
Catalina memandang Claude dengan mata terbelalak. Pria itu mendatanginya dan bercerita perihal Vincent yang akhirnya menikah dengan Yoana.
"Kapan mereka melakukannya?" tanya Catalina.
"Kemarin malam."
"Astaga ... Meski pun sebenarnya aku tidak heran. Vincent sangat mencintai Yoan. Begitu juga sebaliknya."
"Ya ... mereka belum pulang hingga malam ini,"
"Biarkan saja mereka menikmati bulan madu," sahut Catalina sambil tertawa. Lalu ia teringat akan satu lagi acara pernikahan yang akan berlangsung besok.
"Apakah besok kau sibuk, Claude?"
"Tidak. Ada apa?"
"Mau menemaniku?"
"Kemana?"
"Mmm ... Mary akan menikah."
Claude terdiam, memandang ke arah pintu kamar Mary yang tertutup.
"Ia gelisah. Mengurung diri di kamar setelah mengumumkan keputusannya untuk menerima lamaran Alric."
Claude menarik napas panjang, lalu mengulurkan tangan menggenggam tangan Catalina.
"Dia akan baik-baik saja, Alric akan bersikap baik padanya. Aku yakin akan hal itu."
"Aku tahu ... hanya saja ... kesan kejam pada dirinya entah kenapa tidak mudah terhapus dari benakku."
"Kau ingat pertemuan pertama kita? Kau juga merasa aku kejam dan dingin saat itu bukan? Sekarang kau malah sudah akan menikah dengan pria kejam dan dingin ini. Jadi biarkan hal yang sama terjadi pada Mary. Biarkan waktu yang memberinya jawaban. Aku yakin Alric akan menjaga dan menyayangi Mary dan bayinya."
"Aku harap begitu ...."
"Cat ... apakah kau menyadarinya? Kita menjadi pasangan yang pertama mengumumkan akan menikah. Tapi sepertinya akan menjadi yang terakhir menikah. Yoana ... dan sekarang Mary ...."
Catalina tersenyum, mengeratkan tautan jemarinya pada tangan Claude.
"Kau benar ...." ucap Catalina sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Claude.
**********
"Kau berjanji akan menjalaninya dengan pikiran jernih dan hati yang tenang. Beri dia kesempatan ...." bisik Serge ke telinga Marylin. Sebuah pelukan sayang ia hadiahkan pada sahabatnya yang baru saja menikah itu.
Marylin menganggukkan kepala. Ia memutar dengan gelisah sebuah cincin berlian tunggal yang sekarang melingkar di jari manisnya.
__ADS_1
Lalu Catalina sudah tiba di hadapan kakaknya. Memeluk dan memberi semangat.
"Aku akan mengunjungimu. Mansion Lucca tidak jauh." bisik Catalina, tahu kakaknya sangat butuh dukungan. Hati Mary masih merasa sedikit takut dengan hidup baru yang harus ia jalani dengan statusnya sebagai istri.
"Aku akan sering-sering mengantarkannya ke mansion Lucca," Claude yang sudah berdiri di dekat dua kakak beradik itu mengucapkan kalimat yang membuat Mary tersenyum berterima kasih.
"Terima kasih. Aku akan sangat menghargainya."
"Tidak masalah, Mary ... Serge akan sering berada di luar apartemen karena pekerjaannya. Kau juga sudah menikah dan akan tinggal bersama Annete di mansion Lucca. Jadi Catty akan kembali tinggal dengan kami di mansion Bernard. Aku tidak akan membiarkannya tinggal sendiri di apartemen. Jadi, Aku bisa kapan saja membawanya ke tempatmu ketika sedang tidak bekerja."
Catalina menaikkan kedua alisnya.
" Claude ... sejak kapan kau mengambil keputusan itu?"
Claude tersenyum lebar. "Sejak pernikahan Mary dan Alric dinyatakan sah, Catty sayang."
Alric melirik Mary yang berdiri dengan Claude, Catalina dan Serge. Mereka masih berada di kantor catatan sipil. Atas permintaan Mary, pernikahan mereka akhirnya hanya di selenggarakan di sana. Walau keberatan, namun Alric tidak dapat menolak. Ia tidak mau Mary malah membatalkan pernikahan mereka hanya karena ia tidak setuju tempat penyelenggaraan pernikahan itu.
"Mom ... kau ikut bersama kami sekarang bukan?" bisik Alric pelan. Annete berdiri di sampingnya.
"Biasakan panggil aku Ann mulai saat ini, Alric!" desis Annete.
Diego sedikit tersenyum mendengar perkataan Annete. Membuat Annete menyipitkan mata ke arahnya.
"Kau juga Diego Baldassare! Panggil aku Ann, jangan Nyonya!"
"Jangan melakukan apapun yang membuatnya tidak nyaman, Alric. Aku akan mengawasi mu," bisik Annete dengan senyum lebar.
Alric menatap Mary yang mengenakan gaun hitam selutut. Jika saja ia tidak meminta Serge untuk memaksa Mary agar mengenakan satu set perhiasan yang sudah ia siapkan, maka Mary akan terlihat seperti akan pergi ke pemakaman, bukan ke pernikahannya sendiri. Lalu tiba-tiba Mary melirik dan menatap ke arah Alric. Sebuah senyuman segera Alric sungging kan di bibirnya untuk wanita itu. Namun secepat kilat Mary mengalihkan pandangannya. Alric menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Diego yang memperhatikan hal itu akhirnya berkomentar.
