Embrace Love

Embrace Love
CH 89. Meet Natalia


__ADS_3

Natalia baru saja keluar dari ruangan periksa seorang dokter kandungan. Sebuah dugaan yang telah bergelayut di pikirannya selama beberapa minggu, namun tidak juga mau ia gubris. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu tidak mungkin.


Merasa lemas, Natalia melihat sebuah kursi panjang di lorong rumah sakit yang dilewatinya. Ia duduk dan termenung, tidak menyadari keadaan sekelilingnya.


Perlahan Natalia mengangkat secarik gambar yang tadi dokternya berikan. Seorang calon bayi sudah tumbuh di rahimnya. Janin yang tumbuh karena rencana nekat yang ia lakukan untuk menyelamatkan perusahaan ayahnya.


Natalia tidak merasakan gejala mual dan muntah yang kadang dirasakan oleh ibu yang sedang hamil. Karena itu, ketika sudah dua kali masa menstruasinya lewat, ia tidak merasa khawatir. Tidak mungkin penyatuan satu malam itu langsung membuatnya hamil, walaupun saat itu Luigi melakukan sebanyak tiga kali. Namun ini adalah kali ketiga menstruasinya tidak juga datang. Pikiran bahwa mungkin saja ia sudah hamil karena perbuatannya dengan Luigi malam itu membuat Natalia membuat janji dengan seorang dokter kandungan. Ia ingin langsung memastikan.


Sang dokter mengkonfirmasi kehamilannya yang memasuki usia 12 minggu. Natalia tidak menyadari air matanya mengalir, kabar ini akan membuat ayah dan ibunya sangat sedih. Kehidupan pernikahan Natalia yang dingin sudah membuat kedua orang tuanya terpukul, merasa bersalah karena Natalia melakukannnya demi perusahaan dan kini ... kehadiran seorang bayi akan membuat keadaan semakin runyam.


Natalia tertawa kecil sambil menghapus air mata. Dulu ia bertekad melakukan segalanya agar bisa membantu keadaan ayahnya, termasuk mengejar pria yang ia anggap kaya sebagai sumber pendapatan dan uang. Tidak berhasil dengan Claude, ia mengejar Luigi. Tahu Luigi tidak akan mau meliriknya, ia menggunakan hubungan baik kedua orang tuanya agar bisa mendekat dan memerangkap Luigi.


Tuan Stefano dan Nyonya Esmeralda akhirnya benar-benar menyambut rencana untuk menjadikannya sebagai menantu. Setelah dicalonkan sebagai tunangan Luigi, Natalia sudah berusaha bersikap manis dan mendekati Luigi. Namun hati pria itu sudah tertambat pada gadis lain.


Dulu Natalia merasa tidak masalah jika pria itu bersikap dingin dan ketus. Ia membalas dengan lebih ketus, merasa menang dapat menghancurkan mimpi Luigi untuk hidup bahagia dengan orang yang ia inginkan. Natalia memerangkapnya sedemikian rupa dalam pernikahan, berniat membuat hidup Luigi seperti dalam neraka.


Natalia menertawakan dirinya sendiri. Ia lupa jika bermain dalam perangkap yang ia sebut pernikahan itu melibatkan dua orang. Luigi dan juga dirinya sendiri. Sedikit demi sedikit, hatinya menjadi mati.


Menyibukkan diri dengan berbagai pekerjaan tidak membuat Natalia lupa pada pria yang tidak peduli pada apapun selain pekerjaannya dan rumah sakit. Keinginannya untuk hidup bersama dan membuat Luigi membayar atas sikap-sikap kasarnya selama ini langsung surut. Sorot mata Luigi setelah pernikahan seolah mampu membuat beku, cukup dengan sekali lirik pria itu memberitahu agar siapapun jangan mendekat. Orang tuanya sudah kehabisan kata-kata. Seolah Luigi mengatakan, ia sudah menurut, dan itu untuk terakhir kalinya.


Pria itu membiarkan Natalia tinggal dimanapun tempat yang ia suka. Tapi memberi peringatan keras jangan pernah mendekati apartemen maupun hidupnya lagi. Natalia meremas gambar USG yang ia pegang. Sepenuhnya ia sudah membuat pria itu hancur. Memberinya pukulan telak dengan tidak lagi bisa menghindar untuk menikahi Natalia.


