Embrace Love

Embrace Love
Ch 116. Try again, Leave and Jealous


__ADS_3

"Dia menolakku, Mom." Alrico mendesah, menyangga dagu dengan tangan sambil menatap ke arah ibunya.


Annete duduk di seberang putranya. Mereka duduk di meja makan dan baru saja selesai makan malam. Diego juga ikut, pria itu duduk di sebelah Alric. Kedua pria tersebut mendatangi Annete di apartemennya.


"Lalu kau mau menyerah begitu saja!?" tanya Annete.


Alric segera menggeleng," tidak. Tentu saja tidak. Bayiku harus lahir dengan ayahnya ada di sisinya."


"Bagus kalau begitu. Berusahalah lebih keras. Coba lagi," ujar Annete.


"Tapi aku ingin menikah ketika perut Mary belum terlalu besar, Mom. Jadi aku dan dia bisa tinggal bersama. Aku bisa tahu apa saja keluhannya dan bisa melalui masa pertumbuhan bayiku bersamanya. Kau harus membantuku ...."


"Sudah kulakukan Alric!"


"Lakukan lebih keras lagi, Mom!"


Annete menarik nafas panjang. Ia menatap ke arah Diego dan juga Alric bergantian.


"Kalian tahu ... pernikahan tanpa saling mencintai bisa menciptakan neraka ... Aku dan Adriano adalah contoh. Ayahmu dan aku menikah karena tuntutan keluarga ... bisnis, itulah alasannya. Jadi aku tidak ingin kalian berdua mengalami kehidupan seperti itu. Jika kau menikah dengan Mary, Alric ... maka kau harus berjanji, kau akan melepas semua kekasihmu dan akan mencintai Mary. Kemudian berusahalah menyembuhkan hatinya dan membuat dia akhirnya mencintaimu. Atau setidaknya menyukaimu dulu."


"Itulah niatku, Mom. Jika aku menikah, aku akan melakukannya ... tapi ... darimana Mom tahu soal kekasih?"


Annete mendengus keras mendengar ucapan Alric.


"Kalian bukan pria yang hidup selibat. Kalian punya kekasih, gemar memberi hadiah seolah kalian mencintai mereka. Padahal dengan hadiah itu kalian membayar mereka, bukan begitu!?"


Alric dan Diego hanya diam. Tidak menanggapi ucapan Annete, karena tahu wanita itu akan menambah panjang daftar omelannya.


"Aku akan mencoba membujuk Mary. Lebih keras. Kau juga ... dekati dia lebih sering, meski kau harus menerima tamparan lagi untuk itu." Annete memberikan pernyataannya pada Alric, dan ia menatap dengan tersenyum kecil ketika melihat putranya itu mengangguk.


*********


Natalia menatap pada selembar kertas yang ia letakkan di meja ruang tamu apartemen Luigi. Tas kecil berisi pakaian yang dulu ia bawa ketika tinggal di apartemen itu sudah siap. Sudah saatnya ia pergi. Perutnya sudah mulai kelihatan membukit. Bila ia tinggal lebih lama, maka akan terlihat oleh Luigi.


Sampai saat ini, Luigi tidak mau mencoba berbicara dan menyelesaikan permasalahan antara mereka. Ia memang membiarkan Natalia untuk tinggal, tapi sepertinya itu tidak ada hubungannya dengan niat agar hubungan mereka menjadi lebih baik. Entah apa alasan dan pertimbangan Luigi sehingga ia dibiarkan tinggal.


Sekali lagi Natalia menatap keseluruhan ruangan itu. Surat itu mungkin malam nanti baru akan di temukan, dan ia yakin tidak akan memberikan efek apa-apa jika Luigi membacanya. Tapi Natalia tetap menulisnya. Ia tetap ingin berpamitan meskipun tidak secara langsung.


Setelah puas memandang berkeliling, dengan sebuah senyum tersungging di bibir, Natalia meninggalkan apartemen itu. Tujuannya adalah rumah pinggir danau milik kakeknya. Ia hanya perlu menempuh dua jam perjalanan. Satu jam penerbangan dan satu jam lagi mencapai lokasi danau. Sekarang yang perlu ia fikirkan adalah dirinya sendiri dan juga bayinya. Natalia sengaja tidak memberitahu kedua orang tua maupun mertuanya. Ia ingin menikmati hidupnya sendiri saat ini, menjalani masa kehamilan dengan rasa senang dan tenang, tanpa merasa tertekan oleh sikap Luigi dan tidak merasa sedih karena tatapan kasihan dari orang tua mereka.


Ia akan menikmati hidupnya sendiri, melakukan apa yang ia suka tanpa beban pikiran apapun lagi.


