
"Semoga kau suka. Aku bukan koki yang ahli. Tapi kuharap, kau mau mencoba mencicipi makanan yang kubuat." Natalia berkata sambil mendekat ke arah tempat tidur Catalina. Wanita itu mengenakan gaun khusus wanita hamil berwarna hijau muda dengan jahitan seperti ban pinggang di bawah dadanya, lalu mengembang di bagian bawah, menutupi perutnya yang membesar.
Catalina tersenyum, menatap ke arah Natalia dengan wajah senang. Tampak sekali perbedaan pada diri wanita itu dibandingkan dengan saat terakhir Catalina melihatnya dulu. Sama dengan pengamatan Claude atas Luigi, maka perubahan wajah dan aura juga terlihat pada diri Natalia. Pemahaman yang sama terbentuk di pikiran Catalina, Pasangan itu telah berbaikan, hubungan mereka sangat baik, dan kebahagiaan yang berasal dari hati mereka itu tercetak jelas dan terpancar di wajah keduanya.
"Aku akan senang sekali memakan masakan mu. Terima kasih, Nat. Sudah mau repot-repot memasak untukku. Luigi berulang kali mengatakan kalau masakanmu sangat enak."
Wajah Natalia merona mendengar ucapan Catalina. Mendengar Luigi memujinya di depan Catalina membuat perasaan Natalia sangat senang.
Claude yang duduk di sisi ranjang bangkit berdiri, ia melangkah menjauh dan pindah ke sisi lain ranjang Catalina.
"Silakan duduk, Nyonya Steffano," ucap Claude. Sengaja memanggil mantan model Kakaknya itu dengan nama resmi.
"Ayo, Querida. Mumpung Tuan Bernard sedang baik hati memberikan tempat duduknya padamu." Luigi menghela istrinya agar duduk di tempat yang tadi diduduki oleh Claude.
Setelah istrinya itu duduk, Luigi berdiri di belakang kursi Natalia dan memegang kedua bahu istrinya itu.
Catalina memandang keduanya dengan senyum lebar. Ia senang sekali, ikut bahagia untuk keduanya.
"Boleh aku bertanya Natalia? Aku sangat penasaran."
"Tentu. Tanyakan saja, Catalina."
"Waktu itu ... Aku bertemu suamimu di pesta Alric. Dia datang sendirian tanpa dirimu. Aku bertanya di mana Natalia. Akhirnya dia mengaku ... kalau kau sudah pergi meninggalkan apartemennya dan meninggalkan sebuah surat. Kemana kau pergi Nat?Aku tahu dia mencari mu setelah itu bukan? Karena kudengar dari Mary ... dia tidak bisa periksa ke tempat suamimu karena dokternya sedang mengambil cuti panjang."
Luigi tertawa kecil mendengar perkataan Catalina pada istrinya.
"Aku pergi ke rumah pinggir danau milik kakekku di Crystal Clear Lake, Catalina." Natalia menjawab singkat.
"Maaf, Nat. Aku terpaksa membongkar rahasia mu waktu di pesta itu. Aku lah yang mengatakan padanya kalau kau hamil."
"Aku tahu. Luigi sudah menceritakannya."
"Kuharap kau tidak membuatnya mudah untuk Luigi," ucap Catalina sambil tertawa. Luigi balas tertawa.
"Kau memang jahat sekali padaku, Lina. Senang sekali mendengar aku sengsara bukan? Tapi hasilnya sepadan ... istriku akhirnya tidak ngambek lagi. Wanita hamil yang merajuk ternyata agak sulit dirayu untuk diajak pulang," goda Luigi.
Wajah Natalia makin merah ketika merasakan suaminya sudah menunduk dan kepalanya berada di bahu kanan Natalia. Luigi menoleh sedikit dan mengecup bagian telinganya.
