Embrace Love

Embrace Love
CH 28. Abduction


__ADS_3

Catalina menatap pasangan yang tengah berciuman itu dengan sangat tertarik. Sang wanita tampak agresif, bergerak menggoda dengan bibirnya. Sedangkan yang pria hanya diam, tak bergerak, tak berekspresi.


Lalu mata Claude menangkap matanya, segera saja pria itu memundurkan kepalanya sehingga pagutan bibir wanita itu terlepas. Catalina tersenyum geli, ia sengaja berdeham.


Wanita yang mencium Claude tampak terkejut dan segera memisahkan diri dari tubuh Claude. Ia menatap dan segera menyimpan keterkejutannya karena tertangkap basah oleh Catalina.


"Maaf. Apakah Leon ...." Catalina melirik pada Leon yang sudah tertidur di pangkuan Claude.


"Ah, dia tertidur Cat. Maaf Tania, kau boleh pergi. Kau tahu pintu keluarnya," ucap Claude dingin sambil berdiri dengan menggendong Leon.


Ia menunggu Tania bergerak agar pergi dari kantornya. Gadis itu terlihat enggan.


"Apakah kita bisa bertemu di ...." Belum selesai ucapan Tania sudah dipotong oleh Claude.


"Tidak. Hentikan semua usahamu untuk bertemu denganku. Sudah kukatakan aku memaafkanmu, bahkan bersyukur atas apa yang kau lakukan di masa lalu. Jadi pergilah Tania."


Tania melirik pada Catalina yang berdiri di belakang Claude. Ekspresi wanita itu datar, seolah tidak ada kecemburuan, rasa tidak suka atau bahkan penasaran padanya, orang yang telah mencium Claude di depan matanya.


Tania berjalan dengan menatap tajam ke arah Catalina dan akhirnya keluar dari ruangan itu.


"Kenapa ia menatapku seperti itu?" tanya Catalina.


"Mana kutahu. Kenapa tidak bertanya padanya tadi?" Claude menjawab santai dan terkekeh melihat Catalina yang cemberut setelah mendengar ucapannya.


"Gendong dia." Claude mengulurkan Leon pada Catalina. Lalu ia mengambil tas bayi dan mendorong Catalina ke sebuah pintu di sudut ruang kerjanya. Setelah masuk Catalina melihat sebuah ruang istirahat yang lumayan besar. Dengan sebuah ranjang dan sofa.


"Tidurkan Leon di ranjang itu." Claude menunjuk pada ranjang dengan seprai abu-abu di sudut kamar. Catalina menurut, ia meletakkan Leon yang tertidur dan menghadangnya dengan bantal-bantal di sisi tubuh bayi itu.


"Kenapa kau membawanya kemari?"


"Aku akan membawanya ke suatu tempat siang nanti. Jadi bisa langsung dari sini tanpa harus menjemputnya dulu di mansion."


"Kenapa tidak bilang?"


Claude mengangkat kepalanya memandang Catalina. Gadis itu langsung terdiam, tersadar ia tidak punya hak untuk menanyakan keinginan Claude. Ia hanya pekerja yang di bayar untuk mengasuh Leon.


"Temani Leon di sini. Aku akan kembali bekerja." Claude memandang datar pada Catalina yang tidak melanjutkan kata-katanya. Ia keluar dan menutup pintu lalu kembali duduk dan menekuni pekerjaan yang dilakukannya sesat tadi sebelum Tania masuk dan mengganggunya.

__ADS_1


Catalina duduk di pinggir ranjang, memandang berkeliling dan tidak tahu mau melakukan apa selama menunggui Leon tidur. Ia akhirnya merebahkan tubuhnya di samping bayi itu. Memandang wajah montok yang terpejam dan nyenyak. Catalina mengulurkan tangan menggenggam jari-jari mungil Leon yang kecil di telapak tangannya. Ia tersenyum dan terus menatap wajah bak malaikat bayi itu sampai matanya meredup dan akhirnya dikuasai alam tak sadar. Catalina memejamkan mata. Tertidur dengan tangan masih saling terjalin di jemari kecil Leonard.


**********


Yoana memandang gadis cantik yang berlenggak-lenggok dengan mengenakan pakaian hasil desain terbaru dari desainer ternama perusahaannya. Ia berbisik pada manager yang akan menangani acara peluncuran produk terbaru kosmetik mereka dan memperkenalkan keluaran terbaru desainer mereka.


"Kau yakin ingin memakainya?" Yoana berbisik.


Sang manager mengangguk yakin. "Dia berbakat Nona Yoan. Percaya diri dan managernya Serge mengarahkannya dengan sangat baik."


Yoana memandang tajam ke arah gadis cantik itu sekali lagi. Marilyn Seymor. Ibu biologis Leonard, sudah bertransformasi menjadi seorang gadis cantik dengan body aduhai yang melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh dan profesional. Atau begitulah yang dikatakan oleh manager mereka. Namun Yoana memang sedikit terkejut dengan pencapaian gadis itu. Managernya Serge membuktikan kata-katanya kalau gadisnya akan luar biasa.


Yoana mengangguk sekali lagi pada managernya dan mulai meninggalkan tempat itu. Mata Marilyn menangkap sosok Yoana yang akan pergi, segera ia mengejar dan memanggil.


"Nona Yoana," panggilnya setengah berlari. Yoana berhenti lalu berbalik. Menatap datar tanpa ekspresi ke arah gadis itu.


