
Jacob memindai layar cctv, tersenyum ketika melihat pergerakan Marylin di sebuah lorong, lalu wanita itu terlihat masuk. Tidak ada rekaman yang memperlihatkan Marylin keluar. Yang berarti gadis itu masih berada di sana.
Jacob menepuk bahu seorang rekannya yang memperlihatkan rekaman beberapa saat yang lalu itu.
"Terima kasih, Ed."
"Kau tahu siapa wanita itu, Jacob?" tanya Edgar pada rekannya yang berkulit hitam.
"Sebaiknya jangan bertanya, Ed. Anggap saja kita tidak melihat apapun dan tidak mendengar apapun."
Edgar hanya mengangkat bahunya ketika melihat Jacob berlalu setelah mengucapkan kata-kata itu.
Jacob melangkahkan kaki menuju lorong dimana Marylin berada. Barisan kamar-kamar di lorong itu sudah tidak digunakan. Hanya pelayan yang masih keluar masuk di sana untuk membersihkan ruangan-ruangan itu.
Berharap wanita itu tidak mempersulit tugasnya, Jacob mengetuk pintu kamar.
"Nona ... keluarlah. Saya tahu Anda di dalam."
Hening. Tidak ada jawaban. Marylin panik ketika mendengar suara langkah kaki yang datang dan kemudian berhenti di depan pintu kamar tempatnya bersembunyi, lalu suara berat seorang pria itu terdengar. Marylin berdiri, bersandar di dinding belakang pintu dan tidak menjawab.
"Saya akan membuka pintu ini dan menangkap Anda. Saya tahu Anda di dalam. Jadi lebih baik Anda keluar sendiri, Nona. Jangan sampai saya menyeret Anda."
Marylin mengernyit. Penjaga yang membawanya dan yang berada di mansion ini sedikit pun tidak ada yang bersikap ramah. Dari cara mereka memperlakukannya, Marylin mengambil kesimpulan ia bukanlah tamu undangan yang diharapkan. Ia lebih seperti tawanan yang harus mereka jaga sebelum tuan mereka sendiri yang bertindak. Entah apa maunya pria itu.
Marylin memutuskan ia tidak akan bisa lolos dengan mudah jika mau melarikan diri tanpa bantuan. Perjalanannya ke mansion ini memberitahunya letak tempat ini sangat terpencil. Daerah sekitarnya hanyalah hutan. Ia akan perlu sebuah mobil jikapun dapat keluar dari mansion besar ini. Satu-satunya yang dapat ia lakukan sementara ini adalah menemui tuan Lucca, lalu mengetahui dengan jelas apa maunya pria itu sembari melihat kemungkinan untuk mendapatkan cara menghubungi Serge.
Marylin memutar kunci dan menarik pintu. Matanya bertatapan dengan seorang pria berkulit hitam yang menatapnya dengan wajah datar.
"Ikuti saya, Nona. Tuan Lucca sudah menunggu Anda."
Marylin menarik napas panjang sebelum melangkahkan kakinya dan berjalan berdampingan bersama pria yang menjemputnya itu.
"Siapa namamu?" tanya Marylin.
Pria berkulit hitam itu hanya diam. Terus melangkah membawa Marylin turun ke lantai dasar, lalu keluar lewat sebuah pintu yang berada di belakang mansion. Marylin berhenti sebentar, melihat lahan luas berupa lapangan berumput yang berbatasan dengan hutan dengan pohon-pohon yang besar .
Pria yang menunjukkan jalan padanya terus melangkah, menuju sebuah pondok tempat Alrico sudah duduk santai dengan sebuah surat kabar. Marylin bertanya-tanya, siapa yang mengantarkan surat kabar itu pada Alrico, jika datang dari luar, mungkin ia bisa menumpang untuk pulang. Marylin meringis, yang terpikir di otaknya hanyalah bagaimana cara keluar dari tempat ini.
Mereka menaiki dua undakan tangga pondok, tiba di depan Alric yang sepertinya baru saja sudah sarapan. Kopi panas pria itu masih mengepul di atas meja bulat dari bahan marmer mengkilat.
"Saya membawa Nona Marylin, Tuan." Pria yang membawanya menyapa pria itu.
Alrico menurunkan surat kabarnya, lalu menatap Marylin. Tidak terlihat ekspresi apapun di wajah pria itu, namun tetap saja Marylin merasa takut.
