
Natalia tiba di depan sebuah rumah kayu yang dibangun di pinggir sebuah danau. Seorang wanita berumur hampir lima puluhan tampak datang menyambutnya dengan senyuman lebar.
"Nona ... Anda sudah tiba," sapa wanita itu.
"Hai Laura ... kau sudah melupakan namaku ya. Sudah kukatakan berulang kali panggil aku Nat."
Wanita yang disapa dengan nama Laura itu tersenyum. Melihat dua koper yang dibawa oleh Natalia, Laura mengangkat satu koper dan mengiring langkah kaki Natalia yang masuk sambil membawa satu koper yang lain ke dalam rumah.
"Nat ... berapa lama kau akan berlibur, Sayang?" tanya Laura. Ia penasaran karena dua koper besar yang dibawa Natalia pastilah diperuntukkan untuk liburan yang agak lama.
Natalia tiba-tiba berhenti. Lalu menoleh dengan wajah memohon.
"Laura ... Aku akan menceritakan semuanya padamu. Tapi setelah aku beristirahat sejenak. Aku sangat membutuhkan bantuan mu, Laura."
Laura menatap wajah gundah Natalia. Mengerti ada sesuatu yang telah terjadi. Jadi ia mengangguk dan memberi senyum penuh semangat pada anak majikan yang pernah ia asuh itu.
"Tentu, Sayang. Sekarang beristirahatlah. Aku akan membantu menyusun pakaianmu ke dalam lemari."
Natalia mengangguk, mereka masuk ke sebuah kamar yang berukuran lumayan besar. Ada sebuah lemari tiga pintu yang terletak d sudut ruangan. Laura segera menuju ke sana dan mulai membuka koper Natalia. Laura menyusun baju-baju itu dengan rapi ke dalam lemari. Pertanyaan menggantung di dalam benaknya. Baju yang Natalia bawa adalah baju-baju longgar dan besar. Kernyitan makin dalam di keningnya ketika ia melihat baju-baju terusan yang biasa dipakai oleh wanita yang sedang hamil.
Namun, Laura menahan pertanyaannya. Natalia pasti akan menceritakan semua padanya nanti. Ia hanya perlu bersabar.
**********
"Kau menjaga tempat ini dengan sangat baik, Laura," ucap Natalia sambil mengangkat piring makan dan membawanya ke wastafel.
"Letakkan saja, Sayang. Kau sudah bersusah payah memasak. Jadi biarkan aku yang mencuci piring," ucap Laura.
Natalia mengangguk dan membiarkan Laura mencuci piring makannya.
"Sejak kapan kau pintar memasak, Nat?"
"Uh .... Aku belajar keras dalam beberapa bulan, Laura. Ternyata menyenangkan mencoba setiap resep yang ku temukan ataupun aku tonton di televisi."
"Masakanmu enak, Nat. Aku tidak menyangka kau bisa memasak. Kau cantik, terkenal ... seorang model ... dan sangat pandai memasak. Suamimu pasti sangat sayang padamu. Oh ya ... apa kabar sang dokter? Ayah dan ibumu juga, apa kabar mereka sekarang? Kuharap semuanya sehat-sehat saja ...."
Laura tidak melihat perubahan di wajah Natalia setelah ia menyinggung tentang Luigi dan kedua orang tua Natalia. Mendung memayungi seluruh ekspresi wajah wanita itu, sedang Laura terus sibuk mencuci piring. Lama tidak ada jawaban. Menyebabkan Laura menoleh dan menatap ke arah tempat duduk Natalia.
__ADS_1
Laura sangat terkejut melihat buliran bening mengaliri pipi mulus wanita itu. Secepat kilat Laura mencuci piring terakhir. Lalu mengelap kedua tangannya pada handuk kecil. Kemudian ia mendekati Natalia.
"Sayang ... Ada apa sebenarnya? Kau bisa menceritakan semuanya padaku ...."
Natalia menatap Laura dan mengangguk.
"Ya ... hanya kau yang terpikirkan olehku Laura. Aku membutuhkan bantuanmu."
"Ayo, Nat ... kita pindah ke ruang tamu. Lalu berceritalah ...."
Mereka segera pindah ke ruang tamu, lalu duduk berdampingan di sofa.
"Sekarang ceritakan ... ada apa sebenarnya?" ucap Laura.
Lalu dimulailah cerita Natalia dari pertunangan yang ia paksakan pada Luigi, lalu malam ketika ia menjebak Luigi untuk tidur bersamanya dan membuat ayah Luigi menemukan mereka keesokan harinya.
Laura menjaga ekspresi wajahnya tetap datar, sedikit terkejut dengan kisah yang di tuturkan oleh Natalia. Merasa agak tidak percaya bahwa Natalia bisa memikirkan rencana seburuk itu.
Cerita berlanjut sampai pernikahan, lalu sikap diam dan dingin dari Luigi, pria yang hatinya seolah membeku dan mati rasa.
