Embrace Love

Embrace Love
Ch 146. Car accident


__ADS_3

Catalina dan Yoana baru saja menyelesaikan pertemuan terakhir dengan pihak Royal Garden Beaufon. Tempat penyelenggaraan pernikahan Claude dan Catalina.


Seluruh gambaran dari pihak Beaufon membuat Yoana puas dan mengangguk lega. Kini mereka hanya tinggal menunggu hari pernikahan.


Yoana sebenarnya keberatan Catalina ikut. Ia menginginkan Catalina di mansion saja bersama Leonard. Tapi Catalina keras kepala, gadis itu mengatakan ia merasa agak gelisah, seperti terkurung dan seolah dipingit sebelum hari pernikahannya.


Setelah debat panjang yang akhirnya dimenangkan oleh Yoana, Catalina tidak dapat membantah lagi. Tapi beberapa saat ketika Yoana masuk ke dalam mobil, dengan seringai nakal Catalina mengikutinya masuk ke mobil dan menolak untuk turun. Catalina mau ikut, berdalih menginginkan sedikit hiburan.


"Kau akan menikah, Lina. Tidak baik kau masih ke sana kemari."


"Kau percaya tahayul ya. Kau bahkan jalan-jalan dengan Vincent ke toko cincin sebelum kau menikah."


Dengan tertawa pelan Yoana akhirnya kalah. " Aku tidak dapat mendebat hal itu," ucap Yoana dengan wajah berbinar.


Keduanya akhirnya pergi bersama menemui Beaufon, memeriksa detil dan segala hal yang diperlukan dan kemudian kembali menuju mobil ketika semuanya sudah selesai.


Keluar dari area luas parkir Royal Garden Beaufon, Yoana mengendarai mobil dalam kecepatan sedang. Sesuatu menggelitiki perasaannya, sebuah perasaan seolah-olah sedang diikuti.


Yoana melirik ke arah spion. Tidak ada yang aneh. Beberapa mobil melintas melewati mereka ketika Yoana mengurangi kecepatan. Tapi instingnya merasakan sesuatu yang tidak enak.


Vincentkah? Yoana menduga. Vincent sering mengikutinya bila ia bepergian. Mungkin karena suaminya itu sudah kebiasaan dari dulu, menjadi bodyguard dan selalu mengikuti Yoana kemana pun ia pergi.


Seolah terhubung telepati, ponsel Yoana berdering. Nama Vincent yang tertera di layar membuatnya menarik napas lega. Yoana merasa sangat yakin, jika perasaannya yang mengatakan mereka diikuti memang benar, dan penguntit itu adalah suaminya sendiri.


Yoana menekan tombol speaker Handsfree headset , lalu mulai bicara pada Vincent.


"Halo, Vince?"


"Yoan ... kau dimana? Aku telepon ke mansion. Katanya kau pergi dengan Catalina."


"Ya. Kami menemui Beaufon."


"Semuanya sudah selesai?"


"Ya. Dan sesuai dengan harapanku."


"Syukurlah. Kini kalian akan kemana?"


"Mencari makan siang ... Kau dimana,Vince?"


"Aku di kantor. Claude baru saja datang ke ruanganku. Bagaimana kalau kita makan siang ber empat?"

__ADS_1


Yoana mengernyit, melirik ke arah spion ... jadi Vince tidak mengikuti mereka. Jadi siapa? Ataukah hanya perasaannya saja yang salah? Yoana jadi agak khawatir.


"Yoan? Kenapa diam? Apa kalian berdua sudah ada rencana lain?"


"Tidak. Tentu saja tidak. Baiklah ... makan siang berempat. Dimana tempatnya?"


Vincent menyebutkan nama sebuah restoran yang berada tidak terlalu jauh dari kantor. Yoana segera menyetujui dan mengatakan akan menemui Claude dan Vincent di tempat itu.


Lalu terdengar suara Simon yang sepertinya sangat kesal. Yoana menebak Simon juga datang ke ruangan Vincent.


"Makan siang berempat! Enak saja! Aku ikut juga!"


"Tidak bisa, Bocah! Dua hari kau kabur. Hanya bekerja sampai waktu makan siang. Sekarang kau kerjakan pekerjaanmu. Kau makan di kantor. Aku dan Vincent akan makan di luar bersama Yoana dan Catty!"


Yoana mendengar suara tegas dari Claude. Suara mereka yang setengah berteriak terdengar jelas. Lalu ia mendengar nada bersungut-sungut dari adik bungsunya.


"Sampai ketemu di sana, Vince." Yoana mematikan ponsel sambil tertawa kecil membayangkan perdebatan kedua adiknya. Lalu ia melirik Catalina.


"Kita akan ke restoran Daily Beef, Lina. Claude dan Vincent akan menemui kita di sana."


"Oh, itu bagus!" seru Catalina gembira. Yoana mengangguk, terus mengemudi menuju restoran yang dimaksudkan oleh Vincent.


Kemudian seluruh kejadian setelahnya terjadi dalam hitungan detik. Sebuah mobil melaju kencang, seperti sengaja mengambil jalur terlalu di pinggir, lalu menyambar tubuh Catalina yang masih berdiri di tempatnya tadi. Gadis itu bahkan belum melangkah sejak turun dari mobil Yoana.


Keheningan daerah itu pecah oleh suara deru mobil dan ban yang berdecit. Yoana yang mendengar segera menghentikan mobilnya dan keluar. Ia berlari dan terbelalak melihat Catalina yang terbaring dengan posisi miring. Wajah gadis itu tidak terlihat, rambut panjangnya terurai menutupi wajah Catalina bagai tirai. Yoana gemetar, kakinya tidak sanggup lagi melangkah, mulutnya membuka namun tidak ada suara yang keluar.


