yang sangat besar. Ia akan memberikan bagiannya pada kedua orang itu.


Rencana menculik Catalina adalah rencana mendadak yang muncul di otaknya ketika ia mengajak Amber mengintai Yoana Bernard. Maksud awal Rodrigo adalah menangkap Yoana. Ia tidak mengira Yoana akan keluar bersama Catalina untuk berbelanja. Andai ia tahu, tentu lebih mudah menembak Yoana dari jarak jauh saat ia tengah berada di Mall.


"Belum ada cincin di jarimu Miss Catalina. Katakan, apa Claude belum melamarmu? Pantas saja saat itu mereka hanya memperkenalkan Leon ... tapi menyimpan rahasia siapa sebenarnya ibu Leon."

__ADS_1


Pria itu mendekat, berdiri di depan Catalina.


"Siapa sebenarnya dirimu? Apa kesalahan Yoana sampai kau menginginkan nyawanya?"


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di pipi Catalina. Gadis itu memejamkan mata, rasa nyeri dan pedih menyebar di pipinya, membuat telinganya sampai berdenging.


"Jangan menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan Miss Catalina!" Rodrigo memegang pipi Catalina dengan jari-jarinya. Menjepit dengan kuat dan mengarahkan wajah Catalina ke depan wajahnya.


"Kau ingin tahu? Itu karena Vincent telah membunuh kekasihku! Karena itulah kekasihnya juga harus mati!"


"Kau mau balas dendam? Tapi Yoana bukan kekasih Vincent!" Catalina dengan berani menatap tajam mata laki-laki itu.


Tawa terbahak keluar dari bibir Rodrigo.


"Mereka saling mencintai sejak dulu. Vincent masih berada di keluarga itu karena pada dasarnya ia tidak sanggup meninggalkan Nona Yoana yang dicintainya itu!" Lalu dengan tiba-tiba tangan pria itu menghempaskan wajah Catalina.


"Kau tahu ... kau cukup cantik, bagaimana kalau kau melayaniku dulu sebelum aku pergi keluar? Hmm? Hitung-hitung sebagai hiburan untukmu selama dua hari ke depan. karena kau akan kutinggal sendiri di sini sebelum kesepakatanku dengan Vincent dilakukan."


Catalina menggeram mendengar ucapan penculiknya itu. Dengan berani ia meludah dan rasa jijik di wajahnya tergambar jelas. Ia menatap pria yang tengah mengelap liur di wajahnya itu dengan lengan bagian atas.


"Kau memang berani Miss ...."


Lalu satu tamparan keras mendarat lagi di pipi Catalina. Kali ini sudut bibir gadis itu pecah. Kepala Catalina terasa pening dan berputar. Belum sempat Catalina membuka mata, ia merasakan pukulan lagi pada kedua betisnya. Rasa nyerinya tidak tertanggungkan, Rodrigo tidak berhenti, ia terus mengayunkan tongkat pemukul bola baseball itu ke kaki Catalina sampai akhirnya kedua kaki gadis itu tidak lagi sanggup menyangga tubuhnya. Ia terkulai, tergantung dengan tali yang mengikat kedua tangannya ke atas.


Rodrigo berdecih, melempar tongkatnya ketika melihat gadis itu sudah terkulai. Ia mengulurkan tangan, mengangkat wajah Catalina yang tertunduk. Darah mengalir dari bibir Catalina yang pecah. Mata gadis itu terpejam, pingsan.


"Kau cepat sekali pingsan, Miss Catalina. Padahal aku belum puas bersenang-senang denganmu."


Rodrigo melepaskan tangannya, membuat kepala Catalina kembali tertunduk. Lalu laki-laki itu pergi ke kamar tidur, mengambil jaket dan sebuah tas kanvas berisi senjata dan peralatannya. Ia kembali keluar dan mengambil topi hitam di gantungan belakang pintu. Setelah memakai topi, ia melirik Catalina yang tidak sadarkan diri untuk terakhir kali lalu melangkah ke ruangan lain yang hanya di isi oleh sebuah meja dan satu sofa panjang. Rodrigo menuju pintu, membukanya dan keluar sebelum menutupnya kembali dengan pelan dan menguncinya.


N E X T >>>


**********


From Author,


Tunggu kelanjutannya ya ...


Jangan lupa untuk like, love, vote, komentar dan bintang lima, penyemangat author untuk nulis lagi.


Terima kasih semuanya.

__ADS_1


Salam, DIANAZ


__ADS_2