
"Mau jalan-jalan?"
Catalina mendongak dari majalah fashion edisi lama yang ia buka. Ia tidak membaca, hanya melihat lihat gambar para model cantik dengan berbagai aksesoris dan fashion yang tertera di sana.
Claude telah berdiri di belakang sofa yang Catalina duduki, melihat bacaan gadis itu dan memutuskan akan mengajak Catalina jalan-jalan.
"Kemana?" tanya Catalina
"Air terjun ... sangat indah," ucap Claude.
Catalina tampak berpikir, gadis itu hanya diam, ia ingin sekali melihat air terjun itu. Tadi Hamilton juga telah menyinggung mengenai keberadaan tempat itu saat mengobrol dengan Catalina.
Claude memutari sofa dan duduk di sebelah Catalina.
"Tapi kita harus berjalan kaki jika mau ke sana. Kita bisa memakai mobil hanya sampai jalur tempat untuk berburu. Dari sana kita harus berjalan kaki. Hanya ada jalan setapak menurun yang menghubungkan ke air terjun," jelas Claude.
Catalina mengernyit. "Apakah tempatnya jauh?"
Claude mengangkat bahunya.
"Aku selalu ke sana ketika datang kemari. Jika kita berangkat sekarang, kita akan bisa kembali sebelum matahari terbenam," ucap Claude.
"Aku ingin sekali melihatnya," bisik Catalina pelan.
"Ayo kalau begitu."
"Apakah yang lain tidak ikut?"
Claude terlihat menarik napas panjang. "Selalu begini ketika kunjungan kami kemari. Begitu pulang lagi ke villa, Yoana dan Simon akan mengurung diri di kamar mereka. Aku tahu mereka mau menangis sampai puas tanpa terlihat orang lain."
Catalina menunduk dan wajah gadis itu berubah sendu.
"Pasti sangat sedih. Aku juga merasakannya hingga saat ini ketika mengenang ibuku ...."
"Berapa umurmu dan Marilyn saat ibu kalian meninggal?" tanya Claude.
Catalina tersenyum dan lalu mencibir ke arah Claude.
"Kau lupa ya ... apa di data yang kau cari tentang kami berdua tidak mencantumkan kalau kami punya ibu yang berbeda?" tanya Catalina.
Claude mengerutkan kening ... ia tidak membaca bagian itu.
"Ibu Marilyn masih hidup ... hanya saja Beliau sakit ... sampai sekarang," ucap Catalina.
"Begitu ...," desah Claude.
Lalu keheningan membentang, Catalina mengenang ibunya, cita-cita ibunya yang belum bisa ia wujudkan.
"Kita jadi pergi?" tanya Claude memecah keheningan.
Catalina menoleh, lalu menganggukkan kepala.
"Aku akan memberitahu Nanny kalau kau akan pergi bersamaku ke air terjun agar ia selalu berada di dekat Leon jika Leon rewel. Pakailah sepatu kets yang nyaman Cat. Jalan menuju ke sana agak terjal. Aku juga akan memberitahu Hamilton kita akan pergi berjalan jalan."
__ADS_1
Claude berdiri dan Catalina juga ikut berdiri, ia mengangguk pada Claude sebelum akhirnya pergi meninggalkan pria itu untuk bersiap-siap di kamarnya.
Catalina mengenakan celana jeans dan blus warna salem lembut. Ia memakai sepatu kets sesuai arahan Claude dan menunggu di depan Villa. Claude datang beberapa saat kemudian diiringi Vincent.
"Aku akan mengantarkan kalian sampai jalur tempat berburu," ujar Vincent pada Catalina.
"Aku meminta Bruno dan kau mengajukan dirimu mengantar kami," ucap Claude.
Vincent mengibaskan tangannya. "Aku tidak tahu apa yang mesti kulakukan di villa. Aku akan berkeliling setelah mengantar kalian."
Mereka bertiga naik ke dalam mobil. Claude duduk di depan di samping Vincent, sedang kan Catalina duduk di kursi belakang. Kedua pria itu terlibat percakapan, Catalina hanya diam dan mendengarkan di belakang.
