
Yoana berdiri di dekat jendela mansion. Ia berniat melihat dan mengecek email, mungkin ada sesuatu yang bisa ia kerjakan dari ruang kerja.
Ia masuk kemudian membuka laptop, namun tidak pernah bisa berkonsentrasi. Pikirannya berputar, kembali dan selalu kembali pada pelukan Vincent malam itu di villa. Pelukan yang diberikan Vincent karena Yoana memintanya.
Akhirnya ia hanya berdiri di dekat jendela. Memandang tak berkedip dengan hati yang sangat gelisah. Tidak ada yang memberitahunya apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Yoana bisa menduga. Sudah dua kali dan ialah yang selalu menjadi target. Apakah mimpi buruk sepuluh tahun lalu telah kembali?
Yoana mendesah berat. Ia pergi ke rak di sudut ruangan. Mulai mengutak-atik pemutar musik di sana. Mencari sebuah lagu yang sangat ingin ia dengarkan saat ini. Ketika musik mulai mengalun, Yoana kembali ke depan jendela, menerawang ke masa lalu diiringi suara merdu penyanyi pria dengan suara yang amat sahdu, Richard Mark. Lirik one more time mengalun di ruangan itu.
Yoana memejamkan mata, lagu itu menusuk sampai ke jantungnya, terasa sangat pas dengan keadaannya saat ini.
No more candlelight
No more purple sky
No one to be near
As my heart slowly dies
Air Mata Yoana mengalir. Ia merintih, bibirnya membuka, namun tidak ada suara sama sekali.
If I could hold you one more time
Like in the days when you where mine
I'd look at you
Till I was blind
So you could stay
Kali ini Yoana benar-benar terisak, hatinya terasa sakit. Beban di hatinya membuatnya merasa seperti mau meledak.
I'd say a prayer each time you sign
Cradle the moments like a child
I'd stop the world if only I
Could hold you one more time
"Vince ...." Yoana berkata lirih, ia menarik napas dan menatap ke arah langit. Ia selalu berusaha kuat, selama ini ia menunjukkan semangat dan jiwa yang penuh vitalitas, keangkuhannya membuatnya menolak untuk berputus asa dan menangisi diri sendiri. Tapi ia juga seorang wanita, terkadang jika malam menjelang, ia tidur dengan hati yang terasa amat hampa, ia kesepian dan mengharapkan cinta dan kasih sayang seorang kekasih.
Ia bisa mencari kekasih, banyak pria mapan yang mendekatinya sejak dulu. Tapi dengan tersiksa Yoana menyadari, ia hanya menginginkan Vincent.
Penderitaannya bertambah, ketika hatinya tahu pria itu berada amat dekat. Tidur di sisi lain mansion yang sama, di kamar yang hanya tinggal didatangi dan di ketuk jika ia mau bertemu.
Namun sikap Vincent tidak berubah, sudah 10 tahun dan Vincent tidak juga mengubah keputusannya. Hatinya masih tidak mencair, masih membeku dan menjaga jarak dari Yoana.
Yoana masih menangis sampai lagu itu berakhir dan berganti dengan lagu lain. Ia tidak mendengar ketika pintu terbuka dan Hamilton masuk ke ruangan kerja tersebut.
Hamilton hanya bermaksud memeriksa sesuatu di ruangan kerja, ia tidak menyangka akan menemukan Yoana di sana. Wanita itu menangis terisak, menatap ke arah luar jendela.
Dengan menarik napas panjang, Hamilton kembali menutup pintu. Ia berdiri lama di sana, berpikir tentang Yoana dan Vincent. Dua orang yang amat dekat tapi juga amat jauh, saling mencintai tapi juga saling menjauhi, saling memerhatikan tapi juga saling tak acuh dan yang sama-sama keras kepala serta menyiksa diri mereka sendiri.
