Embrace Love

Embrace Love
Ch 163. Wedding gift


__ADS_3

"Kita kemana?" Catalina menyandarkan kepalanya di bahu Claude. Mereka dalam perjalanan bulan madu. Namun yang membuat dirinya kebingungan, sekarang mereka malah tengah melaju di jalanan kota tempat kelahirannya.


"Aku akan memberikan hadiah pernikahan untukmu. Kau kan belum menerima hadiah dariku."


"Tapi ... ini jalan menuju Love Rays ...."


"Memang di sana lah hadiahnya. Kutitipkan pada Suster Rebecca."


Mobil kemudian memelan, Claude turun lebih dulu kemudian berputar dan membuka pintu agar Catalina bisa turun.


Mereka berdiri berdampingan di depan panti asuhan Love Rays. Catalina mengerutkan keningnya. Tampak depan dari panti tersebut tidak terlalu banyak berubah. Tapi gedung baru yang menjulang di bagian belakang tampak mencolok. Catalina tanpa sadar melangkahkan kaki dengan mata melebar. Ia berjalan meninggalkan Claude yang tersenyum melihat ekspresi istrinya itu.


Catalina berjalan cepat menuju gedung baru yang besar dan kokoh di bagian belakang. Ia masuk dan menemukan ruangan dengan kursi dan sofa. Lalu kakinya seperti dituntun untuk mendatangi setiap ruangan. Ruang belajar, luas dan penuh rak berisi buku yang menempel di dinding. Di bagian tengah, meja dan kursi tersusun rapi. Tangannya menyentuh permukaan meja yang masih baru, seketika mata Catalina berkaca-kaca. Lalu kakinya melangkah lagi, membawanya menyusuri lorong dan tiba di ruangan yang amat luas dengan meja-meja panjang berjejer. Kursi juga tersusun rapi di sisi-sisi meja. Ruang makan ... yang sepertinya terhubung ke sebuah dapur. Catalina memasuki ruangan itu dan terkesima. Dapur yang sangat besar ... akan mampu mengolah makanan bahkan untuk ratusan anak-anak.


Jemari Catalina menyentuh tiap permukaan benda yang ia lewati, seolah itu benda paling berharga yang diberikan untuknya.


Setelah menghapus lelehan air mata di pipinya, Catalina melangkah dan menuju ruangan lain. Banyak orang yang ia lewati, tersenyum dan bahkan beberapa telah menangis ketika melihat ia datang. Tapi Catalina seperti tidak melihat. Ia menatap berkeliling dengan air mata meleleh.


Catalina naik ke lantai atas. Memasuki satu demi satu ruangan yang di isi dengan tempat tidur dua tingkat dengan seprai baru yang cerah dan berwarna warni. Seperti ingin memastikan kalau tiap kamar memiliki kondisi yang sama, kaki Catalina melangkah tanpa lelah melihat satu demi satu kamar tidur anak-anak yang tinggal di panti itu.


Gedung baru dengan banyak kamar, tentulah anak-anak itu tidak lagi tidur berdesakan. Tiba di sebuah kamar tidur yang menghadap taman dengan jendela kaca yang terbuka, Catalina melangkah pelan, berhenti di dekat jendela dan membiarkan angin menerbangkan helaian rambut palsu yang ia pakai. Rambutnya sudah mulai tumbuh, namun ia masih merasa aneh jika tidak mengenakan rambut palsu.


Angin sepoi-sepoi meniup wajah Catalina, mendinginkan wajahnya yang banjir air mata. Jika ini adalah hadiah pernikahan yang Claude maksud, maka Claude sudah memberikan sesuatu yang amat sangat istimewa ... sesuatu yang paling ia inginkan, sesuatu yang telah lama berusaha ia wujudkan ... cita-citanya bersama ibu yang sangat ia cintai.


Kelebat bayangan wajah ibunya melintas di pikiran Catalina, ia menatap langit di luar jendela, cerah dengan beberapa gumpalan awan putih tipis. Wajah ibunya terbentuk di langit, tersenyum lebar dalam bayangan Catalina, membuat kerinduannya menyeruak dan air matanya mengalir lagi. Bahunya berguncang, ia terisak dengan wajah mendongak menatap langit.


Di luar pintu yang terbuka, Claude berdiri berdampingan dengan Suster Rebecca. Claude mengiringi setiap langkah Catalina, menjaga jarak beberapa meter dan menikmati setiap ekspresi yang terbentuk di wajah istrinya itu. Pandangan Catalina hanya terpaku pada semua benda yang ia isikan di gedung baru tersebut. Jemarinya menyentuh setiap permukaan yang ia lewati, air mata yang menetes di pipi wanita itu, sesuatu yang Claude harap merupakan refleksi rasa bahagia yang mengisi hati Cattynya saat ini.


Claude melangkah perlahan memasuki kamar tersebut, mendekati istrinya di ujung ruangan. Setelah meletakkan jas yang ia pegang di atas sebuah kasur, ia berdiri di samping istrinya itu.

__ADS_1


Catalina menoleh, menatap sosok pria yang berdiri di sampingnya dengan kedua tangan berada di dalam saku. Dengan perlahan ia bergerak agar bisa menghadap penuh ke arah Claude.


