Embrace Love

Embrace Love
Ch 147. Car accident part 2


__ADS_3

Natalia turun dari taksi yang membawanya sampai ke depan rumah sakit Eliza. Sebuah box makan siang ia bawa di tangan kanan. Seorang security menyapanya sambil tersenyum. Natalia membalas salam dan menganggukkan kepala. Setelah menyeberangi lobi depan gedung kantor Luigi, Natalia segera menuju lift khusus untuk menuju ke lantai tempat kantor Luigi berada.


Senyum kecil menghias bibir Natalia. Sejak mereka pulang kembali dari Crystal Clear Lake, Luigi memakan apapun yang ia masak. Sarapan, makan siang maupun makan malam.


Makan siang selalu ia bawa ke kantor, baru beberapa hari pulang, dan dengan senang hati Natalia memasak makan siang dan membawanya ke rumah sakit. Luigi tidak meminta ia melakukan itu, tapi Natalia berkeras melakukannya. Tidak ada yang ia lakukan di apartemen, jadi dengan senang hati ia menyibukkan diri dengan memasak.


Dengan pelan, telapak tangan Natalia mengelus perut. Menyenandungkan sebuah nada untuk bayinya dengan suara kecil. Senyum di bibir Natalia melebar ketika teringat saat mereka tiba di apartemen.


Orang tua Natalia dan juga orang tua Luigi datang bersamaan untuk makan malam di hari pertama mereka pulang. Luigi mengundang mereka, menyiapkan semua menu yang ia beli dari restoran china. Natalia menyesalkan karena Luigi tidak memberitahunya, sehingga ia bisa memasak. Luigi mengatakan ia sengaja karena ingin memberi Natalia kejutan, juga ia tidak mau membuat Natalia lelah. Mereka baru pulang dan Natalia sudah seharian berberes di apartemen.


Lebih tepatnya bukan ia yang berberes. Ia hanya sibuk pindah ke sana kemari saat dua petugas yang biasa membersihkan apartemen Luigi datang.


Luigi juga menyingkirkan bantal dan selimut yang dulu dipakai Natalia di ruang kerjanya. Sekarang ia tidur di kamar tempat suaminya itu tidur setiap malam. Satu tempat tidur, bersama setiap malam. Luigi langsung kembali bekerja keesokan harinya setelah mereka pulang, namun pria itu tidak pernah pulang malam, ia pulang di jam biasa saat jam kerja di Eliza berakhir.


Saat makan malam di apartemen Luigi yang merupakan apartemen bujangan, Ibu Natalia dan ibu Luigi yang saat itu menangis terharu melihat kondisi Natalia yang hamil besar menyarankan agar mereka pindah ke mansion Stefano atau mansion keluarga Ambroz.


Luigi dengan mengejutkan setuju dengan hal itu. Ia mengatakan tidak mau Natalia dan bayinya nanti sendirian di apartemen tanpa ada yang mengawasinya saat ia nanti pergi bekerja. Tapi ia belum mengatakan di mansion mana ia akan membawa Natalia. Mansion Keluarga Ambroz atau mansion keluarganya.


Saat kedua ibu mereka sibuk berbicara mengenai persiapan keperluan di kamar bayi, Tuan Ambroz membisikkan sesuatu ke telinga Luigi.


"Ayahmu sepertinya mengalami sedikiit masalah di jantungnya, Luigi. Sepertinya akan sangat baik jika kau dan Natalia pulang ke mansion Steffano."


Luigi sangat terkejut mendengar ucapan ayah mertuanya. Lalu ia melirik ayahnya sendiri yang sedang termenung sambil memandang ke arah perut Natalia.


"Dia belum mengatakannya padamu? Sebaiknya kau memantau pengobatannya, Luigi ... kau tahukan, ayahmu bisa sangat keras kepala."


Luigi menganggukkan kepalanya. "Terima kasih informasinya, Ayah. Kau tahu aku tidak akan pernah mendengar hal ini jika bukan darimu. Ayahku hanya akan diam saja."


"Tak apa. Kami sedikit saling bercerita. Aku khawatir padanya, Luigi. Sepertinya dia agak sedih."


"Terima kasih, Ayah. Kalau begitu, kau tidak keberatan kan bila aku mengajak Natalia tinggal di mansion Steffano jika nanti ia sudah melahirkan? "


"Tentu saja, Nak. Nat akan tinggal dimana suaminya tinggal. Tapi mansion Steffano harus siap terus membuka pintu untuk kami, karena ketika bayi kalian lahir, kami tentu saja akan sangat sering berkunjung."


