
Serge menatap Marylin yang tengah mengaduk jus apel didalam gelasnya.
"Kau membuat banyak? Aku mau kalau masih ada," ucap Serge sembari duduk di meja makan di seberang Marylin.
"Masih ada, tunggu ... akan kutuangkan untukmu."
Marylin melangkah ke arah rak dan mengambil gelas, kemudian menuangkan sisa jus ke dalam gelas.
"Tidak penuh, Serge," ucap Mary sambil meletakkan gelas jus ke depan Serge.
"Tidak apa ... itu cukup." Serge mendekatkan gelas ke bibirnya, lalu mulai meminum jus seteguk demi seteguk. Setelahnya ia menatap Marylin yang tersenyum, sambil menangkupkan kedua tangan pada gelas, ia bertanya pada wanita itu.
"Sudah merasa baikan?" tanya Serge dengan nada khawatir.
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja."
"Mau bercerita? ... Apa yang kau alami di sana?"
Marylin termenung memandangi gelasnya sendiri.
"Apa kau mengalami hal yang sama denganku?" tanya Serge lagi. Mary mengangkat wajah memandang temannya itu.
"Apa yang mereka lakukan padamu, Serge!?"
"Well ... mansion itu punya hewan peliharaan sesuai namanya. Aku dikurung bersama Lady Rose, macan tutul. Berbeda kandang ... tapi bersebelahan ... dia punya gigi runcing dan cakar yang tajam ... Groaaaaaaa! Dia mengaum mengerikan!"
Marylin tersenyum mendengar penggambaran Serge yang meniru dengan menampakkan gigi dan memajukan jari-jarinya seolah mirip cakar.
"Ya ... dan mereka punya Cody dan Max di Mansion Cougar. Singa gunung ...," sahut Mary.
"Kau dikurung bersama hewan itu?"
"Diapit, Serge ... kandangku di tengah-tengah keduanya."
"Ya ampun ... kau pasti takut sekali, Sayang. Para pria gila ... tapi aku bersyukur si Baldassare itu mau mendengarkanku dan melakukan penyelidikan ulang. Aku akhirnya dilepaskan."
Marylin mengernyit menatap Serge. "Maksudmu?"
"Mereka ada hubungannya dengan peristiwa tujuh tahun lalu Mary. Orang yang mencoba memperkosamu."
"Aku tahu ... Dia bernama Alexandro Morelli. Adik dari Alrico Lucca. Laki-laki itu mengatakannya. Dia bilang aku mengeruk uang adiknya dan malam itu lari dengan kekasihku, kau lah yang dia maksudkan. Dia tidak percaya ketika aku mengatakan kejadiannya tidak seperti itu. Dia malah menertawakanku ketika aku mengatakan Alexandro mencoba memperkosaku malam itu."
"Aku mengatakan hal yang sama pada Diego. Informasi yang mereka terima sangat berbeda. Tapi Diego mendengarkan apa yang aku katakan. Agar dia mencari Agenor dan menyelidiki dengan benar hal itu."
"Dia melakukannya?" tanya Marylin.
__ADS_1
Serge mengangguk. "Ya ... karena itu akhirnya aku di lepaskan, Mary. Well ... aku mengaku kalau kita memang meninggalkan tubuh Alexandro tanpa memeriksa lagi ia hidup atau mati. Karena ketakutan kita akhirnya meninggalkannya."
Marylin hanya diam, jika Diego sudah tahu, berarti Alric juga sudah tahu. Apakah ini yang menjadi alasan Alric akhirnya membiarkan ia pergi ketika dijemput oleh Catalina?
"Diego mengatakan ... Alexandro masih hidup setelah tertabrak saat itu. Rekaman menunjukkan tubuhnya masih bergerak, dia bahkan sempat menghubungi seseorang ...."
Marylin memegang erat gelas jus di tangannya.
"Siapa?" tanyanya.
"Kakaknya ... Tuan Lucca ... tapi pria itu masih tidur dan tidak mendengar panggilan dari Alexandro."
Marylin memejamkan mata sambil mengembuskan napas panjang.
"Pria itu juga mengatakan hal yang sama saat mencekik leherku ... dia bilang adiknya mungkin saja masih hidup, andai saja kita segera membawanya ke rumah sakit malam itu ...."
"Apa! Alric mencekikmu!?" teriak Serge.
Marylin mengendikkan kedua bahu. "Ya ... hingga aku lemas seperti boneka kain ...."
