Embrace Love

Embrace Love
Ch 160. Tell her


__ADS_3

Alric menarik sebuah kursi di depan meja dokter Luigi.


"Duduklah, Mary."


Mary mengangguk dan duduk dengan melipat tangannya di pangkuan. Matanya langsung menatap dokter Luigi yang duduk di hadapannya dengan senyum lebar. Mary menatap dokter itu hampir tidak berkedip.


"Dokter Luigi ...." panggil Alric, pria itu sudah duduk di sebelah Marylin dan melirik ke arah istrinya yang menatap dokter tampan di depannya.


"Ya, Tuan Lucca?"


"Lihatlah efek senyummu terhadap istriku. Dia memandangi mu terpesona. Aku cemburu sekali jadinya," ucap Alric.


Mary sangat terkejut, menoleh ke arah suaminya, lalu mulai merona.


"Aku tidak terpesona," ucap Mary. Merasa sangat malu di hadapan Luigi karena ucapan suaminya itu.


Dokter Luigi hanya tertawa, Alric juga tertawa.


"Bagaimana perasaanmu? Kuharap tidak ada keluhan berarti?"


Marylin hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku merasa baik-baik saja, Dok."


"Itu bagus. Ayo kita lihat bayinya." Luigi mempersilakan Mary naik ke atas ranjang periksa, lalu ia memulai persiapan untuk melakukan USG.


"Istri Anda ... bukankah sudah waktunya?" tanya Alric sambil menunggu doktek Luigi memulai.


"Ya. Hanya tinggal menunggu hari," ucap Luigi dengan nada gembira.


"Seorang putri," jelas Luigi lagi tanpa di minta.


"Ah ... Anda pasti senang sekali. "


Luigi hanya menjawab dengan anggukan. Lalu ketika pemeriksaan dimulai, ia menjelaskan kondisi bayi Marylin, sehat dan segala sesuatunya normal sesuai harapan. Namun Luigi menunggu mengatakan tentang jenis kelamin bayi Alric.


Setelah membantu Mary bangkit, dan kembali duduk di kursinya. Wajah penasaran Alric sudah tidak bisa disembunyikan. Luigi tersenyum lebar melihat wajah sang calon ayah.


"Dia akan jadi bayi yang cantik," ucap Luigi.


Senyum lebar Alric terbit. Ia menjentikkan jarinya. "Aku tahu perasaanku benar! Bayiku perempuan!"


Dokter Luigi tertawa kecil melihat nada antusias dalam suara Alric. Lalu ia melirik ke arah Mary yang hanya menyunggingkan senyum kecil melihat reaksi suaminya.


"Selamat, Mary, Alric."


"Terima kasih, Luigi. Kau juga, semoga Natalia mengalami persalinan yang lancar nantinya." Mary menatap tulus pada dokter itu. Ia sudah mendengar perihal pasangan suami istri yang awal hubungannya tidak berjalan baik, sama seperti hubungannya dengan Alric di awal. Namun sekarang, tampak sekali dokter itu bahagia.


Mary melirik ke arah Alric yang terus tersenyum sambil berbicara dengan dokter Luigi. Alric tampak bahagia, Mary pun merasakan hal yang sama. Tanpa sadar ia mengelus puncak perutnya sendiri yang membukit.


**********


Sore hari di Mansion Lucca, di kamar Mary yang sedang diubah jadi kamar bayi. Annete memandangi hasil akhir pemasangan wallpaper pada dinding di kamar itu. Matanya berbinar senang. Mary menyuruh Ann yang memilih warna dan gambar yang akan dipakai.


Ia berputar sambil tersenyum, membayangkan kehadiran cucu perempuannya yang akan segera menempati box bayi yang sudah ada di kamar itu.


Lalu bunyi langkah mendekat dan pintu yang di dorong terbuka membuat Ann menoleh. Mary berdiri di sana dengan senyum lebar.


"Aku tahu kau pasti ada di sini."


"Ada apa mencariku, Sayang?"


"Gray yang mencarimu, Ann. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan katanya."


"Oh, aku akan segera menemuinya." Annete mendekati pintu keluar, sedang kan Mary masuk ke dalam dan menatap ke arah dinding-dinding kamarnya yang sudah berubah.


"Ini cantik sekali," ucap Mary.


"Aku senang kau suka, Sayang. Terima kasih telah menyerahkan pemilihan warnanya padaku," ucap Annete sambil menarik pintu dan bersiap keluar. Annete mendengar Mary tertawa lalu sambil berjalan ke arah box bayi, Mary yang menatap dengan tatapan menerawang tanpa sadar berucap.


