
Luigi mendengar ponselnya berbunyi setelah ia berganti pakaian kembali dari baju khusus kamar bedah lalu mengenakan kemeja dan jasnya. Ia melihat nomor sekretarisnya yang menelepon.
"Ya, Stef?" Luigi mengangkat telepon dari sekretarisnya itu.
"Maaf, Dok. Saya mendapat kabar Anda sudah selesai menemani dokter Bryan operasi. Jadi saya memutuskan menghubungi Anda." Sekretaris Luigi mengetahui operasi yang baru saja dilakukan dokter Bryan, spesialis bedah syaraf mereka bersama dokter Luigi kepada seorang pasien yang merupakan kenalan dekat direktur mereka itu.
"Benar. Ada ada Stef? Kau belum pulang ya? Ini sudah lewat jam kerjamu!" Luigi melirik jam tangannya.
"Tak apa, Dok. Memang ada beberapa hal yang harus saya bereskan. Saya menelepon untuk mengabari Anda, Box makan siang Anda masih di atas meja kerja. Tadi siang Nyonya datang seperti biasa, saya mengatakan padanya Anda sedang ada operasi. Jadi beliau meletakkannya di atas meja Anda."
"Ya Tuhan ... aku sampai lupa makan siang, Stef. Aku baru selesai di sini. Aku akan naik ke sana sebentar lagi. Ini sudah sangat sore ... aku memang mau pulang."
"Ini bukan sore, Dok. Ini hampir malam," ralat sekretarisnya.
"Oh ...." Luigi keluar menuju lorong penghubung menuju gedung tempat ruang kerjanya. Ia berjalan cepat dan mendatangi sekretarisnya yang sepertinya memang sudah bersiap-siap akan pulang juga.
"Maaf, Stef. Harusnya kau sudah pulang sejak tadi. Lain kali tak perlu menungguku."
"Tak masalah, Dok. Saya khawatir Anda langsung pulang selesai dari kamar bedah tadi, tanpa tahu istri Anda sudah repot-repot datang kemari. Jadi saya menunggu, sekalian ada beberapa berkas yang harus saya kerjakan."
"Kau yang terbaik, Stef. Thank you ...." Luigi tersenyum dan memberikan ciuman ke jari-jarinya lalu menghaturkannya untuk sekretarisnya. Wanita itu beberapa tahun lebih tua, tapi karena tubuhnya yang kecil dan gerakan lincahnya membuat umurnya terlihat masih sangat muda. Stefany sang sekretaris hanya mengangguk sambil tersenyum lebar. Ia gembira melihat sang direktur yag terlihat bersemangat, penuh energi dan selalu tersenyum sejak pulang dari cuti dan selalu di kunjungi sang istri ketika makan siang tiba. Hubungan suami istri itu akhirnya membaik.
Luigi tiba di mejanya dan membuka box yang tadi siang dibawakan Natalia. Masakan rumahan yang dimasak sendiri oleh Natalia seperti biasa. Ia tersenyum, lalu segera menutup kembali box tersebut, mengangkat dan membawa box itu bersamanya untuk kembali pulang ke apartemen. Ia akan makan bersama istrinya di apartemen saja. Nat mungkin bisa memanaskan kembali makan siang tersebut. Luigi akan memakannya, tidak mau membuat usaha Natalia memasak untuknya sia-sia.
Setelah saling mengucapkan selamat tinggal dengan sekretarisnya, Luigi menuju lift, turun ke lantai bawah dan langsung menuju tempat parkir. Ia mengemudi dengan suasana hati ringan, bahagia memikirkan akan segera bertemu Natalia.
Ketika tiba di apartemennya dan dibukakan pintu oleh sang istri, Luigi Langsung memeluk dan mencium pipi istrinya itu. Natalia hanya tersenyum kecil dengan tubuh sedikit kaku menerima pelukannya.
"Kau wangi," ucap Luigi.
Natalia menggeliat, ingin melepaskan diri dari Luigi. Namun lengan yang melingkari pinggangnya tidak mau mengendur.
"Lepaskan aku, Luigi ... kau harus mandi."
"Ummm ..." Luigi tidak menuruti keinginan Natalia. Ia masih mengenduskan hidung ke puncak kepala Natalia. Mencium aroma wangi dari rambut istrinya.
"Ayolah, lepaskan aku."
Nada suara Natalia membuat Luigi tiba-tiba mengernyit. Ia akhirnya melepas pelukannya dan menjauhkan tubuh Natalia dan menatap untuk melihat ekspresi istrinya.
"Ah, kau membawanya kembali." Natalia melihat box makan siang yang ada di tangan Luigi. Membuat Luigi teralihkan dari pertanyaan yang melintas di otaknya tentang mendung yang ia lihat di wajah Natalia.
