
Claude mengulurkan sendok berisi makanan ke mulut Catalina yang tertutup.
"Kau sungguh tidak perlu melakukan ini. Aku bisa sendiri," ucap Catalina.
"Buka mulutmu." Claude seolah tidak mendengar ucapan Catalina.
"Kemarikan nampannya. Aku akan makan sendiri. Tidak perlu disuapi. Sungguh ... aku baik-baik saja."
"Cat ... kau bisa terus mengajakku berdebat. Tapi Marylin sedang tidur di sana. Suara kita akan membangunkannya. Dia tidak tidur semalaman karena menjagamu. Kasihan kalau dia terbangun kerena kita berisik." Ucapan Claude membuat mata Catalina menoleh ke bagian lain ruangan dimana kakaknya tertidur dengan sangat nyenyak. Ia langsung mengunci mulutnya.
"Pintar. Ayo, sekarang buka mulutmu."
Catalina membuka mulutnya dan merasa sedikit malu karena ia makan disuapi seperti anak kecil.
Claude terus menyuap sampai makanan di piring habis. Ia kemudian tersenyum, "kau akan lebih cepat sembuh kalau kau menurut seperti tadi."
Catalina mencibirkan bibirnya, lalu matanya menatap kakinya yang tertutup selimut.
"Kapan aku akan pulang?" tanyanya.
"Masih lama, Catty Sayang. Sampai dokter mengizinkan. Nikmati waktumu di sini."
"Tapi Aku mau melihat Leon ...."
Claude yang baru saja bangkit meneruskan langkahnya meletakkan piring Catalina di atas meja. Ia menjawab tanpa berbalik.
"Mungkin besok, Cat. Aku akan pulang dan mengusahakannya. Malam ini kita semua tidak bisa melakukan apapun. Aku menunggu kabar baik dari Vincent."
Catalina menegakkan tubuhnya di atas tempat tidur ketika mendengar nama Vincent.
"Itu yang jadi pertanyaanku, bagaimana kalian menemukanku?"
Mata Claude melirik ke arah Marylin yang tertidur. Ia memutuskan belum akan memberitahu Catty. Tidak, sampai ia tahu apa sebenarnya niat Alrico Lucca. Catalina akan menjadi sangat khawatir, bahkan mungkin merasa bersalah karena dirinyalah yang menyebabkan kakaknya harus terikat kontrak pada Alrico.
"Vincent sekarang berada di gedung tempat penjahat itu menyekapmu. Ia akan menyelesaikan apa yang seharusnya ia lakukan sepuluh tahun lalu ...."
"Vincent akan menghadapi penjahat itu? Kau yakin tidak akan meminta bantuan polisi?" Catalina terdengar khawatir. Ia menyimpulkan Vincentlah yang telah menemukan gedung tempat penjahat itu menyekapnya.
Claude menarik napas panjang, matanya menerawang keluar lewat jendela ruang perawatan Catty.
"Tidak, Catty. Vincent mengenal penculikmu. Dia seharusnya mati sepuluh tahun lalu, sehingga tidak bisa kembali menebar kejahatan dan dendam pada keluarga Bernard. Laki-laki itu bahkan menculikmu, yang tidak ada hubungannya dengan masa lalunya."
"Kalian mengenal penjahatnya?"
"Ya ... dialah yang telah menembak ibuku ...."
Catalina menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya terbelalak terkejut.
"Orang itu mengatakan ingin menukarku dengan Yoana." Catalina berbisik pelan.
"Ya ... dia ingin Yoana mati, mungkin menyiksanya dulu sebelum mengambil nyawanya. Itu untuk membalaskan dendamnya pada Vincent."
Claude menoleh, melihat Catalina mengurut pelipisnya dengan kening berkerut. Ia mendekat lalu menarik bantal yang menyangga punggung Catalina.
"Cat ... kau harus berbaring. Jangan banyak berpikir, kau akan aman di sini, kau harus istirahat."
__ADS_1
"Yoana ... dimana?" tanyanya, ucapan Claude tadi membuatnya mengkhawatirkan wanita itu.