"Cucumu pasti akan suka, Ann. Kamarnya indah dan ceria."


Annete yang baru saja melangkah keluar tertegun, ia menoleh ke arah menantunya. Namun Mary terlihat biasa, wanita itu menunduk dan mengelus kasur bayi yang ada di dalam box. Memutuskan pura-pura tidak mendengar, Annete melanjutkan langkahnya pergi ke lantai bawah mencari Gray.


Aku harus bicara dengan Alric. Perasaanku entah kenapa ...


Annete menggelengkan kepalanya berulang kali. Mengusir pikiran buruk dan bayangan dalam otaknya membayangkan Mary akan menatap ke arahnya dengan sorot kecewa dan marah ... Ann berbohong, Alric berbohong ...


**********


Selesai makan malam, yang dirasakan kembali agak aneh menurut Alric dan Annete. Mary kembali memaksa Annete makan satu meja dengan mereka. Berceloteh riang seperti tidak terjadi apa-apa. Annete mencoba bersikap biasa, namun menjelang akhir makan malam, ia menatap Alric dan memberi kode lewat matanya. Mereka harus bicara.


Setelah mengobrol bersama, Alric dan Ann menunggu Mary undur diri beristirahat. Dengan alasan juga ingin beristirahat, Annete pamit dan berlalu kembali ke kamarnya, namun ia mengintip, melihat dan menunggu ketika Mary naik ke kamarnya di atas, dan Alric dengan sengaja masuk ke ruang kerjanya di lantai bawah dengan alasan ingin mengecek sesuatu.

__ADS_1


Setelah yakin Mary sudah berada di kamarnya. Annete pergi menemui Alric di ruang kerja putranya itu.


"Alric ... istrimu sedikit aneh. Ada yang berubah, kadang aku merasa ia memandangiku lama, tapi ketika kutanya ia hanya tersenyum dan menggeleng. Tidak mau menjawab."


"Ya. Kurasa kita harus mengatakannya padanya, Mom. Kita tidak dapat menyembunyikan ini terus. Sekarang emosi Mary sudah stabil. Ia juga terlihat amat menyayangimu. Jadi kurasa, kalau kau mengatakan padanya, ia akan bisa menerimanya dengan baik."


"Apa! Tidak, tidak, tidak. Bukan aku yang akan mengatakannya, Tapi kau, Anakku! Kau yang akan menceritakan padanya kenyataan sebenarnya. Juga alasan kenapa kita merahasiakannya."


"Mom ... ia akan lebih terbuka bila kau yang mengatakannya."


"Tidak. Aku akan sangat gugup. Itu tugasmu! Kau harus mengatakannya pada Mary malam ini. Lalu membujuknya, lalu melakukan semua yang perlu dilakukan agar ia tidak marah ... jangan sampai ia kembali tidak memercayai kita lagi, Alric."


Alric mengernyit, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bukan hanya ibunya yang gugup. ia juga akan gugup dan sedikit takut akan reaksi istrinya nanti.


"Aku takut reaksinya tidak bagus, Mom."


"Astaga ... aku juga. Tapi kita harus mengatakannya, Alric."


"Aku tahu ...."


"Malam ini. Katakan padanya!"


"Uh ... baiklah, Mom."


Setelah sepakat, keduanya berpisah. Ann kembali ke kamarnya dan Alric naik ke lantai atas, menuju kamarnya sambil berpikir keras, merangkai kata yang pas dan cocok untuk menyampaikan rahasia antara dirinya dan Annete pada Mary.


Alric masuk dan melihat Mary ada di atas ranjang dengan selimut menutup hingga ke bagian dada dan sebuah majalah terbentang di pangkuan. Istrinya itu bersandar di kepala ranjang lalu tersenyum melihat ia masuk.


"Pekerjaannya sudah selesai?"


"Ya ... sebenarnya tidak ada yang kukerjakan. Aku tadi hanya bicara sebentar dengan Annete." Alric melihat Mary yang sudah kembali menatap majalah dan membalik lembarannya. Ia masih berdiri dan menunggu reaksi Mary terhadap ucapannya.


Namun Mary hanya mengangkat wajah sebentar, menatapnya dan mengatakan 'oh' singkat sebelum kembali menunduk memperhatikan lembaran majalahnya lagi.


Alric memutuskan masuk ke kamar mandi, menyiapkan diri untuk tidur. Setelahnya ia masuk ke walk in closet dan mengganti pakaiannya hanya dengan jubah kamar.