"Manis sekali ... kuharap ada saat-saat awal dia datang kepadamu dan kau menutup pintu di depan hidungnya, Natalia." Claude ikut bicara, ia memandang Luigi yang masih memeluk Natalia dari belakang kursi.
"Jangan katakan padanya, Querida. Yang pasti aku berhasil membawanya pulang. Itu saja yang perlu kau ketahui, Claude. Dan kali ini aku akan memastikan dia tidak akan melarikan diri lagi, aku akan merayu dan menggodanya tiap hari agar dia tidak berubah pikiran tentang gagasan hidup bersamaku."
Luigi mengedipkan matanya pada Catalina di atas tempat tidur. Kedipan yang disambut tawa kecil oleh Catalina. Claude tidak gusar lagi melihat kedipan itu. Sudah sangat jelas di matanya, dokter itu jatuh cinta setengah mati pada istrinya. Claude jadi ingin sedikit menggoda pasangan yang tampak kasmaran itu.
"Hei, Nat. Apa kau pernah cerita pada dokter ini kalau dulu kau pernah mengikutiku seperti anak kucing, manja dan genit," ucap Claude. Raut wajahnya terlihat amat riang, sinar matanya geli dan menatap setiap ekspresi Luigi dan Natalia.
"Claude," tegur Catalina, gadis itu mencubit tangan kekasihnya itu.
Natalia tampak merona malu akibat kata-kata Claude.
"Tentu saja dia cerita. Tapi Natalia mundur dengan cepat. Menurutnya kau mengerikan," Luigi menekankan kata-katanya pada kata mengerikan.
"Yeah ... aku berhasil dengan gemilang pastinya," ucap Claude pelan.
Catalina tertawa sambil menggelengkan kepalanya menatap Claude. Ia tahu, dulu Claude bersikap dingin dan mengerikan untuk menghindari para gadis yang mengejarnya.
__ADS_1
"Tak kusangka dokter ini yang akhirnya jadi pendamping mu, Natalia. Aku ikut senang untuk kalian ...." terdengar nada tulus dari ucapan Claude.
"Terima kasih, Claude. Dan aku harap kalian berdua dapat segera melangsungkan pernikahannya secepat mungkin," ucap Luigi.
"Aku sedang mengusahakannya." Claude mengusap rambutnya sambil menatap sendu ke arah mata biru Catalina.
"Kau kalah satu langkah, Claude. Aku akan punya putri sebentar lagi. Tapi kau belum menikah juga," Luigi sengaja kembali mengusik Claude.
"Itu ... Dokter Luigi Steffano, akan segera berubah dengan cepat. Tunggu saja waktunya nanti!"
Jawaban Claude membuat tawa akhirnya menggema di kamar perawatan itu. Tawa Luigi, yang senang Claude terpancing oleh ucapannya. Tawa Natalia dan Catalina yang geli melihat dua pria itu sangat senang saling mengusik dengan kata-kata.
*********
Pagi yang biasa di meja makan Mansion Lucca. Mary menyiapkan kopi, menyiapkan sendiri sarapan di atas meja untuk suaminya. Bedanya kali ini, Mary membuatnya dalam tiga porsi.
Alric datang dan memeluk istrinya dari belakang. Mary menoleh dan mendapatkan kecupan mesra di pipinya.
"Alric, aku akan ke rumah sakit lagi nanti. Aku ingin melihat Catalina."
Alric mengalungkan lengannya ke sekeliling perut Marylin. " Jam berapa? Aku akan pulang dan pergi bersamamu."
"Kalau kau sibuk, tidak perlu menemaniku. Pergilah bekerja, aku akan menanyakan pada Ann apakah ia mau pergi bersamaku."
Alric ingat kalau dokter Luigi sudah lama pulang, jadi sekalian saja ia bawa istrinya untuk periksa.
"Aku tidak sibuk. Aku akan menelepon Diego dan biar dia saja yang menangani urusan hari ini. Kita ke Eliza Hospital, sekalian kita periksa ke dokter Luigi."
