
Luigi menatap kedua orang tua Natalia yang memandangnya dengan tatapan heran.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa kau menanyakan properti di Crystal Clear Lake secara tiba-tiba?" tuan Ambroz memandang menantunya dengan mata menyipit. Mereka boleh dikatakan tidak pernah berbicara sejak Natalia menikah dengan Luigi. Tapi sejak Natalia sudah tinggal bersama dengan suaminya itu, ia dan istrinya merasa lega, mengira bahwa Natalia dan Luigi akhirnya bisa mengatasi masalah mereka dan sama-sama telah menerima keadaan.
"Aku mendapat informasi kalau Natalia sedang berada di sana," ucap Luigi. Merasa sangat tidak nyaman sebenarnya membicarakan hal ini dengan mertuanya. Tapi bila ingin lebih cepat mengetahui tentang Natalia, maka ia harus berterus terang pada Tuan dan Nyonya Ambroz, walaupun ia tidak berniat menceritakan secara keseluruhan.
"Natalia ke sana? Sendiri?" tanya nyonya Ambroz. Luigi mengangguk, lalu melihat kedua orang tua Natalia menatapnya dengan alis terangkat, menunggu penjelasan darinya.
"Well ... itu ... sebenarnya ...." Luigi menggaruk kepala, kebingungan mau mulai dari mana menceritakan perihal Natalia.
"Kalian bertengkar?" tanya nyonya Ambroz. Luigi mendongak, melihat bergantian pada ibu dan ayah mertuanya tersebut.
"Mmm ... bisa dikatakan begitu." jawab Luigi.
"Jadi dia pergi ... dia kesal?" tanya tuan Ambroz.
Luigi memutuskan hanya menjawabnya dengan mengangguk. Ayah Natalia berdecak pelan.
"Anak itu ... masih seperti anak kecil. Kabur jika marah atau kesal."
"Aku kemari ingin menanyakan tentang tempat itu, orang yang kuminta menyelidiki dan mencari Natalia sudah memberikan informasi kalau Natalina berada di Crystal Clear Lake. Ponselnya kadang-kadang aktif. Tetapi akan dimatikan bila aku menelepon. Bila aku menggunakan nomor lain, dia tidak mengangkat nomor asing,"
Ayah dan ibu Natalia saling berpandangan. Lalu ibu Natalia segera bangkit dan mengambil ponselnya.
"Dia meneleponku beberapa hari yang lalu. Menanyakan resep kue keju yang biasa aku buat. Katanya dia sedang suka makan kue kering yang gurih."
"Apa ... Dia kan tidak suka kue itu ...." ucap tuan Ambroz, ibu Natalia hanya mengangkat bahu, suaminya benar, jika ia membuat kue itu, yang menyentuhnya hanyalah ayah Natalia.
"Nat bilang dia baik-baik saja waktu itu ... well, dia memang terdengar agak sedih. Kita coba telepon dulu, kurasa dia akan mengangkatnya," ucap nyonya Ambroz.
Luigi mengangguk, menunggu ketika ibu Natalia menghubungi putrinya. Setelah beberapa saat terdengar suara Natalia yang menjawab dengan nada malas. Nyonya Ambroz menekan tombol speaker, sengaja agar mereka semua bisa mendengar percakapan itu.
"Halo, Mom ... ada apa?"
"Hei, Sayang. Tidak ada ... hanya ingin menelepon mu dan menanyakan kabarmu. Kau baru bangun tidur ya?" Nyonya Ambroz mendengar nada suara putrinya yang seperti baru saja selesai menguap.
"Aku baik-baik saja, Mom. Ya ... aku tertidur di sofa, Ummmmm."
Terdengar jawaban diikuti seperti suara orang yang sedang menggeliatkan badannya setelah bangun tidur.
"Apa aku mengganggumu, Sayang?"
"Tidak, Mom."
"Nat ... kau benar-benar membuat kue kering yang kemarin?"
"Ummm ... Ya, Laura membantuku. Belum terasa seperti buatan Mommy."