Alric mendekat ke arah ranjang dan naik. Ia ikut bersandar di sebelah Mary. Mary menoleh ketika merasa lengan suaminya itu mulai melingkari pinggangnya. Ia hanya memberikan senyum samar dan kembali fokus ke majalah. Sambil mencari kata-kata untuk memulai pembicaraan tentang Annete, Alric mencium pangkal bahu istrinya yang polos, hanya tertutup tali gaun tidur satinnya, lalu pindah ke leher wanita itu.


"Apa yang begitu menarik di majalah itu? Aku sudah ada di sampingmu, dan kau tidak juga mau melepaskannya," bisik Alric sambil menggigiti telinga istrinya.


Mary terkikik geli. " Oh, hentikan itu!"


"Aku lihat dulu, siapa yang menelepon." Mary bangkit, memakai sandal kamarnya dan melangkah menuju sofa yang ada di kamar itu, ponselnya diletakkan di atas sofa.


Setelah melihat nama si penelepon, Mary tersenyum lebar dan segera menerima panggilan tersebut.


"Serge!" jeritnya di ponsel yang baru saja ia letakkan di telinga.


"Astaga, Sayangku! Kau mau membuat telingaku pecah ya!"


Setelah tertawa senang mendengar suara Serge Mary mulai melangkah mondar-mandir di dalam kamar sambil bercerita dengan ponsel di telinganya.


"Kapan kau pulang!?"


"Karena kau bilang pernikahannya di tunda, aku tidak jadi mengambil libur. Tapi sebentar lagi pekerjaan di sini memang akan segera selesai. Jadi aku akan pulang dan tentu saja akan pergi menemuimu. Aku mau lihat kau seperti apa sekarang."


"Memangnya aku akan terlihat seperti apa dalam bayanganmu?"


"Kau akan terlihat jelek sekali! Kemana-mana seperti membawa bola sebesar itu di balik pakaianmu." Serge terdengar terkekeh. Membuat Mary mengerutkan bibir.


"Meski begitu kau tetap ingin melihatku kan!? Kau rindu padaku."


Serge tertawa. " Tentu saja, Marylin. Aku tidak sabar bertemu kau dan Catalina. Aku senang dia sudah membaik ... katakan padanya aku minta maaf belum sempat pergi membesuk."


"Tak apa. Lina tahu pekerjaanmu banyak dan kau berada sangat jauh. Dia baik-baik saja sekarang."


Mary tidak menyadari bola mata suaminya yang bolak-balik mengikuti gerakannya yang mondar-mandir. Alric melihat tawa lebar, senyum cekikikan, gurauan yang di dengarnya dari pembicaraan Mary dengan Serge. Ia juga melirik bagian bawah gaun satin halus longgar dan nyaman untuk wanita hamil yang dipakai Mary bergerak berayun seiring langkah wanita itu. Gaun itu hanya disangkutkan di bahu oleh satu tali tipis dan kecil, karena perutnya yang membesar, bagian bawah dari rok gaun tampak agak terangkat mengikuti tinggi dari perut Mary.


Sambil menatap dan mendengarkan, Alric menunggu dengan sabar. Suasana hati Mary benar-benar tampak bagus setelah pembicaraan itu selesai.


Ponsel itu akhirnya lepas dan diletakkan di atas nakas. Kemudian Mary menoleh ke arah suaminya dengan wajah sumringah.


"Itu tadi Serge. Aku benar-benar merindukannya."


Alric hanya tersenyum, lalu ia mengusap wajah sambil mendesah berat.


"Ada apa?" tanya Mary sambil naik ke atas ranjang dan duduk menghadap Alric dengan kening berkerut.


"Kepalamu sakit lagi?"


"Tidak. Aku hanya agak sedih," ucap Alric, memasang tampang menyedihkan.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Tadi majalah ... Sekarang Serge ...."


Mary tertawa. " Kau merasa diabaikan ya?"


" Sedikit ... Kemarilah," Alric mengulurkan tangan, menarik Mary dan mengatur posisi agar Mary bersandar di dadanya.


"Kau tahu ... Serge bilang aku seperti membawa bola besar kemana-mana di balik bajuku," ucap Mary sambil tertawa.


"Tapi tetap saja tampak menggoda ... berjalan hilir mudik dengan gaun pendek yang ujungnya sedikit terangkat karena ini ...." Alric mengelus perut Mary. "Rambut terurai, bibir penuh senyum ... kau tampak sexi ...."


Mary mencubit lengan Alric yang melingkar di perutnya. "Kau mulai merayu," ucapnya penuh tawa.


