
Claude menaiki undakan tangga pondok diikuti Catalina di belakangnya, lalu ia mendorong pintu pondok berburu yang ternyata masih berdiri kokoh di dalam hutan tersebut. Keadaan sekelilingnya yang gelap membuatnya melangkah pelan menuju sebuah rak di sudut pondok. Pondok tersebut hanya punya satu ruangan yang cukup besar, digunakan sebagai tempat beristirahat bila musim berburu tiba.
Air hujan menetes dari pakaian Claude ke atas lantai kayu. Catalina tidak bergerak, ia tidak mau membuat semua lantai basah dengan ikut masuk ke dalam. Ia hanya berdiri di dekat pintu.
Claude menemukan apa yang ia cari. Sebuah lampu badai dan sebuah pemantik api.
"Syukurlah ... kita tidak akan bergelap-gelap malam ini," ucapnya.
Cahaya kekuningan berpendar di dalam pondok. Catalina menatap ke arah rak-rak yang tersusun berbagai macam barang di sisi kiri, lalu sebuah perapian di sisi kanan dengan tumpukan kayu di sudut kanan.
Claude meletakkan lampu ke sebuah meja kecil yang ada di sudut kiri. Ia memeriksa setiap rak dan mengeluarkan beberapa selimut, lalu mendekati Catalina.
"Catty ... tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Sesuatu membuat Vincent terhalangi dan aku sangat yakin dia tidak melakukannya dengan sengaja. Kita akan mencari jalan kembali setelah matahari terbit besok."
Claude ingin sekali menarik gadis yang sudah gemetar itu masuk, tapi Catalina harus mengatasi rasa enggannya. Ia harus tahu mereka terpaksa menginap di sini.
"Jadi ... kita akan menginap, Claude?" tanyanya serak.
Claude mengangguk. "Ya, Cat. Maafkan aku. Akan sangat berbahaya bila kita memaksa kembali malam ini. Kau lihat di luar sana? Sudah benar-benar gelap dan masih hujan." Claude menunjuk ke arah pintu yang masih terbuka. Catalina menoleh ke arah luar, dan keadaan sekitarnya memang sudah benar-benar gelap, jika tadi masih ada sedikit cahaya senja, kini sudah ditelan oleh kegelapan sepenuhnya.
Hawa dingin berhembus ke dalam pondok, membuat Catalina menggigil.
"Cat ... kumohon, kita harus menutup pintunya. Kau kedinginan. Keringkan pakaianmu, gunakan selimut ini. Aku akan segera menghidupkan perapian." Claude mengulurkan sebuah selimut yang diambil oleh Catalina. Setelahnya Catalina hanya menatap setiap gerakan yang dilakukan pria itu dalam keremangan cahaya kekuningan. Claude menutup pintu, menguncinya, lalu beralih ke sudut ruangan dan memunggungi Catalina.
Pria itu membuka pakaiannya bagian atas, pemandangan otot-otot punggung laki-laki itu memaku mata Catalina, membuatnya menahan napas memandang ketika Claude mengeringkan kaos yang ia pakai dengan memilinnya, membuat otot-otot itu bergerak dalam pendar cahaya kekuningan, air mengalir di sela lantai kayu, lalu laki-laki itu melemparkan pakaiannya itu di sudut lantai. Kemudian pemandangan punggung itu tertutupi oleh selimut yang Claude kembangkan ke bahunya, pria itu lalu menunduk, dari gerakannya Catalina tahu ... Claude sedang melepaskan pakaiannya bagian bawah.
Catalina menjadi panik. Ia berbalik memunggungi Claude dan makin menggigil gemetar.
__ADS_1
"Catty?" Nada tanya yang diselipi heran di suara itu membuat Catalina menelan ludah. Ia berdeham sebelum menjawab dengan suara pelan.
"Ya ...," ucapnya.
"Kenapa kau belum melepaskan pakaian basah itu. Paru-parumu bisa terkena radang! Gunakan selimut itu Cat! Kita bisa menjemurnya di dalam pondok, mudah mudahan besok bisa kita kenakan kembali walaupun masih lembab," jelas Claude.
Catalina yang masih diam dan memunggunginya membuat Claude mengerutkan kening, ia melangkah pelan menghampiri gadis itu.
Claude memegang bahu Catalina lalu membalikkan tubuh gadis itu agar menghadapnya.
Mata Claude menatap ke mata biru Catalina yang terlihat takut.
