Embrace Love

Embrace Love
Ch 137. Just a dream


__ADS_3

Alric menatap Mary yang terlihat menyandarkan punggungnya ke arah sandaran kursi mobil. Mereka tengah melaju dalam perjalanan pulang dari pesta Yoana. Diego datang menjemput setelah Alric meneleponnya dan mengatakan mereka berencana akan pulang. Wajah wanita itu melihat ke arah sebelah kaca mobil, jadi Alric tidak bisa melihat apakah Mary tertidur atau tidak.


"Mary?"


Tidak ada jawaban. Napas wanita itu terlihat teratur dari gerakan dadanya. Mary juga tidak bergerak.


"Kurasa dia tertidur," ucap Alric. Perlahan ia mendekat lalu menyelipkan tangan ke belakang bahu Mary. Baru saja Alric berniat menarik tubuh Mary agar bersandar padanya, Mary sudah bergerak dan tanpa diminta meringkuk ke bahunya.


Alric menarik tubuh Mary makin dekat, memeluk bahu istrinya itu dan membiarkan Mary bersandar di dadanya.


"Kurasa jika bukan karena sedang tertidur, dia tidak akan mau kupeluk seperti ini. Bukan begitu Diego?"


"Entahlah, Tuan." Diego menghindari menjawab pertanyaan itu. Ia tahu jawabannya adalah iya. Tapi suasana hati Alric akan muram jika ia menjawab dengan jujur.


"Diego ... dua hari lagi ada acara di Trinity Tower bukan?"


"Benar, Tuan."


"Aku harus datang?"


"Tentu, Tuan. Tuan Malik akan sangat tersinggung jika Anda tidak hadir."


"Aku juga harus mengajak Mary bukan?"


"Ya Tuan. Tuan Malik tahu Anda sudah menikah. Dan karena pernikahan Anda tertutup dan memang tidak dipublikasikan, jadi ia mengerti jika ia tidak diundang. Tapi ia ingin Anda memenuhi undangannya dua hari mendatang dengan membawa istri."


Alric melirik ke arah Mary yang tertidur di dadanya. Ia mengelus pelan pipi Mary.


"Kuharap kau mau ikut ... tidak, tidak. Kau harus ikut." Alric kembali mengelus pipi Mary.


"Emhhh ...." Mary protes dan menjauhkan wajahnya dari elusan tangan Alric. Keningnya berkerut, seolah tidak senang tidurnya terganggu.


"Kau tertidur di mobil ....apa kau selelah itu? Kau tidak perlu bantal-bantal di sekitarmu?" Alric tercenung. Sebuah pemikiran muncul di kepalanya. Mary merasa aman bila ada Serge. Bisa tertidur lelap di manapun bila tahu ada Serge di sekitarnya. Apakah sekarang istrinya itu juga sudah merasakan hal yang sama jika berada di dekatnya?


"Kurasa kehamilan membuatnya cepat merasa lelah ... dengan cepat dia tertidur ...." ucap Alric pelan. " Atau ... dia sudah tidak merasa takut atau terancam apapun lagi, merasa aman ... jadi tidak merasa terganggu memejamkan mata di manapun."


"Tergantung siapa yang ada di sekitarnya, Tuan. Karena Nyonya tahu Anda yang ada di sini. Belum tentu jika di sebelahnya adalah orang lain," ucap Diego.


"Menurutmu begitu?"


"Pasti." Diego melirik ke arah kaca. Senyum senang terukir di bibir tuannya. Sebuah kecupan sayang dilayangkan pria itu ke puncak kepala istrinya.


Apa Anda menyadarinya,Tuan? Anda memperlakukan Nyonya Mary dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang ... Aku rasa bukan hanya karena ada bayi, terlihat sekali Anda sudah jatuh cinta. Tapi bagaimana dengan Nyonya ... perasaannya tertutup dinding penghalang yang ia bangun. Tidak ada yang dapat melihat, bagaimana perasaan Nyonya Mary yang sesungguhnya terhadap Anda.


