
Hamilton mendatangi Vincent yang tampak amat waspada. Alat komunikasi terpasang di telinga pria itu. Ia tengah bicara dengan orang-orang yang ia tempatkan di beberapa titik di restoran Amora.
"Vincent, apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Hamilton.
Vincent tidak menjawab. Ia hanya memberi tanda pada Hamilton agar mengikutinya naik ke lantai atas restoran, ia mengendikkan dagunya ke arah dua orang pria yang sepertinya sedang makan malam.
"Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan, kecuali dua pria yang tengah makan malam di sana."
Hamilton memandang ke bawah. Di sebelah ruangan khusus yang Yoana pesan, terdapat ruangan lain tempat beberapa orang terlihat tengah menikmati makan malam mereka.
Dua orang pria yang dimaksudkan oleh Vincent tampak biasa saja seperti orang lain yang makan malam di restoran itu. Setelan formal yang tampak elegan, menandakan itu adalah karya perancang terbaik. Dijahit rapi hingga bentuk tubuh gagah pemiliknya tampak makin menarik. Apalagi di mata para wanita.
"Siapa mereka?" tanya Hamilton.
Vincent mengerutkan dahinya sambil terus menatap waspada pada dua pria itu.
"Aku sudah mengirim gambarnya pada Blaird. Ternyata pria itu adalah Tuan Lucca serta asistennya Tuan Diego. Sangat aneh Alrico Lucca tiba-tiba makan di restoran yang sama sesudah ia mengirimkan Nona Sweyn untuk membujuk manager Marylin agar menerima penawarannya."
Hamilton mengerutkan keningnya. Yoana memang sudah bercerita pada mereka saat ia memberitahu akan mengadakan makan malam di luar dan ia mengundang Marylin bersama managernya. Yoana juga mengatakan kabar penawaran kontrak menjadi model mobil mewah dari perusahan tuan Lucca yang disodorkan pada Serge dengan perantara Nona Sweyn.
Mereka semua mengambil keputusan akan bersikap diam selama Serge dan juga Marylin tetap menaati kontrak yang terjalin dengan perusahaan Yoana.
Tapi melihat pria itu ada di restoran yang sama malam ini, Hamilton punya pikiran yang sedikit mengganggunya.
"Kurasa tidak kebetulan ia tahu kita makan malam di sini malam ini. Jika benar ia punya mata-mata di perusahaan kita, kau harus segera menemukan orang itu, Vincent."
"Itu juga yang aku pikirkan, Paman Hamilton. Aku memperhatikan, sedari tadi mata pria itu terus menatap ke arah Nona Marylin Seymor dan juga Serge."
"Menurutmu ... apakah dia ada hubungannya dengan Rodrigo?"
"Aku belum bisa memastikannya, Paman, tapi Blaird akan menyelidikinya."
Hamilton menganggukkan kepalanya kemudian menepuk bahu Vincent.
"Lanjutkan pekerjaanmu, Vincent. Hati-hati ... Jaga dirimu, aku akan kembali," ucap Hamilton pada pria itu.
Vincent mengangguk, ia tetap mengawasi di tempatnya ketika Hamilton beranjak meninggalkannya dan kembali ke meja.
Suasana di sana sedikit tegang. Semua Bernard bersaudara tengah memandang tajam Marylin Seymor yang tetap santai menyesap minuman.
Hamilton duduk di kursinya lalu mencoba mencairkan suasana dengan menanyai Marylin.
"Nona Mary ... kau mengenal Tuan Lucca? Alrico Lucca? " Hamilton mendapatkan perhatian semua orang ketika ia mengucapkan pertanyaannya.
"Hanya tahu bahwa ia adalah seorang pengusaha sukses. Dia menawarkan sebuah pekerjaan padaku."
"Kau mengenalnya sebelum ini?" tanya Hamilton lagi.
"Tidak."
"Bagaimana dengan Serge?"
