
Luigi mendekati meja, lalu mengambil wadah makanan yang tadi Natalia letakkan di atas meja. Ia mulai memanaskan makanan tersebut ke dalam Mocrowave. Setelah mengatur waktunya, ia menunggu dengan tetap berdiri di dekat microwave.
Beberapa saat kemudian makanannya selesai dihangatkan. Luigi memakai sarung tangan panas lalu mengeluarkan wadah makanan.
"Apa kau bisa menyiapkan piringnya? Aku juga ingin makan," ucap Luigi.
Natalia meletakkan kotak kue ibunya di atas meja. Lalu bergerak ke arah rak piring. Ia mengambil dua piring dan meletakkannya di atas meja.
Setelah menyiapkan sendok dan juga garpu, pasangan suami istri itu makan dalam keheningan. Tidak ada yang memulai pembicaraan sampai acara makan malam itu selesai.
Natalia berdiri lalu mulai mengangkat piring makannya ke arah wastafel. Luigi juga berdiri dan mengikuti Natalia.
"Letakkan saja," ucap Natalia. Ia menghidupkan kran air dan mulai mencuci piring hingga bersih. Luigi kembali duduk di kursinya, menunggu sambil melihat punggung Natalia.
Setelah selesai, Natalia mengambil serbet dan mengeringkan tangannya. Ia menarik kursi dan kembali duduk. Sudah tidak bisa menghindar atau menunda lagi. Laura benar. Ia harus bicara bila ingin tahu apa maksud Luigi datang menemuinya di sini.
"Sudah berapa bulan usia kandunganmu?" tanya Luigi.
"Mau apa kau kemari?" bukannya menjawab pertanyaan Luigi, Natalia malah balik bertanya.
"Apa perlu itu kau tanyakan? Setelah apa yang aku lihat terjadi di sini?"
"Memangnya apa yang terjadi di sini? Tidak ada yang terjadi... di sini tenang, juga damai."
Luigi bersedekap, mulai melihat pertahanan yang Natalia bangun di sekitarnya.
"Kau hamil, Natalia ...."
"Lalu kenapa!? Tidak ada hubungannya denganmu!"
"Oh ya!? Jadi anak siapa di sana itu?"
"Anakku!"
Luigi tertawa sambil mendengus, menatap Natalia dengan tatapan datar.
"Dengan siapa kau membuatnya? Dengan boneka beruang di kamar mu?" sindir Luigi, ada nada geli di dalam suaranya. Membuat Natalia menggeretakkan giginya menahan geram.
"Itu bukan urusanmu. Bukankah kau bilang setelah menikah, kita jangan mencampuri urusan masing-masing, menjauh dari satu sama lain! Jadi siapapun ayah anakku, itu bukan urusanmu!"
__ADS_1
Luigi menatap wajah Natalia yang tampak kesal.
"Tapi aku ayah anak itu, Nat! Aku berhak tahu. Apapun keputusanku setelahnya, akan menerima ataupun tidak," jawab Luigi.
"Bukan!"
"Bukan apa?" tanya Luigi dengan alis terangkat.
"Bukan kau ayahnya!" Natalia nekat sengaja berbohong. Mendengar Luigi mengatakan menerima ataupun tidak, membuat hatinya dilumuri rasa kecewa dan amarah.
Luigi diam, menatap datar ke arah Natalia yang mendongakkan dagu dan menatapnya dengan wajah menantang.
"Ada satu lagi yang lupa ayahmu beritahukan padaku ... tentang sifat burukmu yang manja juga egois. Ia lupa memberitahu kalau putrinya juga bodoh ...." ucap Luigi, satu senyum miring tersungging di bibirnya, membuat Natalia makin terlihat geram.
"Aku tidak bodoh!" seru Natalia, ia terlihat memilin dan mengenggam serbet di tangannya dengan rasa jengkel.
"Ya, kau bodoh. Kau bodoh bila mengira walaupun dalam pengaruh obat aku tidak menyadari aku adalah pria pertama untukmu, Nat. Bukti di ranjang kita malam itu juga sudah berbicara. Lalu kita menikah tak lama setelahnya. Kau tinggal dengan orang tuaku beberapa saat kemudian. Lalu pindah ke apartemenku. Apa selama di apartemenku kau mengundang kekasihmu? Saat aku bekerja? Begitu? "
Natalia melempar buntalan serbet di tangannya ke arah Luigi. Luigi memejamkan mata ketika serbet itu mengenai wajahnya.
