
Catalina menahan rambutnya yang melayang dengan kedua tangan ketika mereka turun dari helikopter yang membawa mereka menuju Mansion Cougar. Angin sejuk pegunungan berhembus menyentuh kulit Catalina, ia menyipit memandang mansion yang berdiri kokoh di depannya itu.
"Ayo, Cat," ajak Claude sambil mendekap bahu Catalina, satu tangannya yang lain menangkap rambut gadis itu yang diterbangkan angin, lalu meletakkannya di belakang telinga. Kemudian keduanya melangkah bersama ke arah mansion. Mereka tiba di depan pintu mansion, Diego yang berada paling depan baru saja akan mengetuk, ketika dua pintu lebar itu sudah membuka sendiri. Jacob sudah menyambutnya di depan pintu dengan mata menatap langsung ke arah Diego.
"Anda sudah tiba," ucap Jacob sambil mengangguk, lalu ia melirik ke arah tangga. Melihat para tamu yang mendatangi mansion itu.
"Ya, Tuan Lucca sudah menungguku, Jacob," ucap Diego.
Jacob mengangguk, lalu undur diri dari depan pintu.
"Silakan masuk ... Tuan Lucca akan menemui Anda sebentar lagi," ucap Diego, lalu ia menyingkir agar para tamunya bisa masuk dan membimbing mereka ke arah sofa di aula tengah mansion.
Dari arah tangga, terlihat Alric turun dengan wajah tanpa ekspresi. Ia melangkah mendekat ke arah para tamunya.
"Kalian sudah tiba," ucapnya datar.
"Ya ... kau tahu kami mencari siapa bukan?" tanya Claude.
"Dimana Mary!?" Serge bertanya langsung dan mendekati Alric.
"Duduklah dulu, kalian semua. Ada yang perlu kubicarakan ...."
"Boleh saja ... tapi bawa dulu Marylin ke sini!" Simon bersuara dengan tetap berdiri, kedua tangannya bersedekap memandang Alric.
Diego dan Jacob mendekat, berdiri di depan sebelah kiri dan sebelah kanan tuannya. Alric tersenyum, lalu menepuk masing-masing bahu anak buahnya itu.
Diego dan Jacob menoleh ke arah Alric.
"Kau pergilah ke atas, Jacob. Ajaklah Marylin kemari. Katakan Catalina datang untuk menjemputnya." Kemudian Alric menoleh ke arah Diego, "dan kau, duduklah ... kalian juga ... Marylin akan segera turun ...."
Mendengar kata-kata Alric, para tamu itu akhirnya duduk dan menunggu.
Jacob tiba ke kamar atas, ia mengetuk pintu dan mendengar sahutan nyonya Annete dari dalam.
"Siapa?"
"Aku, Nyonya ... Jacob."
Annete yang baru saja selesai membantu memegangi gelas jus yang diminum Mary tiba-tiba merasa sangat gelisah. Ia tahu jemputan Marylin telah tiba.
Ia mengulurkan tisu ke bibir gadis itu sambil tersenyum.
"Aku akan menyuruh Jacob masuk, oke? Kita lihat kabar apa yang dia bawa. Tidak apa-apa bukan?" tanya Annete dengan lembut.
Marylin mengangguk, setelah didampingi Annete, ia dapat mengatasi sedikit rasa takutnya.
"Masuklah, Jacob!" perintah Annete.
__ADS_1
Jacob mendorong pintu, menatap ke arah Annete dan Mary, lalu membungkuk sopan.
"Nona Catalina Seymor sudah tiba di bawah, Nyonya. Tuan Alrico meminta saya membawa Nona Marylin turun," ucap Jacob.
Annete menoleh ke arah Mary yang tampak melotot.
"Kau bilang Catalina?" tanya gadis itu.
Jacob hanya mengangguk.
"Catalina ke sini dan menjemputku?" Marylin menyipit curiga ke arah Jacob.
"Kau bilang Tuan Alrico meminta agar kau membawaku turun?" tanya Marylin lagi.
Jacob kembali menjawab dengan menganggukkan kepala. Annete merasakan gejala kalau Marylin akan mulai histeris lagi.
"Mary ...." Ucapan Annete terhenti, ketika tangan Mary merebut gelas jusnya dan melemparkannya ke arah Jacob.
Dengan sigap pria berkulit hitam itu mengelak, hingga gelas itu membentur dinding dan pecah berkeping-keping.
"Berani kau berbohong! Kau mau membawaku ke ruangan terkutuk itu lagi ya! bajinga* rendah itu menyuruhmu membawaku ke sana lagi!" Marylin berteriak kencang. Annete menahan tubuhnya yang mau bangkit dan menyerang Jacob.
"Sayang ... Mary ... aku mohon tenanglah ... jangan begini ...." Annete menahan mary dengan seluruh tubuhnya. Memeluk Mary yang memberontak mau melepaskan diri.
Catalina mendongak ke lantai atas, fokus menatap dan berharap kakaknya muncul, lalu terdengar suara sesuatu yang pecah. Seiring teriakan Marylin yang terdengar kencang dan marah.