"Cat ... aku berjanji, kita akan aman di sini. Aku juga berjanji tidak akan melakukan apapun! Kita hanya akan menginap di sini sampai pagi menjelang. Kau harus melepaskan pakaianmu, tutupi tubuhmu dengan selimut itu, Catty. Kau bisa sakit ... ingat, Leonard menunggumu." Claude mengatur suaranya selembut mungkin, ia melihat ketika gadis itu menelan ludah dan menjawab.
"Ba ... baiklah, tapi ... kau mesti berbalik," ucap Catalina. Ia melirik ke arah selimut yang Claude lilitkan ke pinggangnya, bagian atas tubuh laki-laki itu tidak tertutupi.
Catalina bergerak cepat sambil tetap mengawasi Claude dengan matanya. Ia melepas blus dan kamisol tipis yang ia kenakan, kemudian memerasnya hingga air yang terserap di sana berkurang. Setelahnya ia mengambil selimut, melingkupi seluruh tubuhnya dan mulai berbalik, Catalina melepas sepatu kets dan melemparkan ke sudut, kemudian melorotkan celana jeansnya.
Ia meraba ke arah pakaian dalamnya yang juga terasa basah. Tapi Catalina tidak mau membukanya.
Biarkan saja, akan terasa dingin mengenakannya, tapi apa boleh buat. Bisiknya di dalam hati.
Setelah memeras seluruh pakaiannya, Catalina meletakkan pakaian itu di lantai. Ia menjepit selimut di depan dada, menutup seluruh tubuhnya sampai ke ujung kaki. Bibirnya gemetar, api yang dibuat Claude di perapian tampak sangat menggoda, akan sangat nyaman duduk di sana dan menghangatkan diri.
"Dimana aku bisa menggantung pakaianku, Claude?"
Pertanyaan Catalina membuat Claude baru berani menoleh. Ia menatap gadis itu dalam balutan selimut. Claude mengatur satu selimut flanel lagi di lantai kayu pondok, lalu berucap pada gadis itu.
__ADS_1
"Duduklah di sini, hangatkan badanmu. Kau menggigil, biarkan aku mengurus pakaian kita." Claude berdiri menjauh, sengaja agar Catalina mau mendekat.
Ia mengambil sebuah tali di rak, lalu mengikatnya dari satu sisi dinding ke sisi lainnya kemudian mulai menghamparkan pakaian mereka di tali satu persatu. Air yang menitik terlihat mengalir melewati sela-sela lantai papan pondok sebelum akhirnya jatuh ke tanah di bawah sana.
Catalina duduk dengan menekuk kedua lututnya, ia memegang selimut yang melingkupinya dengan sangat erat, seolah takut selimut itu melorot atau terlepas. Matanya memandang ke arah perapian, lidah api yang menari-nari memberikan kehangatan yang mulai menyebar ke tubuh Catalina.
Claude melirik, tubuh itu tidak lagi gemetar seperti tadi, ia bersyukur Catalina menurutinya, ingin sekali Claude memeluk gadis itu ketika melihat bibir dan tubuh Catalina bergetar menahan dingin. Namun ia tahu, Cat akan bertambah takut, jadi ia cepat-cepat membuat api ... berharap api itu yang bisa membuat gadis itu hangat.
Claude duduk di dekat rak, membuka selimutnya sendiri dan melingkupi tubuhnya dengan selimut itu. Cara paling baik menjaga perasaan gadis itu agar merasa nyaman. Berada di hutan ini sudah membuat Catalina ketakutan, Claude tidak mau menambahnya dengan ketidaknyamanan karena kehadirannya, karenanya, ia duduk jauh dari perapian dan gadis itu.
"Claude?" nada bertanya dari suara Catalina memasuki pendengarannya.
"Ya?" jawabnya pendek.
"Kenapa kau malah duduk di sana. Duduklah di sini, agar kau bisa merasa hangat." Ucapan Catalina membuat Claude mendongak, ia menatap ke arah mata Catalina yang tertutupi bayang-bayang, lalu beralih menatap pada lidah api yang menggodanya dengan kehangatan yang pasti diberikannya bila ia mendekat.
N E X T >>>
**********
From Author,
Jangan kezellll ya ....ngadat nih, chapter selanjutnya thor sambung dehπππ
Claude ... You're so gentleπππ
Terimakasih semua.
__ADS_1
Salam, DIANAZ.