
Alric tiba di kediaman Mansion Cougar. Helikopter yang membawanya terbang rendah di lapangan samping mansion. Setelah benar-benar berhenti, Alric turun dengan sebuah berkas file yang ia bawa. Lampu-lampu di sekitar lapangan memberi pencahayaan pada Alric. Ia melihat seorang pria berkulit hitam dengan beberapa pria di belakangnya. Menunggu dan menyambut kedatangannya.
"Selamat datang, Tuan Lucca."
Suara serak dan berat pria berkulit hitam itu menyapa telinga Alric. Mata elang Alric menatap tajam, ia menganggukkan kepala.
"Dimana Dia, Jacob?"
Jacob melirik ke arah atas mansion. Letak kamar Marylin berada di bagian itu. Alric tidak menunggu jawaban lagi ketika melihat arah pandangan Jacob. Ia melangkah dan meninggalkan para pria itu dan memasuki mansion.
Naik ke lantai atas Alric tiba di lorong yang hanya terdapat dua kamar berdampingan. Dua pria terlihat berjaga di depan salah satu pintu. Alric mengulurkan tangan dengan telapak tangan menghadap ke atas. Segera, sebuah kunci di letakkan oleh pria yang berjaga itu ke tangan Alric.
"Kalian boleh pergi," ujar Alric kemudian pada dua bawahannya yang segera membungkuk dan berlalu tanpa suara.
Telapak tangan Alric mengatup. Ia melirik sekilas ke arah pintu kamar bercat putih di depannya sebelum kembali melangkah menuju pintu kedua yang ada di lorong tersebut.
Pintu didorong terbuka, sebuah ranjang besar dengan seprai abu-abu berada di tengah ruangan kamar berukuran besar itu. Barisan jendela kaca lebar di sisi terluar, dengan sebuah pintu menuju balkon.
Alric melempar file yang ia pegang ke atas kasur. Ia melanjutkan langkah sampai ke pintu balkon, mendorongnya hingga terbuka dan berjalan sampai ke pagar pengaman balkon. Terdapat sebuah kursi santai di balkon itu. Tempat Alric biasa berbaring telentang menikmati sinar bulan di malam hari.
Tidak ada sinar bulan malam ini. Kegelapan di luar sana membalut malam dalam keheningan yang sangat pekat. Barisan pepohonan besar yang berada di luar sana membuat tempat itu terlihat seperti berada di dunia antah berantah. Terletak jauh dari pemukiman, di atas wilayah pegunungan dengan hutan yang mengelilinginya.
Alric melepas jas dan melemparnya ke kursi santai, lalu ia melemparkan dasi yang telah ia buka, menyusul kemudian kemeja yang ia pakai ikut dilempar ke atas kursi. Bertelanjang dada, Alric menghirup udara malam, mengisi parunya dengan udara pegunungan yang terasa dingin.
Kedua tangan Alric menggenggam pagar pembatas balkon. Matanya nyalang menatap ke arah daerah pepohonan, urat-urat tangannya mengencang tatkala bayangan seorang pria tercetak jelas di kegelapan malam. Bayang yang selalu menghantui pikirannya .
Setelah satu tarikan napas panjang, Alric akhirnya berbalik. Meninggalkan balkon dan pakaiannya yang berserakan di kursi santai. Ia menuju pintu kamar mandi dan masuk. Setelah membuka celana dan melemparnya ke sudut kamar mandi yang luas itu, Alric menghidupkan shower dan membiarkan air hangat membasuh seluruh otot-ototnya yang lelah.
Ia menengadah, menikmati ketika siraman air hangat mengaliri wajah tegasnya yang aristokrat, ketampanan yang terlukis sempurna di wajah seorang pria dilengkapi dengan tubuh gagah berotot yang selalu membuat lawan jenisnya menoleh dan memandangnya takjub.
__ADS_1
Alric mendesah, merasa nikmat ketika otot-ototnya yang kaku mulai terasa santai, mandi air hangat membuat tubuhnya rileks dan segar kembali.
Selesai mandi dan mematikan shower, Alric mengeringkan tubuhnya dengan handuk lalu menarik jubah dan memakainya sebelum keluar dari kamar mandi. Ketika akan menuju ke arah tempat tidur, mata nya tertumpu pada sebuah pintu penghubung.
