
"Aku tahu pengendara mobil hitam itu sengaja. Aku melihat dengan jelas mobil itu melaju kencang dan melewati mobil kita, lalu melaju ke arah Catalina yang berdiri di pinggir jalan." Claude mengetatkan gerahamnya menahan rasa geram. Ia berjalan bolak-balik di ruang tunggu rumah sakit seperti hewan yang terperangkap.
Yoana yang sejak tadi mengajaknya duduk di sofa tidak digubris. Yoana menyerah setelah menyadari kalau adiknya itu butuh bergerak agar dapat menahan rasa marahnya. Lewat lirikan matanya Yoana melihat kalau Catalina sedang menoleh dan melihat mereka dengan tatapan heran melalui kaca.
"Claude ... aku tahu kau marah. Dan aku tahu Catalina tidak dapat mendengar apa yang kita katakan dari dalam sana. Tapi ia melihat gerakanmu yang gusar, jangan buat ia khawatir dan akhirnya bertanya-tanya." Yoana berusaha membujuk adiknya itu.
"Dia sudah dikurung. Hanya saja Blaird menunggu keputusan kita. Mau kau apakan wanita itu? Membiarkannya menjalani proses hukum seperti yang seharusnya, atau ... terserah padamu." Vincent sengaja tidak melanjutkan ucapannya. Membiarkan Claude meramu sendiri apa yang akan ia lakukan untuk membalas perbuatan Tania Sweyn.
"Apapun itu ... yang terlintas di otakmu ... jangan dibicarakan di sini." Vincent melirik pada Yoana. Claude tahu Vincent benar. Ia harus menahan mulutnya agar tidak mengatakan kalau ia akan mencekik Tania sampai kehabisan napas, atau menembak kepala wanita itu atau melemparkannya ke laut lepas setelah tubuh wanita itu dipasangi pemberat. Hal itu akan sangat memuaskan hasratnya untuk balas dendam.
Setelah melirik ke arah kaca dan tahu kalau Catty masih melihat ke arah mereka, Claude memutuskan untuk duduk di samping Yoana yang sudah lebih dulu bersandar di sana dengan wajah mengkerut.
"Wanita itu ... tidak cukup rupanya dengan kata-kata ... seharusnya kita memperingatkannya dengan ancaman yang lebih keras. Mengambil alih tempat tinggal dan mengancam dia dan ibunya tinggal di jalanan mungkin. Kurasa hal itu bisa membuat Tania yang biasa hidup nyaman berpikir ulang untuk mengganggu Catalina, Tania yang nekat .... " Yoana mendesah berat. Teringat saat Catalina juga dirawat karena Rodrigo dulu.
"Lina yang malang. Datang ke keluarga Bernard, lalu mengalami hal buruk silih berganti. Diculik olehku, dilempar ke gudang olehmu, Claude. Kemudian diculik Rodrigo untuk ditukarkan denganku. Dipukuli sampai patah kaki dan tidak sadarkan diri ... lalu ini ... sengaja ditabrak ... hampir saja nyawanya melayang, oleh mantan kekasih yang sudah gila ...." Yoana meracau sambil menyandarkan kepalanya di sofa, ia memandang langit-langit dengan mata menerawang.
"Apa kita membuat hidupnya jadi sial, ia sengsara ...." bisik Yoana tanpa sadar.
"Tidak. Jangan katakan itu, Yoan. Catty akan baik-baik saja setelah ini. Aku akan memastikannya. Aku akan menjaganya sendiri setelah ini. Jangan katakan kalau aku tidak layak sama sekali hidup bersamanya. Aku tidak mau melepasnya, Yoan!"
Yoana langsung duduk tegak mendengar perkataan Claude yang penuh emosi.
"Claude ... aku tidak mengatakan kalau kau tidak layak. Maafkan aku. Aku hanya asal bicara karena terkenang apa yang terjadi pada Lina sejak ia bersama kita. Aku tahu kau akan menjaganya lebih baik lagi setelah ini. Dia akan baik-baik saja."
Senyum Yoana membuat Claude menelan ludah. Dalam hati ia tahu, apa sebenarnya yang sudah keluarga Bernard berikan pada Catalina selain kesulitan dan rasa sakit?
Claude mengusap wajahnya. Sudah banyak yang Catty lakukan untuk keluarga Bernard, dan sejauh ini, yang ia dapat hanyalah keluar masuk rumah sakit.
"Aku ingin bertemu wanita gila itu!" seru Claude.
"Kapan? Cattymu akan bertanya bila kau tidak ada." sahut Yoana.
"Kau hanya bisa pergi ketika ia tidur, Claude. Ia akan bertanya kenapa kita tampak gusar tadi. Hindari memberitahunya." Vincent memberikan saran yang mendapat anggukan setuju dari Claude.
"Aku tahu ... Aku juga tidak ingin ia tahu. Sudah banyak yang ia khawatirkan. Ia bertanya mana Leon, ia khawatir karena rambutnya, ia juga bosan terus berada di tempat tidur."
