Embrace Love

Embrace Love
CH 21. Rumors begin


__ADS_3

Seorang wanita berderap masuk ke ruangan kantor Claude tanpa mengetuk. Tanpa mengangkat kepalanya Claude bisa menebak siapa wanita ini.


"Kau sudah baca ini?" Yoana meletakkan dua majalah dan tiga tabloid ke atas meja Claude. Claude mengernyit. Menatap gambar dirinya, Yoana dan Simon di sampul depan. Head Line dengan berita rahasia keluarga Bernard, pewaris pertama keluarga Bernard, menguak skandal keluarga Bernard, sampai siapakah orang tua dari bayi Leonard Bernard.


Claude menaikkan alisnya, membaca sekilas satu majalah dan mulai terbahak-bahak.


"Lihat ini ... Yoana Bernard terlihat menggendong bayi Leon dengan penuh kasih sayang, terlintas dugaan bahwa Leon adalah bayi yang di sembunyikan oleh Yoana dalam kurun waktu ia menghilang dan menyembunyikan diri dari awak media. Ia melahirkan dan menolak bersama laki-laki yang menghamilinya dikarenakan status rendah laki-laki tersebut."


"Oh ... tertawa saja Claude! Kau lihat tulisan di tabloid ini!" Yoana tersenyum penuh kemenangan.


"Dua orang wanita yang tidak ingin disebutkan namanya mengakui melihat Claude Bernard membawa bayi Leon yang mengantuk untuk di antarkan pada 'Mommy' yang ternyata menunggu di lantai atas. Wanita yang tidak diketahui namanya ini terlihat mengambil Leon dari gendongan Claude Bernard dan ketiganya terlihat masuk ke dalam kamar hotel untuk kemudian mengunci pintunya. Apakah Claude Bernard sebenarnya sudah menikah? Siapakah wanita ini? Apa posisinya di keluarga Bernard? Kekasih, istri atau hanya sebagai ibu dari baby Leon?"


Claude terdiam. "Dua orang wanita? Siapa yang mengikuti aku sampai ke lantai atas?"


Yoana menyadari Claude seolah tidak mempermasalahkan tentang gosip mommy, ibu, dan istri tapi ia hanya penasaran siapa yang menguntitnya dan melihat saat ia memberikan Leon pada Catalina. Seolah Claude tidak keberatan dengan gosip tentang istri dan ibu Leon yang dikaitkan dengan dirinya.


"Kau lihat saja di rekaman CCTV," ucap Yoana ringan.


"Ah, kau benar." Claude tersenyum lebar.


"Kenapa tidak ada yang mengira kalau Leon putra dari bocah nakal itu!" Cetus Yoana.


"Mungkin karena umurnya yang masih muda. Dan kita yang jauh di atasnya lebih menggiurkan untuk dijadikan bahan gosip," ungkap Claude lagi.


"Bagaimana menurutmu? Sudah ada hasil dari gosip ini?" Yoana menaikkan alisnya berulang kali.


"Bersiaplah menikah, Claude." Yoana terkekeh.


"Ini belum apa-apa, Kakakku sayang. Kau masih jadi kandidat. Ketika semuanya telah mengarah ke satu orang, barulah orang itu dinyatakan kalah," ucap Claude.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku sudah melihat hasil akhirnya. Padaku mereka hanya mengira-ngira, tapi padamu mereka punya saksi, dua orang saksi." Yoana tersenyum menang. Sudah membayangkan kekalahan Claude dan sebuah pesta pernikahan besar yang akan ia urus semewah mungkin.


"Sangat senang dengan kemungkinan aku menikah, heh?" Claude memandang kakaknya geli.


"Ya. Tentu saja. Tanda jika hatimu sudah melupakan wanita ular itu."


Claude menaikkan alis. Semua orang mengira hatinya hancur dan patah empat tahun yang lalu. Wanita yang akan ia nikahi pergi meninggalkannya, dikabarkan karena ada pria lain yang menarik hatinya. Claude membiarkan asumsi itu, menggunakannya agar lebih mudah menghindari pertanyaan mengapa ia benci didekati wanita. Semua menghubungkannya dengan alasan Claude pernah patah hati sehingga membenci wanita. Yang sesungguhnya terjadi hanyalah ia ingin fokus dengan perusahaan dan menjauhkan diri dengan makhluk bernama wanita yang menurutnya merepotkan. Lagipula belum ada yang membuatnya tertarik.


Well, mungkin ada satu. Dia memandangku tidak seperti para wanita itu.


