Embrace Love

Embrace Love
Ch 141. A Kiss of mine


__ADS_3

Dering telepon mengalihkan luigi dari mengintip ke arah luar kaca jendela samping. Natalia dan Laura tengah mengurus taman samping sambil bergurau dan saling menggoda. Wajah Natalia yang tertawa dan kemerahan tampak semakin cantik di bawah sinar matahari pagi.


Luigi bergerak dan mengambil ponselnya yang berdering di atas meja tamu. Ia melihat nama sekretarisnya di layar.


"Ya?" tanya Luigi sambil kembali ke arah kaca jendela dengan ponsel di telinga.


"Dokter Luigi, seseorang dari perusahaan Bernard datang mengantarkan sebuah undangan. Saya pikir Anda harus tahu tentang ini." Suara sekretaris Luigi menyahut.


"Oh ... Kau buka saja. Lihat siapa yang menikah," perintah Luigi. Meskipun sebenarnya ia sudah dapat menebak. Ia tidak terlalu mengenal keluarga Bernard. Tapi ia mengenal dengan baik siapa kekasih salah satu Bernard itu.


"Undangan pernikahan Tuan Claude Bernard dan Miss Catalina Seymor, Dokter."


Sekretarisnya juga menjabarkan kapan waktu pelaksanaan dan tempat pernikahan itu.


"Baiklah."


"Apakah Anda akan pulang, Dok? Umm ... kemarin Tuan Steffano singgah menemui dokter Nate, ia sekalian mendatangi saya dan menanyakan kapan Anda akan pulang."


Luigi tersenyum mendengar ucapan sekretarisnya. Benar-benar ciri khas ayahnya. Datang bertanya pada sekretaris dan menolak menelepon langsung ke putranya sendiri. Padahal Luigi tahu ayahnya pasti sangat ingin tahu kabar dirinya dan Natalia.


Setelah beberapa obrolan singkat mengenai pekerjaan, Luigi menutup telepon. Ia memandangi Natalia yang mengenakan celana karet longgar dan kaos yang tampak sangat besar di tubuhnya. Menyendok pupuk dan memasukkannya ke dalam pot sesuai instruksi Laura.


Luigi menyadari, dengan mudah pikirannya teralih dari kabar yang baru saja ia terima. Tidak ada perasaan apapun selain ikut gembira untuk Catalina, tidak ada sedih, tidak ada sakit hati. Dengan gembira Luigi menyadari, membuat wanita yang sekarang tampak sibuk dengan tanah dan pupuk di luar sana agar mau menerimanya adalah sebuah keinginan yang berusaha ia wujudkan saat ini.


Luigi melihat ke wajah Natalia, sekarang wanita itu mengangkat lengan dan menghapus keringat yang menetes di pelipis dan pipi. Coreng hitam dari tanah menempel dari lengan ke pipi wanita itu. Sama sekali tidak terlihat seperti seorang model papan atas, tapi Luigi mengakui ia menyukainya. Kekehan geli keluar dari bibir Luigi, ia menggelengkan kepala, betapa sering akhir-akhir ini ia tertawa karena Natalia. Istri cantiknya yang akan terdiam kaku dengan wajah merah jika ia mulai menyinggung kata 'meniduri'.


**********


Luigi melihat Natalia menerima telepon selepas mereka makan malam. Dari pembicaraan yang ia dengar ketika melintas, Natalia sepertinya tengah berbicara dengan ibunya.


"Apakah itu ibumu?" tanya Luigi.


Natalia mengernyit. "Tunggu, Mom ," ujarnya pada ibunya di ponsel, lalu menatap Luigi.


"Ya. Ini Mom. Ada apa?"


"Aku mau bicara dengannya kalau nanti kau sudah selesai."


Tiba-tiba Natalia mendengar suara ibunya. Rupanya ucapan Luigi terdengar jelas di telinga ibunya itu.


"Nat. Berikan ponselmu pada Luigi. Ia mau bicara dengan ibu kan."


"Tapi Mom ...." Natalia berusaha membantah.


"Sayang ... sebentar saja," bujuk Nyonya Ambroz pada putrinya.


Dengan bibir cemberut, Natalia mengulurkan ponsel pada Luigi, sengaja ia menatap tajam, tidak suka atas interupsi yang Luigi lakukan.


Luigi memasang wajah tanpa dosa, ia menyambut dan mengambil ponsel Natalia lalu membawanya ke beranda luar. Sengaja pergi agar pembicaraannya dengan ibu mertua tidak di dengar oleh Natalia.


"Halo, Mom."