"Karena itu jangan pergi dari sisinya, Claude. Tania Sweyn bisa menunggu. Dia tak layak dipikirkan saat ini. Biarkan ia cemas setengah mati menunggu apa yang akan kau lakukan padanya." Tania menepuk punggung tangan adiknya.
Claude hanya mengangguk, sekali lagi melirik ke arah kamar di balik kaca. Kali ini Catty tidak melihat mereka lagi. Gadis itu berbaring telentang dengan kepala menghadap ke atas, tidak lagi menoleh. Claude tahu Catty pasti sudah kembali tertidur.
**********
Siang menjelang dan langkah kaki memasuki ruang tunggu khusus kamar perawatan Catalina membuat Claude duduk tegak di kursinya. Ia sudah hapal dengan suara khas langkah kaki yang setiap siang selalu datang menjenguk Cattynya itu.
Pintu kaca terbuka, Claude sengaja tidak menoleh. Kali ini ia berkata pada dirinya sendiri kalau ia tidak akan pergi jika dokter ini mengusirnya lagi.
Catalina menoleh dari atas ranjang, tersenyum sangat manis pada orang yang datang. Claude menatap datar pada kekasihnya itu. Senyum semanis itu akan membuat dokter itu sangat senang, pikir Claude masam.
"Halo, Catalina. Apa kabarmu?"
"Halo, Luigi. Aku merasa lebih baik."
__ADS_1
Luigi berjalan mendekat. Melewati kursi Claude dan menempatkan dirinya di kaki tempat tidur. Claude menyadari dokter itu tidak menyapanya.
Baiklah. Aku juga tidak akan menyapamu.
"Apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Luigi, tangannya bersedekap di depan dada. Dengan geli Luigi menyadari Claude hanya memandang pada Catalina dan menganggap dirinya tidak ada.
"Aku sedikit bosan. Aku ingin segera keluar dari sini."
"Well ... jangan gegabah dulu. Ikuti anjuran dokter Bryan. Kau pulang ketika dokter Bryan bilang begitu. "
"Baiklah." Catalina hanya tersenyum. Lalu matanya melirik Claude yang terus menatapnya.
Luigi tertawa kecil melihat pasangan yang saling menatap itu. " Apa kau tidak bisa keluar sebentar selagi aku memeriksa Catalina, Tuan Bernard?" pancing Luigi.
Claude menoleh dengan sangat perlahan, memandang Luigi dari kursinya dengan mata agak menyipit.
"Tidak. Periksa saja kalau kau mau periksa. Aku akan tetap di sini."
Luigi menaikkan kedua alisnya. Catalina tersenyum dan menggapai tangan Claude. Claude balas menggenggam jemari gadis itu.
"Natalia menanyakanmu," ucap Luigi sambil melangkah mendekati meja monitor yang terhubung ke tubuh Catalina. Sangat menyadari sepasang mata Claude yang mengawasi dengan tatapan tajam setiap gerakannya.
"Oh! Apa katanya?" tanya Catalina antusias.
Luigi terlihat puas melihat angka-angka yang tertera di sana dan gambaran gelombang yang ditunjukkan oleh layar monitor.
"Ia bertanya apakah kau hanya boleh makan makanan khusus."
"Kenapa Natalia menanyakan itu?"
"Ya ampun. Ia tidak perlu repot."
Wajah Luigi tampak berbinar ketika membicarakan tentang istrinya itu. " Natalia tidak merasa repot. Hari ini hari terakhir aku mengizinkannya mengantarkan makan siang untukku. Kehamilannya sudah sembilan bulan, aku tidak mau ia masih berkeliaran kemana-mana sendiri. Jadi ia sekalian akan kemari ... menjenguk mu. Kau tidak keberatankan menemuinya?"
"Tentu saja! Aku senang ia kemari. Aku mau lihat kehamilannya yang membesar. Terakhir aku bertemu dengannya, perutnya masih begini," ucap Catalina sambil menggerakkan tangannya yang tidak dipegang Claude ke atas perutnya yang datar. Pandangan mata Claude beralih dari Luigi ke arah perut Catalina karena gerakan itu. Claude jadi memikirkan tentang bayi ... bagaimana jika di perut Cattynya ada bayi? Bayi Claude Bernard tentu saja ...
Ya Tuhan ... izinkan aku menikahinya, punya anak-anak yang lucu dan cantik seperti ibunya....Claude berdoa dalam hati.
Luigi melirik wajah Claude yang terpaku di perut Catalina yang berada di bawah selimut, senyum kecil terbit di bibirnya.
"Sekarang perutnya sudah besar, Lina. Tinggal menanti hari kelahiran," ucap Luigi bangga.
"Oh, aku ikut senang, Luigi. Semoga bayinya dan Nat selalu sehat ya," ucap Catalina.
Luigi mengangguk. Salah satu sifat Lina yang ia kagumi. Ia tak lupa mendoakan orang lain sehat walau ia sendiri tengah berbaring di ranjang rumah sakit. Bibir itu sudah biasa mengucapkan doa dan hal baik. Jadi dimana pun dan dalam keadaan apa saja, hanya doa dan hal positif yang keluar dari mulut Catalina. Luigi hampir tidak pernah mendengar gadis itu mengeluh.
