
Marylin terbangun, menyipitkan matanya ketika suara pintu gerbang kandang terdengar di buka. Jacob kembali datang, ia mendekati kandang Kurungan Marylin dan membukanya.
"Keluarlah, ikut aku!" perintahnya.
Marylin hanya diam dan menatap, tetap duduk dengan kaki terlipat di atas lantai. Sudah malam ... Apalagi yang akan pria kejam itu lakukan padanya.
"Ck! Wanita keras kepala!" Jacob mendatangi Marylin dan menariknya paksa. Kaki-kaki Marylin sudah sangat perih karena luka gores dan lecet. Ia mengernyit ketika memaksa kakinya menapak mengikuti langkah Jacob.
Mary kembali dibawa ke ruang kerja Alric. Pria itu tengah menuang minuman dari botol yang sudah hampir kosong. Tampak beberapa botol sudah tersebar di atas meja. Aura gelap melingkupi tubuhnya. Jacob segera pergi meninggalkan mereka berdua saja di ruangan itu.
"Sudah siap mengakui kesalahanmu? Atau masih berharap aku percaya Alex mencoba memperkosa dirimu!?" Tawa mengejek tercetus dari bibir Alric.
Marylin hanya diam. Ia belajar bahwa percuma saja menjelaskan pada pria di hadapannya ini. Otak laki-laki itu hanya mau mempercayai apa yang ingin di dengar dan dipercayainya saja.
"Kenapa diam? Tidak punya bahan cerita lagi?"
Marylin menatap ke mata Alric lalu tertawa mengejek.
"Sungguh kasihan ... adikmu itu sakit! Berapa banyak gadis yang menjadi korbannya sebelum aku? Kurasa ia memang lebih baik mati saja!"
Alric berdiri dari kursinya dengan tatapan membara.
"Katakan sekali lagi ... kau wanita pelac*r!"
Tawa Marylin makin keras.
"Dia pria yang sakit! Apa kau tahu! Dia memperlakukan pasangannya dengan sadis untuk bisa menikmati hubungan sexual! Aku senang dia sudah mati!"
Alric mendekat dan berdiri di depan Marylin. Tatapan kejam dan rahangnya yang mengeras tidak membuat Marylin takut sama sekali. Dia sudah putus asa. Pria ini sengaja memisahkannya dari Serge. Ia tidak tahu bagaimana nasib temannya itu sekarang. Jika terjadi sesuatu pada Serge, maka tidak akan ada yang datang untuk menolongnya sekarang.
"Dia pelaku sadisme sexual!" seru Marylin. Alric mengulurkan tangan dan mencoba menjangkau leher Mary. Mary segera mundur, berteriak sebelum suaranya terhenti karena kembali dicekik.
"Dan kau tidak berbeda jauh! Kau itu sakit! Lihat tingkahmu ini, Kejam dan sadis pada seorang perempuan! Dua saudara yang sakit!" Mary mengelak ketika Alric kembali maju menjangkaunya. Ia mundur ke sudut ruangan dengan mata ngeri. Wajah pria itu sudah gelap oleh amarah.
"Aku tidak takut padamu! Bunuh saja!" Mary berdiri tegak walaupun wajahnya sudah pias.
Alric memandang wanita itu dan mengulurkan tangan. Marylin malah memasang lehernya dengan mendongak. Seolah siap menyambut tangan Alric. Seketika Alric menyipit, ia tidak suka melihat ketakutan sirna dari wajah Marylin. Ia ingin melihat Marylin merasa takut padanya lalu putus asa dan membunuh dirinya sendiri. Bukan sengaja memancing agar dibunuh oleh Alric.
__ADS_1
Dengan seringai kejam Alric memegang kedua bahu Marylin.
"Kita lihat seberani apa dirimu, Marylin Seymor. Kau mengatakan adikku menggunakanmu dengan sadis? Kau merasa takut dengan itu? Baiklah .... aku juga sakit bukan!? Aku akan memberikan contoh padamu apa arti kata sadis!"
Marylin terbelalak ketika ia dijatuhkan ke lantai, ia tidak memperkirakan hal ini. Ia memancing Alric agar pria itu dengan cepat membunuhnya saja. Lebih baik mati di tembak dan dicekik daripada dijadikan makanan dua peliharaan pria itu. Mary tidak bisa membayangkan ketika ia di cabik dalam keadaan masih hidup.
"Apa yang kau lakukan! Kau pria gila! Kau sama gilanya dengan adikmu!"
"Ya! Aku gila! Kau wanita bodoh hina tidak tahu diri!" Alric menarik pakaian Marylin, berusaha menelanjanginya.
"Kau mabuk! lepaskan aku!"
Marylin meronta, menendang dan meninju Alric, mengerahkan seluruh kekuatannya. Alric tertawa terbahak, senang melihat rasa takut dan kengerian kembali ke wajah Mary.
"Kau takut sekarang!? Kau memang seharusnya takut!"
