
Natalia menjinjing tas berisi box makan siang yang ia masak. Ia nekat mencoba cara ini. Luigi menolak bicara dengannya dan menganggapnya tidak ada saat di apartemen. Maka Natalia sedikit penasaran. Bagaimana sikapnya jika ada orang lain, seperti saat di rumah sakit.
Natalia melewati lobi dengan langkah panjang. Sepatu flat yang ia pakai tetap mampu membuatnya melangkah dengan anggun. Ia mengikat rambutnya menjadi satu di belakang leher dan sedikit menyapukan make up agar ia tidak terlihat pucat.
Natalia masuk ke dalam lift, karena merasa sendirian, Natalia melatih senyum dan alasan kedatangannya yang akan ia katakan nanti ketika bertemu dengan Luigi.
Ia tiba di lantai tempat ruangan Luigi berada. Sekretaris Luigi yang sedang duduk dengan santai langsung berdiri ketika melihat Natalia datang.
"Nyo ... Nyonya ...." sapanya tergagap.
" Dokter Luigi ada kan?" tanya Natalia, ia melirik ke arah pintu.
"Itu ..." Sekretaris itu nampak ragu untuk menjawab.
"Dia ada operasi?" tanya Natalia.
wanita di depannya hanya menjawab dengan keheningan.
"Sedang rapat? Atau sedang periksa pasien? Dimana dia?" Natalia memberondong sekretaris tersebut dengan pertanyaan. Membuat wanita itu kebingungan.
Natalia tersenyum, memutuskan memeriksa langsung dan masuk ke ruang kerja Luigi.
Baru beberapa langkah ia berjalan, pintu ruangan Luigi terbuka. Seorang wanita keluar sambil tertawa, lalu diikuti seorang wanita lagi yang berteriak ke arah dalam.
"Kau berhutang mentraktirku makan malam, Dokter!" seru wanita itu. Keduanya tertawa riang dan menutup pintu. Kemudian dua wanita yang mengenakan jas putih itu melangkah meninggalkan tempat itu tanpa menoleh ke arah Natalia, bahkan keduanya tidak menyadari sama sekali kehadiran Nyonya, istri dari direktur mereka itu.
Natalia menatap kedua wanita yang bicara sambil tertawa kecil itu sampai mendekati lift, baru ia berbalik dan melangkah ke ruangan Luigi.
Luigi mengira kalau yang masuk kembali adalah dua orang rekannya sesama dokter yang tadi baru saja selesai bicara dengannya. Ia tersenyum lebar dan berucap riang,
"Apa lagi, Gadis ja ...." Ucapan Luigi terhenti, ketika ia mendongak dan menemukan Natalia di depan pintu. Wajahnya langsung berubah dingin, ia langsung menunduk kembali dan menekuri kertas-kertas si hadapannya.
"Boleh aku masuk ...?" Natalia memberikan senyum yang tadi ia latih, walaupun Luigi sama sekali tidak melihat ke arahnya. Pria itu ternyata bersikap normal dengan orang lain, bahkan terdengar ceria. Dua wanita yang tadi keluar dari sini juga tampak baru saja selesai bergurau dengan suaminya itu.
Tanpa menunggu jawaban, Natalia melangkah masuk dan mendekati meja suaminya.
"Kau belum makan siang kan? Sebentar lagi waktu makan siang ... Aku membuatkan ini untukmu."
Natalia meletakkan tas berisi box makan siang itu ke atas meja. Tidak ada respon, Luigi bersikap seolah tidak ada orang di sana. Nyali Natalia sedikit ciut, ia akan malu sekali bila sampai diusir dari sana.
__ADS_1
"Ku taruh di sini ya ...."
Hening ... Sampai sang sekretaris tiba-tiba mengetuk, lalu masuk untuk menyampaikan agenda pertemuan Luigi yang sudah menunggu.
"Dok ... Anda di tunggu dokter Melissa ...." ucap sekretaris Luigi dengan canggung, merasa tidak enak menyela pasangan tersebut.
"Katakan aku dalam perjalanan ke sana."
Sang sekretaris mengangguk lalu pergi meninggalkan ruangan. Luigi menutup berkas di atas mejanya, lalu mengambil jas dokter yang ia sampirkan ke sandaran kursi kemudian memakainya.
Natalia menelan ludah dan tersenyum pahit ketika Luigi melangkah pergi tanpa menengok sedikitpun ke arahnya.
Natalia mengangkat tangan, memegang dadanya yang terasa nyeri, hatinya merasa seperti baru saja diiris. Cairan bening berkumpul di kelopak matanya.