Perlahan Alric mendekat, memutar kunci dan mendorong pintu sampai terbuka. Ia melangkah masuk, kaki telanjangnya sama sekali tidak bersuara ketika ia mulai berjalan mendekati ranjang yang ada di kamar itu.
Mata Alric semakin menajam ketika menatap sesosok tubuh yang tidur dengan posisi meringkuk memeluk sebuah bantal. Di belakang punggung sosok itu juga disusun beberapa bantal, seolah sengaja diatur agar menghimpit tubuh yang tertidur dan tidak bergerak di atas ranjang itu.
Alric makin mendekat, sampai ia tiba di samping ranjang dan dapat melihat wajah yang terbaring di atas bantal dengan rambut kusut bertebaran di sekitar wajahnya. Wanita itu terpejam rapat, bernafas teratur, terlihat tertidur dengan damai dan tenang.
Kita bertemu lagi, Marylin Seymor. Aku mau lihat seberapa kuat dirimu bertahan di mansion ini ... berapa lama kau akan bertahan? Sergemu sudah tidak ada di sampingmu, tidak akan bisa lagi menolongmu. Aku sangat penasaran ... di ujung semua ini nanti, kau akan memilih mati, ataukah memilih menjadi gila ... menutup fikiranmu dari semua derita lalu beralih ke dunia ciptaanmu sendiri, seperti ibumu yang malang itu ....
Seringai kejam tersungging di bibir Alric, sebelum ia berbalik dan kembali ke pintu penghubung. Masuk ke kamarnya sendiri dan mengunci kembali pintunya rapat-rapat. Ia mematikan lampu di kamarnya, membiarkan cahaya kecil di sudut kamar dari lampu tidur menerangi kamar itu dengan cahaya remang-remang.
Setelah membuka ikatan tali jubahnya, Alric meletakkan jubah itu pada sandaran sebuah kursi, kemudian ia naik ke atas tempat tidur. Sudah hampir pagi ... ia menarik selimut dan menutupkan ke tubuhnya hingga pinggang. Lalu berbaring di atas bantal empuk dengan wajah menoleh ke arah pintu balkon yang masih terbuka. Semilir angin dingin yang memasuki ruangannya seperti tidak mengganggu Alric sama sekali, ia perlahan memejamkan mata, merasa rileks dan akhirnya terbang ke alam mimpi, nyenyak dengan seribu rencana yang sudah ia susun untuk Marylin Seymor.
**********
Marylin bangkit, duduk di atas ranjang dan memindahkan bantal-bantal yang ia susun di sekitar tubuhnya. Sejak dulu, entah kenapa melakukan itu bisa membuat Marylin tertidur dengan tenang, apalagi jika ia berada di tempat asing. Bukan berarti ia tidak dapat tidur sama sekali jika tidak dikelilingi bantal, hanya saja Mary merasa tidurnya sedikit tidak berkualitas, agak gelisah dan tidak tenang. Rasa takutnya tadi malam membuatnya menyusun bantal-bantal itu di sekitar tubuhnya ketika ia berbaring.
Saat berada di lokasi pemotretan dengan jadwal padat, Serge kadang menyuruhnya tidur di tempat yang disediakan kru. Mary akan tertidur, apalagi jika tubuhnya lelah, rasa aman mengetahui Serge ada di dekatnya membuat Mary bisa tidur dengan tenang. Begitu juga saat di rumah sakit. Saat Claude menyuruhnya tidur di ranjang penunggu pasien, Mary mencoba memejamkan matanya, tempat asing dan tanpa banyak bantal yang bisa ia susun membuat Mary terpejam dengan sedikit keryitan di kening. Meski merasa sedikit gelisah, Mary akhirnya bisa tertidur.
Namun tadi malam, saat gemetar melanda sekujur tubuhnya. Mary tidak punya siapapun yang bisa membantu menenangkannya. Setelah lelah menangis, ia merasa lemas dan memilih berbaring ke tempat tidur. Karena tidak kunjung terpejam, Mary mengatur bantal-bantal agar mengelilinginya, lalu mencoba memejamkan mata. Syukurlah akhirnya ia tertidur, tubuhnya merasa segar kembali, siap menghadapi apapun yang akan muncul di hadapannya sebentar lagi. Orang-orang Alrico Lucca ini harus memberitahu apa maksud sebenarnya dari tuan mereka itu.
