
Catalina menggandeng tangan Marylin. Mereka melangkah bersama-sama sambil membawa kantong belanjaan.
Marylin dan Catalina memutuskan untuk pergi ke supermarket di dekat apartemen, jadi mereka bisa pergi dengan berjalan kaki. Sekarang dua kantong belanjaan mereka sudah penuh dan mereka sudah akan menuju arah pulang.
Marylin melihat cafe di seberang jalan, tempat ia dan Serge sering minum dan mengobrol jika sedang libur, lalu tiba-tiba ia berhenti.
"Ada apa?" tanya Catalina.
"Apa kau mau kalau kita mengobrol sambil minum dulu di cafe itu?" Marylin menunjuk ke arah Cafe.
Catalina mengangguk dan menggandeng Marylin yang mengajaknya menyeberang jalan.
Di dalam sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir di pinggir jalan raya, Annete mengawasi dua kakak beradik itu dengan seksama. Ia melihat Marylin dan merasa sedikit lega, wanita itu terlihat baik-baik saja. Dokter keluarganya yang memeriksa Marylin waktu itu benar dengan mengatakan berkumpul dengan keluarga dapat membantu Marylin.
Annete merapikan pakaiannya yang sederhana, lalu memegang tas tangan yang sudah kuno yang sengaja ia bawa sebagai penyamarannya. Setelah melilitkan sebuah syal ke leher, Annete turun dari mobil.
"Jemput aku jika nanti aku menghubungimu," ucap Annete pada sopirnya. Pria itu mengangguk, lalu beranjak mengemudikan mobil menjauh dari tempat Annete.
Annete pergi menuju depan cafe, lalu dengan sengaja ia celingukan seperti orang bingung. Lama ia berdiri sambil berpura-pura terus mengecek ponselnya.
Di dalam cafe, Marylin mengernyit melihat sosok seorang wanita yang berdiri di trotoar dengan memegang ponsel. Kaca bening cafe memberikan pemandangan yang sangat jelas untuknya.
"Ada apa?" tanya Catalina.
"Itu ... kau lihat wanita itu? Sepertinya aku mengenalnya ...."
Kemudian Marylin mengenali dan ingat siapa wanita itu.
"Tunggu di sini, Lina!" Marylin bangkit dan melangkah cepat menuju keluar cafe.
"Annete!?" sapa Marylin.
Annete menoleh dan seketika memasang wajah terkejut.
"Mar ... Marylin?" tanyanya seolah tak percaya.
Marylin tersenyum, lalu mendekat ketika melihat Annete membentangkan kedua tangan lalu tertawa senang. Annete memeluk dan mencium pipi Marylin kiri dan kanan.
"Ya ampun ... Sayangku! Tak kusangka melihatmu di sini! "
"Aku juga! Tadi aku melihat dari dalam sana ... aku takut salah mengenali. Tapi ternyata memang benar dirimu," ucap Marylin. Sedikit aneh melihat wanita yang ada di mansion yang ada di pegunungan itu bisa tiba-tiba ada di sini. Namun ia menyimpan rasa herannya.
"Oh, Aku mau bertemu seorang teman ... tapi ponselnya tidak bisa di hubungi ...." Annete mengernyit dalam hati karena dusta yang ia ucapkan.
"Kapan kau keluar dari tempat itu, Annete?" tanya Mary.
"Itu ...." Annete bergerak-gerak tidak nyaman. Marylin menyadari mereka masih berada di pinggir jalan.
"Maukah bergabung dengan kami? Kami tengah mengobrol di dalam sana," ajak Marylin pada Annete.
"Tentu, Sayang. Aku juga mau menanyakan bagaimana keadaanmu," ucap Annete. Mary seketika terdiam, lupa kalau Annete mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padanya di Mansion Cougar.
"Tapi Annete ... kumohon jangan singgung peristiwa di mansion itu di depan adikku ... maksudku tentang pe ... tentang kejadian dengan Tuan Lucca waktu itu." Marylin memandang wajah Annete yang sedikit terkejut.
"Tentu, tentu, Mary ...." Annete tersenyum dan mengikuti ketika Marylin mengajaknya masuk ke dalam Cafe.
Jadi Mary belum menceritakan kejadian itu pada adiknya. Annete mengerutkan kening dengan heran.