"Tentu saja, Ayah. Aku dan Nat akan senang sekali jika kalian sering-sering mengunjungi kami."


Tuan Ambroz mengangguk puas. Ia tersenyum memandang kawan dekatnya, Maldini Steffano yang sepertinya tengah termenung dengan pikiran berkelana kemana-mana. Ia berharap dengan kedatangan Natalia dan bayinya nanti, hubungan antara Luigi dan ayahnya itu dapat diperbaiki. Steffano yang keras kepala amat menyayangi putranya, meskipun kekeraskepalaan membuat pria tua itu tidak mau memperlihatkan perasaan tersebut.


"Jadi, Luigi ... kalian akan tinggal di mana ketika nanti Nat menjelang melahirkan? " tanya tuan Ambroz sambil lalu dengan menepuk lutut Luigi yang duduk di sebelahnya di ruang tengah apartemen.


"Jika Nat tidak keberatan, aku ingin kami tinggal di mansion Steffano saja, Ayah. Tapi tentu saja, aku harus menanyakan dulu keinginan Natalia," jawab Luigi sambil memaku mata istrinya yang duduk di tengah-tengah antara ibu mereka.


"Oh, Sayang. Tolong katakan Ya. Tolonglah ... aku akan senang sekali mengurusmu dan cucuku. Ayah dan ibumu tentu saja bisa datang kapan saja ke mansion Steffano. Luisa ... tolong ijinkan Nat tinggal bersama kami." Ibu Luigi mengulurkan tangan, melewati Natalia untuk menggapai tangan Nyonya Ambroz.


Ibu Natalia hanya tersenyum, wanita itu menganggukkan kepalanya tanda setuju. Membalas remasan tangan dari ibu Luigi.


"Tentu, Esme. Aku harap nanti kau bersabar ... putriku dan bayinya akan sangat merepotkanmu," ucap Nyonya Ambroz.


Luigi dan Tuan Ambroz menatap ke arah tuan Steffano. Pria tua itu terlihat tegang sejak pembicaraan tempat tinggal ini di kemukakan. Mata tuan Steffano menatap Natalia, menunggu jawaban menantunya itu.


"Ummm ... Aku menurut saja ... tinggal di Mansion Steffano juga tak apa-apa. Karena terus terang, Mom ... aku ... agak takut jika mengurus sendiri bayinya. Aku perlu bantuan karena ini masih sangat asing bagiku."


Seruan lega dari ibu Luigi memenuhi ruangan. Luigi dan tuan Ambroz kembali melirik tuan Steffano yang sejak tadi hanya diam saja. Satu senyum kecil tertangkap di bibir pria itu.


"Terima kasih, Ayah." Luigi berucap pelan pada ayah mertuanya. Senang melihat wajah ayahnya sendiri yang melunak dan tersenyum.

__ADS_1


"Sama-sama, Nak ...." ucap tuan Ambroz.


"Aku harus memperingatkanmu Esmeralda ... Nat bisa sangat merepotkan jika sedang manja," ucap Nyonya Ambroz sambil tertawa.


"Mom ...." Natalia memelototi ibunya.


"Oh, aku akan senang, Luisa ... itu artinya ia memperlakukanku dan bersikap seperti pada ibunya sendiri." Nyonya Steffano menepuk punggung tangan Natalia yang tampak malu. Ia saling bertukar senyum dengan ibu Natalia.


Jadi begitulah, sudah diputuskan mereka akan tinggal di mansion Steffano. Kabar terbarunya, Maldini Steffano segera memanggil profesional untuk mengurus masalah kamar bayi dan yang berdampingan dengan kamar Luigi dan Natalia nanti segera keesokan harinya setelah mereka pulang dari makan malam waktu itu.


Natalia masih tersenyum ketika keluar dari lift dan melangkah menuju ruangan Luigi.


"Ah, Nyonya ... selamat siang," sapa sekretaris Luigi.


"Selamat siang. Luigi ada kan?" tanya Natalia.


"Dokter Luigi sedang turun ke ruang emergency, Nyonya. Seorang kenalannya dikabarkan mengalami kecelakaan."


"Oh! Apa yang terjadi?"


"Umm ... sepertinya dia ditabrak mobil, Nyonya."


"Ya Tuhan ... semoga dia baik-baik saja ... ummm, kalau begitu, aku titip makan siangnya saja ya. Aku akan letakkan di dalam." Natalia tersenyum ketika sang sekretaris mengangguk. Ia segera masuk ke ruangan Luigi. Lalu mendekati meja kerja suaminya itu dan meletakkan box makan siang di atasnya.