"Kau masuk ke kamarku?" tanyanya langsung.
Marylin tidak menjawab. Ia mengunci mulutnya, berusaha menampilkan wajah tidak peduli.
__ADS_1
Alrico mencermati penampilan Marylin dari atas sampai bawah. Agak lama memandang kaki Marylin yang tanpa alas.
"Duduk!" perintahnya. Marylin tidak bergerak, sampai pria berkulit hitam di dekatnya menarik dan memaksa Mary untuk duduk di sebuah kursi yang berseberangan dengan Alric.
"Aku heran ... apa yang dilihat Alexandro atau si Bernard itu pada dirimu ...,"ucapnya meremehkan, " kesalahan besar menempatkanmu di salah satu kamar mansion. Harusnya kau langsung saja dikurung di kandang!"
Marylin merasakan tatapan tajam pada dirinya, penuh kebencian.
Memangnya aku pernah melakukan kesalahan apa pada pria ini?
Setelah menelan ludah untuk melancarkan tenggorokannya, Marylin memberanikan diri bertanya.
"Kenapa aku dibawa ke sini Tuan Lucca? Tidak ada yang memberitahuku jika ada rencana yang berubah. Kemana para Kru? Dimana Serge?"
Alric menatap tajam, mengetukkan jari telunjuknya pada meja marmer.
"Ini adalah tugas untukmu berikutnya, Marylin. Menanggung beban dosa masa lalumu dan menebusnya."
"Dosa masa lalu? Apa maksudmu?" tanya Marylin.
Alric memandang sinis pada Marylin. Tentu saja, akan semudah itulah bagi wanita rendah seperti Marylin melupakan satu kejadian itu bagai angin lalu dalam hidupnya. Tidak memikirkan duka yang ditimbulkannya bagi orang lain.
"Apa kau ingat seseorang bernama Alexandro ...." Alric menatap menyelidik ke raut wajah Marylin. Namun tidak ada petunjuk jika wanita itu mengenal nama yang baru saja ia sebutkan. Marylin hanya diam, tidak menjawab.
" Alexandro Morelli." Tambah Alric lagi.
"Siapa Alexandro?" tanya Marylin heran, "apa hubungannya denganku?"
Alric menyipit, mengangkat cangkir kopinya dan menghirup. Setelah meneguk, ia memandang ke arah Jacob.
"Max sudah makan?" tanyanya pada Jacob. Pria berkulit hitam itu hanya menjawab dengan menatap datar, Alric menaikkan alis dan menyeringai.
"Kurung dia di sana, aku yakin Max dan juga Cody akan suka punya teman baru."
"Tunggu ... apa maksudmu? Kenapa mengurungku? Salahku apa? Aku benar-benar tidak mengenal siapa Alexandro!" Marylin mulai panik ketika Jacob menarik lengannya agar ia berdiri.
"Tentu saja ... nikmati waktumu di sel kurungan itu Marylin! Katakan sesuatu jika kau sudah mengingat siapa Alexandro!"
Marylin mulai diseret oleh Jacob. Ia menahan tubuhnya agar tetap di tempat. Namun kekuatan pria berkulit hitam itu bukanlah tandingannya. Marylin terseret paksa dan dibawa melewati lapangan berumput menuju sebuah lahan berpagar dengan dua bangunan berbentuk kandang di masing masing sisi kiri dan kanan memanjang di pinggir hutan.
"Jangan menyeretku ... aku akan berjalan sendiri," ucap Marylin. Jacob melepaskan pegangannya pada lengan Marylin. Memasuki jalan di antara dua bangunan memanjang itu, Mary melihat barisan kuda dalam kandang.
Istal? Ini kandang kuda, pikir Marylin.
Ia menarik napas lega. Peliharaan laki-laki itu adalah kuda, tampak di sisi kiri kuda-kuda besar dan di sisi kanannya yang lebih kecil.
Mary sempat khawatir ketika mendengar nama mansion yang ia dengar disebutkan oleh para pengawal yang membawanya dalam perjalanan. Mungkin itu hanya sekedar nama agar mudah menyebut dan mengenali tempat dimana sang tuan Alrico Lucca tinggal.
__ADS_1
Mereka tiba di bangunan tertutup di ujung lahan. Jacob mendorong gerbang besar bangunan itu dan terlihatlah barisan kurungan di dalamnya. Ada empat kurungan dan dua diantaranya berisi. Marylin menatap ngeri pada dua binatang yang tengah meringkuk seperti kucing di dalam kandang tersebut.
