
Luigi bangun pagi-pagi sekali dan mengetuk pintu kamar Natalia.
"Nat, aku sudah siap."
"Aku sudah bilang tidak mau pergi!" jawaban Natalia terdengar dari arah dalam kamar.
"Oh, ayolah. Kau akan membiarkan dua gadis cerewet itu mengataimu terus? Dan Nyonya Amber terus menanyakanmu, kenapa aku tidak mengajakmu ketika olahraga pagi."
Natalia tidak menjawab. Ia berjalan hilir mudik di dalam kamar. Tadi malam saat makan malam, Luigi sudah mengatakan rencananya untuk membawa Natalia jalan-jalan pagi. Kebiasaan yang Natalia hentikan karena bisik-bisik gadis kembar Da Costa yang cerewet. Nat ingin sekali berolahraga lagi seperti dulu, menghirup udara segar sambil menikmati pemandangan danau. Tapi ia malas menghadapi dua gadis kembar itu.
"Nat ... Nat." Luigi terus memanggil.
"Pergilah!"
"Aku tidak akan pergi tanpamu," Luigi mengetuk lagi.
Natalia menatap pintu yang terus diketuk oleh Luigi dengan cara berirama.
"Nat ...."
Astaga ... tak kusangka dia menjengkelkan sekali. Natalia merutuk di dalam hati. Ia membuka lemari dan menarik celana olahraga dan sebuah kaos longgar yang nyaman dipakai untuk kondisinya yang sedang hamil.
"Nat ...." Luigi terus mengetuk. Seolah tidak akan berhenti sampai keinginannya terpenuhi.
Pintu kamar terbuka tiba-tiba. Memperlihatkan Natalia yang keluar sambil merengut. Matanya menatap tajam pada Luigi yang tersenyum lebar.
"Ayo ," ucap Luigi. Pria itu mengenakan kaos berlengan pendek warna biru muda dengan celana pendek.
Setelah berpamitan pada Laura, mereka menuruni undakan tangga depan dan berjalan menyusuri pinggiran trotoar.
"Kau larilah jika mau lari. Aku jalan saja."
"Aku mau berolahraga bersamamu, Nat. Bukannya joging sendirian." Luigi menjajari langkah Natalia. Menggerakkan kedua tangannya ke atas sambil melangkah.
"Kapan kita kembali, Nat? Aku mau melakukan pemeriksaan pada bayi kita. Bukannya aku tidak percaya dokter yang kau pilih. Aku mengenalnya. Dia dokter yang bagus. Tapi aku mau melakukannya sendiri di rumah sakitku."
Natalia diam saja, namun telinganya yang mendengar Luigi menyebut kata 'bayi kita' membuat hatinya merasa hangat.
"Kau tidak pernah menanyakan jenis kelaminnya?"
Natalia menggeleng. Lagipula ia tidak mengatakan pada Luigi bahwa terakhir ia periksa adalah saat usia kandungannya lima bulan. Sekarang kandungannya delapan bulan dan ia belum pernah periksa lagi. Natalia berharap bayinya sehat dan baik-baik saja.
"Kapan terakhir kau periksa?"
Natalia sengaja tidak menjawab pertanyaan Luigi.
"Nat ... jawab aku. Atau aku akan membawamu pulang dengan atau tanpa persetujuanmu agar memeriksa sendiri kehamilan mu."
Natalia tetap mengunci mulutnya. Luigi berdecak dan memikirkan kalimat bujukan apa yang harus ia ucapkan ketika seseorang menyapanya dari arah belakang.
"Hai, Dok! Hai Nat! Kami duluan ..."
Luigi dan Natalia menoleh dan sedikit menepi. Membiarkan Mr dan Mrs. Smith melewati mereka.
"Ya, Jake. Partnerku lambat. Aku harus mengimbanginya!" ucap Luigi sambil tertawa kecil dan melambaikan tangan. Jake Smith tampak berlari kecil sambil menolehkan kepala ke belakang ke arah Luigi.
"Hari ini kita libur adu cepat, Dokter. Atau istri cantikmu akan marah padaku karena membuatmu meninggalkannya berjalan sendirian di hari ia kembali melakukan olahraga paginya."
Mr. Smith melambaikan tangan sebelum kembali berlari mengejar istrinya yang sudah jauh di depan.
Luigi menoleh dan memandangi wajah Natalia dengan sengaja. Natalia mengabaikannya, tapi ia merasa mata Luigi tidak juga beralih, bahkan setelah beberapa menit yang terasa panjang.
"Perhatikan langkahmu. Lihat jalannya! Jangan lihat wajahku!"
"Jake benar ...."