Alric menarik Mary yang sudah beringsut menjauh ke arah kaki kursi yang ada di depan meja kerja Alric. Wanita itu mendorong kursi hingga jatuh lalu berusaha bangkit ketika Alric beringsut menghindari ujung kursi yang hampir mengenai kepalanya.
"Mau kemana kau ... Miss Seymor! Kau tidak akan lolos!" Alric dengan sengaja membiarkan Mary bangkit, wanita itu menutup bagian atas tubuhnya yang terbuka.
"Kau benar-benar sudah gila! Sudah kukatakan aku tidak bersalah! Aku lari dan meninggalkan adikmu karena dia mau memperkosaku! "
Setelah tersudut sampai ke dinding dan tidak bisa lagi mundur, Mary berlari. Menerobos maju dari sisi kanan Alric untuk melarikan diri. Dengan cepat tangan besar pria itu mencekal sikunya, menariknya paksa dengan sangat kuat, lalu menghempaskan tubuhnya kembali ke lantai.
Mary meringkuk kesakitan, punggungnya terasa remuk. Seolah belum puas, Alric menatap wanita yang sudah setengah telanjang itu, lalu ia mulai berlutut, bisikan iblis bernyanyi di telinga pria itu, pikirannya yang berkabut amarah tidak memberikan celah untuk berpikir jernih. Alric membuka pakaiannya sendiri, lalu dalam kabut pengaruh minuman dan juga keinginan untuk balas dendam, Alric mencengkeram Mary, menyiksa tubuhnya dan menuntaskan nafsu iblis yang menguasainya.
Cast: Alrico Lucca
Ketika kekuatannya untuk melawan pria bertubuh besar itu sudah hilang, Marylin hanya bisa menerima rasa sakit yang berdatangan. Ia memejamkan mata ... jika dulu ia berhasil lolos karena Serge, maka kali ini pria bejat di atasnya ini benar-benar telah memperkosanya. Marylin menjangkau dan memegang kaki kursi yang terjatuh di dekatnya sampai buku jarinya memutih dan ketika ia merasakan pria itu menuntaskan nafsu iblisnya, Marylin memejamkan mata, menyambut kegelapan yang menyonsong dan menggiringnya ke alam ketidaksadaran.
**********
Alric keluar dari kamar mandi dalam balutan jubah, ia memijit pelipis sambil duduk di pinggir ranjang. Kepalanya terasa amat sakit. Ketukan di pintu kamar membuatnya menoleh.
"Siapa!" teriaknya.
__ADS_1
"Saya, Tuan. Jacob. Tuan Diego menghubungi Anda. Ini sangat penting ... Saya membawa ponsel dan Tuan Diego masih terhubung. Beliau mengatakan harus bicara dengan Anda."
Alric bangkit dari pinggir ranjangnya dan membuka pintu. Jacob mengulurkan ponsel yang segera ditaruh di telinga oleh Alric.
"Sebaiknya ini sangat penting, Diego. Kepalaku hampir terasa pecah. Aku mau tidur!" ucapnya gusar.
Jacob menunggu di pintu kamar yang terbuka. Ia menyaksikan Tuannya mendengar ucapan Tuan Diego di seberang sana. Kerutan muncul di kening tuannya, lalu tuannya itu berbalik, berjalan melewati kamar yang besar itu ke arah pintu balkon.
"Kenapa tidak menghubungiku lebih cepat!?" ucap Alric gusar.
Diego menjawab tuannya dengan nada sabar. "Anda mengatakan tidak mau diganggu, Tuan. Ponsel Anda hanya diaktifkan di waktu-waktu tertentu. Lagipula saya bermaksud menyelidiki kebenarannya dulu sebelum membawa berita ini kepada Anda. Sekarang ada beberapa file yang ingin saya perlihatkan. Saya terpaksa menghubungi Jacob agar dapat bicara. Saya tahu ini hampir tengah malam, tapi ini sangat penting ...."
"Aku tahu ... aku akan pergi sekarang."
Alrico berbalik, memberi perintah pada Jacob yang masih menunggu.
"Siapkan heli untukku, Jacob. Aku akan pergi sesaat lagi setelah berpakaian."
"Baik, Tuan." Jacob menjawab sambil menangkap ponselnya yang dilemparkan oleh Alric.
Sesaat sebelum ia akan melangkah pergi dari kamar tuannya itu, sebuah perintah kembali ia dengar.
"Pindahkan wanita itu dari ruang kerjaku di bawah sana! Lalu kurung dia di kamar sebelah. Pastikan dia tidak kabur!"
**********
From Author,
Klik likenya jangan lupa ya my Readers, vote, love, bintang lima dan juga komentarnya.
Nikmati dan mampir juga ke novel author yang lainnya:
** Passion Of My Enemy
** Love Seduction (sequel Passion of my enemy)
Terima kasih ya semua,
__ADS_1
Salam hangat, DIANAZ.