Claude pun menyadari hal itu. Dengan tatapan hangat, ia mengangkat tangan Catalina yang berada dalam genggamannya dan mengecup punggung tangan gadis itu. Catalina jadi menoleh dan mengangkat alis bertanya. Namun Claude hanya memberikan senyumnya sebagai jawaban untuk pertanyaan tak terucap dari gadis itu.
Ponsel di kantong Luigi berbunyi, ia melihat nama Stefany sekretarisnya dan segera mengangkat.
"Ya?"
__ADS_1
Terdengar jawaban dari sekretarisnya.
"Dia sudah tiba? Oke. Bilang padanya tetap di sana. Aku akan jemput."
Setelah mengatakan perintah itu, Luigi menutup ponsel. Ia menatap Catalina dengan senyum lebar.
"Natalia sudah datang. Aku akan mengajaknya kemari. Tidak apa-apa kan?"
Catalina mengangguk cepat. Luigi langsung pamit dan berlalu untuk menjemput istrinya yang sudah menunggu di ruang kerjanya.
"Tak kusangka mereka tengah menunggu kelahiran anak pertama," ucap Claude setelah Luigi berlalu.
"Ya. Dan Luigi tampak bahagia. Dia mencintai istrinya, Claude. Dia menantikan bayi mungilnya yang cantik lahir ke dunia. Jadi bagaimana mungkin dia tidak terlihat penuh semangat dan energi. Dokter Luigi bahagia ... lahir batin. Jadi buang rasa cemburumu terhadapnya. Aku hanya teman baik baginya sekarang, Claude." Catalina mengakhiri ucapannya dengan tawa kecil.
"Aku tidak cemburu!" bantah Claude.
"Oh ya? Kau terlihat siap mengajak dokter Luigi berkelahi jika tadi ia tetap mengusirmu dari sini."
Claude mencibirkan bibirnya." Sayang sekali ia tidak melakukannya."
Catalina kembali tertawa. " Kau menatap tajam, mengawasi setiap gerakannya lewat ekor matamu. Memangnya kau pikir apa yang akan Luigi lakukan padaku?"
"Kau mungkin sudah lupa Catty ... pria itu pernah memaksa untuk menciummu."
"Itu masa lalu, Claude. Ketika hatinya belum terbuka dan melihat Natalia Ambroz dengan cara yang benar. Tapi sekarang kau lihat sendiri. Kalau perlu kau jangan pergi ketika nanti Natalia kemari. Kita akan melihat bersama-sama, bagaimana sayangnya Luigi pada istrinya itu. Setiap masuk kemari, tidak ada cerita lain yang Luigi ucapkan selain tentang istri dan bayinya."
"Syukurlah kalau begitu. Hilang satu yang perlu ku khawatirkan."
"Kau tidak perlu merasa khawatir sama sekali, Claude. Karena hatiku hanya mencintaimu. Tidak ada yang membuatku merasakan seperti perasaan yang kurasakan terhadapmu ...." Catalina menarik tangan mereka yang saling menggenggam dan meletakkannya ke dada.
Claude tiba-tiba bangkit, ia menunduk di atas tubuh Catalina, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.
"Aku sepertinya terlalu sering menciummu di ranjang rumah sakit. Kita harus mengubah kebiasaan ini, Catty .... " Lalu Claude menyatukan bibirnya, mencium Catalina di atas ranjang rumah sakit, dengan satu tangan saling menggenggam, dan tangan satu lagi berada di rahang gadis itu. menahan kepala Catalina dengan lembut, agar bibirnya dengan bebas menjelajah, mencecap dan memperdalam ciuman.
Waktu berlalu tanpa Claude bermaksud menyudahi ciuman itu. Sampai akhirnya suara berdeham memasuki pendengarannya, juga suara tawa lembut.
"Maaf ... permisi ... kau cepat juga, Claude Bernard. Sedetik aku keluar, secepat kilat pula kau melakukan aksimu. Sayang sekali ... kami harus menganggumu."
Perlahan dan dengan sengaja sangat pelan seolah enggan, Claude mengangkat wajahnya dari wajah Catalina, ia memiringkan kepalanya sedikit dan melihat Luigi yang menggandeng Natalia sambil menggelengkan kepala dan mendengar suara tawa Natalia yang menatap mereka dengan mata berbinar.
NEXT >>>>
***********
From Author,
Claude ... sering banget diganggu yah😂😂
Waktu dulu di rumah sakit saat kaki Catty patah, perawat yang datang , trus waktu di mansion Bernard, vincent yang ganggu. Sekarang Nat, Luigi yang menyela. Wkwkwkkw,
Jangan lupa dukung author dengan klik like, love, bintang lima dan komentar ya semua. Yang punya koin dan poin bantu author dengan kasih vote ya, seiklasnya🤗🤗🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih banyak ya. Luv you....
Salam hangat, DIANAZ.