"Ayo kita pergi, Sayang. Tempatnya tidak jauh ... hanya dua jam perjalanan. Kita akan suka di sana nanti," bisik Natalia ketika menyetop sebuah taxi dan naik untuk kemudian melaju ke arah bandara.


**********


Luigi baru saja masuk ke apartemennya dan melangkah melewati meja ruang tamu, ketika ia melihat secarik kertas di atas meja itu. Ia berhenti dan mengangkatnya lalu mengerutkan dahi.


Natalia pergi?


Dengan langkah cepat, Luigi pergi ke ruang kerja yang biasa Natalia pakai untuk tidur. Ia membukanya dan masuk. Benar saja, ruangan itu rapi, dan tidak ada sosok Natalia.

__ADS_1


Luigi langsung keluar kemudian menuju dapur. Kali ini meja itu bersih. Tidak ada apapun. Luigi berdiri diam menatap ke arah meja ... perhatian yang selalu disuguhkan Natalia di atas meja itu kini tidak ada. Ia menarik nafas panjang.


Kenapa? Bukankah kau tidak pernah menyentuh sekalipun apa yang ia siapkan di meja itu.


Jadi dia pergi juga akhirnya ... kukira kau tidak akan bertahan dalam waktu dua minggu, Natalia ... tapi ternyata, kau melaluinya sampai hampir tiga bulan. Dan kini, Kau pulang juga ke rumah orang tuamu ...


Luigi melonggarkan dasi, melemparkan kertas dari Natalia ke keranjang sampah. Lalu melangkah menuju kamarnya sendiri. Kehidupannya akan normal kembali ... Akhirnya wanita manja itu sudah pergi.


**********


Yoana memutuskan akan mengundang Robert makan malam di mansion keluarga Bernard. Hubungan mereka makin dekat, tapi semakin lama menjalaninya, mereka merasa makin cocok hanya sebagai dua orang teman. Mereka telah saling jujur tentang perasaan masing -masing.


Robert mengakui kalau ia tidak pernah bisa melupakan almarhum istrinya yang sudah meninggal. Kenangannya selalu hidup di hati Robert. Ia ingin memulai hidup dengan orang lain, dan sudah mencobanya beberapa kali. Tapi di ujung hubungan itu, ia sendiri merasa kasihan bila wanita yang ia ajak hidup bersama tidak menerima cinta yang seharusnya didapatkan. Robert pasti akan memperlakukan pasangannya dengan baik, tapi bagaimana jika suatu saat nanti, seseorang yang bisa memberikan cinta pada pasangannya itu hadir?


Seperti yang terjadi pada dokter Leila, kekasih Robert dahulu. Mereka hampir saja akan menikah. Dokter Leila berkata ia akan bisa hidup bersama dengan kenangan Robert tentang istrinya. Tapi kemudian pria latin yang tidak sengaja tertabrak olehnya membuat hidup Leila sungguh berubah. Pria itu mengejarnya dan memburunya sampai Leila akhirnya bertekuk lutut. Pasangan yang saling mencintai itu akhirnya menikah. Membuat Robert bersyukur ia dan Leila belum melangkah terlalu jauh.


Setelah mendengar isi hati Robert, Yoana akhirnya juga menceritakan kisah cintanya yang pahit. Seorang pria yang dulu memberikan cinta dan kasih sayang pada Yoana sepenuh hati. Tapi pria itu mengubur perasaannya dalam-dalam karena menjaga sumpahnya pada ayah Yoana.


Yang membuat Robert sangat penasaran adalah saat Yoana mengatakan kalau pria itu masih tinggal bersama mereka hingga saat ini. Karena sumpahnya pada mendiang ibu Yoana untuk selalu menjaga keluarga Bernard. Yoan juga menceritakan perihal kenapa Vincent sampai membuat janji seperti itu dalam hidupnya. Peristiwa wajahnya yang di buat cacat oleh Rodrigo dan kematian ibunya yang membuat Vincent merasa sangat bersalah.


Setelah mereka makin dekat, Yoana sangat suka bila ditemani oleh Robert. Robertpun mengalami hal yang sama. Hingga keduanya kerap hadir sebagai pasangan di setiap acara dan terekspos di berbagai media.


Yoana berdandan dengan menyapukan make up tipis. Setelah merapikan gaunnya yang berwarna kuning pucat, ia keluar dari kamar dan segera turun ke aula depan. Claude dan juga Simon sudah ada di sana.


"Apa Robertmu jadi datang, Yoan?" tanya Claude.


Yoana hanya menganggukkan kepalanya. Ia menatap berkeliling mencari Vincent.


Simon dan Claude mengangkat kedua bahu mereka.