Perjalanan dengan mobil memakan waktu 45 menit. Catalina dan Claude turun dan melambaikan tangan pada Vincent yang memutar mobil dan kembali ke arah kedatangan mereka tadi.
"Dia akan kembali menjemput kita dua jam lagi di sini," ucap Claude memberitahu Catalina.
Mereka berjalan memasuki jalan setapak ke dalam hutan, pohon pohon besar membuat jalan yang mereka lalui menjadi teduh dan udara terasa sejuk.
Ketika jalan yang mereka lalui mulai terjal dan menurun, Claude mengulurkan tangannya ke arah Catalina.
"Pegang tanganku Cat. Jalannya mulai terjal," ucap Claude.
Catalina tidak menolak, akan lebih mudah melangkah dengan adanya tangan yang menjadi penyangga.
Suara air di kejauhan terdengar oleh telinga Catalina. Ia tersenyum lebar, sudah terbayang melihat pemandangan indah air terjun dengan sungai si bawahnya.
Awalnya Catalina melihat beriak air yang melewati batu-batu. Air yang sangat jernih, hingga batu-batu kecil yang ada di bawahnya terlihat dengan jelas. Air itu dangkal. Mungkin, jika ia memasukkan kakinya, tinggi air hanya sampai ke lututnya.
Mata Catalina menyusuri air sampai pada suara menderu di ujung hulu. Air terjun mengalir deras, membentuk lautan buih putih di aliran sungai tempat airnya jatuh, ia terpesona, senyumnya lebar dengan mata berbinar.
Catalina berjalan cepat meninggalkan Claude yang tersenyum masam.
Ya Cat ... semuanya tampak indah dan menarik bagimu, kecuali aku.
Catalina menjelajah seputar air terjun, setelahnya ia duduk di sebuah batu besar di pinggir aliran air. Senyum tidak meninggalkan wajah cantiknya, membuat Claude tiada henti memanjakan matanya memandang wajah Catalina. Gadis itu lalu menyiramkan air ke arah Claude, dengan sengaja memercik sedikit kuat, hingga baju Claude sedikit basah karena percikan itu.
"Hentikan itu, Claude! Jangan terus memandangku! Banyak pemandangan lain yang bisa jadi santapan matamu." Gadis itu mencibir ke arah Claude. Membuat Claude terkekeh.
"Kau tidak bisa melarangku, ini mataku, Cat. Kau harus menutupnya jika tidak suka, mau mencoba?" Claude menaikkan alisnya.
"Oh, aku tidak akan terpancing, Claude Bernard! Aku datang mendekat ke sana lalu bukan matamu yang akan kututup, malah kau yang akan menangkapku dan entah melakukan apa setelahnya," sahut Catalina.
"Aku mana berani Catalina ... aku masih ingat bagaimana rasanya jika digigit ... sakit bukan main!" Claude menatap Catalina dan terkekeh melihat rona merah menaiki wajah gadis itu. Catalina hanya membuang muka, menatap ke arah lain.
Waktu tidak terasa berlalu cepat, keindahan sekitarnya membuat keduanya lupa waktu, telah hampir mendekati waktu yang dijanjikan Vincent untuk menjemput. Claude menyadari mereka harus pulang ketika melihat cuaca yang sudah gelap. Ia mengerutkan kening dan melihat jam tangannya. Belum waktunya, harusnya keadaan belum segelap ini. Ia memandang langit dan menyadari gumpalan awan hitam di atas sana harusnya menjadi tanda hujan akan segera turun.
"Cat ... Ayo! Kita harus segera naik! Vincent mungkin sudah menunggu di atas sana!"
Catalina juga telah melihat gumpalan awan hitam di langit yang membuat keadaan sekitarnya menjadi gelap. Ia menyambut uluran tangan Claude dan melangkahkan kaki dengan cepat mengikuti langkah kaki Claude yang lebar.