Jacob membuka kandang kedua, Marylin menyadari jika ia yang akan dimasukkan ke dalam kurungan itu, maka ia akan diapit oleh dua ekor singa gunung. Mansion Cougar ... ternyata memang memelihara dua ekor puma, atau lebih dikenal dengan sebutan singa gunung.
Jacob berdiri menunggu dengan pintu jeruji terbuka. Seolah mempersilakan Marylin masuk dengan cara sukarela. Melirik ke kanan kurungan, Mary melihat cougar itu tetap memejamkan matanya sambil tetap berbaring. Hanya membuka malas sebelah mata untuk sekedar mengintip ketika tadi mereka datang, lalu seolah tidak peduli, binatang itu kembali memejamkan mata.
Marylin beralih ke kandang sebelah kiri, puma itu lebih besar, berwarna kuning kecoklatan, kedua matanya terbuka dengan kepala bertumpu ke atas kedua tangannya yang terlipat ke depan. Mata kucing besar itu awas menatap Jacob.
Marylin berdebar ketakutan. Ia langsung berbalik dan lari dari depan kandang.
"Hei!" teriak Jacob.
Namun langkah Marylin terhenti, di depan gerbang bangunan Alrico sudah berdiri dan menangkapnya.
"Tidak... jangan masukkan aku ke sana! Apa salahku padamu!? Kenapa kau melakukan ini!" teriak Marylin ketakutan.
Alrico menjepit kedua lengan atas Marylin, rahangnya berkedut marah, dengan sinis ia bertanya.
"Sudah ingat siapa Alexandro?" tanyanya.
Marylin kembali menggeleng. Ia benar-benar tidak tahu siapa itu Alexandro. Lalu ia kembali diseret dan didorong keras ke arah kandang yang sudah terbuka. Marylin terjatuh ke tengah kandang.
"Tidak! Jangan di sini! Jangan kurung aku di sini!" teriaknya sambil bangkit. Histeris melihat Jacob mulai mengunci pintu jeruji.
Alrico Lucca berdiri dua meter di depan jeruji, menyeringai melihat Mary yang ketakutan dengan kedua tangan gemetar menggenggam erat jeruji besi yang mengurungnya.
"Kau akan berada di sini sampai besok. Besok aku akan datang lagi dan menanyakan pertanyaan yang sama padamu. Sebagai pengingat, Alexandro adalah pria yang bertemu denganmu sekitar tujuh tahun yang lalu." Alric berjalan ke kandang sebelah kiri Marylin, menatap mata cougar yang masih berbaring malas dengan kepala bersantai pada kedua kakinya.
"Halo Max ... kau dapat teman," ucapnya sambil tersenyum miring, lalu pria itu berbalik meninggalkan Marylin yang semakin panik dan menggoyangkan jeruji sambil berteriak.
"Keluarkan aku!"
Jacob ikut meninggalkan tempat itu. Marylin berteriak makin kencang. Sampai suara dengkuran hewan yang terpejam di sebelah kanannya terdengar. Dengkuran yang membuat Mary tidak lagi berani bersuara. Ia pernah menonton di acara televisi yang mengatakan hewan itu jarang menyerang manusia jika tidak karena habitatnya diganggu atau mereka diganggu atau diburu atau terpancing karena lapar. Mereka hewan nokturnal, aktif di malam hari, berburu saat keadaan gelap, hening dan menyergap tiba-tiba.
Marylin mundur perlahan, bersandar di dinding bagian dalam. Memposisikan dirinya di tengah-tengah dinding, berharap kaki-kaki hewan itu tidak bisa menjangkaunya jika mereka berniat menarik Marylin dengan cakar mereka melalui celah jeruji diantara kurungan.
Marylin duduk di lantai beton yang terasa kasar di kulit kakinya. Sejak tadi ia diseret dan berjalan tanpa alas kaki, kini telapak kakinya terasa perih. Mary melipat kaki dan menyandarkan kepala ke atas lutut. Memejamkan mata dan mencoba berpikir tentang pria bernama Alexandro.
N E X T >>>
**********
Tetap tak bosan-bosannya author ngingetin jangan lupa kliik like, love, bintang lima, vote dan komentarnya ya. untuk penyemangat author dalam menulis.
Terima kasih semuanya,
Salam, DIANAZ
__ADS_1