"Ya." Lalu dengan satu tangan, Alric menarik dagu istrinya agar menoleh dan ia bisa menciumnya. Ciuman lembut dan mesra serta lama. Setelah tautan bibir itu lepas dan mata mereka saling memandang dengan tatapan berbinar, Alric memutuskan memulai pembicaraan.


"Mary ... ada sesuatu yang mau kukatakan."


"Hm? Ada apa?"


"Berjanji dulu padaku ... kau boleh marah padaku, tapi jangan menyalahkan Annete, ia punya alasan bagus kenapa melakukannya."


Mary hanya diam. Ia sudah tahu, namun menunggu Alric atau Annete mengatakan padanya secara jujur.


"Annete sebenarnya bukan pegawaiku. Dia sama sekali tidak bekerja di mansion ini. Dia berbohong waktu itu di Mansion Cougar ketika mengatakan dia bekerja di sana. Dia mengatakannya agar kau memperbolehkan ia tetap ada di dekatmu, agar ia boleh ada di sisimu. Kau mengalami hal mengerikan karena aku, dan dia merasa ikut bertanggung jawab ... dia ...."


Alric berhenti, ia menunduk, melihat Mary yang sudah sepenuhnya menoleh dan melihat ke arahnya.


"Dia ... dia kenapa Alric? Ann?"


"Sebenarnya ... Annete adalah ...." Alric kembali berhenti, menelan ludah untuk melancarkan tenggorokannya.


"Ibumu?"


Alric terpana, menatap Mary terkejut.


"Kau tahu?"


Mary mengangguk. " Aku mendengarmu memanggilnya, Mom. Lalu beberapa hari setelahnya, aku mulai melihat Annete dan seluruh caranya bersikap. Gray bersikap sangat sopan dan mengikuti semua arahannya. Lalu aku mengingat kembali semuanya sejak awal pertemuan kami. Cara Jacob bersikap pada Annete saat di Mansion Cougar. Juga cara seluruh pelayan bersikap padanya ... ceritakan padaku, Alric. Semuanya ...."


Alric menelisik ke tiap sudut wajah istrinya itu. Tidak ia temukan rasa marah atau kekecewaan. Dengan senyum lega akhirnya ia menceritakan semuanya dari awal.


"Kau memaafkan Mom bukan? Aku juga ... maafkan aku," bisik Alric di telinga Mary yang bersandar kembali di dadanya dengan nyaman.


"Ann melakukannya untukku, Alric. Apa yang kukeluhkan? Dia menyayangiku, aku merasakannya tanpa perlu ia mengatakannya. Aku hanya menyesalkan kau tidak memberitahuku lebih awal. Aku tidak sopan hanya memanggilnya Ann ...kau juga sampai memanggil namanya saja ... padahal ia ibumu ...."


Alric mencium pelipis Mary. " Kita akan menemuinya besok pagi dan minta maaf."


Mary mengangguk.


"Dia khawatir sekali. Takut kau marah dan kecewa padanya."


Mary menggelengkan kepalanya. " Mana mungkin aku kecewa. Aku mendapatkan seorang ibu, yang menyayangiku dan merawatku ... juga menerimaku sebagaimana adanya diriku ... aku beruntung." Suara Mary terdengar tercekat.


"Shhh ... jangan mulai menangis sekarang, Sayang. Aku juga beruntung ... terima kasih sudah mau memaafkan aku dan mau mencintaiku."


Mary berbalik menghadap Alric. Membenamkan wajahnya ke jubah suaminya dan memejamkan mata. "Kau mencintaiku?"


"Ya, Aku mencintaimu. Jangan ragukan itu sedetik pun."


"Mmm ... sudah menyiapkan nama untuk putrimu?"


Alric tersenyum lebar. Mengeratkan rengkuhan kedua lengannya.


"Tentu saja." Alric mendekatkan bibirnya ke telinga Mary. "Valencia Ynes ...."


"Valencia Ynes Lucca ...." bisik Mary.


" Hu um ... Val akan jadi gadis yang kuat, juga teguh ... kurasa ia juga akan cantik seperti ibunya ...."


NEXT >>>>>


**********


From Author,


Chapter-chapter menjelang akhir. Mohon maaf up tidak tentu ya semua ... menyesuaikan dengan waktu luang untuk thor menulis. Jangan lupa klik likenya, juga love dan kasi rate bintang lima. Beri komentar kalian juga ya, serta vote jika berkenan.


Atas dukungan Readers sekalian, Author ucapkan terima kasih banyak. Sukses selalu untuk kalian semua. Luv you ....


Salam hangat, DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2