Lalu kenapa saat ini ia merasa sangat hampa. Sejak pernikahan, tuan Stefano membantu ayahnya sesuai janji. Nyonya Esmeralda juga menerimanya sepenuh hati walaupun merasa sedih karena putra satu-satunya tidak pernah pulang dan selalu menghindari kedua orang tuanya.


Pikiran Natalia selalu kembali pada mata dingin yang dilihatnya saat pernikahan. Terakhir kali ia melihat Luigi secara langsung.


"Nona Ambroz?"


Panggilan itu membuat Natalia mendongak. Terkejut, ia mendapati Catalina sudah berdiri di depannya.


"Ah, maafkan aku. Bukan Nona Ambroz, tapi Nyonya Stefano." Catalina tersenyum, lalu mengulurkan tisu yang sedari tadi sudah ia keluarkan dari dalam tasnya ketika melihat sosok Natalia yang menangis sendirian di lorong itu.


Natalia mengambil tisu, lalu menghapus pipinya sambil menunduk. Tidak mengucapkan sepatah katapun.


Catalina mengambil inisiatif duduk di sebelah Natalia.


"Apakah kau sakit, Natalia? ummm .... maaf, boleh aku memanggilmu begitu?"


Catalina menatap wanita itu dari atas sampai ke bawah. Natalia tampak lelah, sedikit kurus dari terakhir kali mereka bertemu.


"Apa Luigi bersamamu?" tanya Catalina. Ia menatap lagi ke arah kiri dan kanan lorong. Mencari sosok Luigi.

__ADS_1


"Dia tidak ada dan aku tidak tahu dia ada dimana ...." nada pahit dalam suara itu membuat Catalina menatap Natalia, mencoba menilai ekspresi wanita itu.


"Dia mencintaimu, bukan? Gadis yang selalu ada di dalam hati Luigi ...." Natalia tertawa hambar.


"Dulu aku tidak peduli ... dan sekarang ... sekarang persetan dengan laki-laki itu!" Natalia kembali menangis tersedu. Catalina mengambil tisu lagi dan memberikannya pada Natalia, lalu matanya melihat gambar yang digenggam oleh tangan Natalia.


"Natalia ... ini ...." Catalina memegang tangan wanita itu dengan satu tangan dan tangan lainnya membuka jari-jari Natalia yang meremas lembaran foto yang Catalina sadari adalah foto USG.


"Ya Tuhan, selamat Nyonya Stefano ... kau hamil ... Apakah suamimu sudah tahu?"


Seketika Natalia menggeleng. Ia merampas lagi gambar USG yang dipegang Catalina.


"Itu bukan urusanmu, Nona Seymor!" Natalia terisak dan menutup kedua matanya dengan tisu.


Catalina tersenyum, wanita ini terlihat sangat sedih. Apakah perlakuan suaminya yang membuatnya jadi seperti ini?


"Apa Luigi yang membuatmu jadi sesedih ini?"


"Pergilah ...," ucap Natalia.


"Anakmu layak mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya secara utuh Nyonya Luigi ... karena itu, sudahkah kau berusaha untuk calon bayimu? Atau kau menerima saja semua keputusan Luigi? Hidup berjauhan dan menahan langkahmu sesuai perintah pria itu agar jangan mendekat," Catalina tertawa kecil.


"Maaf, aku tidak bermaksud ikut campur. Yoana menceritakan sedikit gosip tentang pernikahanmu. Ia pikir, karena aku berteman dengan Luigi, mungkin aku ingin tahu sebuah kabar tentangnya. Kau terkenal gadis yang lincah dan mengejar sampai dapat apapun yang kau inginkan, Natalia. Tidak ada kata menyerah ... begitulah gambaran Yoana tentangmu. Lalu kenapa kau menangis di sini, padahal kau sudah mendapatkan seorang sekutu yang tumbuh di rahimmu. Pelajari apa yang kau inginkan Natalia. Jika kau nyaman berjauhan dan hidup seperti ini dengan Luigi, maka pergilah jauh-jauh dan nikmati kehamilanmu dengan berbahagia. Luigi tidak perlu dibagi, biarkan dokter itu hidup dengan kemarahannya...." Catalina tertawa, membuat Natalia menurunkan tisu dari matanya dan menoleh.