"Hidup Anda akan penuh warna setelah ini, Tuan."
"Kau benar sekali, Diego. Bukan saja penuh warna, hidup pria ini akan jungkir balik setelah ini." Annete menutup mulutnya dengan telapak tangan, mencoba meredam suara tawanya yang tertahan. Annete merasa bahagia untuk putranya, juga merasa bahagia karena ia akan bisa bersama-sama calon cucunya mulai saat ini.
**********
"Ayo, Sayang." Annete membimbing Mary, membawa Mary melewati aula luas mansion Lucca dan naik ke lantai atas.
"Ann ... kau tahu betul arahnya. Kau pernah tinggal di sini?"
"Ya ... selama beberapa waktu ...."
Mereka tiba di sebuah kamar, Annete membuka dan mengajak Mary masuk. Kamar yang luas bernuansa putih dan biru, sebuah ranjang king size berada di tengah ruangan, lalu mengarah ke arah balkon luar, ada satu set sofa untuk bersantai. Mary terus berjalan dan tiba sampai ke pintu geser di balkon. Ia mendorong pintu hingga terbuka, lalu keluar dan berdiri di balkon.
__ADS_1
"Mary ... beristirahatlah," saran Annete.
"Ann ... dimana kamarmu?"
"Aku berada di lantai bawah Mary. Kaki tuaku akan sengsara jika terlalu sering naik turun tangga."
"Kalau begitu ... Aku mau pindah ke kamar bawah juga."
"Sayang ... mana boleh begitu. Apapun yang terjadi di antara kalian, kau tetap harus menjaga wibawa suamimu di depan para pekerjanya. Terutama para pelayan di rumah ini. Mereka akan bergosip jika tahu kau tidur di bawah dan Alric di atas. Kalau di kamar ini, karena berdampingan dengan kamar Alric, mereka akan maklum. Karena sudah biasa Tuan dan Nyonya mereka sebelumnya memiliki kamar mereka masing-masing. Kamar yang berdampingan." Annete membuat alasan. Padahal semua pelayan di mansion ini adalah pelayan baru. Tapi ia sudah memastikan, mereka tahu dan taat aturan ketat mansion Lion, untuk selalu menghindari bergosip. Apalagi menyangkut Tuan dan Nyonya mereka. Jika ketahuan, mereka akan segera dipecat oleh Gray, kepala pelayan mansion Lion yang sudah mengabdi lama pada keluarga Lucca.
"Apa tidak bisa kamarku di lorong yang lain saja ...."
"Mary, itu sama saja dengan kau meminta pindah ke lantai bawah ... apa yang kau khawatirkan? Alric berjanji akan melakukan apapun demi kenyamananmu. Ia tidak akan melakukan apapun yang tidak kau inginkan."
Mary tersenyum kecut. Tidak ia pungkiri hatinya masih agak takut menjalani semua ini.
"Aku ada di sini. Beristirahatlah. Kau butuh tenaga untuk nanti malam."
"Apa ia harus melakukan pesta itu?"
" Hanya pesta kecil, Sayang. Mengundang beberapa orang pegawainya dan orang-orang penting yang sering berhubungan dan terkait dengan keluarga maupun perusahaan Lucca. Alric tidak mau istrinya sampai tidak di kenali. Ini memperlihatkan ia sungguh-sungguh Mary, Mengumumkan kalau ia sudah menikah, memperkenalkan kalau kau adalah istrinya."
"Undangannya tidak banyak, bukan?"
"Setahuku tidak. Hanya beberapa gelintir orang. Dan tentu saja nanti malam Serge akan hadir, Catalina dan juga Claude. Yoana tidak akan hadir, karena masih belum pulang dengan Vincent. Kalau Simon ... Alric menolak mengundangnya," ucap Annete sambil menyeringai lebar.
Mary terdengar menghembuskan napas panjang, lalu ia berbalik, berjalan menuju sofa dan duduk.
"Aku mau melihat kamarku dulu, boleh aku pergi ya?" tanya Annete. Mary mengangguk, lalu menatap ketika Annete melewatinya dan pergi menuju pintu. Wanita itu keluar kemudian menutup pintu rapat-rapat.
Mary mengelus perutnya. Tonjolan di bawah pusarnya sudah teraba bila ia mengelus bagian perutnya itu. Sebentar lagi gaun cantik seperti gaun hitam yang ia pakai sekarang tidak akan lagi bisa ia pakai. Bila mengingat kehamilannya saat Leon dulu, maka tubuhnya akan melebar dan besar.
Aku akan terlihat seperti gentong air besar yang tidak berbentuk. Kuharap saat itu, aku dapat membuat pria itu tidak nyaman berada di rumah dan melakukan pekerjaannya di luar rumah selama berhari-hari. Aku lebih suka hanya bersama Annete di sini.
NEXT>>>>
**********
From Author,
Nantikan kisah selanjutnya ya, moment saat dokter Luigi mengetahui kehamilan Natalia.
Jangan lupa klik like, love, bintang lima, komentar dan Vote untuk novel ini ya para Readers. Author mengucapkan terima kasih banyak atas kesabaran para Readers sekalian untuk nunggu update.
Yuk, rekomendasikan novel ini ke teman-temannya yang hobi baca, sebagai tambahan penghuni rak baca mereka, siapa tahu jadi suka💞
Sekali lagi terima kasih.
__ADS_1
Salam hangat, DIANAZ.