__ADS_1
"Apa maksudmu? Sudah kubilang jangan pand....." Natalia berhenti bicara, ia memutuskan berjalan lebih cepat dan meninggalkan Luigi untuk menghindar dari tatapan pria itu. Tapi Luigi kembali menjajari langkahnya dengan mudah.
"Jake barusan bilang kau cantik. Aku hanya mau melihat dia benar atau tidak," ucap Luigi.
Langkah Natalia terhenti. Ia menyipit memandang Luigi yang terlihat meneliti dengan seksama wajahnya.
"Tidak ada bedak. Tidak juga lipstik. No make up ... dan ...."
Natalia menatap, sejujurnya ia agak penasaran bagaimana pendapat Luigi sendiri tentang dirinya yang tanpa make up.
Senyum geli tersungging di bibir Luigi. Membuat Natalia menyipitkan mata.
"Kau tampak seperti gadis cerewet yang judes dengan ekspresi mu itu sejak keluar dari rumah. Tapi Jake benar ... kau cantik."
Natalia menjawab dengan mendengus keras dan mulai melangkah cepat meninggalkan suaminya itu. Secepat mungkin menghindar agar Luigi tidak melihat rona merah yang mulai naik ke wajahnya.
Oh, tidak ... dokter menjengkelkan ini mulai bersikap manis.
Mereka tiba di area taman yang dibangun di dekat danau. Natalia langsung menuju pagar pembatas taman dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Udara pagi yang segar meniup wajahnya, membuat Natalia menyunggingkan senyum dan memejamkan mata menikmati hembusannya. Jika bukan karena kembar Da Costa, ia tidak akan melewatkan acara paginya ke tempat ini. Natalia suka sekali suasana pagi di taman dengan pemandangan danau yang sangat indah.
Di sebelah tempat Natalia berdiri, ada sebuah tempat duduk dari batu buatan. Berjejer di beberapa tempat di sepanjang pagar pembatas taman. Luigi duduk di di tempat duduk itu sambil mendongak, menatap wajah Natalia yang tersenyum memandang ke arah danau. Rambut wanita itu berantakan di seputaran wajahnya.
Luigi mengulurkan sebelah tangan, menarik Natalia mendekat.
"Apa ... hei!" Natalia berteriak protes. Tubuhnya terseret hingga berada di depan kedua kaki Luigi. Ia menunduk dan memandang pria itu tengah mendongak ke arahnya dengan mata menyipit.
"Sebaiknya kau jangan protes. Atau kembar menjengkelkan yang pernah mengejekmu itu akan memiliki bahan lain untuk dijadikan gosip."
Kedua mata Natalia terlihat menggelap. Sudut-sudut bibirnya berkata kaku.
"Di mana mereka?"
"Sedang berjalan menuju ke sini dengan wajah sangat penasaran." Lalu tiba-tiba lengan Luigi melingkar ke pinggang Natalia. Wajah pria itu berada persis di depan perutnya yang membesar. Kecupan sayang dilakukan pria itu di bagian perut kiri, lalu pindah ke kanannya.
"Daddy akhirnya dapat mencium mu ... sebenarnya ingin Daddy lakukan setiap hari. Tapi Mommy mu keras kepala," bisik Luigi di sisi perut Natalia.
"Halo, Dokter!" sapa si gadis kembar. Natalia menoleh ke arah belakang punggungnya. Menyadari si kembar Da Costa sama sekali tidak menyapanya, hanya menyapa Luigi saja.
Luigi mengintip dari balik perut Natalia. Dengan sengaja masih mengurung Natalia dengan lengannya.
"Oh, hai Linda! Lindsay!" sapa Luigi. Ia memasang senyum lebar.
"Apa yang sedang kau lakukan, Dok?" tanya salah seorang kembar. Nat tidak tahu siapa yang bertanya di antara mereka.
"Aku sedang bicara dengan bayinya," ucap Luigi, dengan sengaja ia mengecup lagi sisi perut Natalia.
"Manis sekali ... apa bayimu menjawabnya, Dok?" tanya salah satu gadis itu sambil terkikik.
Luigi merasakan tubuh Natalia makin kaku. Wanita itu menunduk memandangnya dengan mata menyipit.
"Well ... kurasa bayinya mendengarkan," sahut Luigi. Ia lalu melepas Natalia dan mengarahkan pinggul wanita itu agar duduk di sebelahnya. Natalia segera memasang wajah ceria dan bahagia.
Jangan sampai mereka melihatku merasa tidak nyaman, enggan atau kesal. Aku harus sedikit bersandiwara, atau gadis kembar menjengkelkan ini akan semakin menghinaku. Natalia melingkarkan tangannya ke lengan Luigi. Bagian bahunya sengaja menempel dengan sisi tubuh Luigi. Ia meletakkan pipinya ke lengan atas suaminya itu.