Marylin tersenyum senang.
"Kau senang?" bisik Alric.
"Kalau begitu, berbaliklah. Cium aku." Pinta Alric sambil membalikkan tubuh Mary agar menghadapnya.
Ciuman itu indah, seperti ciuman-ciuman lain yang telah mereka lakukan sejak cinta di hati mereka telah diketahui oleh satu sama lain. Dan seperti percikan api yang menjalar, ciuman mereka selalu mampu memanaskan darah dan membuat syaraf mereka menggelenyar.
"Ehem! Sepertinya aku menganggu." Kalimat penuh tawa itu terdengar dan akhirnya memisahkan pasangan suami istri yang sedang berciuman itu.
Alric dan Marylin menoleh ke arah sumber suara. Annete sudah berdiri di dekat sana sambil menatap mereka dengan binar bahagia di bola matanya.
"Ann ... aku baru saja akan mencarimu," ucap Mary.
"Mencariku? Ada apa, Sayang? Kau perlu sesuatu?"
"Tidak. Tidak. Aku hanya ingin kau sarapan bersama kami," ucap Mary langsung. Lalu wanita hamil itu menarik kursi dan mempersilakan Annete untuk duduk. Setelahnya, Mary menarik lagi sebuah kursi dan menarik lengan suaminya agar ikut duduk.
"Jangan diam saja, Alric. Ayo duduk. Kita sarapan. Jam berapa kita ke rumah sakit?" tanya Marylin sambil sibuk menarik kursi untuk dirinya sendiri. Lalu menuang kopi untuk Alric, meletakkan sarapan di atas piring dan mengulurkannya pada suaminya, lalu melakukan hal yang sama untuk Annete.
Annete dan Alric saling berpandangan. Tapi tidak ada yang bersuara melihat perilaku dan tingkah Mary yang menurut mereka tidak seperti biasanya.
Sejak tinggal di mansion Lion, Annete tidak pernah sarapan bersama Alric dan Mary. Ia makan sendiri di tempat favoritnya di atas meja dan kursi tempat biasa ia bersantai di pinggir kolam renang. Gray memenuhi semua kebutuhannya dan memastikan kenyamanan Annete. Perlakuan Gray sebagai kepala pelayan yang memperlakukan Annete sangat sopan dan hormat seperti majikan membuat semua pelayan baru di mansion Lion melakukan hal yang sama pada wanita itu. Tidak ada pertanyaan dari mereka, mengingat posisi Ann juga sebagai pekerja di mansion itu untuk mendampingi Marylin, Nyonya rumah.
Annete menatap wajah menantunya, mencari dengan rasa ingin tahu, sesuatu yang mungkin dapat ia jadikan jawaban atas perubahan sikap Mary pagi ini. Tapi tidak ada yang berbeda. Mary tersenyum dan mengobrol dengan Alric dan dirinya seperti biasa. Tidak ada tanda kalau Mary mengetahui sesuatu yang mereka sembunyikan tentang hubungan yang sebenarnya antara dirinya dan Alric.
"Apa aku boleh ikut?" tanya Ann. Ia mendengarkan pembicaraan suami istri itu tentang kunjungan ke rumah sakit. Menjenguk Catalina dan sekaligus memeriksa kehamilan Mary ke dokter Luigi.
__ADS_1
"Tentu saja! Catalina akan senang sekali." Mary tersenyum senang pada Annete.
"Aku rindu bertemu dengannya," ucap Annete.
"Kalau begitu, kita akan pergi. Bertiga," sahut Marylin dengan riang.
Alric mengangguk, mendorong piring makannya yang sudah kosong, lalu tersenyum pada istrinya yang masih menyuap dengan mata berbinar bahagia. Alric mengernyit, merasa ada yang berbeda ... ada yang salah ... tapi sekaligus merasa tidak pasti. Setelah menelan segelas air putih, ia melirik sekilas ke arah ibunya yang juga sedang meliriknya.