Setengah perjalanan menuju ke atas, kilat menyambar lalu disambut suara dentuman guntur menggelegar, Catalina berhenti melangkah, ia menjerit dan menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Seolah alam belum puas menampakkan kekuasaannya, hujan deras mulai turun membasahi semua yang ada di atas bumi.
Claude berbalik dan menangkap tubuh Catalina ketika mendengar gadis itu menjerit, ia memeluk dan berbisik.
__ADS_1
"Sttttt ... hanya suara guntur, Catty," bisiknya di puncak kepala Catalina yang memejamkan mata rapat-rapat.
Butuh beberapa saat bagi Catalina mengatur napas dan kembali membuka mata, keduanya sudah basah kuyup. Pohon-pohon besar yang menaungi mereka tidak mampu menahan laju air hujan yang turun dengan derasnya.
"Ayo Cat ... kita harus mencapai atas. Vincent mungkin sudah di sana."
Catalina mengangguk dan melangkah lagi dengan memegang tangan Claude sangat erat.
Sesampainya di jalur berburu, tidak ada mobil yang menunggu mereka, Claude mengernyit. Vincent tidak mungkin tidak datang ... tidak mungkin ia pergi ketika melihat mereka tidak ada di sana. Claude yakin Vincent pasti akan menunggu mereka. Claude memandang berkeliling. Sepi, hanya ada keheningan di sekitarnya. Cuaca mulai dingin dan kegelapan mulai merambat.
Vincent tidak mungkin tidak menjemput. Jika ia tidak bisa, ia akan menyuruh Bruno atau yang lain. Ada apa sebenarnya? Terjadi sesuatukah di villa ?
Claude memindai sekitar dan yakin memang tidak ada yang datang untuk menjemput.
"Apa kita berjalan saja, Claude?" suara Catalina membuat Claude menoleh dan memandang gadis itu. Gadis itu basah kuyup seperti dirinya dan hujan seolah belum mau bersahabat dengan mereka, deras mengguyur tubuh mereka.
"Akan sangat berbahaya, Cat. Akan gelap sebentar lagi. Kita butuh waktu 45 menit menuju kesini dengan mobil. Akan butuh berapa lama kita akan sampai ke villa dengan berjalan kaki?"
Catalina mengedarkan pandangannya. "Mulai gelap Claude, jadi bagaimana caranya kita pulang?"
"Kita tidak bisa nekat berjalan kaki, Catty. Kita bisa tersesat dalam gelap. Belum lagi resiko binatang buas ... di sini masih banyak beruang."
Catalina bergidik mendengar ucapan Claude. Gadis itu otomatis mendekat dengan kepala memandang berkeliling.
Claude berpikir keras dibawah guyuran hujan.
Ada apa Vincent? Kau kemana?
Claude memandang lurus ke jalan setapak lain di seberang jalur mobil di hadapannya. Dengan gembira ia menyadari di seberang jalan itu, jika ia menyusuri jalan setapak, lebih kurang 100 meter, ada sebuah pondok berburu yang memang diperuntukkan untuk beristirahat.
Claude menarik lengan Catalina.
"Ikuti aku Cat. Kita akan berlindung di pondok berburu di jalan kecil itu. Mulai gelap ... akan lebih gelap di jalan kecil itu nanti karena bayang pepohonan. Jangan jauh-jauh dan jangan lepaskan tanganku," ucap Claude tegas.
Catalina mengangguk. Tubuhnya mulai kedinginan di bawah guyuran air hujan.
"Ayo." Claude membimbing Catalina masuk kembali ke dalam hutan lewat jalur setapak kecil di seberang jalan. Ia merasakan jari-jari Catalina memegangnya dengan sangat erat. Claude menyadari Catalina mulai ketakutan walaupun gadis itu tidak mengatakannya.
N E X T >>>
*********
From Author,
Kenapa Vincent tidak menjemput? What's wrong Vince?
Hallo My Readers ...So Happy see you again at this chapter. πππ
Jangan lupa like dan Vote ya, penyemangat author liat rangking agak atasan dikitπππ
Bintang lima, favorite juga komentarnya author tungguπππ
Terimakasih semua.
__ADS_1
Salam, DIANAZ.