Embrace Love

Embrace Love
Ch 153. Be honest


__ADS_3

Rasa nyeri di bagian ulu hatinya membuat Luigi terbangun dari tidur. Lambungnya perih, ia bangkit dengan cepat, lalu duduk di pinggir tempat tidur. Luigi menjangkau pegangan laci nakas, menariknya sedikit terlalu kuat sehingga menimbulkan bunyi yang akhirnya membangunkan Natalia.


"Ukhhhh ...." Rintihan pelan itu terdengar di telinga Natalia. Ia bangun lalu menoleh ke arah Luigi.


"Luigi? Kau kenapa?" Natalia bangun, menatap khawatir ke arah suaminya.


Kepala Luigi menoleh, menyadari ia tanpa sengaja membangunkan Natalia.


"Nat ... kau terbangun. Maaf," ucap Luigi. Lalu kembali ia mencari-cari di dalam laci.


Natalia beringsut di atas kasur, mendekat ke arah suaminya.


"Apa yang kau cari? Ada apa? Kenapa kau seperti kesakitan?"


Luigi melirik, melihat wajah khawatir Natalia.


"Aku mencari simpanan obatku. Lambungku perih. Salahku sendiri telat makan ... ukh ...." rintihnya lagi.


Luigi sengaja mengernyit dan meringkuk, seolah menahan perutnya yang sakit. Well ... ulu hatinya memang perih, tapi tidak terlalu nyeri sampai harus membuat ia meringkuk. Entah kenapa, hatinya suka melihat Natalia mengkhawatirkanmya.


"Berbaringlah! Biar aku mencarinya!" Natalia menarik Luigi dan mendorongnya agar kembali berbaring. Sambil tersenyum dalam hati, Luigi menurut.


Natalia turun dari tempat tidur, ia menengok ke dalam laci dan merogoh hingga ke dalam. Menarik keluar apapun yang tersentuh oleh tangannya.


"Nah, ini. Kurasa yang ini bukan?" tanyanya sambil mengulurkan satu kemasan obat pada Luigi.


"Benar. Sini." Luigi meminta dengan mengulurkan telapak tangannya.


"Tunggu. Kuambilkan minumnya dulu," ucap Natalia. Wanita itu meletakkan kemasan obat di atas nakas, lalu pergi keluar kamar menuju dapur. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan segelas air putih.


Natalia meletakkan gelas ke atas nakas. Lalu mengeluarkan satu kapsul dan memberikannya pada suaminya.


Setelah Luigi menerimanya, Natalia megulurkan gelas air pada suaminya itu. Ia menunggu Luigi menelan kapsul tersebut, meminum air, lalu menerima kembali gelas yang Luigi berikan padanya.


"Kau punya masalah lambung ya?"


"Kadang-kadang ... siang tadi aku tidak makan. Lalu malamnya aku balas dendam ... aku kekenyangan," ucap Luigi sambil tertawa.


"Harusnya kau makan sedikit dulu. Setelah dua atau tiga jam, baru kau makan lagi," saran Natalia.


"Kau benar. Tapi itu salahmu, Nat."


Natalia mengerutkan dahinya. " Salahku?"


"Ya ... kemarilah. Berbaring lagi di sampingku."


Natalia menurut. Ia naik ke atas tempat tidur, lalu menyusun bantal ke sandaran kepala tempat tidur dan membaringkan punggungnya. Ia mengatur posisinya santai bersandar di kepala tempat tidur seperti yang Luigi lakukan.


"Kenapa aku yang salah?"


"Karena kau selalu masak makanan enak. Aku jadi makan terlalu kenyang," puji Luigi. " Aku bisa gemuk, kau tahu?"


Natalia tersenyum senang mendengar pujian Luigi, ia juga merasa geli ketika membayangkan tubuh Luigi yang menjadi gemuk. Tanpa sadar ia terkikik.


"Kau selalu olahraga. Setiap pagi. Tidak mungkin kau gemuk," bantah Natalia.


Luigi mengangkat kedua bahunya. "Selalu ada kemungkinan bukan? ... Lalu kesalahanmu yang kedua adalah kau menangis sampai tertidur. Tepat setelah makan malam."


Natalia terdiam, Ia memang menangis, gelisah memikirkan Luigi yang siang tadi lama sekali berada di rumah sakit demi Catalina. Ia iri pada gadis itu. Catalina memiliki seluruh cinta suaminya. Bagaimana ia tidak menangis memikirkan hal itu?


"Lalu aku yang habis makan banyak, merasa tidak tahu harus melakukan apa. Hanya bisa ikut berbaring dan menemanimu. Kau tidak mau bercerita alasan kenapa kau menangis. Sampai akhirnya aku jadi ikut tertidur di sampingmu ... wajar saja perutku sekarang jadi sakit."


