
Catalina berjalan tak tentu arah. Hari sudah gelap dan pikirannya buntu. Tidak ada yang ia kenal di kota besar yang gemerlap ini. Siapa sebenarnya yang sudah menculik dan membawa bayi Leonard.
Langkah kaki Catalina gontai, menyusuri trotoar dan melewati orang-orang yang melintas bersama dengannya di tempat itu. Ia lelah dan sangat haus, ia tidak jadi minum saat di cafe tadi dan sekarang seluruh isi dompetnya yang ada di dalam tas Leon sudah di ambil oleh laki-laki tidak dikenal. Catalina berhenti di sebuah tiang lampu jalan dan menumpukan tangannya di tiang itu, kembali ia terisak dan menangis.
Tak jauh dari Catalina berdiri, ada sekumpulan anak muda yang melihat dari kejauhan. Beberapa orang yang duduk di atas motor besar mereka tampak menunjuk ke arah Catalina sehingga temannya yang lain menoleh seluruhnya ke arah itu. Mereka menyeringai dan mulai berdiri dan melangkah menuju Catalina.
"Halo, Manis. Ada apa? Kenapa kau terlihat sangat sedih." Seorang pria dengan rambut berdiri dan kalung rantai di lehernya menyapa.
"Ikutlah bersama kami, Manis. Kesedihanmu akan hilang sepenuhnya " Seorang lagi yang berkepala plontos menimpali. Membuat teman-temannya tertawa.
Catalina melotot dan menghitung. Ada tujuh orang pria, semuanya tampak seperti preman dan punya niat buruk terhadapnya.
"Mau apa kalian!? Pergilah!? Atau aku akan menjerit dan memanggil polisi!" Catalina terhenyak! Polisi! Ya, kenapa ia tidak terpikir untuk segera ke kantor polisi dan melaporkan penculikan Leon. Catalina menghapus kasar airmatanya dengan sebuah harapan di hati, sebuah jalan untuk mencari Leon.
"Oh ayolah, Manis. Kami melihatmu menangis dan datang agar bisa menghiburmu."
"Aku tidak butuh! Pergilah!" bentak Catalina.
Dua orang diantara mereka maju dan menangkap lengan Catalina. Dengan cepat Catalina berteriak, Namun seorang lagi membekap mulutnya dari belakang. Segera Catalina diseret dari tempatnya berdiri ke arah sebuah lorong gelap yang berada di dekat sana.
Catalina menggeliat dan melawan. Kakinya yang bebas menendang kesana-kemari tak tentu arah. Ketakutannya akhirnya menguar, setelah dibawa masuk ke dalam lorong. Keadaan sekitarnya gelap dan sepi. Ia di dorong ke samping sebuah bak sampah besar. Para pria itu tertawa terbahak dan menyeringai melihat Catalina yang tidak berdaya di sudut lorong.
"Tenang saja manis. Kami akan bersikap lembut padamu." Seorang di antara mereka terlihat tidak sabar dan mendekat. Ia menarik Lengan baju Catalina sehingga suara robekan terdengar. Catalina menatap ketakutan dan menutupkan telapak tangannya pada bahunya yang telanjang.
"Dia terlihat menggiurkan, berisi, membuatku lapar ingin memakannya." Kata-kata itu disambut tawa membahana.
"Kau benar, dia besar di tempat yang pas, bukan begitu gadis montok?" Kembali tawa keras terdengar.
__ADS_1
"Pergilah bajingann! Tolongg! Seseorang! To , ummmmmm!" Mulut Catalina kembali dibekap dan seseorang menjepitnya erat dari belakang. Satu tangan mengelilingi dadanya dan satu tangan lagi membekap mulutnya.
"Aku dengan senang hati memegangnya. Silakan saja siapa yang akan mulai duluan. Aku akan menonton dulu," ucap pria yang membekap Catalina.
Catalina menendang dan menggeliat. Membuat dua orang di antara mereka memegang kakinya.