"Dia baik-baik saja. Dia tidak ditukar denganmu. Kami menemukanmu dengan bantuan seorang rekan. Dia di rumah menjaga Leon, jadi tenanglah."
"Syukurlah." Catalina memiringkan kepalanya yang terasa pusing di atas bantal. Ia melirik lagi ke arah Marylin yang tertidur, senyum terbit di bibir Catalina, membuat Claude ikut melirik.
"Mary pasti sangat lelah."
Claude hanya diam. Di dalam hati ia bertanya-tanya, apa yang akan Catalina lakukan jika tahu kakaknya lah yang ditukarkan demi menyelamatkan dirinya secepat mungkin. Meski bukan ditukar pada Rodrigo. Melainkan pada seorang pria yang niatnya sangat dipertanyakan, Alrico Lucca yang misterius.
**********
Kegelapan yang semakin pekat mulai merambat naik. Dengan mata awas, Vincent menatap ke bagian depan gedung tempat tinggal Rodrigo. ia menunggu di dalam mobil, keyakinannya mengatakan musuh lamanya itu akan kembali ketika malam telah menjelang.
Alat komunikasi di telinganya berbunyi, namun hanya suara tidak jelas seolah seseorang di seberang sana tengah mengutak-atik benda di telinga mereka itu.
"Ada apa Blaird?"
Suara tawa pelan terdengar.
"Tidak ada, Vince. Aku hanya sedang makan."
"Apa yang kau makan?"
"Apalagi? Kau hanya menyediakan roti dan air. Seharusnya kau membawaku ke restoran makanan perancis."
Vincent terdengar mendengus, "bersabarlah Blaird. Kita semua hanya makan roti. Kurasa tepat tengah malam, atau mungkin lewat, pria brengsek itu baru akan kembali."
"Ya ... tentu. Sisakan tempat untuk peluruku di tubuhnya," ucap Blaird terkekeh.
"Tentu saja. Aku tak keberatan berbagi."
Dini hari, setelah menunggu dengan sabar, Vincent akhirnya melihat kelebat tubuh Rodrigo. Pria itu memakai mantel hitam dan menyandang sebuah tas kanvas.
"Blaird ... buruannya datang," bisik Vincent.
"Aku sudah siap, Vincent."
Vincent melihat Rodrigo memasuki gedung dan mulai naik ke lantai atas tempat kamarnya berada. Beberapa saat kemudian, ponsel Yoana yang ada di saku mantel Vincent bergetar. Vincent mengambil dan menatap dengan menyeringai ketika melihat nama Catalina yang tertera di layar. Tentu saja itu adalah Rod. Ia segera turun dari mobil dan melangkah mengikuti Rod ke lantai atas.
"Halo ...."
"Ah, Vincent! Kemana si mungil cantik itu? Aku berharap dia yang pertama kudengar suaranya."
"Diamlah Rod." Vincent mendengarkan ocehan Rodrigo.
"Baiklah, Vincent. Langsung saja. Besok pagi pukul sembilan. Seratus meter dari pemakaman umum Yellow Land. Catalina akan ada di sana jika aku sudah melihat Yoana Bernard datang."
Kemudian ponsel itu mati. Vincent mendengar suara di alat komunikasinya beberapa saat kemudian.
"Dia akan masuk Vince. Kau sebaiknya cepat jika ingin berpesta." Blaird mengawasi dari teleskop senapan sniper miliknya.
"Ah, sayang sekali kau melewatkan ini ... dia mengobrak-abrik kamar sewaannya. Well ... well ... Kau kehilangan tawananmu Rodrigo? Kurasa dia baru saja berteriak, kau mendengar Vincent?" ucap Blair lagi.
"Tidak."
__ADS_1
"Tak heran ... ruangannya kedap suara."
"Aku sudah di depan pintunya, Blaird," ucap Vincent lewat alat komunikasinya
"Ketuklah kalau begitu ...."
Vincent mengetuk pintu, sebuah pistol sudah siap ditangannya.
"Bersiaplah, Vince. Bajing** itu baru saja mengambil pistol ... dia akan datang padamu."
