
Marylin meringkuk lebih rapat ke dinding kandang. Sebuah nampan kecil yang di taruh oleh Jacob sebagai makan malam untuknya sama sekali tidak di sentuh. Sepanjang hari sejak disekap bersama dua hewan buas di kandang itu membuat Marylin kehilangan nafsu makannya. Ia hanya meminum air beberapa teguk.
Jacob dan dua orang pria datang dan membawakan makan malam. Tidak hanya makan malam untuknya, tapi juga makan malam untuk dua hewan yang ia ketahui bernama Max dan Cody.
Hewan tersebut berkeliling kandang sambil sesekali melirik Marylin. Marylin berusaha sekuat tenaga mengingat siapa Alexandro, Alric mengatakan tujuh tahun lalu. Itu adalah saat-saat ia masih bekerja sebagai pelayan di klub malam Agenor. Umurnya memasuki usia tujuh belas kala itu, Ia dan Serge bekerja serabutan untuk membayar flat yang mereka sewa bersama.
Marylin bekerja di klub saat malam hari, siangnya ia menjaga sebuah toko kue. Ia membutuhkan biaya untuk menghidupi dirinya dan juga ibunya yang telah dirawat di rumah sakit jiwa. Mary tidak ingat siapapun yang pernah ia kenal di klub malam itu, sedangkan toko kue tempatnya bekerja kala siang hari adalah milik sepasang suami istri yang sudah tua bernama Stanley.
Kejadian paling melekat di tahun itu adalah percobaan perkosaan yang dilakukan seorang pria yang tidak ia kenal. Saat itu, Mary ditugaskan mengantarkan pesanan minuman di sebuah kamar di lantai atas klub oleh tuan Agenor, pria paruh baya pemilik dari tempat Mary bekerja.
Marylin mengetuk, lalu pintu itu terbuka, seorang pria sudah ada di dalam. Ia menyuruh Mary masuk dan meletakkan pesanannya di atas meja. Ketika berbalik dan akan pergi dari tempat itu, Mary melihat pria itu menghalangi pintu dengan tubuhnya. Senyum menggoda dan kilau mata pria itu membuatnya bergidik.
Pria itu tiba-tiba membuka kemejanya yang memang sudah terbuka di bagian atas, lalu mulai mendekati Mary.
"Maaf Tuan. Anda mau apa, saya hanya pelayan pengantar minuman. Tolong ... biarkan saya pergi."
Pria itu hanya tersenyum. "Mereka bilang aku bisa melakukan apa saja padamu ... tidak akan ada yang mencari dan menuntut jika sesuatu terjadi padamu."
Kemudian kengerian itu dimulai. Mary disergap, pakaiannya dipaksa dibuka, ia berusaha melepaskan diri dan melawan, entah berapa lama mereka bergumul sampai Mary kehabisan tenaga dan suara. Ia sudah berteriak, tapi tidak ada yang bisa mendengar karena ruangan itu kedap suara.
Bajunya yang robek dan compang camping akhirnya dilucuti. Pria itu makin ganas ketika ia melawan, malah semakin terlihat bersemangat dan bergairah. Ketika melihat Mary sudah polos, kengerian itu berlanjut dengan tubuhnya yang di seret menuju sofa, Pria itu duduk, memaksa Mary membuka celananya, Sebuah tamparan mendarat ketika ia menggeleng, membuat telinganya berdenging. Air Mata Mary sudah tidak terbendung lagi. Dengan tangan gemetar akhirnya ia menurut. Menyenangkan pria itu di bagian bawah dan menerima tamparan dan tarikan di rambutnya berulang kali. Teriakan dan rintihan yang keluar dari mulutnya membuat pria itu makin bergairah. Kejadian menjijikkan dan mengerikan itu selalu saja membuat Mary mual ketika mengingatnya.