Simon, Serge, Claude dan Vincent berusaha menyusul kedua wanita itu, namun ketika melewati barisan pengawal, mereka ditahan dan diminta untuk duduk kembali.
"Tuan-tuan ... duduklah kembali," ucap Diego.
"Ya ... aku perlu bicara denganmu Claude. Tentang kondisi Marylin. Aku akan membawanya ke seorang profesional untuk merawat dan mengobatinya. Aku meminta bantuanmu, untuk mengizinkan Nona Catalina turut andil mendampingi Mary dalam perawatannya nanti."
Empat pasang mata menatap Alric dengan curiga.
Simon mengepalkan tangannya dan mendesis.
"Katakan kenapa Mary sampai butuh pengobatan dan perawatan? Apa yang terjadi?" tanya Simon.
Alric hanya diam dengan wajah datar.
"Itu ...." Ia lalu mencoba mulai menjelaskan.
Ucapan Alric tidak dapat ia selesaikan. Karena Simon sudah bergerak dan menyarangkan kepalannya ke wajah pria itu. Alric terempas dengan wajah nyeri dan tubuh membentur lantai.
"Jangan bicara dengan wajah datarmu itu! Kau membuatku sangat kesal!"
Claude menaikkan kedua alisnya. Sejak kapan adik kecilnya sudah punya gerakan bagus. Dengan pandangan baru ia melihat adiknya secara menyeluruh. Simon hampir sama tinggi dengan dirinya, juga terlihat lebih berotot dibandingkan dulu.
__ADS_1
Para pengawal Alric berhenti bergerak untuk meringkus Simon ketika melihat Diego menghentikan mereka. Alric yang terjatuh, mengibaskan kepalanya untuk menjernihkan pandangannya yang buram.
Ia mengangkat tangan, memberi tanda pada Diego agar jangan ada yang melakukan apapun.
Alric bangkit, kembali berdiri sambil mengelus rahangnya yang sakit. Tapi selebihnya, ia hanya diam saja. Tidak membalas perlakuan Simon.
Di kamar atas, Catalina menerobos masuk ke kamar tempat suara Marylin berasal. Ia membelalak ketika tiba dan melihat Marylin mendorong tubuh seorang wanita.
Annete terjatuh ke lantai, Jacob segera memegang nyonyanya dan membantunya berdiri. Keduanya lalu memilih mundur dan hanya menunggu serta memandang dari sudut kamar.
"Mary! Mary! " Catalina menangkap kakaknya yang bangkit setelah mendorong wanita tadi. Marylin sepertinya akan berlari keluar.
"Ini aku! Ini aku, Marylin!" Catalina berteriak agar kakaknya itu mendengar dan berhenti berontak. Kedua tangannya memegang pipi Marylin dan menahannya.
Marylin menatap mata biru Catalina dan akhirnya mengenali adiknya itu. Seketika tangisnya pecah dan tubuhnya lunglai. Catalina memeluk dan membawa Mary kembali ke atas ranjang.
"Lina ... kau datang, akhirnya kau datang," isak Marylin.
"Ya ... aku di sini ... aku menjemputmu." Catalina memeluk Marylin yang menangis dengan bahu berguncang. Air matanya sendiri luruh, ia tidak tahu apa yang telah terjadi. Tapi apapun itu, telah membuat Marylin sangat terguncang.
"Maafkan aku terlambat menjemputmu ... tapi sekarang aku sudah di sini, jadi kumohon tenanglah ...." Catalina mengelus rambut kakaknya, mencium kepalanya berulang kali.
"Yoana juga ada di sini. Helikopter keluarga Bernard akan membawa kita kembali pulang. Tidak akan memakan waktu lama, kita sudah akan keluar dari sini ...."
Marylin mengangkat kepalanya dari bahu Catalina, dengan berurai air mata ia bertanya sambil terisak.
"Serge ... kalian menemukan Serge juga kan?" tanyanya serak. Air Mata Catalina makin deras mengalir, betapa kakaknya menyayangi Serge, orang yang selalu bersamanya dan melindunginya. Catalina mengangguk berulang kali.
"Serge ada di bawah, Mary. Ia ikut menjemputmu!" ucap Catalina.
"Aku di sini!" Suara tegas dari seorang pria memasuki kamar itu. Catalina dan Marylin menoleh, menatap Serge yang sudah ada di bingkai pintu.
Marylin langsung melompat, menghambur ke lengan Serge yang sudah terbentang.
"Serge!" Marylin terisak kencang, memeluk sahabatnya itu kuat-kuat, ketakutannya mencair, berganti kelegaan yang ia tumpahkan dalam air mata tiada henti. Kali ini hatinya benar-benar percaya kalau dirinya akan benar-benar keluar dari tempat terkutuk itu.
N E X T >>>>
*********
From Author,
Yang sabar ya Mary😭😭😭😭😭 Semoga bahagia akan menghampiri😭😭😭 Ayo Catalina... lakukan sesuatu untuk kakakmu.
Jangan lupa like, love, vote, komentar dan bintang limanya ya, Jadi penyemangat Author dalam menulis💪💪💪👍👍👍
Terima kasih ya,
__ADS_1
Salam hangat, DIANAZ.