
Marylin duduk di pinggir ranjang rumah sakit. Menatap ke arah Catalina yang tertidur. Setelah operasi dan adiknya itu sadar, tangan Catalina terulur ke arahnya dan kemudian gadis itu menangis. Marylin tidak bisa berbuat apa-apa selain menyambut tangan Catalina yang menggenggam tangannya. Ia hanya diam dan duduk di pinggir ranjang sambil sesekali mengulurkan tisu pada adiknya itu.
Tidak ada cerita yang keluar dari bibir Catalina mengenai pengalaman buruk dan mengerikan yang ia alami. Begitu juga dengan bibir Marylin, lidahnya kelu untuk sekedar mengucapkan kalimat penghiburan pada adiknya itu. Tak perlu kata untuk menggambarkan teror yang pasti dialami oleh Catalina. Apa yang dialami kedua kaki dan wajah Catalina sudah menggambarkan kejadian mengerikan seperti apa yang dialami Catalina ketika disekap sendirian oleh penculiknya itu.
Dengan tangan masih saling menggenggam, Catalina akhirnya lelah menangis dan tertidur nyenyak. Marylin yang menatap lebam membiru di wajah adiknya itu menarik napas panjang. Ia bersyukur telah dengan cepat mengambil keputusan. Menurut cerita Claude saat mereka menunggu di depan ruang operasi, penyelamatan Catalina tak lepas dari campur tangan Tuan Alrico Lucca dan orang-orangnya. Laki-laki itu bersedia membantu karena Marylin telah menerima penawarannya.
Perlahan Marylin melepas genggaman tangannya pada tangan Catalina yang tertidur. Ia memandang berkeliling pada kamar perawatan yang besar bak kamar hotel itu. Senyum miring muncul di bibirnya tatkala menyadari keluarga Bernard sepertinya memperlakukan Catalina dengan sangat baik. Adiknya itu sepertinya bukan hanya sekedar pengasuh bagi Leon. Arti Catalina sudah lebih dari itu, bukan hanya pegawai yang mereka pekerjakan.
Dengan langkah pelan, Marylin melangkah ke jendela lebar ruang perawatan itu. Ia menatap ke langit pagi yang cerah. Ia belum tidur sekejap pun. Begitu juga dengan Claude. Laki-laki itu pamit keluar sebentar untuk mencari kopi.
Marylin menikmati keheningan itu dengan pikiran kembali ke masa lalu. Mengingat teror yang dulu pernah dialaminya saat dirinya pernah menjadi korban percobaan pemerkosaan. Pemerkosaan yang akan menjadi trauma mendalam bagi jiwanya andai saja saat itu Serge tidak datang dan menolongnya.
Tuan hidung belang itu bahkan terus mengejar mereka sampai keluar ke jalanan di depan gedung klub malam dan hotel tempat Marylin bekerja sebagai pelayan. Dini hari sudah lewat saat itu. Marylin masih dapat merasakan dinginnya udara malam dan keheningan di jalanan itu saat ia dan Serge berlari dengan cepat dari pria yang mengejar mereka. Lalu tiba-tiba sebuah mobil melintas, menabrak pria yang tidak mengindahkan apapun kecuali tujuan untuk menangkap Marylin kembali. Pria itu terhempas, lalu terbaring di pinggir jalan.
Mobil yang menabraknya sempat berhenti sebentar, lalu memutuskan lari dan tancap gas meninggalkan tempat itu dan korban yang telah ditabraknya. Serge dan Marylin memutuskan melakukan hal yang sama. Mereka pergi meninggalkan pria yang terbaring di pinggir jalan sepi di pekatnya malam tanpa mencoba memeriksa bagaimana keadaan dan kondisi pria yang sudah tergeletak dengan posisi telungkup.
Setelah kejadian mengerikan itu, ia dan Serge akhirnya memutuskan berhenti bekerja di klub malam itu. Mereka pindah ke kota lain dan mulai mencari pekerjaan baru.
"Kau mau kopi?" suara Claude membuyarkan lamunan Marylin. Ia berbalik lalu menatap ke arah kopi instan yang diulurkan oleh Claude.
"Tidak. Terima kasih." Marylin menggeleng.
