
Natalia berderap menuju ruang kantor dokter Luigi. Seorang sekretaris mencoba menghentikan langkahnya, namun tidak dipedulikan oleh Natalia. Tanpa mengetuk, gadis itu masuk dan melangkah mendekat ke depan meja.
Luigi menyipitkan mata, memandang sejenak ke arah gadis itu sebelum kembali menekuni sebuah berkas di hadapannya.
"Kenapa ponselmu mati!?" tanya Natalia.
"Apa urusannya denganmu?"
"Karena aku butuh menghubungimu, Luigi. Ada acara penting yang perlu kuhadiri malam nanti. Aku butuh kau mendampingiku.
"Sudah kubilang sejak awal. Persetan kau dengan semua urusanmu ...." Luigi tetap menekuni berkasnya. Membuat Natalia menggeram dan bermaksud menarik file itu dari hadapan Luigi.
"Lakukan saja, dan aku akan mematahkan tanganmu!" gertak Luigi kesal.
"Aku tidak akan bisa mengangkat wajahku lagi bila tidak hadir denganmu di sana, Luigi! Sudah muncul spekulasi bahwa pertunangan dipaksa ini akan segera berakhir dan aku akan ditinggalkan! Malam ini pestanya akan sangat ramai. Mereka para mulut besar dan pendengki itu akan hadir!"
"Bukan urusanku!"
Natalia mengentakkan kakinya. Ia mengembuskan napas panjang lalu mencoba trik terakhirnya.
"Aku punya informasi untukmu. Tapi akan kukatakan jika kau mendampingiku nanti malam."
Hanya keheningan yang menjawab ucapan Natalia.
"Tentang Miss Catalina Seymor."
Seketika Luigi mengangkat kepalanya. "Ada apa dengannya!?"
Tawa Natalia menggema, lalu gadis itu mendengus.
"Sudah kuduga. Kau ingin tahu jika berkaitan dengan pengasuh itu bukan."
"Katakan ada apa dengannya?"
"Katakan kau mau datang."
"Ck ... aku bisa mencari informasi sendiri."
"Oh, baiklah. Kau harus cari tahu dulu. Tidak bisa datang dan menjenguknya sekarang kalau begitu."
"Menjenguk? Ada apa dengan Catalina, Natalia!?"
"Hanya makan malam, Luigi? Katakan ya! Maka aku akan mengatakannya padamu!"
Luigi menarik napas panjang, rasa penasaran menguasainya.
"Baiklah ...."
__ADS_1
Senyum kemenangan terbit di bibir Natalia.
"Catalina Seymor mengalami patah tulang. Baru saja di operasi beberapa hari lalu. Sekarang dirawat di rumah sakit Stone High Medical."
Luigi menutup berkas di hadapannya. Natalia menyipit, tersenyum sinis dan mulai berbalik.
Natalia melangkah keluar dari ruangan itu. Ia memilih langsung pergi sebelum pria itu mengusirnya.
"Ingat Luigi. Jemput aku dan jangan terlambat!"
Pintu terbanting menutup, Natalia kembali berderap dengan langkah kesal.
Tunggu saja. Kau tidak akan berkutik nanti malam.
**********
Suara langkah kaki yang terburu-buru dari lorong membuat Catalina dan juga Marylin menoleh. Pintu yang memang sudah sedikit terbuka itu di dorong dan muncul wajah dokter Luigi di sana.
"Dokter Luigi!" Catalina berseru terkejut.
"Wah, senang bertemu lagi, Dokter. Anda masih ingat aku?" Marylin tersenyum pada dokter yang mendekat dan menatap Catalina dari ujung rambut sampai ujung kakinya yang tertutup, lalu barulah ia mengalihkan matanya pada Marylin.
"Tentu, Marylin. Apa kabarmu?" tanya Luigi.
"Baik, Dokter. Seperti yang Anda lihat," jawab Marylin.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Luigi.
Luigi menyetujui syarat Natalia, ia sangat ingin tahu apa yang telah terjadi pada Catalina.
"Kenapa tulangmu bisa patah?" tanya Luigi.
"Itu ... aku hanya di rampok dan tergelincir jatuh kemudian mematahkan kakiku." Catalina memberikan senyum pada Luigi. Kerutan di kening Luigi menandakan ia tidak percaya pada apa yang Catalina katakan. Catalina bersyukur bengkak di wajahnya sudah hilang dan lebamnya sudah jauh berkurang
"Lalu ada apa dengan lebam di wajahmu?"
"Aku sudah bilang aku terjatuh. Wajahku membentur trotoar."
Marylin hanya diam. Bila Catalina merasa lebih nyaman berbohong, maka ia tidak akan ikut campur.