"Halo, Nona. Kau pasti adik Mary," sapa Annete sambil mengulurkan tangan.
__ADS_1
"Ya, benar sekali Nyonya ...."
"Oh! Panggil Aku Annete! Mary juga memanggilku begitu."
Catalina tersenyum, menyukai wanita yang ramah itu. Wanita itu berumur sekitar 50 tahunan, atau mungkin juga lebih. Memiliki rambut hitam yang sudah ditumbuhi uban di beberapa tempat. Namun gerakannya masih lincah dan gesit. Ia juga nampak bersemangat ketika mengobrol dengan Mary.
"Kalian sudah lama saling mengenal?" tanya Catalina.
"Ummm ...." Annete menatap Mary, bingung harus menjawab jujur atau tidak.
"Kami bertemu di mansion Tuan Lucca, Lina ... Annete menolongku saat itu, juga menemaniku saat aku ketakutan."
Annete mengambil napas panjang, mengulurkan tangan menggenggam tangan Mary.
"Kau benar-benar baik-baik saja?" tanyanya.
Marylin hanya menjawab dengan tersenyum.
"Kapan kau pergi dari sana, Annete?" tanya Marylin. Ingin tahu waktu Annete meninggalkan Mansion Cougar.
"Tidak lama setelah kau pergi, Mary. Aku memang sudah akan pensiun dari sana."
"Oh ... dimana kau tinggal sekarang?"
"Aku punya kamar tak jauh dari sini di sebuah apartemen. Aku tinggal dengan putraku ... well, Dia jarang pulang. Jadi bisa dikatakan aku tinggal sendiri di sana. Sekarang aku sedang menunggu temanku, kami berjanji bertemu di depan cafe ... tapi sepertinya ada sesuatu yang menghalanginya."
Pembicaraan mereka terhenti ketika seorang pelayan membawakan pesanan Marylin dan Catalina. Mary menanyakan pada Annete apa ia ingin minum juga. Annete meminta pesanan yang sama seperti kedua orang wanita itu.
Setelah pelayan itu berlalu, Annete kembali menoleh ke arah Marylin.
"Kau tinggal dimana, Mary?" tanya Annete, walaupun sebenarnya ia tahu dimana wanita itu tinggal.
"Tentu, Sayang. Pasti ...."
Ketiganya lalu terus mengobrol hingga akhirnya minuman mereka habis. Mereka bertukar nomor ponsel sebelum akhirnya saling melambai dan mengucapkan selamat tinggal.
Annete tersenyum memandang kedua wanita yang berlalu itu, sudah tiga minggu setelah peristiwa mengerikan di ruang kerja putranya saat itu. Ia berharap kondisi Marylin yang tampak baik-baik saja itu memang adalah kondisi yang sebenarnya. Annete sungguh tidak ingin wanita itu terpuruk dan memendam trauma yang akan mengganggu kehidupan wanita itu di masa depan.
**********
"Apa maumu?" Serge memandang dua pria di depannya dengan tatapan dingin. Ia memutuskan menerima undangan tuan Lucca untuk bertemu dan bicara secara pribadi. Mereka bertemu di sebuah restoran mewah dengan meja khusus yang sudah dipesan tuan Lucca.
"Aku akan bahas masalah Marylin ...," jawab Alric.
"Tentang apa? Pekerjaannya yang belum selesai? Kontraknya yang tidak di kerjakan!?" ejek Serge.
"Mary bisa melakukan pekerjaan itu lagi bila ia memang mau. Kontraknya tidak akan bermasalah sekalipun ia memutuskan untuk berhenti."
"Baik sekali kau hari ini ...." Kembali Serge mengejek.
"Dengar Serge ... kau akan jadi pengangguran dan tidak punya pekerjaan jika Mary memutuskan berhenti. Aku datang kemari ingin memberikan penawaran padamu." Alric menatap Serge yang mengerutkan kening ketika ia mengucapkan kata pengangguran.
"Penawaran apa?"
"Pekerjaan ... untukmu."
"Apa pekerjaannya?"
"Menjadi jembatan untukku dan Mary."
__ADS_1
Serge menaikkan alis, terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak.
"Hentikan sekarang juga, Sergio Eneas! Tuan Lucca bicara serius!" Diego memandang gusar pada Serge yang terus tertawa.