"Ya, Luigi. Ada apa?"


"Oh, itu ... aku mau minta tolong."


"Tentang apa?"


"Bisakah kau membujuk Nat agar segera pulang? Jadi aku akan membawanya bersamaku. Dia berkeras tidak mau pulang bersamaku."


"Oh itu ...."


" Tolonglah, Mom. Pekerjaanku menumpuk karena sudah lama cuti. Dan kalau bisa aku ingin menghadiri pernikahan seorang temanku. Tentu saja bersama Natalia."


"Pernikahan siapa, Luigi?"


"Catalina Seymor dan Claude Bernard."


"Oh, Nat juga mendapat undangannya. Yoana yang mengirimkannya untuk Natalia."


"Sempurna. B House dan Yoana Bernard yang menjadikan Natalia model terkenal bukan?"


"Ya."


"Bisakah Anda ...." ucapan Luigi terputus.


Luigi mendengar suara ayah mertuanya. Sepertinya orang tua Natalia mendengarkan secara bersama-sama obrolan lewat ponsel tersebut.


"Aku akan membantumu, Nak. Berikan ponselnya pada Natalia. Kurasa ia akan pulang setelah bicara denganku," ucap ayah Natalia.


Luigi menyeringai, merasa senang mendapat sekutu.


"Baiklah, Dad. Aku akan memberikan ponselnya kembali pada Nat."


Luigi kembali masuk dan menghampiri sofa tempat Natalia duduk memeluk bantal sambil menonton televisi.


"Nat ... ayahmu mau bicara," ucap Luigi. Ia memberikan ponsel dan segera pergi dari sana. Tapi tidak benar-benar pergi. Ia bersandar di bingkai pintu menuju dapur dan dengan sengaja mendengarkan.


"Hai, Dad."


"Halo, Mi princesa bella."


Hati Natalia seketika berpendar mendengar panggilan sayang ayahnya itu.

__ADS_1


"Aku merindukanmu, Ayah."


"Aku juga, Sayang. Kau baik-baik saja kan?"


"Hu um," jawab Nat, merasa sulit berbicara karena dera rindu yang berlompatan dari dadanya.


"Syukurlah. Setidaknya aku tidak perlu mengkhawatirkanmu ... uhhhhh."


Natalia mendengar ayahnya mengeluh di ujung kalimat.


"Ayah ... kau baik-baik saja?"


"Oh, aku baik, Sayang. Hanya kepalaku yang terkadang terasa pusing."


"Ayah sudah memeriksakannya ke dokter?"


"Belum, Nat. Tidak usah khawatir. Ini pasti gejala darah tinggiku saja."


"Ayah ... apakah kau minum obatmu?" Suara Natalia terdengar gelisah dan gusar. Ia tahu ayahnya sedikit bandel tentang menelan obat. Ia terkadang harus berdiri dengan berkacak pinggang hanya agar pria itu menelan obat hipertensinya.


"Itu ...."


Jawaban ragu-ragu ayahnya membuat kemarahan Natalia bangkit.


"Ayah! Kau sudah berjanji padaku!"


"Ah ... kau memarahiku, Sayang ...."


Natalia mulai menangis.


"Mi princesa ... jangan menangis."


"Ba ... bagaimana aku ti ... tidak menangis? Ayah tahu kan dokter Anna sudah mengatakan apa yang akan terjadi jika tekanan darahmu kembali naik tak terkendali. Seperti waktu itu ... ayah sudah berjanji, ayah berjanji akan meminum rutin obatnya ... Ayah ...."


"Stttt ... Sayang. Tenanglah ... aku tidak akan terkapar seperti waktu itu."


Luigi perlahan mendekat ketika mendengar isak tangis dan berdiri di belakang sofa yang diduduki istrinya. Bahu Natalia terlihat berguncang.


"Ayah akan terkapar jika mengabaikan meminum obatnya."


"Kalau begitu pulanglah, Sayang. Lihat dengan matamu sendiri apakah aku meminum obatku atau tidak."


"Ayah sengaja memerasku agar pulang!"


"Aku tidak memerasmu, Nat. Sudah berbulan-bulan ... Aku merindukanmu, Nak. Walaupun aku minum obat, sakit karena rindu ini hanya bisa terobati dengan melihatmu lagi, Mi princesa ...."


Natalia makin keras menangis. Ia mengerti. Karena hatinya sendiri sangat merindukan ayah dan ibunya. Ayah yang selalu membalut seluruh kesedihan dan lukanya. Serta ibu yang selalu akan memberikan semua kenyamanan untuknya.