"Kenapa Anda termenung di sana, Paman?" Catalina menyapa Hamilton ketika ia naik dan melihat pria yang tengah mengerutkan kening di depan ruang kerja itu.
"Catalina ... kau darimana?" tanya Hamilton, ia bergerak meninggalkan depan pintu.
__ADS_1
"Aku dari taman. Baru saja mau kembali ke kamarku. Tapi aku melihatmu termenung di sana." Catalina menunjuk ke arah berlawanan dari tempat tadi Hamilton berdiri.
"Dimana Leon?" tanya Hamilton lagi.
"Bersama Simon dan Claude di taman, Paman."
"Lina ... maukah kau menemani Yoana? Dia sedang sedih," ucap Hamilton.
"Tentu saja, di mana Yoan?"
Hamilton menunjuk ke arah ruangan kerja.
"Ketuklah pintunya, ajaklah ia keluar. Katakan Kau mencarinya karena mau mengajaknya berkumpul bersama Claude dan Simon yang bermain bersama Leon. Tidak lengkap tanpa kakak tertua mereka."
Catalina memandang heran pada Hamilton.
"Lihatlah dia ... kau akan mengerti," ucap Hamilton lagi, lalu pria tua itu meninggalkan Catalina.
Catalina berjalan ke arah pintu ruangan kerja. Ia mengetuk beberapa kali.
"Yoan ... kau ada di dalam? Boleh aku masuk?" Catalina memanggil. Tidak ada sahutan dari dalam. Catalina akhirnya menarik handle pintu dan membukanya.
"Yoan?" Catalina menatap ke arah Yoana yang bergegas meraih tisu dan menghapus wajahnya. Wanita itu memunggungi Catalina dan menatap ke luar jendela.
Catalina menunggu, mengerutkan kening ketika menyadari Yoana baru saja menangis. Wanita itu menunggu beberapa saat sebelum akhirnya berbalik dan menatapnya. Seulas senyum terpaksa tampak tersungging di bibirnya.
"Ada apa, Lina?" tanyanya.
"Aku mencarimu. Leon bermain bersama Claude dan Simon di taman. Rasanya tidak lengkap jika kau tidak ada," ucap Catalina. Mengatakan persis seperti yang Hamilton suruh.
"Kalau begitu ayo, Lina. Kita kesana," ajak Yoana sambil melangkah mendahului Catalina keluar dari ruangan.
Catalina mengikuti dari belakang. Terpaksa melangkah lagi kembali ke taman. Padahal ia bermaksud kembali ke kamarnya.
Mereka tiba di taman dan Yoana segera menggoda Simon yang menggendong Leonard.
"kau sangat cocok jadi ayah, Simon. Kau hanya tinggal mencari istri," ucap Yoana.
Simon memajukan bibirnya mendengar ucapan Yoana.
"Jangan mengurusiku untuk mencari istri. Claude lebih tua. Dia yang harus kau urus lebih dulu, Yoan," ucap Simon.
"Oh, Claude akan menikah Simon. Calonnya sudah ditetapkan. Ia harus melaksanakannya karena ia kalah taruhan."
Simon membelalakkan mata menatap Yoana yang menyeringai, lalu ia menatap Claude yang hanya memiringkan wajahnya dengan kedua alis terangkat.
"Memangnya dengan siapa aku akan menikah?" tanya Claude. Ia melirik ke belakang Yoana. Catalina hanya berani berdiri di teras, memandang keluarga Bernard dari jarak aman. Gadis itu terlihat menahan matanya dari menatap Claude.
"Apa aku perlu menyebutkan?" tanya Yoana.
Claude terkekeh. "Tidak perlu," ucapnya.
Simon mendekat, menatap Yoana dengan wajah penasaran.
"Katakan padaku! Siapa!? Sejak kapan menikah masuk jadi prioritasmu," ucap Simon mengajukan pertanyaan pada Yoana sekaligus pada Claude.
"Dengan orang yang tepat, itu terasa jadi keputusan yang tepat, Simon," ucap Claude pada adiknya.