"Lalu aku mengetahui kalau aku hamil, Laura. Hasil dari perbuatanku malam itu. Karena kami hidup berjauhan semenjak menikah, Luigi tidak tahu sama sekali. Aku memutuskan pindah dari rumah orang tua Luigi dan menerobos masuk ke apartemennya. Aku ingin meminta maaf ... Dia memang tidak mengusirku ... tapi dia seperti hidup sendiri di sana, sama sekali tidak mau melihatku atau mencoba mendengarkan atau mengajakku bicara. Dia sama sekali tidak menganggapku ada ...."
"Aku mengerti ... dia berhak merasa sangat marah dan murka. Awalnya aku merasa akan sanggup menanggungnya, Laura . Tapi ...." Natalia terisak hebat. Membuat Laura akhirnya memeluk wanita itu.
"Nat ... apa ayah dan ibumu tahu situasinya? Atau mertuamu?"
"Tidak. Aku tidak ingin mereka tahu. Aku sudah membuat kekacauan. Dan aku tidak ingin ayah dan ibuku merasa khawatir, tidak mau membuat mereka merasa bersalah. Aku tidak menyesal melakukannya Laura ... perusahaan ayah sudah stabil kembali. Ayah dan ibu Luigi juga sangat gembira menyambut aku sebagai menantu dalam keluarga mereka. Aku tidak ingin membuat hubungan mereka dengan Luigi bertambah buruk. Jadi ketika aku pindah ke apartemen Luigi, aku mengatakan pada mereka kalau kami sudah bicara ... dan kami baik-baik saja ...."
Laura memejamkan matanya sambil mengelus punggung Natalia.
"Lalu kenapa kau memutuskan pergi sekarang, Nat?"
"Karena kehamilanku sudah makin besar, Laura. Aku sanggup menerima pandangan kebencian Luigi padaku, tapi aku tidak akan sanggup menerima penolakannya pada bayi ini. Aku tidak akan mampu menerimanya Laura. Jadi lebih baik ia tidak tahu ... lebih baik aku melahirkannya sendiri dan membesarkannya."
"Nat ... pernahkah kau terpikir, Sayang ... mungkin yang akan terjadi bukanlah seperti yang kau bayangkan. Mungkin saja hubunganmu dengan dokter Luigi malah membaik dengan adanya bayi ini."
"Tidak Laura. Luigi begitu dendam pada apa yang telah aku lakukan. Ia akan membenci bayi ini ... dan aku ... aku tidak akan sanggup menanggungnya nanti Laura. Aku tidak akan bisa melihat kebencian yang ia arahkan pada bayi yang tidak bersalah ini. Ini adalah tanggung jawab yang akan aku pikul sendiri, Laura. "
__ADS_1
"Oh, Nat ...." Laura menghapus air mata yang terbit di sudut matanya.
"Karena itu. Aku butuh bantuanmu untuk bersembunyi, Laura ... Agar aku bisa menjalani sisa masa kehamilanku ini dengan baik, tanpa merasa tertekan oleh apapun ...."
"Tentu, Sayang ... aku akan menjagamu, Nat."
"Jangan katakan pada siapapun ... Aku akan menelepon ayah dan ibu sesekali, agar mereka tidak khawatir."
"Mereka akan minta bertemu denganmu, Nat."
"Aku akan mengaturnya nanti ... setahu mereka aku masih mengambil pekerjaan di B.House, aku akan mengelak dengan berbagai alasan pekerjaan."
"Mereka akan mencoba mendatangimu ke apartemen dokter Luigi."
Natalia menggelengkan kepalanya ke arah Laura.
"Tidak, Laura. Luigi menjaga jarak dan bersikap dingin tidak hanya pada orang tuanya. Ia juga bersikap seperti itu pada ayah dan ibu ... jadi Ayah dan ibu tidak pernah mencoba datang ke apartemen. Karena Luigi tidak akan mau menerima mereka dengan ramah. Jikapun menerima, Maka ia akan melakukannya dengan sangat terpaksa."
Laura menepuk bahu Natalia, lalu kembali mengulurkan sebuah tisu.
"Sekarang tenangkan pikiranmu, Nat. Jika berada di sini membuatmu tenang. Maka aku akan menjagamu, Sayang. Kau akan baik-baik saja ... juga bayimu ...."
Natalia menghembuskan napas lega. Ia memeluk Laura dan menyandarkan pipinya ke bahu wanita itu.
"Terima kasih, Laura ... terima kasih ...."
NEXT >>>>
**********
From Author,
Jangan lupa tekan like, love dan bintang lima ya. tinggalkan jejakmu lewat komentar.
Yang suka cerita di novel ini, yuk bantu author dengan rekomendasikan ke teman-temannya yah, siapa tahu temannya juga suka dan menikmati ceritanya.
Terima kasih semua,
__ADS_1
Salam hangat, DIANAZ.