"Hahaha ... kau terikat sekarang, Manis. Baiklah, aku akan mulai dan memberi tontonan panas pada teman-temanku agar mereka nantinya siap untukmu, Manis." Pria itu mendekat dan mulai membuka ikat pinggangnya. Catalina membelalak dan menggeleng. Pipinya sakit di tekan begitu keras oleh pria yang membekap mulutnya. Airmatanya mulai mengalir, kengerian tercetak jelas di kedua mata Catalina.
Lalu roknya mulai diangkat ke atas, pria itu mulai menggerayangi kakinya. Catalina menggeliat sekuat tenaga, membuat para pria itu menjepitnya semakin kuat.
Lalu suara terbanting di arah depan Catalina membuat para pria itu menoleh. Satu di antara pria itu telah terbujur pingsan di dekat bak sampah. Disusul suara pukulan dari dua orang pria yang kembali menyerang. Catalina kembali menggeliat ingin melepaskan diri. Ia lalu menggigit tangan yang membekap mulutnya hingga pria itu kesakitan dan memaki.
"Sialaann!" bentak laki-laki itu sambil melepaskan tangannya dan langsung mengayunkannya ke kepala Catalina.
BUGH!
Dua pria yang datang itu menghabisi para pria preman itu dengan pukulan-pukulan keras. Seolah sedang memukul samsak di ruang latihan mereka berulang kali dengan sekuat tenaga.
Mereka berhenti ketika tujuh orang pria preman itu sudah tergeletak pingsan. Salah satu dari pria itu meludahi seorang preman sambil menendang dada dengan ujung sepatunya.
"Dasar sampah!" ucapnya geram.
"Claude ...." Suara Vincent mengalihkan Claude yang kembali akan menendang pria yang sudah pingsan di kakinya itu. Vincent memegang ponselnya dan mengarahkan cahaya senter dari ponsel ke arah Catalina yang terbaring pingsan di tanah.
Rok gadis itu terangkat, belahan dada dan bahunya tampak telanjang karena satu sisi bajunya yang robek. Darah terlihat mengalir dari pelipis Catalina yang membentur sebuah batu ketika ia terjatuh karena pukulan seorang preman dan akhirnya tidak sadarkan diri.
Claude menggeram dan membuka jas yang ia pakai, Ia menutupkan jas itu ke tubuh Catalina. Lalu segera menggendong gadis itu.
__ADS_1
"Kita sedikit telat, Vincent! Hampir saja nasib buruk menghampirinya!"
Vincent mengangguk dan berjalan mengikuti Claude sambil menerangi lorong yang gelap.
Mereka masuk ke dalam mobil. Vincent memegang kemudi dan menjalankan mobil. Claude duduk di belakang dengan Catalina dalam pangkuannya, Ia menatap gadis yang terpejam itu dan mengutuk dirinya yang terlambat setelah melihat darah yang mulai mengering di pelipis Catalina.
"Sesudah ini jangan terlalu keras kepala, Cat! Atau nasib buruk benar-benar menghampirimu kali ini." Claude menghela rambut Catalina yang menutupi sisi wajahnya.
Vincent menatap sekilas dari kaca mobil. Pandangan mata itu, sungguh baru kali ini ia melihat pandangan mata Claude yang teduh tengah menatap wajah seorang gadis. Senyum miring menghias bibir Vincent memikirkan semua rencana yang telah berjalan, yang muncul dari ide yang ia lontarkan pada pemimpin keluarga Bernard itu.
Kita lihat apa keputusan yang akan kau ambil Catalina ... atau Cat ... Haaaaa.
Vincent tidak mampu menahan seringai geli yang muncul di bibirnya memikirkan nama yang Claude sematkan untuk Catalina Seymor.
N E X T >>>
**********
From Author,
Maafkeun bila ada typo yang bertebaran ya pembaca sekalian😂😂
Jangan lupa like, love, rating bintang 5 dan vote serta komentar untuk karya thor ya untuk vitamin penyemangat author.
Terimakasih.
Salam, DIANAZ.
__ADS_1