Mary memegangi perutnya dan beringsut ke sudut, ia memuntahkan isi perutnya yang hanya terisi air putih. Memori mengerikan itu membuat Mary selalu ingin muntah. Ia tengah menghapus mulut dan pipi ketika sebuah kaki berbulu putih kekuningan dengan cakar tajam bergerak di depan wajahnya. Sontak Mary beringsut mundur. Cougar bernama Cody itu tengah menatapnya dari balik jeruji dan memasukkan kakinya ke celah-celah.
"Jangan ganggu aku Cody. Jacob sudah memberimu makan ... aku bukan makanan ekstra untukmu." Mary menelan ludah melihat hewan itu meninggalkan jeruji dan kembali berputar di dalam kandangnya.
Mary kembali ke tengah kurungannya, meringkuk dan melipat tangannya ke atas untuk dijadikan alas bagi kepalanya. Ia tidak tahu siapa pria yang disebutkan oleh Alric, tapi percobaan perkosaan itu terjadi tujuh tahun yang lalu dan jika benar penculikannya ini ada hubungannya dengan masa lalunya yang satu itu, maka Tuan Alric harus mendengar cerita dari versi Marylin sebagai seorang korban saat kejadian itu.
Dengan pemikiran tersebut, Marylin memejamkan matanya. Besok ia akan bicara dan membuat tuan Alric yang terhormat itu meminta maaf dan membayar mahal karena sudah memperlakukannya seperti ini.
**********
Alrico menatap wanita yang dibawa Jacob ke hadapannya itu. Bukan hanya pakaian saja, seluruh tubuh dan rambut wanita itu terlihat kumal, bau tidak sedap tercium sampai ke hidungnya. Noda kehitaman terlihat di siku dan pakaian Marylin bagian belakang.
Alric mengernyit. Menutup hidungnya dengan telapak tangan.
__ADS_1
"Kenapa kau bau seperti kotoran kuda! Jacob!" Alric memanggil Jacob yang berdiri di depan pintu keluar ruangan kerja yang ada di lantai bawah mansion. Pria berkulit hitam yang tadi menyeret Marylin dari kandang mendekat.
"Nona Marylin mencoba mengambil mobil pakan ternak yang baru tiba ketika dalam perjalanan kemari. Saya menghentikan usahanya dan menyebabkan ia terjatuh di tumpukan kotoran kuda." Jacob menjelaskan dengan nada santai. Tidak peduli pada Mary yang memandangnya penuh kejengkelan.
"Bersihkan dia! Baru kau bawa lagi kemari!" perintah Alric.
"Dimana Tuan? Tidak ada pakaian ganti untuknya."
"Terserah padamu! Mau kau berikan pakaian siapapun, aku tidak peduli! Cepat bersihkan makhluk kotor itu!"
Marylin menggeretakkan rahangnya. Makhluk kotor ... kurang ajar!
Namun, ia menahan amarahnya. Ia mengikuti jacob yang menarik lengannya dan membawanya keluar dari tempat itu.
Mary dibawa ke kamar atas, tempat pertama ia disekap. Jacob bersedekap dan menunggu di depan pintu kamar mandi.
"Apa kau harus menunggu di sana!?"
Pertanyaan Mary tidak di jawab. Ia akhirnya tidak peduli dan masuk ke kamar mandi. Tubuhnya kotor dan bau, ia tidak sabar membersihkannya.
Ketukan di pintu membuat Mary mempercepat menyisir rambut. lalu barulah ia keluar menemui Jacob.
"Aku sudah selesai," ucapnya. Tanpa bicara Jacob melangkah duluan, membawa Mary kembali pada tuannya.
Alric menatap wanita bergaun hijau tersebut dan memandang Jacob.
"Kau membawanya ke atas?" tanyanya dengan kening berkerut.
"Ya Tuan. Hanya di sana ada pakaian ganti," ucap Jacob, lalu ia kembali mundur, menunggu di belakang pintu.