Mobil hitam yang tadi melaju kencang bahkan tidak merasa perlu untuk berhenti. Mobil itu langsung melaju dan menghilang.


Beberapa orang mulai keluar dari arah restoran. Saat itu mobil yang dikendarai Claude dan Vincent sudah mendekati restoran. Mobil hitam yang menyambar Catalina tadi bahkan melewati mereka dengan sangat kencang sebelum melaju ke pinggir dan menyambar Catalina. Mata Claude dan Vincent melihat dengan jelas seluruh kejadian itu.


Vincent menghentikan mobil. Claude bahkan sudah membuka pintu lalu turun sambil berteriak. Adrenalin memompa jantungnya dengan sangat cepat.


"Catty!" Claude berlari mendekati tubuh Catalina. Dua orang pria yang keluar dari restoran berusaha memeriksa gadis itu. Menghela helaian rambut Catalina untuk dapat melihat wajahnya.


Claude berlutut, dengan pelan membalik tubuh Catalina dan membuatnya telentang. Saat itulah terlihat satu sisi wajah Catalina sudah penuh dengan darah. Pria yang tadi menghela rambut Catalina melihat jari-jarinya juga penuh noda darah. bagian rambut Catalina yang ia angkat rupanya sudah basah oleh cairan merah itu. Pria itu memeriksa dengan cepat.


"Sepertinya ia aman untuk dipindahkan. Segeralah bawa ia ke rumah sakit," sahut pria itu.


"Vince! Vince!" Claude berteriak dengan sangat panik. Vincent muncul, Lalu segera meneriakkan perintah.


"Angkat dia, Claude! Bawa ke mobil!"

__ADS_1


Claude mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Vincent. Yoana yang menyadari kalau Claude dan Vincent akan pergi segera berlari mengejar. Ia tiba di dekat mobil saat Claude juga tiba. Yoana membuka pintu belakang. Membantu Claude membawa Catalina masuk dan kemudian menutup pintu. Yoana sendiri segera duduk di depan.


Vincent melajukan mobilnya dalam diam. Yoana tidak berani bersuara. Tapi melihat Catalina ia tahu gadis itu tidak sadarkan diri. Hanya rintihan ketakutan dari Claude yang terdengar di dalam mobil. Bila Vincent memelan karena suatu halangan atau terhalang mobil lain, maka Claude akan memaki, mengumpat dengan kencang.


Vincent mencoba tetap tenang dan berkonsentrasi diantara makian dan rintihan serta kepanikan Claude. Istrinya yang biasanya punya banyak perbendaharaan kata kini diam dengan wajah pucat. Yoana melirik ketakutan pada darah yang memenuhi wajah Catalina.


"Kumohon, Vince! Kumohon ... cepatlah ...." rintih Claude pilu. Kedua tangannya gemetar memeluk tubuh kekasihnya yang terpejam tidak bergerak.


Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam oleh Claude. Mobil akhirnya memasuki halaman rumah sakit. Vincent membawa mereka ke Eliza Hospital. Tempat terdekat dan tak perlu memutar dari tempat kecelakaan tadi.


Lalu semuanya bagaikan kilas cepat sebuah cuplikan film di mata Claude. Cattynya dibawa di atas sebuah brankar. Dibawa masuk oleh para perawat dan juga dokter. Ia berlari mengikuti, tidak mendengar larangan maupun teriakan dari perawat yang melarangnya untuk ikut masuk. Telinganya seperti berdengung, Claude terus maju, tidak peduli pada tarikan seorang perawat pria pada lengannya di ruang emergency yang berusaha menghentikannya. Karena kesulitan menahan Claude, seorang lagi perawat pria menahan bahu Claude.


Claude melawan, dengung di telinganya makin kencang. Vincent berusaha menenangkan Claude. Menghadang tubuhnya dari depan dan melingkarkan kedua lengannya di sekeliling tubuh Claude.


"Tenanglah ... Claude!" Vincent mendorong maju. Ia terjajar ke depan dan Claude terdorong hingga terjatuh. Vincent melepaskan lengannya dengan cepat. Ia berlutut di depan Claude yang jatuh terduduk. Yoana segera mendatangi adiknya. Ikut berlutut di lantai dan memeluk bahu dan kepala adiknya itu. Kedua pipinya sudah banjir airmata.


"Tenanglah ... Catalina tak butuh kau mengamuk. Biarkan para dokter bekerja dengan tenang." Bujuk Vincent. Ia hanya bisa membujuk, ia tahu bila hal ini terjadi pada Yoana maka mungkin saja reaksinya akan sama, atau bahkan lebih parah.


"Yoan ... Cattyku tidak bangun ...." bisik Claude. Suaranya bagaikan datang dari tempat yamg amat jauh. Membuat Yoana tiba-tiba bergidik.


"Shhhh ... dia hanya pingsan ... percayalah padaku. Cattymu akan bangun ... percayalah ...."


NEXT >>>>>


**********


From Author,


Hmmm .... Berapa chapter lagi menuju The End ya... πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”


Masih panjangkah? Atau dikit lagi??πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ€—πŸ€—πŸ€—


Ikuti kisahnya terus, dan bersabar tunggu updatenya ya. Jangan lupa klik tombol like alias jempol, tombol favorite alias love, beri komentar, saran ataupun kritik membangun, biar Author makin semangat untuk nulis.


Bagi yang belum kasih rate, tolongin dong tekan tombol bintang, kemudian klik bintang lima yaπŸ™πŸ™


Yang punya poin dan koin, bisa bantu author dengan klik Vote agar performa novel ini makin naik.


Untuk semua bantuan para Readers semuanya, author ucapin terima kasih banyakπŸ’ž


Salam hangat, DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2