Natalia menunduk. Tahu Luigi memang benar. Luigi pasti kelelahan, hingga dengan mudah pria itu tertidur ketika menemaninya. Seharusnya ia bisa menahan perasaannya, tidak menangis seperti wanita cengeng. Jadi Luigi bisa duduk dl menonton TV sesudah makan, bukannya berbaring menemani wanita cengeng yang manja menangis.


"Maafkan aku," ucap Natalia lirih.


Luigi menaikkan alisnya, istrinya langsung minta maaf. Ia jadi ingin sekali mengorek alasan Natalia menangis.


"Karena kau sudah meminta maaf, tentu saja aku akan memberikan maafku. Tapi dengan syarat kau mau menceritakan padaku alasan tadi kau begitu sedih waktu makan malam. Kenapa kau menangis Nat?"


"Uh ... itu hanya ... entah kenapa aku menjadi mudah sekali menangis akhir-akhir ini. Mungkin karena pengaruh hormon kehamilan." Natalia mencoba mengelak menjawab dengan alasan sebenarnya yang membuat dirinya menangis.


Luigi mencibir. " Kau, Querida ... ketahuan sekali kalau sedang berbohong." ejek Luigi dengan nada geli.


"Memangnya kenapa? Aku tidak bohong."


"Cuping hidungmu mengembang ketika berbohong, Sayang."


Natalia reflek menutup hidungnya dengan telapak tangan. Membuat Luigi terbahak geli.

__ADS_1


"Kau menjahiliku," ucap Natalia kesal.


"Kau lucu sekali, Nat ... Sekarang katakan, Kenapa kau menangis tadi?"


Natalia terlihat berpikir, membuat Luigi menebak otak istrinya itu sedang bekerja mencari jawaban lain. Alasan yang dibuat-buat, bukan alasan sebenarnya kenapa tadi ia merasa sedih.


"Apakah kau menangis karena aku tidak sempat memakan makan siang yang kau bawakan?" Luigi mengganti strateginya dengan memberi pertanyaan langsung. Nat hanya perlu menjawab ya atau tidak.


"Ummm ... tidak ... Aku mengerti. Kau sedang bekerja. Pekerjaanmu menyangkut nyawa manusia. Kau sampai tidak bisa makan siang demi tugasmu."


"Lalu? Apa karena aku terlambat pulang dan tidak menelepon mu? Kau marah karena lama menungguku?"


Natalia menggeleng. " Tidak. Aku sudah tahu dari Stefany kau akan sibuk hingga sore, bahkan mungkin sampai malam dan kau akan pulang telat."


"Lalu kenapa? Apa karena aku belum memenuhi janjiku untuk membawamu ke Mansion Steffano untuk melihat kembali kamar bayi kita?"


"Tidak. Aku malah tidak terpikir ke kamar bayinya. Ayah dan ibu menginginkan hak penuh mendekorasi kamar cucu pertama mereka," ucap Natalia sendu. Ia gembira dan terharu mengenang rasa antusias dari wajah kedua mertuanya.


"Lalu kenapa, Nat!?"


"Sudah kukatakan tadi ... pengaruh hormon!"


Luigi berdecak. " Hormonmu tidak bermasalah ketika dua gadis kembar Da Costa membullymu Nat! Harusnya kau menangis, sedih atau marah atau balik mengatai mereka!"


Natalia tersenyum, teringat gadis kembar Da Costa di Crystal Clear Lake.


"Nah, kau malah tertawa ... Hormonmu bahkan tidak masalah ketika sekian bulan aku mendiamkanmu dan menganggap kau tidak ada. Kau tidak tampak sedih. Kau tidak pernah menangis." Luigi sengaja mengingatkan Natalia.


Natalia diam, senyumnya hilang. Tentu saja waktu itu ia juga sedih, ia kadang menangis di malam hari. Terisak di atas bantal dan tertutup oleh selimut di ruang kerja Luigi di sebelah kamar mereka ini. Tapi ia tidak akan mengatakannya pada Luigi.


"Apa ini ada hubungannya dengan pasien yang aku operasi?" pertanyaan langsung, dan Luigi tahu ia tepat sasaran setelah melihat ekspresi Natalia.


Natalia mengerutkan kening, bibir bawahnya bergetar sebentar sebelum ia menyamarkannya dengan menelan ludah. Matanya menghindari tatapan Luigi. Reaksinya membuat Luigi menyipitkan mata.


"Kau mengenal Catalina bukan? Gadis yang sebentar lagi akan jadi istri pria yang kau kejar dulu ...." Luigi sengaja memancing Natalia. Menyebutkan hubungan Catalina dengan Claude, bukan hubungan Catalina dengan dirinya sendiri.