Diego terus melaju dengan mata sesekali masih mengawasi tuannya yang terlihat memeluk sang istri dengan mata menerawang ke arah luar kaca mobil.


Mereka tiba di mansion, Alric turun dan segera menggendong Mary. Ia sengaja tidak membangunkannya. Ketika tiba di aula mansion, Alric bertemu ibunya yang terbangun dan keluar dari kamarnya di lantai bawah saat mendengar suara mobil Diego. Annete memandang Mary yang tertidur di gendongan Alric.


"Kau kemalaman, Alric! Ini sudah sangat larut! Istrimu hamil, perpendek kunjungan mu di pesta-pesta bila kau mengajak Mary," desis Annete.


"Aku tahu, Mom. Tapi ini pesta Yoana. Catalina ada di sana. Mary tidak mau ketika ku ajak pulang cepat." Alric membela diri. Ia tidak mau ibunya makin panjang mengomelinya.


"Aku akan ke atas."


Annete mengangguk, lalu ia mengikuti putranya naik ke lantai atas. Annete membukakan pintu kamar Mary. Setelah Alric membaringkan istrinya ke atas ranjang, ia membuka ponselnya dan berjalan ke arah balkon. Alric menggeser pintu balkon kamar Mary lalu berdiri di pagar pembatas sambil memeriksa beberapa pesan dan email di ponselnya.


Di pinggir ranjang, Annete membangunkan Mary dengan susah payah. Ia sudah mengambil sebuah gaun tidur dari walk in closet untuk menantunya itu.

__ADS_1


"Ayolah, Sayang. Kau tidak akan nyaman tidur mengenakan ini. Walaupun kuakui pilihan putraku ini sangat menarik ketika kau memakainya, tapi tetap tidak cocok dipakai tidur." Annete mengomel. Ia menurunkan ritsleting belakang gaun Mary lalu memaksa Mary untuk bangkit.


"Mmmm ... " gumam Mary.


"Ya, ya . Aku tahu kau lelah. Salahkan suami mu. Membawamu pulang selarut ini."


Mary akhirnya membuka matanya ketika Ann memaksanya duduk di atas ranjang.


"Ayo, Mommy. Kasihan bayinya." Annete menarik gaun Mary, melucuti seluruh pakaian bagian atas menantunya itu.


"Ann ...."


"Ya. Ini aku, Sayang."


"Mmm ... ganti baju ... aku bisa ...." Mary tiba-tiba melepas gaunnya dengan mata setengah terkatup. Annete terkekeh, melihat Mary yang hanya mengenakan celana dalam kembali merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.


Annete naik dan duduk di samping Mary.


"Hei ... belum selesai ... ayolah ... Ini gaun tidurmu." bujuk Annete.


"Mmmmm..." Jawaban Mary yang hanya berupa gumaman dengan mata yang sudah kembali terpejam membuat Annete akhirnya menyerah.


Dari tepi balkon tempatnya berdiri, Alric melihat semua adegan di atas ranjang antara istri dan ibunya itu. Seketika ia mengingat saat ia sendiri yang mengganti gaun istrinya itu dengan gaun tidur. Saat itu ia mengatakan pada Mary tidak melihat apapun. Tapi ia tahu itu adalah kebohongan besar. Seperti waktu itu, sekarang matanya melakukan hal yang sama. Melahap pemandangan istrinya dengan mata lapar. Kulit indah dan mulus istrinya itu berkilau di bawah cahaya lampu kamar. Membuat Alric sangat ingin menyentuhnya.


Mata Alric terus menatap Mary yang berbaring miring membelakanginya. Punggung wanita itu tampak polos, begitu juga pinggulnya yang tampak makin berisi serta kedua kakinya yang jenjang.


"Alric!?" Annete memandang berkeliling, mencari putranya. Seketika Alric menata raut wajahnya dan menjawab panggilan ibunya.


"Ya, Mom. Aku di sini."


Annete memandang ke arah luar melewati pintu balkon.