Vincent tersenyum mendengar suara Blaird, lalu pintu terbuka, Ridrigo membelalak terkejut dan langsung mengangkat pistol di tangannya. Namun Vincent sudah siap dan menembak pergelangan tangan itu hingga senjatanya terpental dan mendarat jauh di lantai sudut ruangan.
Belum sempat Rodrigo bergerak, Vincent sudah menyerang lagi. Sebuah tendangan ke perut Rodrigo yang membuatnya melayang membentur satu-satunya sofa di ruangan itu.
Rod bangkit, tak ada pilihan lain selain berhadapan langsung dengan Vincent. Senjata yang ia punya berada di ruangan sebelah, tempat tawanannya sudah hilang. Penuh kemarahan, Rod menyadari Vincent selangkah lebih cepat. Tawanannya sudah dibawa pergi, bahkan sekarang ia yang didatangi dan terancam akan benar-benar mati kali ini.
Suara tembakan kembali menggema, kali ini Vincent menembak kedua kaki Rodrigo hingga laki-laki itu langsung terduduk, tersungkur ke lantai di hadapan Vincent.
"Dari dulu kau tidak berubah. Kau terlalu lemah bila berhadapan langsung, tidak punya kemampuan sama sekali bertarung jarak dekat."
Pistol Vincent terangkat, tepat ke kepala Rodrigo diantara dua matanya. Tawa Rodrigo menggema.
"Kau akan bertarung adil denganku bukan? Aku tidak punya senjata, ayo kita bermain ... letakkan pistolmu dan aku akan melayanimu bertarung langsung, Lagipula ... apa yang ditakutkan dari pria yang kakinya sudah lebih dulu kau tembaki," ucap Rod .
Vincent menyeringai, "Kau lupa Rod ... aku berasal dari jalanan yang sama denganmu. Aku tidak tahu arti kata adil yang kau ucapkan itu. Yang aku tahu, kau harus dilenyapkan! Pekerjaan yang seharusnya kutuntaskan sepuluh tahun lalu."
vincent menatap tajam, wajahnya yang berbekas luka tampak memutih, menambah kesan kejam dan mengerikan. Rod baru saja akan bergerak menerkam ketika suara peluru berdesing. Seketika tubuh pria itu terhempas, Vincent tak berhenti sampai peluru senjatanya habis melubangi kepala dan dada Rodrigo.
"Haishhhh ... padahal kau berjanji menyisakan bagian untuk peluruku." Suara Blaird terdengar di alat komunikasi Vincent. Vincent tahu temannya itu menyaksikan semuanya dari gedung tempat ia mengintai.
"Tentu saja, Blaird. Turun dan datang kemari dengan anak buahmu. Bereskan ini semua. Aku menyisakan mayatnya untukmu."
Vincent mendengar Blaird mendengus.
"Kau berutang masakan perancis restoran mewah kelas atas padaku," ucap Blaird.
"Apapun ... katakan saja kapan kau mau makan." Vincent menutup pintu kamar, lalu melangkah menjauh dari tempat itu.
"Selama sebulan," tambah Blaird lagi.
"Terserah. Semoga saja kau tidak bosan," ucap Vincent sambil tertawa kecil. Ia tiba di luar gedung, menatap langit kelam dan menghirup udara bebas.
Kemudian ia menatap mobil yang terparkir di seberang gedung, bergegas menuju ke 6sana ketika wajah Yoana melintas di kepalanya.
Vincent baru saja akan bergerak melaju, ketika sosok beberapa pria berpakaian hitam berjalan memasuki gedung yang baru saja ia tinggalkan.
Ia melepaskan alat komunikasi yang terpasang di telinganya dan mulai melaju dengan hati ringan, seolah sebuah beban masa lalu telah terangkat dari bahunya.
"Pembunuhmu akhirnya benar-benar mati, Alissia. Kuharap sekarang, tidak akan ada lagi yang mengganggu putrimu ... aku akan selalu memegang janjiku ...." Vincent berbisik seiring deru mobil hitamnya membelah keheningan malam.
N E X T >>>
**********
From Author,
__ADS_1
Jangan lupa klik like, love, komentar, bintang lima dan Votenya ya, sebelumnya thor ucapin terima kasih banyakkkk.....
Salam, DIANAZ.