"Iya. Aku tidak sempat makan siang. Setelah selesai menemani Bryan operasi dan memastikan semuanya stabil, aku langsung pulang. Makanya ini kubawa. Bisakah kau panaskan? Aku sangat lapar."
"Jadi kau belum makan?"
Luigi menggeleng. Natalia langsung mengambil box dari tangan Luigi.
"Sekarang mandilah. Aku akan menyiapkan makan malamnya. Kita bisa langsung makan setelah kau selesai mandi." Natalia langsung berbalik dan melangkah menuju dapur.
"Apa kau tidak ingin tahu siapa pasien yang dioperasi dokter Bryan tadi?" pancing Luigi. Ia tidak salah melihat, istrinya tampak lesu dan sedih.
__ADS_1
"Aku tahu. Stefany memberitahuku."
Lalu Nat menghilang ke arah dapur. Meninggalkan Luigi yang bertanya-tanya dalam hati.
Apakah Nat tahu siapa Catalina?
Memutuskan akan bertanya nanti saja pada istrinya, Luigi cepat-cepat pergi mandi dan berganti pakaian. Rambutnya masih lembab dan sosoknya terlihat segar ketika ia tiba di dapur beberapa saat kemudian. Natalia tampak sudah menghidangkan makan malam di atas meja. Membuat air liur Luigi terbit.
"Ya ampun, aku baru menyadari aku bukan hanya lapar. Tapi aku sangat lapar ...."
Natalia memberikan senyum kecil sebelum menanggapi ucapan Luigi.
"Kalau begitu ayo kita makan ...."
Natalia mengambilkan makanan dan meletakkannya ke piring Luigi. Setelahnya mereka makan dalam diam. Natalia menyadari Luigi makan dengan sangat lahap. Sepertinya memang sangat lapar, dan itu wajar karena suaminya itu melewatkan makan siang.
Natalia selesai lebih dulu, ia menunggu karena Luigi masih makan dan malah tambah. Hatinya menghangat menyadari Luigi suka dengan masakannya, dilihat dari betapa lahap suaminya itu menyuap.
Lalu mendung di hatinya kembali, menegur dirinya agar jangan terlalu larut dengan perasaan. Luigi makan dengan lahap karena ia memang lapar. Luigi hanya mencoba bersikap baik. Demi anak mereka. Natalia menyadari hatinya sakit, ia mengutuk perasaan lembut yang muncul di hatinya untuk pria itu. Seharusnya perasaan itu jangan muncul. Jadi ia bisa menjalankan hari-hari dengan perasaan yang sama seperti perasaan Luigi. Menjalankan semuanya karena memang seharusnya itulah yang harus mereka lakukan demi bayi mereka. Sudah kewajiban. Sebagai manusia dewasa yang bertanggung jawab terhadap nyawa yang sedang berkembang di perutnya saat ini.
Luigi sudah berkorban, mengenyampingkan seluruh perasaan tidak suka dan bencinya pada Natalia demi buah hati yang sebentar lagi akan hadir ini. Jadi Natalia tidak berhak menuntut lebih. Pria itu akhirnya bersedia menjalankan perannya sebagai seorang suami dan seorang ayah untuk bayi mereka. Nat seharusnya bersyukur. Tapi hatinya punya kehendak sendiri. Hatinya dirundung kesedihan bila mengingat betapa Luigi mencintai Catalina, bukan dirinya ....
Natalia bergerak seperti robot, mengumpulkan piring kotor dan membawanya untuk dicuci. Luigi melihat wajah wanita itu seperti tertekan.
"Nat ... ada apa?"
Lengan yang tiba-tiba melingkar di sekeliling perutnya yang membesar membuat Natalia terkejut. Ia menoleh dan menyadari Luigi memeluknya dari belakang.
Natalia tidak menjawab. Terus mengerjakan pekerjaannya mencuci piring. Mendengar panggilan sayang suaminya itu membuat hatinya makin perih.
"Nat ... jawab aku ...." Luigi mendekatkan wajahnya ke sisi rahang sebelah kanan Natalia, lalu satu kecupan mendarat di rahang itu.
"Jangan lakukan itu ...."
Natalia telah menyelesaikan mencuci piring terakhir. Tapi ia masih tetap berdiri di sana.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh mencium istriku?"
Luigi membalikkan badan Natalia, kedua mata istrinya itu terlihat tertekan, memilukan. Seolah ada suatu beban yang tengah ia tanggung dan tidak ia ceritakan. Ibu jari Luigi bergerak ke bibir bawah Natalia. Mengelus dengan sangat lembut.