Natalia mengangguk berulang kali. Lalu tersadar ayahnya tidak bisa melihat gerakan kepalanya.


"Ya ... ya, aku akan pulang, Ayah. Secepatnya. Besok. Berjanjilah ... min ... minum obatmu," ucapnya sesenggukan, isak Natalia terdengar kencang, membuat ayahnya jadi agak panik.


"Nat! Nat ... tenanglah Sayang!"


Luigi mendengar teriakan panik ayah mertuanya. Dengan cepat ia memutari sofa, duduk di sebelah Natalia yang masih terisak.


"Ada apa?" tanyanya khawatir. Natalia hanya menjawab dengan gelengan kepala. Perlahan Luigi mengambil ponsel dari telinga Natalia. ia mendengar suara panik Tuan Ambroz dari seberang sana.


"Nat. Ayah akan minum obat. Jangan menangis. Nat!?"


"Ini aku, Dad." Luigi melingkarkan sebelah lengannya yang bebas untuk memeluk Natalia yang menangis.


"Ah, untunglah kau di sana, Nak. Aku hanya ingin membujuknya agar mau pulang dengan mengingatkannya tentang penyakit dan obat yang harus ku minum. Ingatan buruk ketika aku tidak sadarkan diri membuatnya menangis. Tolong Luigi ... bujuk putriku."


"Tentu. Anda menderita hipertensi?"


"Ya. Tapi terkendali dengan obat anti hipertensi yang harus ku minum setiap hari. Tapi ketika perusahaan mengalami masalah waktu itu, aku pernah lupa menelan obatku. Hingga aku pingsan dan dirawat di rumah sakit. Natalia ketakutan ... mungkin ia mengira aku akan mati." Terdengar Tuan Ambroz tertawa.


"Apakah parah waktu itu, Dad? .... Shhhh, tenanglah, Nat." Luigi bertanya pada ayah mertuanya sembari menenangkan Natalia. Menarik kepala Natalia ke bahunya. Kepala istrinya itu lemas dan menurut dengan mudah.


"Tidak. Aku diperbolehkan pulang beberapa hari kemudian ...."


"Syukurlah. Serangannya tidak pernah terjadi lagi kan?"


"Tidak, Luigi."


"Kapan terjadinya serangan yang membuatmu pingsan waktu itu, Dad?


"Mmmm ... entahlah, kurasa beberapa minggu sebelum kau dan Nat menikah."


"Ah ...." otak Luigi mengerti dengan sebuah pemahaman baru. Selain karena alasan membutuhkan dana secepatnya untuk perusahaan ayahnya yang hampir kolaps, ini salah satu alasan tambahan yang membuat Natalia sesegera mungkin menjebaknya dalam ikatan pernikahan. Kemungkinan melihat sang ayah kembali tidak sadarkan diri membuat Nat bertindak nekat.


"Dia masih menangis?"


"Ya ..."


"Astaga ... putri cantikku yang malang. Aku membuatnya sedih. Tapi ia berjanji akan pulang, Luigi. Bilang padanya aku baik-baik saja. Tekanan darahku stabil. Aku akan menunggu ia pulang."


"Baiklah, Dad."


"Berikan kecupan sayangku untuknya."


"Baiklah."

__ADS_1


"Jangan menciumnya di pipi. Karena aku selalu menciumnya di atas kepala, di ubun-ubun. Tiga kali. Lakukan untukku."


"Baiklah, Dad."


"Ia masih menangis?"


"Sedikit ...." Rasa geli menyelinap di hati Luigi. Ayah mertua dan putrinya ini memiliki hubungan yang amat dekat.


" Natalia yang cengeng ... padahal sudah dewasa ... Ah, Mi princesa ...."


Luigi tersenyum. Tidak berkomentar. Tahu rasa rindu yang terdengar kental di nada suara tuan Ambroz.


"Baiklah, Luigi. Aku akan menutup teleponnya. Bujuk dia untukku ...."


"Baiklah."


Luigi meletakkan ponsel ketika terdengar panggilan itu berakhir. ia mengalungkan lengan ke sekeliling tubuh Natalia.


"Ayah bilang ia sudah minum obatnya. Jangan khawatir." Luigi menghapus air mata yang mengalir di pipi Natalia dengan sangat lembut.


Setelah menelan ludah, Natalia mengangguk.


"Dia menunggumu ... kita pulang besok. Bagaimana menurutmu?"


Kembali Natalia mengangguk.


"Dia merindukanmu." Luigi kemudian memberi kecupan sebanyak tiga kali berturut-turut di atas kepala Natalia, di ubun-ubun, sesuai instruksi ayah mertuanya.