Setelahnya Natalia kembali keluar dari ruangan. Ia berpamitan pada sang sekretaris yang menawarkan untuk menghubungi Luigi. Tapi Natalia melarangnya. Ia tidak akan mengganggu pekerjaan suaminya.


Setelah masuk ke dalam Lift, Natalia memutuskan turun ke lantai yang menghubungkan dengan gedung rumah sakit. Ia ingin melihat suaminya di ruangan emergency. Setelah tiba, Natalia keluar dari lift, berjalan memasuki lorong yang akan tembus ke ruangan emergency lewat pintu khusus para petugas.


Seorang petugas mengenalinya dan menyapa. Natalia hanya menganggukkan kepalanya dan terus melangkah menuju pintu kaca.


"Selamat siang, Nyonya. Anda mencari Dokter Luigi?" tanyanya ramah.


Natalia hanya mengangguk.


"Beliau mengantar seorang pasien ke kamar operasi. Ada kasus emergency dan dokter Luigi kebetulan mengenal pasien tersebut."


"Mmm ... Anda tahu siapa pasiennya?"


"Seorang gadis bernama Catalina Seymor."


Natalia menelan ludah mendengar nama yang disebutkan oleh sang dokter. Tentu saja ia mengenal siapa Catalina Seymor. Ia mengangguk dan ingin tahu apa sebenarnya yang telah terjadi. Setelah menanyakan arah yang harus ia tuju menuju kamar operasi, Natalia melangkah dengan jantung berdebar.


Catalina Seymor ... gadis yang dulu Luigi cintai ... gadis yang sekarang akan menikah dengan Claude Bernard. Pernikahannya beberapa hari lagi ... apa yang terjadi padanya?


Natalia melangkah cepat. Setelah berbelok ia tiba di lorong, ia menatap beberapa orang yang berada di depan sebuah pintu bertandakan kamar bedah emergency.


Natalia berdiri di dekat dinding lorong, setengah tersembunyi di balik dinding di persimpangan lorong tersebut. Ia tidak melihat tanda-tanda keberadaan suaminya. Natalia menduga, Luigi ikut masuk ke dalam ruang operasi.


Pasti begitu ... gadis itu ... orang yang ia cintai ... pasti ia ikut masuk, memastikan bagaimana konsisi Catalina.


Natalia melihat Claude Bernard. Pria itu duduk di atas kursi tunggu dengan wajah menunduk dan bahu melorot, kedua telapak tangannya menutupi wajah, Tampak sangat menderita dan putus asa. Di sebelahnya, duduk Yoana Bernard, mengalungkan lengan mungilnya ke bahu lebar sang adik. Seolah ingin menyerap kesedihan pria itu. Wajah Yoana tampak pucak dan takut. Tak jauh dari tempat duduk, berdiri Vincent yang tengah mendengarkan seseorang lewat ponsel di telinganya. Pria itu berdiri memunggungi Natalia. Lalu Natalia juga melihat si bungsu Bernard. Simon berdiri dan bersandar di dinding di seberang kursi Claude dan Yoana. Pria itu bersedekap dengan mata terus menatap pada Claude kakaknya.


Suara berderap muncul dari belakang Natalia. Ia menoleh dan melihat seorang wanita yang setengah berlari mendatangi.


"Marylin! Kumohon jangan lari! Mary!" Seorang pria bertubuh besar dengan kening berkerut khawatir berusaha menahan siku wanita tersebut.

__ADS_1


Pasangan itu melewati Natalia. Menghambur ke arah keluarga Bernard di depan pintu kamar operasi. Natalia baru menyadari wanita hamil yang barusan datang itu ternyata Marylin Seymor ... atau tepatnya Marylin Lucca. Ia membaca berita gosip pernikahan pengusaha kaya Alrico Lucca dengan Marylin. Sepertinya itu bukan gosip ... Pria yang memegang lengan Marylin dengan raut khawatir itu sepertinya adalah Tuan Lucca.


Yoana melepaskan Claude ketika mendengar suara langkah kaki. Ia melihat Marylin yang tiba sambil menangis dan menatap ke arahnya dengan mata ketakutan.


"Yoan ... Lina ...." ucap Marylin terbata. Wanita itu menelan ludah, tidak sanggup melanjutkan.


Yoana berdiri, melangkah dan memeluk Marylin.


"Kita belum tahu, Sayang. Kita masih menunggu."


"Ya Tuhan ... katakan apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Marylin.


"Lina ditabrak mobil ... kami baru saja berhenti di depan restoran untuk makan siang. Kejadiannya sangat cepat ...." jelas Yoana singkat. Ia melepaskan Marylin yang terisak, tahu Marylin sama cemasnya seperti mereka semua.