Dengan alis terangkat, Nat menatap kembar Da Costa. Tapi ia tidak menyapa, juga sengaja tidak bicara. Jika si kembar menganggapnya angin lalu, maka ia juga bisa membalas keduanya. Rambut Natalia terangkat dan menempel di pipi. Tangan Luigi langsung merapikan helaian rambut nakal yang terlepas dari ikatan ekor kuda Natalia, dengan sengaja mengelus singkat pipi Nat dalam prosesnya.
"Astaga ... aku jadi ingin kembali muda ketika melihat kalian!" Seorang wanita paruh baya mendekat. Ia memperbaiki letak kacamatanya yang melorot.
"Natalia? Akhirnya aku melihatmu lagi."
Natalia tersenyum lebar. " Hai Nyonya Amber ...."
"Senang melihatmu sehat, Sayangku."
"Aku juga. Kau selalu tampak segar."
__ADS_1
"Kenapa baru sekarang kau datang lagi kemari, Sayang? Sejak kedatangannya, Dokter Luigi melakukan olahraga paginya sendirian."
Natalia terdiam. Tidak punya jawaban untuk pertanyaan Nyonya Amber. Ia melirik ke arah si kembar yang sudah bersedekap. Seolah menunggu dengan penasaran jawaban yang akan Natalia berikan.
"Itu ...." Natalia tergagap.
Lalu tiba-tiba Luigi tertawa. Telapak tangannya menangkup tangan Natalia yang memegang sikunya.
"Nyonya Amber ... Nat akan malu sekali bila menjawab pertanyaanmu. Tapi aku tidak akan malu untuk menjawabnya untukmu ...." Luigi tersenyum geli dan mengedipkan mata pada Nyonya Amber.
"Apa alasannya, Dokter? Kukira dulu Nat berhenti datang ke mari karena mulut nyinyir para gadis yang tidak tahu bagaimana caranya berkata sopan pada orang lain, yang selalu menyindirnya karena datang kemari hanya dengan Laura." Nyonya Amber menatap pada kembar yang balik menatapnya dengan jengkel. Tahu bahwa merekalah yang disindir sebagai para gadis tidak sopan itu.
"Lalu kau datang ke Crystal Clear, tapi kau selalu terlihat lari pagi sendirian. Sudah cukup lama kau melakukannya. Apakah baru hari ini kau berhasil merayunya untuk ikut, Dokter?"
Luigi tertawa mendengar nada bicara Nyonya Amber. Tahu Nyonya Amber mengkritik dua gadis kembar Da Costa.
"Kau tahu, Nyonya Amber ... Nat berkeras ingin kemari saat memasuki trimester tiga kehamilannya. Dan aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku begitu saja di rumah sakit. Jadi aku harus mengurus beberapa hal dulu sebelum menyusulnya. Kau tahu kan ... wanita hamil kadang bisa jadi sangat keras kepala jika menginginkan sesuatu."
"Kau benar. Dan kau tidak pernah bisa menolak keinginan istri yang sedang hamil," tambah Nyonya Amber.
Luigi mengangguk. "Ketika aku sudah datang kemari, kami sudah tidak bertemu berminggu-minggu. Jadi bisa kau bayangkan malam-malam yang aku habiskan bersama Nat untuk melepas rindu. Aku membuatnya lelah dan tidak bisa bangun pagi," Luigi menyelipkan nada bangga di suaranya. Ia merasakan pegangan Natalia mengencang di seputaran lengannya.
Natalia merasakan wajahnya panas mendengar bualan Luigi.
"Ya ampun ... karenanya kau selalu kemari sendirian." Nyonya Amber terkikik geli, memandang rona merah yang merambat di wajah Natalia.
Luigi mengedipkan matanya." Apa boleh buat, Nyonya Amber. Nat selalu belum bangun dan aku tidak tega membangunkannya hanya agar ia terlihat datang bersamaku kemari."
"Kau beruntung Natalia. Punya suami tampan dan sekarang menunggu kelahiran bayi kalian." Lalu Nyonya Amber beralih pada si kembar. " Kalian sebaiknya mengurangi mengurus masalah orang lain, Twins. Agar bisa fokus mendapatkan pria baik yang mau mengorbankan dirinya untuk gadis cerewet yang menjengkelkan seperti kalian berdua!"
Linda dan Lindsay terdengar mendengus, lalu tanpa pamit berbalik dan meninggalkan area itu.
"Ck! Gadis-gadis manja! Aku tahu apa yang mereka lakukan padamu sehingga kau berhenti datang kemari, Dear," ucap Nyonya Amber pada Nat.