"Cobalah untuk tidur di sana. Kau pasti lelah, kau belum tidur sama sekali," ucap Claude sambil menunjuk ranjang lain yang memang diperuntukkan bagi keluarga pasien yang menunggu.
Marylin hanya mengangguk, tapi ia tidak beranjak dari jendela. Ia kembali memandang keluar kaca.
__ADS_1
Claude mendekat ke ranjang Catalina. Mata gadis itu masih tertutup rapat, tidur nyenyak dengan napas teratur. Tampak damai walaupun lebam keunguan menghias wajahnya.
"Apakah pria itu sudah memberitahu Serge isi kontrak yang dia inginkan?" Claude menatap punggung Marylin dari tempat duduknya. Marylin tidak perlu bertanya siapa yang dimaksud oleh Claude. Dengan satu tarikan napas panjang ia menjawab.
"Tidak."
"Entah kenapa Aku merasa pria itu bukan hanya menginginkan kau bekerja untuknya. Seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan."
Marylin hanya diam. Bukan hanya ia dan Serge yang merasakannya, Claude Bernard merasakan hal yang sama.
"Itulah sebabnya Yoana menolak penawarannya. Tapi sekarang ...."
"Sekarang Aku menerimanya. Yang lain tidak perlu dibahas lagi."
Claude diam. Mereka berutang pada Marylin, Marylinlah yang pada akhirnya membayar untuk keselamatan Catalina.
"Tidak."
"Mungkin secara tidak langsung?"
"Tidak."
Claude mengembuskan napas panjang, lalu mulai meneguk kopi yang ia pegang.
"Well ... setidaknya, jika ke depannya kau dan Serge mengalami masalah dengan pria itu, jangan sungkan menghubungi kami. Keluarga Bernard berutang banyak padamu. Kau sudah bersedia memenuhi syarat Alric, sehingga Catalina cepat ditemukan dan diselamatkan. Ini saja masih terhitung telat ... Catty dipukul sampai tulangnya patah ... aku tidak tahu apa yang akan dilakukan orang itu jika saja Catty belum kita temukan."
__ADS_1
Marylin hanya diam, tetap memandang keluar kaca. Namun Claude yakin wanita itu mendengarkan.
"Dan kami semua juga berutang padamu pada masa lalu. Kau datang dan aku serta Yoana tidak mendengarkanmu. Kami malah mengusirmu. Simon malah pergi dan meninggalkanmu ... Jahat sekali bukan ...Jadi, jangan sungkan jika sesuatu mengganggumu ketika kontrak Alric mulai membebani atau bahkan membuat kau dan Serge menderita. Keluarga Bernard akan membantumu."
Setelah diam beberapa saat, tanpa membalikkan badannya, Marylin akhirnya bersuara.
"Kalian orang-orang yang dingin dan angkuh. Apa yang membuat kalian sangat jauh berubah?"
Claude tersenyum, "Mungkin karena bayi yang waktu itu kau lahirkan hadir di antara kami, Marylin. Juga adikmu yang terpaksa datang dan tinggal demi bayi itu ...."
Tawa kecil lolos dari bibir Marylin. Leonard dan Catalina. Kemurnian, cinta dan kasih sayang, begitulah Marylin menatap keduanya ketika adiknya itu mengendong Leonard dan dengan wajah sedih setelah mendengar penolakan Marylin pada bayinya, Catalina mengulurkan bayi itu padanya sesaat setelah ia melahirkan. Ia menatap lalu membuang muka, meminta Catalina membawa Leon menjauh. Kasih sayang Catalina terpancar jelas pada bayi merah yang baru ia lahirkan saat itu.
"Tentu saja ... cinta sebesar itu ... bisa mengubah siapa pun dan juga apa pun ...," desah Marylin
N E X T >>>
**********
From Author,
Hai hai hai ... jan lupa komentar ya, benar-benar jadi penyemangat, Vitamin, moodbooster untuk author yang kadang-kadang pegel jari-jarinya, atau bahkan ilang idenya.
Jangan lupa juga buat nabur like tiap chapter, bintang lima dan juga favorite. Vote dan follow karya author ya.
Terima kasih,
__ADS_1
Salam, DIANAZ.