Nyonya Ambroz mengerutkan kening, begitu juga dengan suaminya setelah mendengar nama Laura. Luigi yang ikut mendengar merasakan jantungnya berdebar, sosok Natalia dengan perut besar kembali hadir dalam pikirannya.
"Nat ... Laura?"
"Oh, Laura temanku, Mom. Ia datang berkunjung dan kami membuat kue, resep yang kuminta kemarin." Natalia cepat-cepat menjelaskan pada ibunya. Takut ibunya menghubung-hubungkan dengan Laura pengasuhnya dulu.
__ADS_1
"Oh, temanmu ya."
"Iya, Mom. Ehem ... nam, namanya Laura."
"Oh ... ya sudah. Bagus kalau begitu. Atau kau mau Mom membuatkannya untukmu?"
"Tidak, Mom. Tidak usah. Sungguh ... aku tidak akan ahli kalau tidak terus mencoba bukan. Jadi aku akan mencoba lagi membuatnya nanti."
"Baiklah, Nat ... telepon aku jika mau menanyakan sesuatu, oke?"
"Oke, Mom ...."
Lalu mereka saling berpamitan dan memutus percakapan itu. Nyonya Ambroz menatap suaminya dan mengernyit.
"Dia benar-benar membuat kue ...." ucap nyonya Ambroz dengan nada heran.
"Sebenarnya ... Dia juga memasak," timpal Luigi. Orang tua Natalia menatapnya, bertambah heran.
"Dia memang memasak ... pagi, siang bahkan malam ...." tambah Luigi. Lalu menambahkan dalam hatinya, dan aku tidak pernah mau menyentuhnya ....
Nyonya Ambroz tersenyum bahagia. Menduga hubungan Luigi dan Nat sudah benar-benar normal.
"Jadi ... kau akan ke Crystal Clear Lake?" tanya tuan Ambroz.
"Ya. Karena itu aku kemari. Apakah ada yang Natalia temui di sana?"
Ayah Natalia tersenyum, bahagia mendengar menantunya ingin mengejar istrinya yang kabur.
Lalu tuan Ambroz memberitahu Luigi lokasi rumah tersebut. ia harus melakukan penerbangan selama satu jam, lalu melanjutkan perjalanan dengan mobil yang akan ditempuh lebih kurang satu jam. Luigi berpikir ia akan menyewa mobil saja untuk bisa mencapai tempat itu setelah tiba di bandara nanti.
"Boleh aku ikut? Aku sudah lama tidak bertemu Nat," tanya nyonya Ambroz.
"Itu ... ummm ...." Luigi bergerak-gerak gelisah. Ia tidak ingin orang tua Natalia tahu situasi yang sebenarnya antara ia dan Natalia.
"Tidak usah, Sayang. Mereka sedang bertengkar. Kau akan membuat Natalia menjadi punya tempat untuk mengelak lagi. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka dulu," saran tuan Ambroz pada istrinya.
Ibu Natalia mengangguk, keduanya tersenyum memandang Luigi yang terlihat bernapas lega atas keputusan nyonya Ambroz yang membatalkan niatnya untuk ikut.
"Kalau begitu ... boleh aku titip saja? Kue yang dibuat Natalia adalah kue kesukaan ayahnya. Aku masih ada simpanan. Apa kau mau membawanya untuk Nat, Luigi?" tanya Nyonya Ambroz dengan penuh harap. Luigi tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
Nyonya Ambroz langsung bangkit lalu pergi untuk mengemas kue yang mau ia titipkan untuk Natalia.
"Nak ... tolong maklumi putriku. Dia anakku satu-satunya. Dia manja dan kadang egois. Tapi kuyakinkan padamu ... ia gadis yang baik." tuan Ambroz menatap Luigi dan mengajaknya bicara dari hati ke hati. Mereka tidak pernah bicara serius dan moment ini rasanya tepat sekali untuk menghilangkan ganjalan di hati mereka masing-masing.