Natalia tersenyum berterimakasih. Ia memang suka mengobrol dengan wanita paruh baya yang lincah itu ketika masih rutin datang ke tempat ini setiap pagi.
"Aku senang kau mengajaknya, Dokter. Bagaimanapun, pemandangan wanita cantik yang pernah menjadi model terkenal di pinggir danau ini adalah pemandangan langka. Apalagi dengan kehamilannya, ia terlihat semakin cantik dan menarik."
Setelah mengedipkan mata ke arah Natalia, Nyonya Amber pamit. Tidak mau mengganggu moment berdua pasangan muda itu. Natalia menatap Nyonya Amber menjauh, tanpa sadar tangannya masih membelit di siku Luigi, pipinya masih menempel dan bersandar di lengan atas Luigi. Pikiran Natalia menerawang, teringat saat-saat damai yang ia rasakan ketika awal-awal ia datang ke tempat ini, sebelum kesenangan itu dihancurkan oleh gadis kembar Da Costa.
Luigi merasakan jantungnya berdebar dengan rasa senang yang sulit ia jelaskan. Natalia masih bersandar padanya. Padahal si kembar dan Nyonya Amber sudah berlalu. Ia tidak berani bergerak, bahkan mengatur napasnya sepelan mungkin. Seolah takut mematahkan mantra yang sedang melingkupi Natalia saat ini.
Luigi menatap ke arah puncak kepala Natalia, lalu perlahan kepala itu mendongak. Sepasang mata yang besar, jernih menatap ke arahnya.
Keduanya saling menatap lama, kilasan peristiwa berkelebat di pikiran keduanya tentang hubungan yang mereka jalani, hubungan yang dipaksakan, hubungan yang terjalin karena rencana busuk, hubungan yang dilalui dengan sikap dingin, kaku, tidak peduli ... bahkan dengan niat saling mengalahkan, menjatuhkan dan menyakiti.
Natalia berkedip ketika melihat kepala Luigi perlahan mendekat. Ia tidak mengelak, kepala Luigi terus mendekat, lalu bibir pria itu mendarat dengan sangat pelan di keningnya. Sebuah kecupan yang terasa di kulit keningnya namun menyentuh bahkan sampai ke dasar hatinya yang paling dalam. Membuat Natalia gemetar, merasa tubuhnya lemas, tak berdaya dan bisa-bisa diterbangkan oleh angin yang bertiup di pinggir danau. Natalia hanya bisa memejamkan mata, diam tak bergerak ketika lengan Luigi memeluknya erat.
"Aku meminta kesempatan, Nat ... Takdir membuat kita terikat satu sama lain. Aku sudah berusaha menolaknya. Dan aku tahu itu menyakiti kita berdua. Sekarang berikan aku kesempatan, seperti kesempatan yang ingin kau buka ketika datang ke apartemenku dan berusaha memperbaiki semuanya. Ketika kau dan aku membuka hati dan menjalaninya ... kita akan lihat ujungnya nanti. Jika kau membenciku dan tak bisa menjalaninya lagi, akan selalu ada jalan masing-masing. Begitu juga untukku ...."
Natalia merasakan bulir bening mengalir di pipinya. Ia berusaha agar jangan terisak.
"Mengapa? Apa karena bayi ini?"
"Itu adalah salah satu alasan penguat. Tapi aku ingin menerima keadaan dan mencoba berbahagia dengan hal itu. Seorang wanita yang begitu menyayangi ayah dan ibunya, melakukan segalanya untuk orang-orang yang ia sayangi, bayiku akan jadi bagian dari hidup wanita itu ... dan aku iri ... aku juga ingin ambil bagian dari hidupnya."
Natalia menangis tanpa suara. Air matanya makin deras ketika Luigi menyinggung kedua orang tuanya. Ia sungguh rindu pada ibu dan ayahnya saat ini.
"Perlu waktu bagiku melihat segalanya dari kacamata berbeda ... sekarang giliranku datang padamu ... kuharap kau ...." Luigi berhenti berbicara ketika merasakan cairan yang menetes di kulit lengannya. Ia tidak berkomentar, membiarkan Natalia menangis dalam diam. Sekali lagi ia mengecup rambut Natalia. Lalu menghembuskan napas panjang dan memandang langit yang cerah. Ia berharap ... suatu hari nanti, secerah itulah masa depan bagi hubungan mereka nanti.
NEXT >>>>
**********
From Author,
__ADS_1
Jangan lupa tekan Like, tekan love, rate bintang lima dan juga komentarnya ya. Sebagai vitamin penyemangat author. Yang punya poin dan koin, bantu author dengan vote ya. Author ucapin terima kasih banyak semuanya.
Salam hangat, DIANAZ.