Natalia bertatapan dengan Catalina, lalu wanita itu menelan ludah. Catalina tidak tahu apa yang sudah ia lakukan untuk menjebak dokter itu agar menikah dengannya. Gadis ini hanya tahu Luigi dijodohkan dan dipaksa menikah.


"Apapun yang menjadi alasan kalian menikah, suka ataupun tidak, jika ingin memperbaikinya maka lakukanlah sebaik mungkin. Setiap orang selalu punya kesempatan jika itu untuk kebaikan, tidak hanya kesempatan kedua, ketiga, keempat dan seterusnya, layak diberikan jika memang untuk niat yang baik dan tulus."


Natalia membersit hidung, menatap aneh pada Catalina. Menyadari gadis itu pasti ada keperluan datang ke rumah sakit ini.


"Kenapa kau datang kemari? Kau sakit?" tanya Natalia.


Catalina menggeleng, lalu menunjuk ke arah kakinya.


"Aku datang untuk kontrol keadaan kakiku. Tadi aku sudah di rontgen. Claude sedang mengurus semuanya. Dokterku ada di lorong sebelah sana ...." Catalina menunjuk lagi ke arah kanan, tempat praktek dokter spesialis tulang.


"Apa kau pernah bertemu Luigi ?" tanya Natalia.


"Sudah lama, saat aku dan Claude makan di sebuah restoran. Sepertinya ada pertemuan antar dokter di aula atas ruang pertemuan restoran itu ... dia tampak tertekan ... juga sedih ...."


Natalia baru saja akan bicara lagi ketika matanya menatap sosok Claude yang mendekati mereka.

__ADS_1


"Disini kau rupanya, Cat ...."


Catalina mendongak, menatap Claude dan tersenyum.


"Aku melihat Natalia sedang duduk di sini. Jadi aku datang dan menyapanya," ucap Catalina.


"Ayo ... dokternya sudah menunggu," ucap Claude. Ia melirik Natalia yang terlihat seperti habis menangis. Claude mengulurkan tangan, membantu Catalina berdiri.


"Aku pergi dulu Natalia ... dan sekali lagi, itu ... selamat," Catalina menunjuk pada gambar yang di pegang Natalia.


"Jangan katakan pada siapapun, Nona Seymor," ucap Natalia dengan suara serak.


Catalina tersenyum. "Terserah padamu saja, Natalia. Bersemangatlah ..., jangan bersedih ...."


Claude menghela Catalina, menyuruh gadis itu segera melangkah.


Natalia memandangi pasangan itu sampai menghilang di belokan ke arah lorong sebelah kanan. Ia mengelus perutnya dan berbisik.


"Gadis itu benar. Aku punya kau sekarang ... aku akan mengurusmu dengan baik."


Natalia berdiri lalu kembali mengelus perutnya, ia melangkah meninggalkan rumah sakit. Berpikir tentang menghabiskan masa kehamilan di rumah pinggir danau milik kakeknya. Tempat yang asri dengan udara segar. Membayangkan menghabiskan waktu di sana membuat Natalia kembali bersemangat.


Tapi ia akan memberi kesempatan kepada hubungan mereka. Ia akan menurunkan harga dirinya dan datang kepada pria itu. Meminta maaf, ia akan mencoba bicara .... tentu saja tanpa mengatakan kalau ia hamil. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Luigi nanti.


Aku akan mendatangi apartemen Luigi. Aku pasti akan diusir, dimaki, bahkan diludahi ... lalu aku akan diseret paksa bila tidak mau keluar dari apartemennya. Tapi tidak apa ... sekali saja, aku akan berusaha demi keluarga utuh untuk bayi ini ... Dia tidak punya kesalahan, dia berhak hidup dengan ayah dan ibu yang lengkap, tapi jika nanti Luigi tidak menginginkannya, maka aku tidak akan menyesal, aku sudah memberinya kesempatan. Aku akan membesarkannya dengan kedua tanganku ... Lagipula, Mom and Dad pasti akan membantuku.


N E X T >>>


**********


From Author,


Jangan lupa klik like, love, bintang lima, komentar dan vote ya.


Baca juga karya author yang lain dengan judul:


Passion of My Enemy


Love Seduction ( Sequel passion of my enemy)


Follow author dengan klik 'ikuti' pada kolom profil ya, Sebelumnya author ucapin Terima kasih banyakkkk.

__ADS_1


Salam, DIANAZ.


__ADS_2