"Kembalilah tidur, Mom ...." ucap Alric.


Ann mengangguk, lalu mencium kening Mary. Ia meletakkan begitu saja gaun tidur longgar di atas tempat tidur.


Alric masuk dan menutup kembali pintu balkon. Ia mendekati ibunya dan memberikan ciuman selamat malam di pipi kiri dan kanan ibunya.


"Kau juga beristirahatlah, Alric."


"Tentu, Mom."


Alric menutup pintu ketika ibunya sudah keluar dari kamar. Ia memandang sekilas pada Mary lalu membuka pintu penghubung dan masuk ke kamarnya sendiri, menyiapkan dirinya untuk tidur.


Setelah keluar dari kamar mandi dan membuka seluruh pakaiannya, Alric menutupi tubuhnya dengan sebuah jubah kamar, Alric yang baru saja menyingkirkan sebuah bantal guling dan akan membaringkan tubuhnya tiba-tiba berhenti. Ia menatap pintu penghubung ....


Memangnya sampai kapan aku akan tidur sendirian?


Lalu dengan penuh tekad, Alric melempar kembali bantal gulingnya ke atas ranjang. Ia kembali ke kamar Mary, lalu mendekat ke ranjang. Setelah mengatur lampu tidur, dengan sangat perlahan, Alric naik dan merayap ke bawah selimut yang menutupi Mary. Ia membaringkan tubuhnya di sebelah Mary dan meletakkan kepala di sebuah bantal tanpa membuka jubah tidurnya. Alric menoleh, Mary yang telentang di bawah selimut tampak tidak terganggu, rambut wanita itu tampak tersebar di atas bantal. Membuat Alric akhirnya memiringkan tubuh dan menghadap ke arah Mary.


Alric hanya menatap dengan jari-jari mengelus rambut Mary di atas bantal. Setelah beberapa saat, rasa kantuk yang ia tunggu akhirnya datang menghampiri. Ia baru saja mulai berlayar, larut dan terbang ke alam mimpi, ketika Mary tiba-tiba bergeser. Mendekatkan tubuhnya ke arah Alric, dan memeluk dada Alric dengan lengannya dari bawah selimut. Keduanya tidur dengan lengan saling memeluk.


Malam itu Alric bermimpi. Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia menyentuh tubuh lembut Mary. Gairah yang tak pernah lagi tersalurkan pada makhluk bernama wanita sejak ia bertemu Marylin Seymor.


Alric mencium Mary perlahan, lembut ... dengan tangan membelai di manapun inderanya merasakan kulit lembut yang bisa ia sentuh. Gairahnya bangkit dengan cepat. Hidup selibat berbulan-bulan membuatnya menginginkan pelampiasan. Dan istri cantiknya dengan penyerahan diri menyambutnya. wanita itu melingkarkan lengannya ke leher Alric dan membalas ciumannya.


Desahan yang terdengar di telinga Alric dari celah bibir yang tengah ia cium membuat Alric makin terbakar. Ia bergerak gelisah, menginginkan Mary ikut bergerak bersamanya.

__ADS_1


Mary terbangun dari tidurnya yang lelap ketika merasakan seseorang bergerak-gerak gelisah di sebelahnya. Perlahan ia membuka mata dan menyadari lengannya tengah melingkar pada tubuh seorang pria. Dengan cepat Mary bergeser dan bergerak menjauh.


Mary mengernyit, melihat ke tubuhnya dan menyadari ia hanya mengenakan pakaian dalam. Ia segera bangkit lalu melihat sebuah gaun tidur yang teronggok di atas lantai. Mary segera memungutnya dan mengenakannya.


Mary berpikir mungkin Alric berniat membantunya mengganti pakaian lagi. Tapi sepertinya tidak berhasil. Hanya berhasil membuka gaun pestanya saja.


"Mary ...." Desahan Alric yang berulang-ulang menyebut namanya membuat Mary mengerutkan kening. Pria itu pasti tengah bermimpi, pikirnya.