"Aku berterima kasih padamu, juga ayahmu yang telah menolong perusahaan kami. Aku berjanji ... aku akan membayar semuanya walaupun aku tidak bisa menyelesaikannya sekaligus. Aku akan mencicilnya, menyelesaikannya sampai terbayar lunas pada ayahmu. Aku tidak ingin ... bantuan itu jadi ganjalan hubunganmu dengan Natalia."
Luigi mengerutkan keningnya, ia menyipitkan mata mendengar kata bantuan. Lalu setelah menyatukan dan menjalin kedua tangannya di depan, ia meminta tuan Ambroz menjelaskan semuanya.
"Ayah ... ehem ... bisakah Anda menjelaskan bagaimana sebenarnya perjanjian pernikahan antara aku dan Natalia yang Anda buat bersama ayahku? Juga tentang bantuan yang Anda sebutkan tadi ... seperti kata Anda tadi ... Aku tidak mau ada ganjalan antara hubunganku dengan Natalia." Luigi merasakan lidahnya sangat kaku ketika memanggil mertuanya itu dengan sebutan ayah.
"Steffano dan aku memang berjanji akan menjodohkan anak-anak kami. Steffano dan Esmeralda melihat Natalia dan setuju untuk menjadikannya menantu. Kemudian perusahaanku mengalami keadaan yang agak sulit. Lalu dengan sedikit bercanda, ayahmu menawarkan memberikan bantuan, asalkan kau dan Natalia segera menikah. Tentu saja kami semua tidak dapat melakukan apapun agar hal itu cepat terlaksana. Kalian sudah lama dijodohkan, namun kau terlihat sekali tidak menyukai Nat ... dan Nat ... gadis yang merasa sudah jadi model papan atas merasa bisa menggaet pria manapun yang ia mau." tuan Ambroz tertawa sumbang, lalu melanjutkan ceritanya.
"Lalu makin lama ... tindakan apapun yang kulakukan tidak bisa membuat keadaan perusahaan menjadi lebih baik. Kami menyerah ... apapun yang terjadi kami sudah pasrah. Tentu saja sebagai teman, seharusnya aku bisa datang pada ayahmu ... tapi entahlah ... harga diriku terlalu tinggi mungkin, aku ayah yang egois ... Aku membuat putriku memikirkan hal yang mengerikan, ia sampai memikirkan ide itu dan benar-benar melakukannya. Kami tahu setelah terlambat. kami tahu Luigi ... kami tahu apa yang telah Nat lakukan padamu ... kami minta maaf ..." tuan Ambroz berkata dengan nada serak, penuh penyesalan.
__ADS_1
Luigi mengeratkan jemarinya, menunggu dan menata pikirannya untuk mendengar kelanjutan cerita tuan Ambroz.
"Tentu saja Steffano tidak mau tahu. Orang tuamu ingin kau segera menikahi Natalia setelah kejadian itu. Kau korban dari kami semua ... kau tidak menginginkan Natalia, tapi Natalia memaksamu terikat dalam pernikahan yag tidak kau inginkan ...Setelah kalian menikah, ayahmu memberikan dana yang amat besar. Membantu perusahaanku stabil kembali. Aku akan membayar pada ayahmu Luigi ... tapi aku tidak dapat mengembalikan waktu dan membuat pernikahan kalian batal ... mengertilah ..."
Luigi menelan ludah ketika melihat mata pria tua di depannya itu mulai berkaca-kaca.
"Kami mengerti ketika kau tidak mau bicara pada kami setelah pernikahan. Kami berharap suatu hari nanti ketika hatimu melembut, kami bisa menjelaskan semuanya padamu. Natalia kami terbiasa dimanja dan mendapatkan apapun keinginannya ... salahkan kami karena membuatnya lalu punya ide jahat untuk menjebakmu."
Luigi masih diam, baru tahu mengenai perkara ini. Natalia Ambroz ... melakukan apapun untuk kedua orang tuanya, termasuk menjebak dirinya sendiri tidur dengan tunangan yang membencinya agar ayahnya mendapatkan suntikan dana untuk memulihkan perusahaan. Lalu kembali kata-kata Catalina saat bertemu di restoran dua minggu setelah ia menikah dulu terngiang kembali di telinga Luigi.