"Tidak ... Kau tidak boleh menangis. Itu bukan hal yang besar ... biarkan saja ...." Natalia mendongak, menarik nafas panjang dan menahan bendungan air mata, ia tidak mau menangis.
Setelah merasa tenang, Natalia memutuskan untuk pulang, ia mengelus perutnya yang sudah mulai membukit.
Jika nanti perut Mommy sudah tidak dapat disembunyikan lagi dan ayahmu masih belum mau berdamai, maka kita harus pergi, Sayang ... Kita tidak akan bisa menerima kilau penolakan di matanya nanti. Jadi lebih baik ia tidak tahu perihal dirimu ....
**********
Claude menatap Alric yang datang ke kantornya dan mengajak bicara perihal menemui Catalina.
"Aku perlu tahu kabar Marylin. Juga butuh menemuinya untuk membicarakan sesuatu."
"Tentang apa?"
Alric hanya diam dan mengerutkan kening.
"Kalau kau keberatan membicarakan niatmu, maka jangan harap aku mengizinkan kau bertemu dengannya,β ucap Claude.
"Keluarga Marylin yang tersisa selain ibunya adalah adiknya, Miss Catalina. Jadi aku perlu pendapatnya tentang beberapa hal mengenai penempatan baru yang ku atur untuk ibu Marylin. Aku ingin memindahkannya dari tempat perawatan yang sekarang ke tempat yang terkenal lebih baik dengan fasilitas lebih bagus." Alric mulai menjelaskan. Berharap Claude puas hanya dengan penjelasan itu.
"Hal itu harus kau bicarakan dengan Marylin sendiri. Bukan Catalina ...."
Kedua pria itu saling menatap dari seberang sofa. Claude mengerutkan dahinya heran ketika melihat Alric tersenyum kecil.
"Aku tidak dapat menemui atau bicara dengan Marylin, Tuan Bernard. Karena itu aku minta bantuanmu, aku perlu bicara dengan Catalina."
__ADS_1
"Minta saja bantuan Serge," usul Claude.
Alric menarik nafas panjang. Ia sudah menduga pria di depannya ini tidak akan mudah memberikan izin.
"Kau fikir kenapa aku menemuimu? Aku sudah menemui Serge. Hingga kini belum ada kabar baik yang ku dapat darinya. Ia tidak memberi jawaban mau atau tidak membantuku."
Alric menunggu, Claude terlihat berfikir, heran sekaligus penasaran.
"Katakan padaku, Tuan Lucca. Apa yang kau lakukan pada Mary sebenarnya? Maksudku ... selain fakta kau mengurungnya di kandang dengan hewan buas" Claude merasakan ada alasan lain selain hal itu dan ia sangat ingin mengetahuinya.
Alric menatap datar pada Claude, Merasa kesal karena pertanyaan pria itu. "Seharusnya aku tak perlu izinmu, hanya karena Nona Catalina tinggal di mansionmu, makanya aku datang dan meminta baik-baik. Kau bukan siapa-siapa gadis itu. Kenapa aku perlu izinmu hanya untuk sekedar bicara dengannya?"
"Jangan coba-coba bicara dengannya tanpa pengawasanku!" ucap Claude gusar.
"Kalau begitu, biarkan aku bertemu dan bicara.
Kau bisa mendampinginya saat itu. Aku perlu bantuannya agar dapat bertemu Marylin!"
Claude menyipitkan mata, tujuan Alric adalah Marylin. Ada apa sebenarnya?
"Katakan dulu ... Apa tujuanmu menemui Marylin?" tanya Claude.
"Minta maaf ... hanya itu." jawab Alric singkat.
Setelah beberapa saat, barulah Claude bersuara lagi.
"Aku tidak janji ... tapi aku akan mengusahakannya ...."
Alric tersenyum mendengar ucapan Claude.
"Itu cukup. Ucapan seorang kepala keluarga Bernard tentu saja dapat aku pegang. Aku harap kau bisa mengusahakannya dalam waktu dekat," ujar Alric.
Claude diam tidak menanggapi selama beberapa saat. Kemudian barulah ia mengangguk ketika Alric mengulurkan tangan dan menyalaminya untuk berpamitan.
*********
From Author,
Jangan lupa tekan like, love, bintang lima dan juga komentar agar tambah semangat authornya nulis. Yang punya poin and koin, boleh dong kasih Vote banyak-banyakπππ
__ADS_1
Terima kasih,
Salam hangat, DIANAZ