__ADS_1
"Kau tanyakan saja langsung padanya," ucap Marylin santai.
Hamilton tersenyum lalu menatap pada Serge yang menikmati minumannya di meja bar.
Alunan musik yang terus mengalun menghibur mereka membuat Simon tergerak mengajak Catalina berdansa.
"Catalina ... sayang sekali musik sebagus ini tidak dinikmati dengan berdansa. Karena kakakmu alergi dengan sentuhanku, maukah kau berdansa denganku?" tanya Simon.
"Tidak." jawab Catalina tegas.
"Kenapa? Ah, kau tidak pandai berdansa ya?" tanya Simon dengan alis terangkat.
Catalina memajukan bibirnya, cemberut menatap Simon.
"Jangan katakan kau alergi juga pada sentuhanku seperti kakakmu. Marylin hanya beralasan, karena sebenarnya ia takut menyentuhku." Simon menyeringai.
Marylin mendengus keras. "Terserah apa katamu, kau bocah menggelikan."
"Aku menggelikan? Kau pernah jatuh cinta padaku, Mary." Simon tak berhenti memancing kejengkelan Marylin.
"Entah apa yang aku lihat sampai mau jadi kekasihmu. Kau benar-benar tidak ada menariknya sama sekali!"
Simon terkekeh mendengar ucapan Marylin. Ia berdiri dan mengulurkan tangannya pada Catalina.
"Aku bilang tidak mau berdansa denganmu, Kau tidak dengar?" Catalina menatap tangan yang terulur padanya itu.
"Katakan padaku dansamu buruk. Akui kau tidak bisa berdansa," tantang Simon.
Catalina menarik napas sambil menghempaskan serbetnya ke meja.
Simon menyeringai ketika Catalina meletakkan tangan di telapak tangannya yang terulur. Mereka baru saja akan melangkah, ketika ujung jari Simon menyentuh gelas minuman milik Catalina hingga tumpah dan membasahi celananya.
"Upssss ... astaga ... uh, jadi lengket," ucap Simon, lalu ia menatap Claude dengan wajah memohon,
"Claude, bisakah gantikan aku berdansa dengan gadis cantik ini? Aku akan ke toilet dulu."
Marylin memandang bergantian dua kakak beradik itu. Ia mencari jejak kesengajaan di wajah Simon. Kalaupun bocah Bernard itu sengaja, ia menyimpannya dengan sangat baik. Aktingnya meyakinkan.
"Tidak jadi saja," Catalina baru saja akan menarik tangannya ketika Simon menggenggamnya erat lalu menyerahkannya pada Claude yang sudah berdiri dan mendekat.
"Ayo ... berdansa denganku," Claude menggenggam tangan Catalina lalu menariknya ke lantai dansa. Simon langsung melangkah pergi ke arah lorong menuju toilet, sehingga Marylin tidak dapat melihat ekspresi wajahnya lagi.
Claude memeluk pinggang Catalina dengan satu tangan dan menyatukan tangan lainnya dengan jemari gadis itu. Mereka melangkah dengan ringan, berputar di lantai dansa. Catalina tidak berani mendongak, ia menerima ajakan Simon berdansa dengan perasaan biasa saja, namun ketika pasangannya berganti menjadi Claude, jantungnya mulai berdebar dan ia merasa sedikit tidak yakin.
Serge kembali ke meja dan mengulurkan tangannya pada Marylin.
"Ayo Manis. Berdansa denganku," ajaknya.
Marylin tersenyum, berdiri dan menyambut tangan Serge. Dua pasangan itu berputar dan menari, Catalina melirik ketika kelebat Marylin dalam pelukan Serge melintas di dekatnya.
"Mereka dekat ...," ucap Claude.
__ADS_1
Catalina mendongak, menatap mata yang memandangnya, Ia mengernyit ketika melihat kilas kegelisahan di mata Claude. Mereka berputar dengan mata saling menatap.