"Berapa orang kekasihmu, Nat? Satu? Dua?" tanya Luigi. Sengaja memancing kemarahan Natalia.
"Sudah kubilang itu bukan urusanmu? Mau aku punya sepuluh kekasih pun itu terserah padaku!"
"Lalu kemana para kekasih mu itu? Meninggalkanmu dalam keadaan hamil? Jahat sekali ...."
Natalia menelan ludah, menahan amarahnya yang tersulut mendengar ucapan Luigi.
"Aku yang meninggalkannya! Karena aku lebih memilih bayiku tidak punya ayah!"
"Kenapa? Jika kau dan kekasihmu melakukannya suka sama suka ... kalian tentu tahu efeknya akan seperti ini, apalagi tidak pakai pengaman ...." Luigi sengaja terus memancing.
"Atau kasusnya sama dengan yang terjadi padaku? Kau juga menjebak kekasihmu untuk tidur bersama? Hingga kau takut untuk mengatakan kalau ada efek dari perbuatanmu itu!?"
Natalia berdiri dengan mata menyala dan tangan mengepal.
"Kau!"
Luigi berdiri, berjalan mendekat, kemarahan Natalia sudah ia tunggu dari tadi.
__ADS_1
"Kenapa? Keberatan dengan pemikiranku? Kau sendiri yang bilang punya sepuluh kekasih bukan?"
Mereka sudah berhadapan, Luigi bersedekap lalu menatap Natalia dari atas sampai bawah.
"Apa kekasihmu menganggap kau tidak menarik lagi? Hingga kau harus menjalani kehamilanmu sendiri di tempat ini tanpa dia? Tubuhmu membesar dan tidak berbentuk, jadi dia mencampakkanmu? "
Plakk!
Tamparan itu melayang ke wajah Luigi. Tubuh Natalia gemetar menahan kemarahannya. Air matanya meleleh, hatinya merasa sangat sakit mendengar hinaan Luigi.
"Pergilah! Kenapa kau datang kemari! Aku sudah tidak mau melihatmu!" jerit Natalia.
Luigi menangkap tubuh Natalia. Memaku matanya dengan tatapan tajam.
"Karena kau menyembunyikan hal yang sangat penting, Nat. Kau menjebakku di kamar hotel, membuat kita tidur bersama, membuat perangkap pernikahan ... Lalu ketika ada seorang bayi yang merupakan bagian dari diriku hadir di rahim mu ... kau membawanya lari!"
"Aku sudah berusaha mengajakmu berdamai dan bicara! Kau yang menolak semua usahaku!" jerit Natalia lagi.
"Tanpa mengatakan apapun tentang bayi ini!"
"Kau akan membencinya jika kau tahu! Kau membenciku! Kau membenci apa yang terjadi malam itu! Kau akan menolaknya! Jadi lebih baik kau tidak tahu apa-apa!"
Natalia terisak keras, bahunya berguncang. Luigi mencoba menarik tubuh Natalia, berniat memeluknya. Tapi Natalia dengan cepat melepaskan diri. Ia berbalik dan berlari meninggalkan Luigi, masuk ke dalam kamar lalu kembali menguncinya dari dalam.
Luigi manarik napas panjang. Sungguh waktu terbuang percuma. Pernikahan ini tidak saja membuat dirinya tersiksa, tapi juga menekan batin Natalia. Wanita itu sudah mencoba mengajaknya berdamai saat tinggal di apartemen. Dan sekarang Luigi merasa adalah gilirannya untuk berdamai dan membujuk. Demi apa yang sedang tumbuh di rahim wanita itu. Luigi sudah kehilangan waktu selama trimester satu dan dua kehamilan Natalia. Sekarang ia akan mengambil peran dan ikut melihat perkembangan bayinya sampai lahir, bahkan jauh sesudahnya, ketika anak itu tumbuh ... Luigi ingin ia ada di samping anak itu sabagai seorang ayah.
NEXT >>>>
**********
From Author,
Ikuti kisahnya terus, dan bersabar tunggu updatenya ya. Jangan lupa klik tombol like alias jempol, tombol favorite alias love, beri komentar, saran ataupun kritik membangun, biar Author makin semangat untuk nulis.
Bagi yang belum kasih rate, tolongin dong tekan tombol bintang, kemudian klik bintang lima ya๐๐
Yang punya poin dan koin, bisa bantu author dengan klik Vote agar performa novel ini makin naik.
Untuk semua bantuan para Readers semuanya, author ucapin terima kasih banyak๐
__ADS_1
Salam hangat, DIANAZ.