"Maaf, tapi bolehkah aku menanyakan sesuatu?" tanyanya pelan dengan kedua tangan terjalin di depan.


"Apa?" Yoana menatap angkuh.


"Um ... bagaimana keadaan Catalina saat anda mengambil Leon?"


"Apakah ia terlihat sedih? at ... atau apakah ia marah?"


Yoana tidak menjawab selama beberapa detik. Hanya memandangi gadis itu hingga membuatnya salah tingkah.


"Tidak ada urusannya denganmu. Bukankah kau hanya memikirkan dirimu sendiri? Jadi untuk apa bertanya padaku tentang Catalina. Kau bisa memeriksanya sendiri jika kau benar-benar ingin tahu."


Yoana kembali berbalik dan meninggalkan Marilyn. Ia tahu Marilyn menghabiskan uang Catalina dengan memerasnya. Catalina membayar kakaknya itu dengan uang tabungan pribadinya, mengatakan itu adalah pembayaran sepasang suami istri yang akan mengadopsi Leon, hanya agar Marilyn mau mempertahankan Leon, Marilyn memang tidak pernah menginginkan Leon.


Informasi itulah yang di simpan oleh Claude untuk memeras Catalina agar tetap tinggal bersama mereka. Menjadikannya senjata dengan membalikkan kenyataan bahwa Catalina membeli Leon untuk diberikan pada orang tua asuh yang akan membayar lebih tinggi.


Yoana mengernyit. Setelah mengenal Catalina ia merasa keluarga Bernard sama saja dengan Marilyn. Memanfaatkan Catalina demi keuntungan mereka sendiri. Yoana menarik napas panjang. Apa boleh buat, gadis itu terlibat dalam kehidupan Leon, dan Leon adalah keturunan Bernard, jadi mau tidak mau Catalina harus menanggung ini.


Yoana melangkah cepat melintasi lobi menuju pintu keluar gedung. Vincent yang masih duduk di sofa lobi segera bangkit dan akan segera menyusulnya ketika suara ban mobil berdecit di halaman kantor. Seorang pria turun dan dengan cepat menangkap Yoana. Kaki wanita itu terseret dan sepatu high heels yang dipakainya membuat pergelangan kakinya tertekuk dan terkilir. Yoana menjerit dan menahan tubuhnya dengan kaki yang terasa berdenyut.


"Siapa kalian! Vincee!" jerit Yoana kuat-kuat.

__ADS_1


DOR! DOR!


Suara tembakan beruntun terdengar di depan lobi. Pria yang menangkap Yoana tertembak di bagian bahu. Ia mengumpat dan langsung melepaskan Yoana kemudian melompat masuk lagi ke dalam mobil yang dikendarai rekannya yang masih menunggu. Mobil hitam itu melaju kencang. Vincent berlari mengejar dengan beberapa tembakan ke arah mobil yang dengan cepat menghilang.


Wajah kelam Vincent membuat para karyawan yang berkumpul menyaksikan insiden yang terjadi dalam hitungan detik itu mundur teratur. Vincent memerintahkan seseorang untuk mengambil mobilnya dan segera ia memeriksa pergelangan kaki Yoana yang tertekuk aneh. Kaki itu harus di tarik segera, dikembalikan pada posisinya. Tapi Vincent tidak tahu apa Yoana bisa menanggung rasa nyerinya.


Vincent memegang ujung kaki dan pangkal pergelangan kaki Yoana. Tanpa aba-aba ia menarik kaki itu ke posisi semula. Dengan jeritan kencang membelah keheningan sekitarnya, Yoana terkulai pingsan, tidak kuat menahan rasa nyeri.


Vincent menangkap Yoana yang pingsan dan segera menggendongnya sambil menunggu mobil mereka tiba.


"Aku tidak bisa menyetir. Kau bawa kami ke rumah sakit sekarang juga!" perintahnya pada pengawal yang berada dibalik kemudi.


"Dan kau hubungi Claude! Katakan agar segera menyusul kami ke rumah sakit!"


Seorang wanita yang ditunjuk oleh Vincent untuk melaksanakan perintah itu mengangguk cepat.


"Baik Tuan, tapi Tuan Claude harus menyusul kemana, Tuan? Maksudku, rumah sakit mana?" tanya wanita itu cepat. Karena Vincent sudah masuk ke bagian belakang mobil dengan memeluk Yoana yang terpejam di pangkuannya.


"Katakan ke Eliza Hospital!" Vincent menyebutkan rumah sakit yang mempunyai jarak terdekat dari gedung kantor mereka.


Setelah mengatakan itu, mobil segera melaju. Vincent memeluk erat tubuh mungil wanita berambut hitam di pangkuannya. Ia menggosokkan rahangnya pada telinga Yoana dan berbisik pelan.


"Maafkan aku ... Mi Pequeno*," ucapnya dengan nada khawatir yang amat sangat. Vincent memejamkan mata kuat-kuat, menahan desakan marah yang tengah menggumpal di hatinya saat ini.


N E X T >>>


***********


*Mi Pequeno : Mungilku


From Author,


Jangan lupa klik like, love, rating bintang lima dan komentar serta vote untuk Catalina ya.


Semoga readers sekalian maklum kalau thor agak lambat up karena kesibukan sehari-hari yang agak berjubel.


Antusias readers sekalian jadi vitamin penyemangat untuk author. Kritik dan saran juga selalu author tunggu untuk perbaikan chapter selanjutnya🙏🙏

__ADS_1


Terimakasih semua.


Salam, DIANAZ.


__ADS_2