__ADS_1
"Jadi kau mengaku kalah dan mau menikah?" tanya Yoana dengan senyum lebar.
"Ya, aku mengaku kalah Yoan. Aku akan menikah sesuai perjanjian, walaupun dengan jujur aku katakan, aku tidak keberatan," ujar Claude dengan seringai lebar.
"Kau masih harus berusaha keras, dia belum mau menerimamu." Yoana menyeringai membalas Claude.
"Oh, tenang saja Yoan. Hanya tinggal masalah waktu aku akan membuatnya menerimaku. Lagipula ... dia sudah tidak bisa kemana-mana lagi."
Kedua kakak beradik itu bicara dengan nada suara dipelankan. Catalina yang berdiri di teras tidak bisa mendengar dengan jelas bisikan mereka.
"kau sangat yakin ... apa ada perkembangan terbaru yang tidak aku ketahui?" tanya Yoana penasaran. Ia langsung teringat Claude menghabiskan malam bersama Catalina di pondok berburu.
Claude terkekeh. "Itu rahasia, Yoan. Aku akan menyimpannya hanya untuk diriku sendiri."
"Kalian berputar-putar! Katakan padaku siapa gadis itu," ucap Simon tidak sabar.
Kedua kakaknya hanya diam. Simon menatap Claude meminta jawaban.
"Claude ...," ucap Simon dengan nada memohon yang biasa ia terapkan jika meminta sesuatu pada Claude. Nada yang membuat Claude selalu memaafkannya.
Claude menggelengkan kepalanya. "Tidak!"
"Yoan ...," rayu Simon, mencoba mengorek dari mulut saudarinya.
"Tidak!" jawab Yoana tegas, lalu keduanya menyeringai melihat Simon yang menggembungkan pipi dengan bibir dimajukan. Keduanya teringat jika Simon tengah kesal maka ia akan melakukan itu. Kebiasaan lain dari adik mereka selain menggosokkan hidung ketika dipaksa harus mengaku jika melakukan suatu kesalahan.
Simon berpikir cepat, merengut kesal ke arah kedua kakaknya. Ia ingin menguji dugaannya tadi, bahwa Claude menyukai Catalina.
"Ya sudah jika tidak mau memberitahu ... kami juga tidak terlalu penasaran, bukan begitu Leonard? Eh ... bicara tentang istri untukku, aku adalah ayah Leonard dan Catalina adalah Mommynya, bagaimana kalau ...." Simon memancing kedua kakaknya.
"Jangan coba-coba!" potong Claude.
"Buang pikiranmu itu!" seru Yoana.
Kedua kakaknya itu memotong ucapan Simon dengan cepat. Membuat Simon menyeringai lebar dengan wajah seolah telah memecah sebuah kotak misteri.
"Jangan bilang kalau itu dia." Simon melirik ke teras. Catalina sudah duduk di kursi santai. Menikmati angin yang tampak membelai wajah dan rambutnya.
Claude dan Yoana hanya diam, tidak menjawab dan tidak bereaksi. Membuat Simon tahu kalau dugaannya benar. Putra bungsu keluarga Bernard itu tertawa terbahak-bahak.
"Kalian sudah memberitahuku tanpa perlu aku bertanya lagi," ucapnya sambil mencibir pada kedua kakaknya.
N E X T >>>
**********
From Author,
Akhirnya chapter ini selesai juga, Happy reading ya semua ...πππ
Sebelum tidur, coba deh dengarkan lagu one more timenya om Richard Mark. Searching gihπππSahdu, merdu, bikin hati makin nelangsaπππ..kalo lagi sedih, sebaiknya jangan π π
Jangan lupa like ,love, bintang lima, vote, dan juga komentarnya. Jadi vitamin penyemangat Author untuk terus menulis.
Terima kasih semuanya.
Salam, DIANAZ.
__ADS_1