"Berbagilah perasaanmu denganku, Nat. Ceritakan padaku ada apa?"
Natalia menunduk. Kelembutan dalam suara Luigi membuatnya serasa ingin menangis.
Luigi menyentuh dagu Natalia, lalu mendongakkan kembali wajah istrinya itu. Natalia menggigit bibir bawahnya, menahan agar dirinya jangan sampai menangis.
Luigi menggeleng, lalu mendekatkan wajahnya sampai ke depan wajah istrinya.
"Jangan lakukan itu. Jangan gigit bibirmu." Lalu Luigi mendaratkan bibirnya ke bibir Natalia. Menghentikan Natalia menggigiti bibirnya sendiri dengan mencium istrinya itu. Ia merayu, menggoda, memagut bibir Natalia dengan sangat lembut. Menikmati kelembutan dan rasa manis bibir itu di lidahnya. Luigi terlena, kedua lengannya melingkar dan memeluk tubuh Natalia dengan telapak tangan mengelus punggung istrinya itu. Menggoda dan membujuk agar Natalia membalas ciumannya.
Lalu isakan yang lolos dari bibir Natalia dan rahangnya sendiri yang basah membuat Luigi menyadari ada yang salah. Ia segera menjauh.
__ADS_1
"Nat!?" Luigi terkejut. Melihat istrinya sudah banjir air mata. Natalia menangis.
"Nat ... katakan ada apa?"
Natalia menggeleng. " Ti ... tidak ada, Maafkan aku," ucap Natalia sambil bergerak dan melangkah cepat, pergi meninggalkan Luigi secepat mungkin. Setengah berlari ia menuju kamar dan menutup pintu. Ia berbaring miring di atas kasur dan memeluk bantal. Menutup mulut dengan telapak tangan untuk meredam suara tangisannya.
Luigi menyusul. Menemukan Natalia di atas kasur, berbaring miring membelakanginya. Gerakan bahu wanita itu memberitahu Luigi kalau Natalia masih menangis. Ia mendekat lalu membaringkan tubuhnya di belakang punggung Natalia.
"Menangislah jika itu bisa membuatmu lega, Nat. Tapi nanti ... kau harus mengatakan padaku apa yang membuatmu menangis ...."
Luigi mengelus lengan atas Natalia naik turun secara teratur, membisikan bujukan dan mengecup singkat kepala Natalia.
Menit demi menit berlalu. Lama setelahnya baru Luigi merasakan napas Natalia kembali teratur, tidak lagi ada isakan.
"Nat?"
Tidak ada jawaban. Luigi bangkit, lalu mengintip ke arah wajah istrinya itu. Kedua mata itu sudah terpejam.
Apakah dia tertidur?
Luigi kembali berbaring di belakang punggung Natalia. Memandangi langit-langit dengan pikiran menerawang. Natalia belum mempercayai niatnya, belum mau membuka hati dan bersikap terbuka padanya. Ia mesti harus berusaha lebih keras, menunjukkan pada Nat kalau rasa sayangnya benar-benar tulus. Ia ingin jadi bagian dari orang-orang yang wanita itu cintai. Luigi memiringkan tubuh, mengelus perut Natalia dari belakang. Kembali ia mengecup belakang kepala istrinya itu.
"Selamat malam, Querida ... kau juga Chiquita," bisik Luigi pada istri dan putri mungilnya yang sepertinya membalas dengan cara bergerak.
Gerakan yang terasa di telapak tangan Luigi, yang selalu berhasil membuatnya terpana, takjub dan juga bahagia. Luigi sudah melakukan USG ketika mereka pulang. Ia sudah tahu jenis kelamin bayinya. Seorang putri ... si kecil mungil miliknya dan Natalia. Bayinya sehat, sejauh ini tidak ada masalah ... Luigi berharap akan tetap begitu sampai tiba waktunya nanti Natalia melahirkan.
Luigi menghembuskan napas panjang, menyadari hatinya ikut sedih ketika tadi melihat Natalia menangis. Merasa gelisah melihat kedua mata istrinya yang tertekan.
Nat ... apakah aku penyebabnya?
NEXT >>>>
*********
Catatan:
Querida : sayang
Chiquita : kecil mungil
*********
From Author,
Jangan lupa untuk tekan like, love, vote, komentar, dan bintang limanya ya. Untuk penyemangat author nulis lagi dan ngelanjutin kisahnya.
Next, kita lanjut ke kisah Catty. Dan seterusnya mungkin Mary yang masih bertanya-tanya tentang panggilan 'Mom' 🤔🤔🤔
Terima kasih semua.
Salam hangat. DIANAZ.
__ADS_1