Marylin meninggalkan ranjang dan berjalan mengitari kamar. Kamar itu lumayan besar, ada sebuah ranjang king size yang ia tiduri tadi malam, walk ini closet yang berisi pakaian wanita, salah satunya ia tarik untuk ia pakai tidur. Kebanyakan pakaian itu adalah keluaran lama dengan model sedikit ketinggalan zaman. Entah siapa pemilik kamar ini sebelumnya. Mary melangkah menuju pintu balkon. Ia keluar lalu menyadari balkon itu memanjang bersambung dengan kamar sebelahnya. Marylin berjalan hingga tiba di depan pintu balkon kamar sebelah yang terbuka, dengan sedikit memajukan tubuh, ia berusaha mengintip ke arah dalam.
Pemandangan yang ada di dalam kamar itu membuat Marylin menelan ludah. Di atas ranjang besar di tengah-tengah kamar, Alrico Lucca tampak tertidur pulas. Pria itu tidak mengenakan apapun, polos hingga sedikit di bawah pinggang. Selimutnya menutup hanya sampai di bawah pusar.
Sosok itu tampak dominan dan besar di atas tempat tidur, Mary mulai merasa nafasnya sesak, tangannya mulai gemetar. Pria itu sudah tiba di mansion ini, dan tertidur di kamar yang bersebelahan dengannya. Apa maksud semua ini?
__ADS_1
Marylin mundur perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara, setelah agak jauh dari pintu balkon barulah ia berbalik dan kembali ke kamarnya sendiri. Marylin mengunci pintu balkon dari dalam lalu ia beralih ke pintu luar, ia menarik dan tahu dirinya masih terkunci dari luar.
Sebuah pintu penghubung yang mengarah ke kamar Alrico membuat jantung Marylin makin berdebar. Ia mulai ketakutan lagi, seperti tadi malam saat ia tiba.
Marylin mendekat, dengan gemetar ia berusaha membuka pintu. Terkunci. Alrico Lucca menguncinya dari kamar sebelah. Yang berarti, pria itu dapat masuk kapan saja ia mau sedangkan Marylin tidak dapat keluar kemanapun, kecuali pintu balkon. Hanya itu akses keluarnya dari kamar ini.
Marylin bergerak cepat, sebuah rencana melintas di otaknya. ia masuk ke kamar mandi, menggosok giginya dan mencuci muka, lalu kembali mengenakan blus dengan rok selutut yang ia pakai ketika datang.
Mary mengatur bantal guling di atas ranjang, lalu menutupnya dengan selimut, membuat seolah ialah yang tertidur di ranjang tersebut.
Setelahnya Mary keluar lagi menuju balkon, ia melirik sekali ke arah bawah, tempatnya sekarang berada di lantai atas, ketinggian kamar dari atas permukaan tanah tidak memungkinkan ia melompat ataupun turun melalui dinding di bawah balkon. Ia tidak punya tali untuk bergelantungan ke bawah sana.
Yang ada di otak Mary adalah melarikan diri. Insting awalnya yang mengatakan ada sesuatu yang salah dengan Alrico Lucca kembali dengan kuat.
Marylin berjalan mendekat ke pintu balkon kamar Alrico. Lalu dengan melirik cemas ke atas ranjang, ia mengendap-endap masuk, melangkah semakin dalam ke tengah kamar, makin dekat ke arah ranjang tempat pria berkulit kecoklatan itu tertidur. Marylin melangkah sangat perlahan, ranjang akhirnya ia lewati, dengan bernafas lega ia menuju ke arah pintu keluar kamar Alric. Ia yakin pintu itu bisa terbuka dari dalam. Ia akan keluar dan mencari tempat bersembunyi di mansion itu sebelum keluar melarikan diri.
Mary baru saja mencapai pintu ketika ponsel di atas nakas di samping ranjang Alrico berbunyi nyaring. Memecah kesunyian kamar dan membuat jantung Marylin seolah meledak. Ia menoleh dan melihat dengan ngeri ketika tubuh di atas ranjang besar itu mulai bergerak dan menggeliat.
N E X T >>>>
*********
Huft .... Be strong Marylin...
Hai semua, jangan lupa likenya ya, vote dan juga komentar kalian. Athor tunggu loh.
Bagi yang belum klik bintang lima dan love, yuks bantu author, agar novel ini naik performanya.
Ajak temennya juga baca kisah ini ya. Biar rame, hehe.
__ADS_1
Terima kasih semua,
Salam, DIANAZ.