Marylin mengambil gelas jusnya dan mengangkatnya ke bibir. Lewat pinggiran gelas, ia mengintip ibu dan anak yang sedang berpandangan itu. Namun hanya beberapa detik, lalu keduanya kembali menatap ke arah piring di atas meja. Ann lanjut memakan sarapannya dan Alric mengangkat gelas kopinya yang masih mengepul. Tidak ada yang bicara.
Marylin tersenyum dalam hati. Ia akan melakukan hal yang benar. Ia yakin panggilan 'Mom' yang dilakukan Alric di rumah sakit saat itu adalah panggilan yang biasa pria itu pakai untuk memanggil Annete. Namun berhenti setelah Alric mengenal Marylin. Mungkin sejak mereka akhirnya tinggal bersama di Mansion Lion.
Marylin terkenang saat Annete datang di Mansion Cougar. Ann mengatakan ia bekerja di sana, ia merawat dan menjaganya saat itu. Dari rasa takut, tertekan, gelisah karena perbuatan Alric.
Mary sudah memikirkan alasan kenapa Annete berbohong ... Mungkin Ann melakukan itu agar bisa mendekati Mary. Jika ia mengaku sebagai ibu Alric, Mary tidak akan mempercayai Annete untuk berada di dekatnya. Sedangkan Mary sangat butuh seseorang saat itu. Sebelum Catalina dan keluarga Bernard menjemputnya pulang.
Mary juga teringat, bagaimana cara para pelayan bersikap pada Annete, termasuk Jacob. Pria berkulit hitam yang ditugaskan Alric mengurungnya bersama singa gunung Max dan Cody, mereka bersikap hormat, sopan ... seperti pada majikan. Mary waktu itu mengira, Ann sudah puluhan tahun jadi bagian dari keluarga Lucca. Sudah mengabdi dan setia bekerja di keluarga itu, sehingga semua orang mengenalnya, menghormati dan menghargainya.
Tapi sekarang, setelah satu kata yang tanpa sengaja Alric ucapkan di rumah sakit waktu itu, Mary merasa semuanya masuk akal. Annete adalah Nyonya Lucca, ibu Alric.
Selesai sarapan, Mary bangkit dan mulai membereskan meja.
"Biar aku saja, Mary," ucap Annete.
"Tinggalkan itu. Biarkan pelayan yang melakukannya."
"Dan membuatku jadi seperti orang sakit yang tidak melakukan apapun selain mondar-mandir. Tidak terima kasih. Biarkan aku saja, Ann"
Mary bergerak membereskan sisa sarapan mereka. Membuat Annete dan Alric sekali lagi saling berpandangan dengan kilau mata gelisah.
NEXT >>>>>
********
From Author,
Halo Pembaca sekalian. Makin ke ujung author bikin manis manis ajah deh yah. Tetap jangan lupa klik like, tekan favorite, ketik komentar dan kasih rate bintang lima ya. Jadi vitamin untuk author makin semangat lagi menulis. Dukung juga author dengan memberikan vote dari kalian.
Cek profil author untuk cek karya author yang lain. Kamu bisa klik profil dan klik pada bagian 'karya'. Monggo mampir ya, siapa tahu jadi suka.
Author kurang promo nih, hehehe ... yang baca tiap hari masih sedikit. Bantu author rekomendasikan ke teman-teman kalian yah.
Berikut judul karya novel author yang ada di Nt/Mt :
1. Passion **of my enemy
Love Seduction
Mr. Costra**
Cerita ketiganya masih sedikit ada hubungan. Tokoh-tokohnya saling mengenal. Untuk novel 1 & 2 sudah tamat ya. Yang ketiga on going, tapi slow up. Awal bulan depan setelah Embrace Love ini tamat, author akan fokus ke Mr. Costra.
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir ya semua. Luv you ....
Salam hangat. DIANAZ.