"Itu ciuman darinya. Dia minta aku melakukannya untukmu."


Seketika Natalia kembali menangis. Air matanya meleleh deras. Ciuman sayang ayahnya.


Luigi tertawa kecil. "Kau ... rupanya putri manja kesayangan ayah. Tak heran kau menangis begitu kencang mendengar ia mengeluh sakit." Luigi mendekap Natalia, tersenyum sambil mengelus pelan punggung istrinya. Menunggu tangis Natalia reda.


Tak heran ... dengan mudahnya kau meramu rencana untuk menjebak ku. Agar perusahaan ayahmu segera pulih ... agar tidak ada lagi yang mengganggu pikiran ayahmu. Tanpa takut mengumpankan dirimu sendiri ... aku bisa saja mencekik mu sesudahnya, Nat. Kau tidak menangis sama sekali ketika aku bersikap kasar. Tidak menangis sama sekali hidup sendiri di apartemen ... berpura-pura di depan orang tuamu semuanya baik-baik saja, menahan diri menemui mereka berbulan-bulan ... tapi lihat dirimu sekarang, secengeng anak kecil ....


"Bi ... bisakah kita berangkat pagi-pagi sekali?" tanya Natalia. Suaranya teredam bahan kemeja Luigi.


"Tentu. Kita akan meminta Laura mengemas barang-barangmu."


Luigi merasa kepala Natalia mengangguk. Satu hembusan napas lega keluar dari dada Luigi. Besok mereka akan pulang. Memulai kehidupan rumah tangga bersama, menunggu kelahiran anak pertama dan menata semuanya dengan benar kali ini.


Luigi kembali mencium ubun-ubun Natalia sebanyak tiga kali.


"Jangan lakukan itu."


"Kenapa?"


"Itu ciuman sayang milik ayahku."


" Benar. Tapi dia menyuruhku melakukannya. 'Cium Nat untukku' begitu perintahnya."


"Kau sudah melakukannya tadi. Jadi jangan lakukan lagi."


"Hanya Dad yang boleh. Begitu kan?" sindir Luigi


"Ya." terdengar nada keras kepala dalam suara Natalia


"Baiklah, Mi Querida. Kalau ciuman yang tadi milik ayah, maka ini ciuman milikku."


Dengan lembut Luigi mendongakkan dagu Natalia. Lalu menurunkan bibirnya menyentuh bibir lembab istrinya, menyampaikan harapan dan keinginan, kata maaf juga kasih sayang serta cintanya. Cinta ... ya ... Luigi tahu kata itu entah kapan tumbuh dan berkembang dalam relung hatinya. Sapuan selembut beledu itu dengan cepat membuat Luigi terbakar, Ia mengatur sudut bibir, memperdalam ciuman, mencecap, membelai, merayu ... lidahnya menari dalam kelembapan rongga mulut Natalia, merasakan ujung lidah istrinya yang terasa manis mulai membalas.


Setelah larut dalam ciuman penuh hasrat itu beberapa saat, dengan sangat berat hati Luigi menghentikan pagutan bibirnya. Napasnya terengah-engah, ia tersenyum ketika menyadari Natalia juga terengah-engah. Luigi menyapukan ibu jarinya ke bibir bawah Natalia, mendekatkan bibir ke telinga istrinya itu dan berbisik.


"Ingatlah, Querida ...itu ciuman milikku. Hanya aku yang boleh melakukannya."


Natalia membelalak, menatap kilau posesif di mata Luigi. Menyadari kembang api yang berpendar dan merambati seluruh ruang di dalam hatinya, gelenyar aneh yang mengisi pembuluh darah dan detakan jantungnya yang berdebar sangat cepat, berdentum tidak terkendali, membuatnya merasa seperti baru saja habis berlari kencang.


NEXT >>>>>


**********


Catatan:


Mi princesa : Putriku


Mi princesa bella : Putri cantikku


Mi querida : Sayangku


*********


From Author,


Uwuwu ... pak dokter gak mau ketinggalan sama ayah mertua. Kalau ayah mertua punya ciuman khusus untuk sang putri, pak dokter juga punya.wkwkwk


Mohon maafkan Di kalau jadwal up tidak tentu ya my Readers. Terima kasih tetap ngikutin kisah-kisah mereka.


Jangan lupa untuk tekan Like, love, bintang lima, kasih komentar dan Vote ya semua. Untuk penyemangat dan vitamin author.


Terima kasih, Luv you....


Salam hangat, DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2