**********


Catalina terbangun saat dini hari. Ia merasa haus dan bangkit dari tempat tidurnya. Melihat ke arah pitcher kaca tempat air minumnya yang sudah kosong. Catalina bangkit dan membawa pitcher tersebut, bermaksud turun ke dapur dan mengisinya kembali. Ia kadang terbangun karena batuk dan akan merasa seperti tercekik. Sehingga Catalina selalu menyediakan air minum di dekat tempat tidurnya.


Catalina memeriksa Leon dulu sebelum keluar dari kamar dan turun ke dapur. Ia membuka pintu penghubung kamar bayi dan melihat bayi itu masih tidur dengan nyenyak. Catalina tersenyum lembut dan kembali menutup pintu.


Suasana malam di mansion besar itu sangat sunyi. Hanya beberapa lampu yang dibiarkan menyala. Catalina berjalan pelan di sepanjang lorong, lalu mengitari satu aula kemudian berbelok ke menuju sebuah tangga yang langsung membawanya turun ke arah dapur.


Claude sudah ada di sana sebelum gadis itu datang. Ia turun karena merasa sangat lapar, berniat mencari penganan yang mungkin di simpan koki di lemari pendingin. Ia baru saja menyelesaikan suapan terakhir dan akan membawa piring kuenya ke wastafel ketika mendengar langkah pelan Catalina memasuki dapur. Claude diam di balik bayang-bayang, sengaja ingin memperhatikan gadis itu lama-lama. Rambut coklat keemasan itu tidak diikat, terlihat kusut dan tergerai di punggung Catalina. Gadis itu mengenakan kaos longgar dan celana sepaha sambil membawa sebuah pitcher.


Claude menunggu sampai Catalina menyelesaikan minumnya baru mendekat dan keluar dari bayang-bayang, membuat mata biru Catalina membelalak terkejut. Gadis itu mengangkat tangannya dan memegang dada.


"Kenapa? Kau kira aku hantu?" tanya Claude geli.


"Aku tidak takut hantu! Kukira kau pencuri yang menyelinap!"


"Pencuri? Dia hebat bila dapat menembus penjagaan di luar."


"Jangan terlalu yakin. Aku saja bisa meloloskan diri dari sini." Catalina tersenyum mengingat saat ia melarikan diri dari mansion.

__ADS_1


"Ya. Dengan menipu Bruno yang malang."


"Intinya aku dapat lolos." Catalina tertawa.


"Masih mau mencobanya lagi sekarang?" tanya Claude dengan memiringkan kepalanya.


"Aku tidak akan melanggar perjanjian. Jika itu yang kau maksudkan." Catalina bangkit dan memegang pitchernya yang penuh, bermaksud kembali. Spontan Claude yang sudah berdiri di dekatnya menarik tangan Catalina. Claude sendiri merasa bingung dengan reaksinya, seolah belum mau mengakhiri percakapan mereka dan tidak rela Catalina meninggalkannya di dapur ini sendirian.


Claude menarik tangan Catalina dan menahan gadis itu. Kerutan segera muncul di kening Catalina melihat pergelangan tangannya yang di genggam erat oleh tangan pria itu.


"Kau mau apa?" tanya Catalina heran.


"Kau yang mau kemana?" tanya Claude balik. Jangankan menjawab pertanyaan Catalina, ia sendiri heran mengapa ia menahan gadis itu.


"Aku akan kembali tidur ke kamarku, Bodoh! Lepaskan tanganmu!" bentak Catalina.


Claude menaikkan alis dan menyerigai. "Kalau aku tidak mau?"


Kerutan makin dalam tergurat di kening Catalina, sekarang ditambah bibirnya yang mengerut tidak suka. Membuat Claude gemas melihat wajah gadis itu.


Lalu tiba-tiba guyuran air minum dari pitcher yang dibawa Catalina membasahi dada Claude yang mengenakan kaos putih tanpa lengan, Claude segera saja melepaskan tangannya dan mundur. Catalina menyeringai senang.


"Aku mau saja menuangkan seluruh isi pitcher ini ke tubuhmu, agar kau mandi sekalian. Tapi aku butuh ini untuk air minumku." Dengan geli Catalina meninggalkan Claude yang terpana melihat kaosnya yang basah. Air mengalir meresap sampai ke celana pendek yang ia pakai. Claude mendongak dan melihat punggung Catalina yang berlalu meninggalkannya dengan santai.


Tiba-tiba Claude tidak bisa menahan keinginannya untuk tertawa. Entah kenapa ia menahan pergelangan tangan gadis itu dan memancing Catalina seperti anak kecil.


"Gadis nakal," desis Claude sebelum akhirnya melangkahkan kaki untuk kembali ke kamarnya dan mengganti pakaiannya yang basah.


N E X T >>>

__ADS_1


*********


__ADS_2