"Terima kasih," bisiknya lirih.


Claude menatap mata istrinya, ia tidak akan menukar pemandangan ini dengan apapun. Mata biru yang memandangnya sedalam lautan yang disinari matahari di siang hari. Hangat, berkilau penuh perasaan, penuh kasih, penuh cinta, penuh rasa terima kasih.


Claude sampai kehilangan kata-kata. Ia senang, dugaannya benar. Hadiah apapun tidak akan berarti untuk Cattynya. Tapi ini ... tempat tinggal baru yang sangat layak dengan fasilitas yang bagus untuk anak-anak yang tinggal di Love Rays, sesuatu yang akan menjadi hadiah pernikahan penuh kejutan untuk Cattynya. Claude berdeham pelan sebelum akhirnya berhasil mengucapkan sesuatu.


"Aku yang berterima kasih. Kau sudah mau datang dalam hidupku dan memutuskan untuk tinggal, mengikatkan dirimu padaku ... mendampingiku ...."


Catalina mendekat dan mengulurkan kedua tangannya, memeluk suaminya dengan tangis kembali pecah.


"Aku sungguh mencintaimu, Claude ... terima kasih. Ini hadiah terindah untukku ... kau tidak tahu betapa seringnya aku memimpikan ini ...."


Claude menarik napas, melegakan dadanya yang terasa ikut sesak melihat Catalina kembali menangis.


"Shhhh ... jangan menangis, Catty. Aku memberikan ini agar kau bahagia. Bukan ingin kau menangis seperti ini."


Claude menyeringai senang mendengar ucapan Catalina.


"Oh, baiklah kalau begitu ... aku akan mengizinkanmu menangis sebentar lagi ...."


Kemudian pasangan suami istri itu berpelukan, Suster Rebecca menghapus lelehan air mata di pipinya. Ia menatap sekali lagi pada pasangan yang berdiri di ujung ruangan sebelum menarik pintu dan menutupnya dengan perlahan. Membiarkan pasangan suami istri itu berbagi perasaan bahagia mereka berdua saja tanpa diganggu.


Setelah isak Catalina mereda, Claude mencium puncak kepalanya dan memandang ke arah langit. Ia merasakan kepala istrinya bergerak, ikut menoleh ke arah luar jendela. Bersama mereka memandang birunya langit, bersyukur pada kebahagiaan yang menghampiri hidup mereka saat ini. Bersyukur mereka akhirnya bertemu dan jatuh cinta.


"Kau lelah?"


"Tidak."

__ADS_1


"Kau suka hadiahnya?"


"Amat sangat. Terima kasih."


"Sekarang, boleh aku meminta hadiahku?"


Catalina sedikit menjauh dari dada Claude, lalu mendongak menatap ke wajah suaminya yang tengah tersenyum. Dari sorot mata suaminya itu, Catty tahu pasti apa yang dimaksud pria itu.


"Kau sudah mendapatkannya," ucap Catalina dengan pipi merona. Mengingat ketika pesta yang diselenggarakan oleh Yoana masih berlangsung, Claude mengajaknya menyelinap ke kamar pengantin mereka.


"Aku memutuskan, aku akan sering-sering meminta hadiah yang satu itu," goda Claude.


Catalina makin merona, malam pengantinnya menyenangkan, memuaskan, indah ... ia memutuskan ia menyukai aktivitas yang satu itu. Namun ia akan merasa sangat malu bila Claude tahu perasaannya tentang hal itu. Jadi ia berpura-pura mengerutkan bibir dan berusaha balik menggoda suaminya.


"Dan kau mau mulai dari mana? Kita terkurung di kamar anak-anak. Akan ada yang membuka pintu itu sebentar lagi, anak-anak atau mungkin para suster. Kau berani?" goda Catalina.


Claude tersenyum, ia memegang kedua pipi istrinya dengan telapak tangan, kemudian mulai menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Catalina.


"Aku akan mulai dengan ini, Catty. Lalu sisanya, akan kita habiskan di tempat bulan madu kita. Untuk sekarang ... aku akan puas dengan ini ...."


Ciuman itu dimulai dengan perasaan bahagia yang membuncah dari hati keduanya. Belaian lembut pada bibir dan lidah, alunan cinta yang mereka sampaikan lewat nyanyian dari dalam hati paling dalam. Sebuah kata yang menghias hidup manusia dari waktu ke waktu, memberi arti pada hidup yang di jalani setiap detiknya. Cinta ... dan sekarang, sepenuh perasaan ... walaupun tidak terucap, keduanya tahu, hanya kata itu lah yang bisa menggambarkan bagaimana arti dari ikatan yang telah mereka jalani dan akan terus mereka jalani, hingga nanti ... sampai maut memisahkan.


NEXT >>>>>


**********


From Author,


Satu part lagi menuju akhir, sabar menanti ya😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like, love, favorite dan bintang limanya. Vote juga untuk Embrace Love ya para pembaca. Atas dukungannya author ucapkan terima kasih.


Salam hangat. DIANAZ.


__ADS_2