Tidak ada orang tua yang akan memilihkan pasangan yang buruk dan jahat untuk anaknya, Dokter. Bila belum mampu melihatnya sekarang, maka cobalah nanti ... saat hati sudah lebih tenang, dan bila tidak bisa melihatnya dengan mata telanjang, maka cobalah dengan menggunakan ini ... saat itu Catalina meletakkan tangannya di tengah dada.
"Tapi jangan memikirkan perceraian Luigi ... putriku ...." ucapan tuan Ambroz terputus.
Luigi mendongak cepat, lalu mengerutkan kening ke arah ayah Natalia. Sekarang dua tetes bulir bening menuruni kedua pipi pria tua itu.
Luigi menggelengkan kepalanya, " tidak, Ayah. Apa yang kau katakan. Aku tidak pernah memikirkan itu."
Tuan Ambroz tersenyum sambil menelan ludah. Lalu Nyonya Ambroz tiba, wanita itu sebenarnya sudah sejak tadi mengemas kue, ia hanya berdiri di dekat dinding dan mendengarkan percakapan suami dan menantunya. Ia datang ketika mendengar suara suaminya itu sudah serak penuh kesedihan lalu duduk sambil menggenggam tangan suaminya.
"Lagipula ... Natalia sedang hamil saat ini, anakku ...." ucap Luigi, ia memberikan senyumnya pada kedua orang itu. Rasa terkejut yang amat sangat tergambar di wajah orang tua Natalia. Nyonya Ambroz menutup mulutnya yang ingin berseru gembira, ia lalu bertatapan dengan suaminya dengan mata berkaca-kaca. Sekarang malah ia yang menangis.
"Karena itu aku harus cepat-cepat mengejarnya. Aku akan membawanya kembali kemari," tambah Luigi. Mertuanya hanya mengangguk, terlalu gembira dan kehilangan kata-kata.
"Umm ... Jika tidak keberatan, aku akan pergi sekarang. Aku akan bersiap-siap untuk berangkat. Kuenya akan aku bawa ...."
Nyonya Ambroz mengangguk, lalu mengulurkan kotak berisi kue yang ia buat kepada Luigi.
"Sampaikan salam kami ...." bisik nyonya Ambroz.
"Tentu, Mom."
Jawaban Luigi yang memanggilnya Mom membuat Nyonya Ambroz makin terisak.
Lalu Luigi pamit. Ia pergi sambil membawa sekotak kue yang diberikan seorang ibu untuk putrinya. Putri yang sedikitpun tidak menceritakan bagaimana perlakuan suaminya di apartemen. Natalia menanggungnya sendiri, pasti karena tidak mau membuat orang tuanya khawatir. Tuan dan nyonya Ambroz mengira ia dan Natalia baik-baik saja setelah Natalia ikut tinggal bersama dengannya di apartemen.
Aku melihatnya sekarang ... seorang wanita yang sangat mencintai kedua orang tuanya lebih dari dirinya sendiri. Lalu bagaimana bila wanita itu akan menjadi seorang ibu?
Memikirkan hal itu membuat Luigi tidak sabar untuk melihat dan bertemu Natalia. Ia memacu mobilnya lebih kencang menuju apartemen. Segera berkemas dan menelepon beberapa orang untuk mendelegasikan pekerjaannya. Setelah semua selesai dan siap, Luigi menutup apartemennya lalu melangkahkan kaki untuk segera menuju bandara, terbang untuk kemudian pergi menuju Crystal Clear Lake. Mengejar Natalia.
NEXT >>>>
*********
From Author,
Jangan lupa klik like, love, bintang lima, komentar dan Vote untuk novel ini ya para Readers. Author mengucapkan terima kasih banyak atas kesabaran para Readers sekalian untuk nunggu update.
Yuk, rekomendasikan novel ini ke teman-temannya yang hobi baca, sebagai tambahan penghuni rak baca mereka, siapa tahu jadi suka💞
Terima kasih,
Salam hangat, DIANAZ.
__ADS_1