"Apa!?" Natalia menoleh cepat. Kerutan di dahinya makin dalam.


"Kenapa begitu terkejut? Dulu kau memang mengejar Claude bukan? Ayo jujur, Nat. Bagaimana perasaanmu ... Kau tidak dapat menangkap Claude, tapi Catalina bisa." pancing Luigi lagi.


"Apa yang kau maksudkan sebenarnya!?" seru Natalia, nada suaranya mulai naik.


"Aku benar bukan? Kau dulu mengejar Claude Bernard. Pria tampan yang juga banyak uang. Apa dulu kau memilihnya karena kau menyukainya? Atau lebih dari itu ... kau mencintainya?"


Natalia melotot, kedua tangannya terkepal erat. Bibirnya merengut , sepertinya siap menyemburkan kata-kata pedas.


"Lalu apa alasannya kau melepas seorang Bernard dan beralih pada seorang Steffano? Karena Steffano kebetulan berteman dengan ayahmu? Yang walaupun putranya tidak terlalu tampan, tapi uangnya tak kalah banyak?"


Natalia masih saja diam. Tapi sekarang pandangan mata itu berapi-api. Sepertinya siap membakar Luigi.


Ya ... keluarkan semua amarahmu, Querida ... Perlihatkan keberanian seorang Natalia yang nekat membubuhkan obat pada minumanku dan kemudian menghabiskan malamnya denganku. Gadis yang penuh semangat membara dan cinta yang luar biasa untuk ayahnya ... kita perlu membicarakan tentang malam itu ... agar tidak menjadi duri dalam pernikahan kita.


"Ayolah Nat ... kita perlu membicarakannya. Jangan malu. Apa alasanmu melepaskan Claude? Claude mencampakkan mu?"


"Kau! Mulutmu memang jahat! Kau brengs*k!" jerit Natalia. Kepalan tangannya memukul bantal yang ada di pelukannya.


"Kenapa brengs*k? Aku kan hanya bertanya," ujar Luigi. Ia menggeser duduknya mendekati Natalia. Ia tahu Natalia sudah sangat kesal, Jika kepalan tangan istrinya itu akhirnya mendarat di wajahnya, ia sudah siap.


"Kau mengungkit masalah Claude seolah kau sendiri tidak punya hubungan dengan Catalina! Dasar tidak berperasaan! Kau sendiri mencintai Catalina!" Natalia mendesis. Suaranya penuh kemarahan.


Luigi diam. Menunggu. Ia tahu Natalia belum selesai.


"Kau begitu mencintainya! Hanya dia yang ada di hatimu sejak dulu! Kau menolak perjodohan kita juga karena dia bukan!?" Natalia terlihat meremas bantal di atas pangkuannya. Luigi melirik, menyiapkan diri bila bantal itu melayang ke arah wajahnya.


"Kau bertanya apa aku mengenal gadis itu!? Ya, aku tahu semuanya tentang gadis itu! Gadis itu juga yang jadi alasan kenapa kau turun tangan langsung, masuk ke kamar operasi berjam-jam! Padahal itu bukan bidangmu!" Natalia tertawa kencang, penuh emosi. Lalu dengan susah payah ia bangkit dan berdiri di pinggir tempat tidur.


Luigi memandangnya dengan wajah tertarik, entah kenapa telinganya seperti mendengar keluhan istri yang sedang cemburu dari nada suara Natalia.


"Kau spesialis kandungan, Luigi! Demi Tuhan! Kau bahkan tidak makan siang! Kau pulang terlambat! Kau ... kau ... semua karena gadis itu!"


Tidak salah lagi ... dia cemburu ...


Natalia berteriak, berjalan mondar mandir dengan perutnya yang besar. Luigi bergerak perlahan, seolah ia takut mengejutkan Natalia. Ia duduk di pinggir ranjang. Ingin sekali rasanya ia menangkap tubuh istrinya itu lalu menenangkannya. Tapi ia tahu ia harus membuat Natalia mengeluarkan semua kegelisahan, kesedihan ataupun kemarahannya dulu. Jadi dengan sekuat tenaga, Luigi menahan dorongan untuk memeluk Natalia.


"Jadi karena itu kau menangis?" tanya Luigi dengan suara yang amat lembut.


Natalia membersit hidung, menghapus air mata di pipinya dengan kasar. Tanpa sadar, ketika tadi ia berteriak, air matanya sudah keluar, deras mengaliri pipinya.


"Ya! Aku menangisi diriku! mengasihani hatiku yang bodoh! Nat yang bodoh!"

__ADS_1


"Kenapa kau merasa bodoh!?" tanya Luigi. Kembali dengan nada yang amat lembut.