"Katakan padaku, apakah kau benar-benar berniat pergi meninggalkan Leon?" bisik Claude pelan.
"Bukankah itu tidak bisa dihindari? Suatu hari itu akan terjadi bukan?"
"Kemana kau akan pergi? Kembali ke kota Bluerose?" tanya Claude lagi.
Catalina meggelengkan kepalanya. "Entahlah, tapi mungkin aku akan mencoba menemui Dokter Luigi. Menanyakan apakah ia masih mau menerimaku bekerja di Eliza Hospital.n"
Claude langsung terdiam, otaknya berputar dengan berbagai macam rencana dan kemungkinan.
"Claude?" Catalina berbisik setelah beberapa saat laki-laki itu diam.
"Ya?"
"Ehm ... bi ... bisakah kau longgarkan lenganmu di pinggangku? Kau menjepitku, Claude."
Claude menunduk, menatap mata biru yang menatapnya dengan mengernyitkan kening. Ia langsung melonggarkan pelukannya di pinggang Catalina. Ia mengeratkan pelukan tanpa sadar ketika gadis itu menyebut nama dokter Luigi.
Di kejauhan, melalui kaca ruangan yang bersebelahan, dari tempatnya duduk, seorang lelaki menatap tajam pada gadis bergaun hitam yang tengah berdansa dengan pria bertubuh besar yang memeluknya erat. Matanya menatap sinis, gadis itu tenggelam dalam pelukan pria yang bertubuh besar dengan lengan berotot yang memeluk pinggangnya yang ramping.
Marylin Seymor tampak bergelayut di leher Sergio Eneas atau yang lebih dikenal dengan nama Serge.
"Mereka tampak serasi bukan, Diego?" Alrico Lucca menatap ke lantai dansa melalui kaca bening sambil menyesap minumannya.
Asistennya hanya melirik, kemudian kembali menatap tuannya.
"Sepertinya begitu, Tuan Alric."
"Kita beruntung. Menemukan mereka di satu tempat. Memudahkan pekerjaan mencarinya. Sekali mencari, keduanya langsung ditemukan. Sudah bertahun-tahun ... Jika bukan karena wanita itu sudah terkenal sebagai model, kita mungkin masih menemukan jalan buntu."
"Anda benar ... hubungan mereka rupanya terjalin hingga kini. Pertemanan yang hebat sekali," ucap Diego.
"Aku sudah tidak sabar menghancurkan keduanya ...," bisik Alric dengan mata menajam seolah ingin menghujamkan kilat dendam yang sudah berkarat di hatinya.
"Bersabarlah Tuan. Kita harus perlahan. Dia berada dibawah perusahaan Bernard. Kita tidak perlu menimbulkan permusuhan dengan perusahaan itu. Claude dan Yoana Bernard adalah orang-orang yang tidak bisa dipermainkan."
"Nona Sweyn mengatakan ia adalah tunangan Claude Bernard, tapi kenapa ia tidak hadir di acara makan malam keluarga ini? Malah Marylin yang di undang?"
"Mata-mata Nona Sweyn mengatakan, Yoana mengundang keduanya karena ada masalah pekerjaan yang akan dibicarakan. Tidak disangka disatukan dengan acara makan malam keluarga," ucap Diego sambil mengangkat gelasnya dan mulai ikut minum.
"Kau benar, Diego. Harus perlahan ... sebelum aku menangkap gadis jala** dan pria yang memeluknya itu, lalu membalas keduanya dengan setimpal." Alric mengalihkan tatapan, memandang ke arah lain setelah merasakan kemarahannya memuncak karena terus memandang pada pasangan Marylin Seymor dan Serge yang berputar di lantai dansa.
N E X T >>>
**********
From Author,
Jangan lupa like, love ,vote, komentar dan bintang limanya ya.
__ADS_1
Terimakasih banyak.
Salam, DIANAZ.