"Kau di rampok? Memangnya kau pergi sendiri? Tidak ada yang menemanimu? Kemana kau pergi sampai kau bertemu penjahat dan perampok!?"
"Itu ...." Catalina kebingungan menjawabnya. Marylin menaikkan alis. Dokter Luigi terdengar seperti seorang kekasih yang sedang kesal karena khawatir.
"Ak ... aku ...."
"Ya ampun ... Catalina, kau tahu betapa khawatirnya aku ketika mendengar bukan hanya satu kaki, yapi kedua kakimu yang cidera. Ada apa sebenarnya!?" Luigi mendekat, lalu menggenggam tangan Catalina dengan satu tangan, sedang tangan yang lain mengelus pelipis dan daerah matanya yang masih menyisakan lebam.
__ADS_1
"Mereka tidak menjagamu dengan baik!" seru Luigi kesal.
"Siapa yang kau maksud, Dokter?" tanya Claude dengan nada tajam. Matanya menatap tangan dokter Luigi yang tengah menggenggam dan mengelus pelipis Catalina dengan pandangan marah.
Vincent melihat dari kejauhan kelebat Luigi memasuki lorong ruang perawatan Catalina. Ia mengatakannya pada Claude yang langsung berbalik dan setengah berlari mengejar. Meninggalkannya dengan Yoana di kursi panjang tempat mereka mengobrol.Yoana dan Vincent akhirnya memutuskan mengikuti.
"Tentu saja kalian keluarga Bernard! Dia tinggal dengan kalian bukan!?" seru Luigi.
Claude menatap ke arah Marylin dan mengerutkan kening. "Kenapa pria ini bisa masuk, Mary?"
Marylin mengangkat bahunya. "Dia teman Catalina. Lagipula ... aku mengenalnya. Dokter Luigi yang waktu itu telah menolongku melahirkan Leon."
Yoana dan Vincent tiba di ruangan perawatan. Keduanya memilih tetap berada di sudut, melihat adegan di depan mereka.
"Lina, aku akan menyiapkan ruang perawatan di Eliza Hospital untukmu, lalu kau akan diperiksa kembali oleh tim bedah tulang rumah sakitku. Aku akan bisa memantaumu langsung setiap hari," ucap Luigi.
"Itu tidak perlu, Dokter Luigi. Aku baik-baik saja dan dirawat dengan sangat baik di sini." Catalina tersenyum, sedikit jengah ketika terbayang ciuman yang dipaksakan dokter Luigi padanya waktu itu dan otomatis menjauhkan wajah dari jari-jari Luigi yang memegang pelipisnya.
"Catalina ... tidak perlu sungkan. Kita masih berteman bukan? Waktu itu ... aku sungguh-sungguh minta maaf." Luigi merasakan gadis di depannya menghindar dan kebingungan, terlihat salah tingkah dan serba salah menatap bergantian pada Luigi dan Claude.
Marylin tertawa, terlihat geli melihat adiknya yang salah tingkah.
"Tidak perlu memindahkannya. Kami akan mengurusnya sampai ia sembuh. Anda tidak perlu repot," ucap Claude.
"Aku tidak repot. Dia mengalami perampokan hingga kakinya patah. Memangnya apa yang kalian lakukan hingga ia mengalami itu? Apa kalian keluarga Bernard kekurangan orang sebagai penjaga!?"
Claude mendengus. "Kau tidak tahu apa-apa, Dokter. Jadi lebih baik kau diam saja. Tutup mulutmu!"
"Umm ... bisakah kalian jangan bertengkar? Aku baik-baik saja di sini, Dokter Luigi. Aku tidak perlu pindah."
Dua pria itu saling menatap tajam, sebelum suara Marylin menyela.
"Sebaiknya kalian duduk," ucap Marylin dengan nada terhibur melihat drama unjuk kecemburuan di hadapannya.
Luigi menarik kursi di samping ranjang Catalina, lalu duduk di sebelahnya. Claude mnggeretakkan geraham, namun membiarkan Luigi duduk di dekat Catalina. Ia segera duduk di sofa panjang yang ada di ruangan itu dengan mata tak lepas mengawasi Luigi.
Yoana dan Vincent bertatapan. Luigi Stefano sepertinya tidak mengindahkan cincin pertunangan yang sudah melingkar di jarinya dan masih mendekati Catalina.Yoana menyipit memandang gerak-gerik sang dokter dan meragukan jika hati dokter itu murni hanya ingin tetap berteman.
N E X T >>>
**********
From Author,
Jangan lupa tekan like, love dan bintang lima ya. tinggalkan jejakmu lewat komentar.
Yang suka cerita di novel ini, yuk bantu author dengan rekomendasikan ke teman-temannya yah, siapa tahu temannya juga suka dan menikmati ceritanya.
__ADS_1
Terima kasih semua,
Salam, DIANAZ