"Belum kelihatan sejak tadi," ucap Claude.


Tanpa keluarga itu menyadari, di sudut gelap aula itu, tertutup oleh bayang-bayang tangga, Vincent sudah duduk dengan tatapan tajam. Kemeja dan celana hitam yang ia pakai, menyamarkan kehadirannya.


Vincent menggerakkan gigi ketika melihat Yoana. Wanita itu berdandan khusus untuk makan malam. Karena akan menyambut seorang pria bernama Robert itu.


Suara mobil yang memasuki halaman mansion membuat Yoana melangkah keluar. Ia menanti di teras dan tersenyum lebar melihat Robert yang turun dari mobilnya.


"Apakah aku terlambat?" tanya Robert.


"Tentu saja tidak."


"Kau tampak cantik, Yoan."


"Terima kasih, Robert. Ayo masuk ...."


Robert memasang sikunya agar Yoana bisa menggandeng tangannya. Dengan tersenyum, Yoana menggandeng tangan temannya itu dan melangkah masuk bersama.


Claude dan Simon segera berdiri dari posisi duduk mereka. Mereka segera mengulurkan tangan dan menyambut Robert dengan ramah.


"Selamat datang, Tuan Delaney," ucap Claude.

__ADS_1


"Oh, Panggil aku Robert saja, Claude, Simon," ucap Robert. Mereka saling berjabatan tangan dan memperkenalkan diri.


"Dimana Vincent!? Kenapa ia belum juga turun? Simon, Kau saja yang naik. Panggil dia ...." ucap Claude.


"Aku di sini ...." suara itu menggema, berasal dari sudut aula. Semua orang menoleh dan menatap ke arah Vincent yang muncul dari balik bayang-bayang dengan berpakaian serba hitam.


Vincent melangkah ke arah Robert dengan wajah datar. Namun sinar mata itu sesaat setelah keluar dari balik bayang-bayang sempat terlihat oleh semua orang, memperlihatkan kemarahan dan kegeraman yang amat sangat. Lalu Vincent segera mengaturnya kembali. Ia mendekat ke arah Robert dan mengulurkan tangannya lebih dulu.


"Aku Vincent," ucapnya dingin.


"Halo Vincent. Aku Robert."


Kedua pria itu berjabat tangan lama sambil saling menatap tanpa berkedip. Setelah beberapa saat dan tidak ada yang mau mengalah mengalihkan pandangan ataupun berkedip. Yoana melangkah ke tengah keduanya lalu memutus paksa jabat tangan itu dengan menarik masing-masing pergelangan tangan keduanya.


"Sampai kapan kalian mau berdiri di sini? Karena aku sudah lapar. Ayo Robert ... Kau harus mencicipi masakanku," ucap Yoana.


"Oh My .... Yoan ... Kau bisa memasak?" tanya Robert. Terlihat sedikit terkejut dan kagum menatap Yoana.


"Jangan meremehkanku ... Ayo, kau harus mencicipinya." Yoana menarik Robert dan mengajaknya ke arah ruang makan.


Vincent menunggu sejenak sambil menatap dengan rahang mengeras. Kedua tangannya sempat mengepal untuk beberapa saat. lalu barulah ia menyusul ke arah ruang makan.


Claude dan Simon saling bertatapan dan menyeringai.


"Astaga ... kau lihat ekspresi itu?" bisik Simon.


"Ya ... Robert akan hangus terbakar bila sinar mata itu bisa berubah menjadi api," sambut Claude.


"Benar. tajam dan mematikan." tambah Simon lagi.


"Dan hanya tinggal menunggu waktu ... sampai ia habis kesabaran, lalu mendaratkan kepalan tangannya ke wajah Robert." Claude menyeringai membayangkan hal itu.


"Pastinya ... Aku jadi kasihan pada Robert," ucap Simon.


Lalu kedua kakak beradik itu menyusul ke ruang makan. Tidak mau ketinggalan pertunjukan menarik antara Yoana, Robert dan Vincent.


NEXT >>>>>


**********


From Author,


Ikuti kisahnya terus, dan bersabar tunggu updatenya ya. Jangan lupa klik tombol like alias jempol, tombol favorite alias love, beri komentar, saran ataupun kritik membangun, biar Author makin semangat untuk nulis.


Bagi yang belum kasih rate, tolongin dong tekan tombol bintang, kemudian klik bintang lima ya๐Ÿ™๐Ÿ™


Yang punya poin dan koin, bisa bantu author dengan klik Vote agar performa novel ini makin naik.


Untuk semua bantuan para Readers semuanya, author ucapin terima kasih banyak๐Ÿ’ž


Salam hangat, DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2