"Dasar pria kejam! Awas saja jika bertemu lagi!" sungut Serge. Marylin tersenyum kecil, lalu mengangkat gelas jusnya. Ia kembali meneguk.
Bukan hanya mencekikku, Serge ... Dia juga ....
**********
"Aku belum pintar melakukannya, Yoan!" protes Simon.
"Itu gunanya Vincent! Dia yang akan mengajarimu sekaligus mengawasimu!"
Simon menarik napas panjang. Catalina berdiri dengan senyum kecil mendengar perdebatan keduanya. Hari ini Catalina akan pergi lagi menemui Marylin. Karena tidak ingin Leon hanya bersama Nanny Lea sepanjang hari, Yoana memutuskan tidak mau pergi ke kantor dan menunjuk Simon mulai belajar menggantikannya.
"Kau tidak bisa tiba-tiba saja menunjukku! "
"Oh! Siapa bilang tidak bisa!? Aku kakak tertua di keluarga Bernard! Vincent akan mematuhi perintahku agar menyeretmu ke kantor! Aku mau bersenang-senang dengan Leon! Sekarang giliranmu bekerja! Sudah cukup kau bersenang-senang sepanjang waktu! Jangan bilang di rumah pantai kau hanya bekerja!"
Simon tampak menyeringai. "Paman Hamilton melapor padamu ya!"
Cengiran Simon membuat Yoana sangat jengkel. Ia mendekat dan berjinjit untuk menarik telinga adik bungsunya itu.
"Aku akan membuatmu benar-benar bekerja kali ini! Vincent akan sangat ketat terhadapmu! Jangan samakan Vincent dengan Paman Hamilton!"
Vincent mengerutkan kening, kenapa ia seolah terdengar sangat kejam setelah mendengar nada bicara Yoana pada Simon.
"Baik, baik ... lepaskan telingaku, Kakak! Aku pergi, Aku akan ke kantor!" teriak Simon.
__ADS_1
Yoana menyeringai mendengar Simon memanggilnya kakak. Adiknya itu melakukannya jika sudah tidak bisa mengelak atau sedang menginginkan sesuatu ....
Yoana melepas tarikannya dan menatap Vincent.
"Sekarang, dia jadi tugasmu!"
Vincent mengangguk dengan wajah datar, lalu mengajak Catalina dan Simon untuk berangkat. Vincent akan menurunkan Catalina terlebih dahulu ke apartemen Marylin.
Yoana menatap ketiganya pergi, lalu menyeringai dan mengangkat tangan sambil menggeliat menikmati hari liburnya.
"Ah, Aku akan bebas pergi kemanapun," ucap Yoana.
"Kami akan mengantarkan dan menemani Anda, Nona." Terdengar suara Seth didekat sana. Yoana menoleh dan mengangkat kedua alisnya.
"Aku bisa pergi sendiri, Seth!"
"Tidak, Nona. Perintah Tuan Vincent, Kami akan mengikuti kemanapun Anda pergi ...."
Yoana melirik, tak jauh dari sana, Lucas sudah berdiri menunggu. Ia tersenyum masam pada Seth. Vincent pasti sudah memberi perintah pada keduanya.
"Apa Vincent yang memerintah kalian?"
Keduanya hanya diam, membuat Yoana yakin ia benar.
"Ia memerintahkan kalian mengawal kemanapun Aku pergi. Bukan begitu?"
Seth mengangguk, begitu juga Lucas.
"Well, Seth ... hari ini aku akan pergi ke dapur. Belajar memasak! Kalian berdua bersiaplah menggunakan celemek dan bantu aku membuat kue! Vincent menyuruh kalian menemani kemanapun aku pergi bukan!? Kita akan mengocok telur dan memanggang kue di dapur!"
Seth dan Lucas memandang nonanya dengan mata terbelalak ngeri, memakai celemek? mengocok telur dan membuat kue?
Yoana pergi naik ke lantai atas dengan senyum lebar karena berhasil mengerjai Seth dan Lucas. Menyadari ia sudah membuat dua pengawalnya kalang kabut mendengar kata memakai celemek. Ia tidak dapat menahan tawa geli ketika sudah tiba di lantai atas.
N E X T >>>>
**********
From Author,
Yoana jahilπππ Ikuti kisah selanjutnya ya
Jangan lupa like ,Love, vote, komentar dan juga bintang limanyaππππ
Terima kasih,
__ADS_1
Salam hangat, DIANAZ.