"Tidak usah bersikap lembut! Aku benci!"


"Kenapa benci?"


"Karena aku menyukainya! Padahal kau hanya bersikap baik!"


"Kalau aku bilang aku tulus karena aku menyukaimu, bagaimana?"


"Aku tidak percaya!"


"Kenapa tidak percaya? Aku sampai pergi ke Crystal Clear untuk mengejar mu."


Natalia mendengus. "Kau mengejarku karena aku hamil anakmu! Aku tahu kau terpaksa! Aku tidak meminta! Jadi kau tinggal pergi kalau kau mau pergi! Kejar Catalina kalau kau mau! Mereka belum menikah, masih ada kesempatan buatmu jika kau berniat! Aku tidak peduli!" Natalia terisak keras, bahunya berguncang, ia masih mondar mandir di dalam kamar. Isakannya terdengar pilu, membuat Luigi merasa bersalah telah memancing emosi istrinya.


"Lalu pertanyaan tentang Claude, Nat ... kenapa kau melepasnya!?"


"Karena Yoana menyuruhku! Ia mengancamku!"


"Dan kau dengan mudahnya menurut!?"


"Mau apa lagi! Pria itu sedingin es kutub dan mengerikan!"


Aku sama dinginnya dan mengerikan ketika memperlakukan dirimu ... tapi saat itu kita memang sudah menikah. Kau bertahan tiga bulan sebelum menyerah dan pergi ke Crystal Clear ....


"Lalu kenapa memilihku sebagai suami setelahnya?" Luigi terus bertanya, mumpung Natalia sedang tersulut emosi dan pasti menjawab dengan jujur.


"Karena ayah menginginkannya! Ayah mengagumimu! Ayah memilihmu! Ayah ... oh, aku tidak perlu menjelaskan apapun!" Natalia berderap ingin pergi.


Otak Luigi dengan cepat berpikir untuk menghentikannya. Ia tidak mungkin berlari dan melompat untuk menangkap istrinya yang hamil besar dan sedang sangat marah itu. Tidak akan sempat, jadi Luigi memutuskan sedikit bersandiwara.


"Ukh ... aduh ...." Luigi membungkuk, memegang perut dan mengaduh kesakitan. Benar saja, langkah Natalia langsung berhenti.


"Nat ... tolong. Aduh ... kenapa sakit sekali."


Tanpa pikir panjang Natalia berbalik. Ia berjalan cepat ke pinggir ranjang dan berhenti di dekat Luigi. Secepat kilat Luigi menangkap pinggangnya lalu menarik Natalia hingga berdiri tepat di tengah kedua kakinya.


"Maafkan aku, Nat. Aku tidak sakit. Perihnya sudah berkurang sejak tadi ... Aku ...." Luigi berbisik dengan wajah menempel di perut besar istrinya. Namun kata-katanya terhenti ketika merasakan kepalan tangan mendarat di kedua bahunya.


Kedua kepalan tangan itu memukul bahunya berulang kali. Tapi Luigi sama sekali tidak merasa sakit. Ia mendongak ketika mendengar Natalia menangis kencang.


"Kau kurang ajar! Kau mempermainkan aku!" jerit Natalia.


Luigi menatap istrinya yang meraung kesal. Menangis sejadi jadinya.


"Aku membencimu!" teriak Natalia.


"Tapi kau berbalik dengan cepat ketika aku mengeluh sakit. Seharusnya kau biarkan saja kalau kau benci."


"Kau menipuku, Brengs*k!"


"Kosa katamu bertambah kalau sedang marah. Apalagi kata makian yang kau tahu? Sebutkan saja, aku tidak akan marah."


Natalia makin mengamuk ketika melihat rasa geli menari-nari di mata suaminya.


"Lepaskan aku!" teriaknya sambil meliukkan badan.


"Tidak. Tidak Natku sayang. Itu tidak mungkin lagi. Salahmu sendiri kenapa datang dan kemudian meniduriku. Kau sudah tidak dapat lari."


Natalia terdiam kaku, seperti setiap saat ketika mendengar Luigi menyinggung kata itu di setiap ucapannya.


"Nat ... duduklah bersamaku. Kita bicarakan perihal malam itu dengan terbuka. Kita harus membicarakannya, Querida."


NEXT >>>>


*********


From author,


Luigi tuh gitu. Ngeselin๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Ikuti lanjutan kisah mereka ya. Nat sensi kalo dengar kata meniduri. Hahhahaha


Jangan lupa dukung author dengan tekan like. tekan love, bintang lima dan juga kasih komentar. Yuk kumpulin poin,koin. Kalo udah banyak, bantu author vote ya... heheheh.


Terima kasih banyak semua.


Salam hangat, DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2