" Sudah ingat siapa Alexandro?" tanya Alric.
Marylin menarik napas panjang, bicara dan menjelaskan kejadian tujuh tahun lalu mungkin memberikan pengertian pada pria itu bahwa ia menangkap orang yang salah atau salah sasaran.
"Tujuh tahun yang lalu, aku bekerja di sebuah klub malam bernama Agenor. Aku tidak punya hubungan apapun dan mengenal siapapun secara akrab di tempat itu. Aku hanya bekerja sebagai pelayan saat malam hari. Siangnya aku bekerja di toko kue Stanley. Tidak ada kejadian yang membuatku mengenal seseorang bernama Alexandro. Tapi kau begitu memaksa dan yakin kalau aku mengenalnya. Apakah ini ada hubungannya dengan pria yang hampir memperkosaku saat itu?"
__ADS_1
Alric bangkit dari kursi besar yang didudukinya. Menatap Marylin dengan tajam.
"Agenor memberikan sebuah nama padaku. Nama gadis yang terakhir kali terlihat bersama Alexandro Morelli dan itu adalah dirimu Marylin Seymor. Ada saksi hidup yang melihatmu bersama Alex malam itu. Agenor mengatakan gadis ini adalah kekasih terbaru dari Alex."
"Terakhir bekerja di Agenor adalah malam saat aku hampir diperkosa oleh seorang pria. Diakah yang kau sebut Alex? Aku tidak mengenal pria itu! Agenor mengumpankanku untuk mengantarkan minuman dan rupanya ia menjualku juga! "
Alric mendekat, tangannya terayun dan suara tamparan keras mendarat di pipi Mary.
"Cerita yang bagus Marylin. Kau sudah jadi pelac*r sejak kau remaja dan kau membuat alasan diperkosa? Bagus sekali ... kau sudah mengeruk uang adikku berminggu-minggu, lalu menghabiskannya bersama pria bernama Sergio Eneas itu!"
Marylin terbelalak, sepertinya kejadian sebenarnya sudah diputar dengan alur berbeda.
"Jadi benar pria itu yang kau sebut Alexandro? Apa Agenor mengatakan akulah kekasih baru dari Alexandro ini?" Marylin tertawa pahit. Otaknya mengingat pria paruh baya yang hanya berpura-pura baik itu.
Alric mengulurkan tangannya dengan sangat geram. Ia melingkari leher Marylin dan mencekiknya.
"Kau berani tertawa wanita jala**! Agenor sudah memberiku buktinya!" Alric mengangkat tubuh Marylin hanya dengan sebelah tangannya. Suara tercekik keluar dari tenggorokan Mary. Kedua tangannya menggapai, lalu ia meraih pergelangan tangan Alric, berusaha melepaskan diri untuk menghirup oksigen yang dibutuhkan paru-parunya.
"Kau akan membayarnya Marylin Seymor. Kau meninggalkan adikku di jalanan sepi setelah tertabrak Mobil. Kau berlari meninggalkannya bersama managermu! Dia masih hidup saat kau tinggalkan! Andai kau dan Serge tidak meninggalkannya di sana tapi membawanya ke rumah sakit, adikku mungkin masih hidup!"
Alric terus mencekik dengan napas memburu, tidak menyadari bahwa Marylin sudah lemas dan kehabisan udara.
Setelah melihat Marylin sudah tidak lagi bergerak dan menggelepar, Alric melepas cekikannya. Marylin jatuh ke lantai seperti boneka kain. Tanpa merasa perlu memeriksa bagaimana kondisi Mary, Alric melangkahi tubuh di lantai itu dan pergi meninggalkan ruangan.
N E X T >>>
**********
From Author,
Jangan lupa likenya, vote, bintang lima, love dan juga komentar.
Ikuti terus kisah Catalina dan Marylin selanjutnya.
Terima kasih.
__ADS_1
Salam, DIANAZ