Setelah naik ke atas tempat tidur, Mary menggoyangkan bahu Alric yang tampak gelisah.


"Alric! Alric! Bangunlah!"


Alric terbangun dengan tersentak. Keringat tampak membasahi leher dan dada pria itu. Jubah kamarnya tampak sangat berantakan dan hampir keluar dari bahunya. Pemandangan dada telanjang suaminya itu membuat Mary membelalakkan mata, ingin mengalihkan pandangan tapi seolah matanya punya keinginan sendiri, hingga tetap saja melihat ke arah jubah yang terbuka itu.


Alric duduk dan mengusap wajah berulang kali, terdengar mendesah dan menghembuskan napas panjang.


"Kau mimpi buruk," ucap Mary, ada nada khawatir yang terdengar oleh Alric, membuat ia mendongak dan menatap ke mata biru Mary yang sedang menatapnya. Alric menelusuri tubuh Mary dan menyadari istrinya itu sudah mengenakan gaun.


Jadi aku bermimpi ....


"Mimpimu buruk sekali ya? Kau sampai berkeringat."


Alric menaikkan kedua alisnya, memandang Mary dan kembali teringat pada isi mimpinya. Tiba-tiba rasa geli menderanya. Membuat Alric tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Ada apa? Apa yang lucu?" tanya Mary.


"Aku memang bermimpi, Sayangku. Tapi jauh dari yang namanya buruk. Isinya boleh dikatakan ... luar biasa !" Alric bergeser, bermaksud bangkit dari ranjang. Menjauh dari pesona Mary yang baru saja menggodanya habis-habisan di atas ranjang. Walaupun hanya di alam mimpi.


"Tapi kau sampai berkeringat!"


Alric berdiri, membenarkan posisi jubah kamarnya dan kembali mengikat talinya yang sudah kendor.


"Wajar saja berkeringat, Sayangku. Aku berolah raga. Aku akan kembali ke kamarku. Maaf ... aku tertidur di ranjang mu." Alric melangkah menuju pintu penghubung. Tidak berniat melanjutkan aksinya untuk tidur di sebelah Mary. Bisa-bisa ia memaksa wanita itu untuk bercinta dengannya.


"Olahraga apa ...sampai kau merasa luar biasa." Mary menaikkan sebelah alisnya. Memandang Alric yang sudah membuka pintu penghubung dan diam sejenak di sana.


Lalu Alric berbalik, terlihat menyeringai ke arah Mary. Tampak sangat tampan dengan rambutnya yang kusut.


"Aku bermimpi ... sedang bercinta denganmu, Marylin Sayang."


Alric menatap rona merah menjalar dengan cepat ketika Mary menyadari apa maksud dari perkataan Alric. Ia tertawa ketika melihat Mary membuang muka, menolak memandangnya. Alric menutup pintu, lalu membuka ikatan jubah kamarnya dan melemparnya sembarangan ke atas lantai. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Mengernyit dan mengerang tertahan ... merasa tersiksa dengan bagian tubuhnya yang masih sangat bergairah.


Aku akan memilikimu cepat atau lambat Marylin ...


NEXT >>>>


************


From Author,


Yang sabar, Bang ... ini ujian ...😂😂😂🙊🙊🙊


Ikuti kisahnya terus ya. Author mohon maaf jadwal up yang tidak tentu. Tapi akan tetap lanjut terus kok. Jadi sabar ya my Readers. Cerita tokoh yang lainnya pasti akan muncul di chapter-chapter selanjutnya.


Klik profil author dan mampir juga ke novel Author yang lain ya.🙏🙏


Jangan lupa klik like, klik love, kasih rate bintang lima dan juga komentarmu untuk bantu author agar novel ini terus naik performanya ya my Readers. Yang punya poin dan koin, boleh bantu dengan vote juga.🙏🙏

__ADS_1


Untuk semuanya author ucapin terima kasih banyak. luv you 😘😘😘


Salam hangat, DIANAZ.


__ADS_2