Setelah beberapa saat, Diego menarik tisu di atas meja dan menghapus matanya, lalu ia menatap Alric dengan tatapan tajam. Wajah geli yang barusan terlihat di wajahnya sudah berganti wajah yang dingin dan penuh perhitungan.
"Jembatan? Kau mau apa lagi dari gadisku! Belum cukup membuatnya takut tempo hari hanya karena kesalahpahamanmu!" Serge berucap pedas setelah dapat menghentikan tawa.
"Aku mau kau membujuk Mary ... agar mau menemuiku. Aku akan meminta Diego menyampaikan undangan makan malam padanya. Tugasmu membujuknya agar mau datang. Kalau perlu kau juga ikut, agar dia tidak merasa takut."
"Takut!? Hakh! Kau bilang takut!? Maryku gadis pemberani! Apa alasan dia harus takut padamu! Dia histeris di Mansion Cougar karena kau mengurungnya bersama dua ekor singa gunung! Siapapun pasti takut bila akan dijadikan santapan dengan cara dicabik! Bodoh!"
Diego mengepalkan tangan dan baru saja akan bergerak ke arah Serge, tidak suka mendengar Serge memaki tuannya, ketika tangan Alric terangkat untuk menghentikannya.
"Aku senang kalau dia tidak takut. Jadi akan mudah bagimu untuk membujuknya agar menerima undanganku." Alric menyadari, Serge tidak menyinggung tindakan lain yang pernah ia lakukan selain mengurung Mary. Apakah Mary memang belum menceritakannya? Kenapa wanita itu menyimpannya sendiri? Kejadian itu pastilah menoreh luka di jiwanya bukan?
Serge menyipit curiga ke arah Alric.
"Katakan mau apa kau menemuinya?" tanya Serge.
"Aku mau menemuinya untuk minta maaf ...." Alric berkata tegas dan yakin. Membuat Serge terpaku sesaat memandangnya.
"Tentu saja aku wajib minta maaf padamu juga. Kesalahpahamanku membuat kau harus mengalami hal tidak mengenakkan."
"Tidak mengenakkan kau bilang!? Kau pria brengks*k! Harusnya kau coba tidur di kandang itu berhari-hari seperti yang kualami!" cetus Serge kesal.
"Aku minta maaf ... dan aku juga menawarkan kompensasi. Pekerjaan baru untukmu. Kulihat kau piawai sebagai manager Marylin. Jika kau berminat, Frans Humberto membutuhkan manager. Kau kenal model pria satu itu bukan!?" tanya Alric.
Serge melotot menatap Alric.
"Kau bilang Frans Humberto!?" Serge menatap tak percaya pada Alric. Siapa yang tidak kenal pada model internasional satu itu, pikir Serge.
"Dia punya tiga manager. Salah satu baru saja berhenti. Jika kau berminat, aku bisa memberi rekomendasi. Mereka akan langsung menerimamu. Tapi tentu saja ... itu jika kau punya kemampuan, Serge. Kau tahu bintang sekelas mereka mengurusnya seperti apa ...." Alric dengan sengaja memancing jiwa kompetisi Serge.
"Tambah lagi, gajinya merupakan dua kali lipat gajimu dan gaji Marylin sekarang jika digabung."
Serge makin terlihat tertarik.
"Jadi tidak akan memperngaruhi jika nanti Mary benar-benar harus berhenti bekerja. Kau sudah punya penghasilan yang sangat besar." Alric terus membujuk Serge.
"Aku jadi curiga ... kau pasti menginginkan sesuatu!?" Serge kembali menyipit curiga.
Alrico Lucca untuk pertama kalinya tersenyum dalam pertemuannya dengan Serge. Ia tahu ia sudah mendapatkan keinginannya ketika melihat sinar tertarik di mata Serge.
"Aku sudah mengatakannya dari tadi, Serge ... Aku mau minta maaf ...."
N E X T >>>>
********
From Author,
Nah ... Babang tamvan mo minta maaf. Ati-ati Bang ... ntar malah dicakar๐๐๐
Pembacaku semuanya, jangan lupa tekan like, tekan love dan rate bintang lima bagi yang belum, vote bagi yang punya poin and koin, trus komentar, biar tambah semangat authornya.
Terima kasih ya,
Salam hangat, DIANAZ.
__ADS_1