Alric mengeluarkan saputangan dari sakunya. Ia menarik Marylin dan menuntunnya ke tempat duduk di sebelah Claude.


"Duduklah, Mary. Kita akan menunggu ...." Alric menghapuskan saputangannya ke pipi istrinya.


"Bersabarlah ...." tambah Alric lagi.


Marylin memegang saputangan pemberian suaminya dan menutupkan pada matanya yang masih terus mengalirkan air mata. Adiknya akan menikah, tapi sekali lagi ujian datang. Mary memejamkan mata, berdoa sepenuh hati untuk kesembuhan Catalina.


Alric melihat Vincent yang sekarang bersandar di dinding lorong dengan rahang mengeras. Alric kenal ekspresi itu. Ia mendekati Vincent dan menyipitkan mata memandang pria itu.


"Katakan padaku, Vincent ... apa itu murni kecelakaan?" bisik Alric dengan tatapan tajam.


Vincent balas menyipitkan mata. Lalu ia mengajak Alric menjauh dari depan keluarga Bernard. Mereka berbicara setelah Vincent yakin jarak mereka aman dan pembicaraan mereka tidak akan di dengar.


"Sebaiknya ini dirahasiakan dulu, Lucca. Aku sudah meminta temanku Blaird mengurus semuanya. Termasuk secepatnya menangkap gadis kurang ajar yang melakukan ini!" bisik Vincent dengan tatapan mengeras.


"Maksudmu ... pelakunya perempuan!?" tanya Alric terkejut.


Rahang Vincent menggeretak. Pria itu menahan amarahnya yang menguar. Dulu Catalina sampai patah tulang karena Rodrigo, menyelamatkan Yoana, dijadikan sebagai alat tukar oleh Rodrigo. Berkat Lucca, mereka tiba tepat waktu menyelamatkan gadis itu. Dan sekarang ... gadis itu dengan sengaja ditabrak oleh perempuan yang cemburu! Tidak puas dan sakit hati! Blaird mengatakan pada Vincent mereka sudah mendapatkan siapa pelakunya. Miss Tania Sweyn, mantan tunangan Claude yang sepertinya hilang akal dan kalap karena mengetahui Claude akan menikahi Catalina. Setelah semua usaha dan rayuannya ditolak Claude, gadis itu putus asa ... berpikir jika ia tidak dapat memiliki Claude lagi, maka tidak boleh ada yang bisa memilikinya. Blaird sudah bertindak cepat, menangkap gadis itu yang sedang bersiap-siap mau kabur melarikan diri.


Vincent memutuskan belum saatnya ia memberitahu Claude. Mereka harus tahu lebih dulu kondisi Catalina selesai operasi.


"Ya Tuhan ... gadis itu gila ... bermaksud menyingkirkan Catalina ... ia melakukan rencana pembunuhan berencana ... Kurasa ia sudah lama mengikuti mobil Catalina saat itu?" tanya Alric pada Vincent.


Vincent menjawab dengan anggukan kepala. Lalu kedua pria itu menatap ke arah kursi panjang. Claude duduk di pinggir, masih dengan bahu dan kepala menunduk. Kedua tangannya masih menutupi wajah. Jari-jari pria itu terlihat bergetar. Di sebelahnya, Yoana duduk sambil memeluk Marylin. Bibir Yoana tampak kering dan pucat. Wanita itu hanya mampu menepuk-nepuk pelan bahu Marylin yang berguncang. Saputangan Alric yang ditutupkan Marylin pada wajahnya meredam suara isakan pilu wanita itu.


"Kuharap Lina baik-baik saja setelah ini, Vincent ... bila tidak ... aku tidak tahu bagaimana jadinya ... mereka ...." Alric menelan ludah. Tidak sanggup membayangkan bagaimana dan apa yang akan terjadi pada Claude Bernard nanti, jika sesuatu yang terburuk terjadi pada Catalina. Juga Marylin. Istrinya sudah sangat dekat dan menyayangi saudara satu-satunya yang ia miliki. Kedua kakak beradik itu baru saja saling memahami satu sama lain, dan Alric tidak mau Marynya kehilangan hal itu.


NEXT >>>>>


**********


From Author,


Hai Readers ... mohon maaf UP tidak tentu ya. Menyesuaikan dengan waktu yang author punya untuk menulis. Semoga tetap bersabar menunggu lanjutan kisahnya.


Jangan lupa Like, love, ketik komentar dan tekan rate bintang lima serta vote ya Readers. Untuk vitamin penyemangat author.


Atas dukungan kalian semua, author ucapkan terima kasih.


Salam hangat, DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2