
Yoana menggendong Leon yang merengek dan terlihat gelisah, tapi Leonard merosot, meliukkan dan melenting tubuhnya dari gendongan Yoana. Dengan kesulitan Yoana kembali mengangkat dan memposisikan Leon kembali ke gendongannya.
"Ayolah, Sayang. Mommymu sedang sakit. Kan ada Bibi Yoan di sini," bujuk Yoana. Namun Leon tidak juga mau diam. Matanya menatap berkeliling, dan masih berusaha meliuk melepaskan diri dari gendongan Yoana. Bobot tubuh Leon sudah berkembang jauh, membuat Yoana yang mungil kesulitan menggendongnya jika ia selalu bergerak-gerak.
"Kemarilah, berikan dia padaku," Simon mengulurkan tangan dan mengambil putranya.
"Sttt ... tenanglah, Leonard ...." bisikan Simon membuat Leon tenang sesaat, lalu ia mulai lagi merengek. Simon memutuskan mengajak Leon bermain di luar mansion.
"Kau melihat Vincent?" tanya Yoana pada Simon yang sudah berlalu menuju pintu samping.
"Tidak."
Yoana mengernyit memandang Simon, lalu ia mengejar hingga ke teras.
"Simon. Bisakah kau menjaga Leonard sebentar? Cari Nanny jika ia jadi sangat gelisah. Lea akan membantumu. Aku mau pergi sebentar ke rumah sakit," ucap Yoana.
"Kau tidak boleh kemana-mana, Yoan. Itu perintah Claude dan Vincent." Suara Hamilton tiba-tiba terdengar di belakang Yoana. Wanita itu berbalik ke arah Hamilton dengan kening berkerut.
"Kenapa begitu?" tanya Yoana.
"Karena tempat paling aman untukmu adalah mansion ini. Claude sudah mengamankan tempat ini," ucap Hamilton lagi.
Simon memilih pergi dari sana. Ia tahu, sebentar lagi kakaknya itu pasti akan segera mengamuk.
"Aku dikurung?" tanya Yoana.
"Vincent dan Claude akan mengurus Rodrigo. Sebelum orang itu mati, kau diperintahkan tetap berada di sini."
"Mana bisa begitu! Aku ingin tahu bagaimana keadaan Catalina! Bagaimana rencana Vincent untuk menghadapi orang itu! Aku harus tahu!" Yoana berjalan cepat melewati Hamilton.
__ADS_1
Lengan Hamilton menahan bahu Yoana. Pria tua itu dengan mudah menghentikan langkah kaki Yoana yang bertubuh mungil.
"Percayakan pada Vincent dan adikmu, Yoan. Kau incaran utama dari Rodrigo. Malam ini atau paling lambat besok pagi, Rod akan kembali menghubungi Vincent. Ia pasti akan kembali ke kamar sewaannya itu."
Mata Yoana terbelalak lebar, ia menarik napas cepat.
"Jangan katakan kalau Vincent akan menemui dan menghadapi pria itu di sana! "
Hamilton yang hanya diam memberitahu Yoana bahwa tebakannya benar. Ia kembali akan melangkah ketika Hamilton menangkap tubuhnya. Ia memanggil dua penjaga yang ada di ujung ruangan.
"Paman! Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!" Yoana berteriak.
Hamilton menyerahkan Yoana pada salah satu pengawal.
"Bawa Nona Yoana ke atas, kerjakan seperti perintah Claude," ucapnya pada pengawal itu. Pria itu mengangguk dan memegang Yoana.
"Lepaskan aku! Aku akan memecatmu karena melakukan ini!" ancam Yoana lagi.
"Angkat dia, Seth. Hati-hati," ucap Hamilton pada pengawal bernama Seth yang memegang Yoan.
Mendengar perintah itu, pengawal itu mengunci lengan Yoana dengan lengannya yang besar, lalu mulai mengangkat Yoana ke bahunya.
"Apa yang kau lakukan! Paman! Jangan lakukan ini! Aku hanya ingin ke rumah sakit! Aku hanya ingin melihat Catalina!" Yoana memohon. Ia tidak mengatakan kalau ia juga ingin melihat dan bertemu Vincent.
Kedua pengawal itu melangkah ke lantai atas. Hamilton menarik napas panjang ketika mendengar Yoana masih berteriak, menyumpah ,memaki bahkan berusaha menendang pengawal itu dengan kakinya yang tergantung. Mereka tiba di depan pintu kamar Yoana, pengawal yang mengikuti mereka segera membuka pintu dan masuk ke kamar. Ia mengecek kembali semua keamanan seluruh kamar tersebut, lalu menganggukkan kepala pada rekannya.
Yoana diturunkan dengan perlahan di lantai. Secepat kilat tinjunya melayang ke arah pria yang mengangkatnya. Namun secepat kilat juga pergelangan tangannya ditangkap.
"Maafkan Saya, Nona. Saya hanya menjalankan perintah Tuan Claude dan Tuan Vincent. Demi keamanan Anda."
__ADS_1
Yoana berdecih, ia menendang dengan kakinya. Tapi pria pengawal itu seperti sudah membaca gerakannya. Pria itu mundur hingga kaki Yoana hanya menendang angin.
Dua pria itu melangkah mundur tanpa berani berbalik. Takut Yoana menyerang atau berlari ketika mereka berbalik dan tidak melihat.
Ketika tiba di pintu, mereka keluar dan menarik pintu. Sebelum pergi pria pengawal yang tadi mengangkat nya berucap lagi.
"Anda tidak akan bisa lolos jika berpikir akan turun dari jendela. Bukan hanya karena terlalu tinggi, di bawah sudah menunggu para pengawal. Pesan dari Tuan Vincent, agar Anda menikmati waktu anda sebelum beliau kembali."
Pintu kamar tertutup. Yoana melangkah cepat lalu menendang pintu dengan keras. Kemudian ia merintih karena kakinya sendiri yang terasa sakit. Dengan putus asa Yoana menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
"Vince ... menikmati waktu katamu? Kau jahat sekali ... aku khawatir, Vince."
Yoana mengambil bantal dan menutupi wajahnya. Ia mulai menangis terisak-isak sampai napasnya terasa sesak di bawah bantal. Seketika Yoana bangkit, duduk di ranjang dan melempar bantal tadi ke arah pintu dengan frustrasi.
"Sial! Awas saja kalau kau tidak kembali, Vincent!" teriak Yoana sekuat tenaga.
N E X T >>>
**********
FROM AUTHOR
Vincent kayaknya mo ngadapin Rodrigo nih. Bagus juga kali ya... biar selesai dendam masa lalu.
Jangan lupa like, love, vote, komentar, dan favorite ya, untuk semangat dan vitamin biar thor rajin nulis, heeee.
Tunggu kisah selanjutnya. Terima kasih semuanya.
Salam, DIANAZ.
__ADS_1