
Claude mengambil ponselnya dari atas nakas, ia melangkah ke pintu kamar dan bermaksud untuk membukanya. Setelah menarik pegangan pintu, ia menoleh ke arah ranjang di kamar bernuansa putih yang ia tempati bersama istrinya yang kini masih tertidur dengan ditutupi sebuah selimut. Senyum segera terbit di bibir Claude. Ia menduga, Cattynya tidak akan bangun sampai menjelang siang, atau paling tidak, hingga matahari sudah beranjak naik. Sepanjang malam hingga menjelang pagi, ia berhasil membuat Catalina sangat sibuk, mengobrol, saling menggoda, berbagi ciuman, kemudian diakhiri dengan bercinta.
Mereka berada di sebuah Villa yang menghadap ke sebuah teluk. Menghabiskan waktu bulan madu berdua tanpa gangguan apapun. Deburan ombak yang memecah di tebing batu membuat Claude melangkah cepat, ingin menikmati pemandangan di bawah tebing batu itu.
Sesampai di pagar pembatas, Claude memegang tembok pembatas dan memandang ke arah laut. Buih putih dari ombak yang pecah dan burung-burung yang terbang di sekitar membuat matanya memicing takjub. Kebahagiaan yang hadir dalam hatinya sekarang tidak bisa ia lukiskan dengan kata-kata.
Dering ponsel mengalihkan perhatian Claude. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana pendek selutut yang ia pakai. Nama Yoana tertera di layar ponsel.
"Ya, Yoan?"
"Halo, pengantin pria."
Claude hanya menjawab dengan tertawa.
"Sudah menjelang tiga minggu sejak kalian pergi, Claude. Memangnya sampai kapan kau dan Catalina mau berbulan madu? Kapan kalian pulang?" Suara Yoana terdengar sedih. Claude kembali tertawa.
"Ah, kau merindukanku ya. Manis sekali Yoan ...."
"Aku bukan merindukanmu Claude Bernard! Tapi aku menunggumu pulang agar aku dan Vincent bisa segera pindah! Rumah kami yang cantik dan indah sudah memanggil-manggil."
Claude teringat tentang rumah di daerah pinggir kota yang pernah diceritakan Vincent padanya dulu. Kawasan Wooden Fence, lingkungan dengan deretan rumah putih bertingkat dua, halaman yang penuh bunga dan tetangga yang ada di kiri, kanan, juga depan. Sebuah jalan besar membelah lingkungan itu jadi dua bagian. Ia pernah mengunjungi kawasan itu. Sebuah tempat yang sangat bagus, dekat taman, rumah-rumah yang diisi oleh keluarga dengan beberapa anak. Kawasan yang sangat bagus untuk membesarkan anak-anak.
"Pindah saja sekarang, Yoan. Tidak usah menunggu kami kembali."
"Tidak bisa. Bocah itu harus diawasi setiap hari. Jika tidak, ia akan mangkir. Lalu menghabiskan harinya bersama Leon hanya dengan bepergian. Kau bayangkan itu! Harus ada yang memastikan kalau dia bangun setiap pagi dan bersiap serta datang ke kantor."
"Bukankah dia bekerja dengan baik ketika ia datang ke kantor? Jadi beri dia kelonggaran, Yoan. Biarkan dia mengambil libur sesekali bersama putranya."
Claude tahu dengan pasti siapa yang tengah dikeluhkan oleh kakaknya itu.
"Aku tahu. Tapi bukan hanya masalah itu. Aku tahu kenapa dia melakukan ini. Ia tidak mau aku pergi. Dia memastikan aku selalu mengawasinya dan membuatnya pergi ke kantor setiap hari. Kau tahu artinya itu? Salah satu dari kita mesti ada di sini, Claude."
Claude menunduk, memandang ombak yang memecah di tebing di bawahnya. Terbayang Simon dan juga Yoana.
"Aku tahu. Aku dan Catalina akan pulang, Yoan. Bersabarlah. Jadi kau bisa pindah ketika kami tiba."
Lama Claude tidak mendengar jawaban dari saudaranya. "Yoan? Kau masih di sana?"
"Ya ... dia pergi berminggu-minggu dan meninggalkan kita di waktu-waktu dulu. Memastikan kita jauh dan tidak mengaturnya. Sekarang dia gelisah ketika tahu kita semua sudah menikah, lalu aku akan pindah. Tidak lagi berkumpul dalam satu mansion."
"Mungkin dia merasa kita bukan miliknya lagi. Dia bodoh jika memang itu yang ia rasakan."
"Mungkin kau benar. Segeralah pulang. Kita berkumpul dan makan malam sama-sama."
"Aku akan memberitahumu jika waktu pulang tiba."
"Ah ... kau berbulan madu ... aku yang mengganggu. Harusnya aku membiarkan kalian, bukannya menyuruh cepat pulang."
Tawa maklum Claude terdengar kemudian. Lalu Claude ingat tentang kehamilan Yoana.
"Kau sudah periksa ke tempat Luigi?"
"Sudah. Semuanya bagus. Kau tahu ... dokter itu agak ...."
"Agak apa, Yoan?"
"Entahlah. Mungkin kehadiran putri kecilnya membuat dia terlihat makin berbeda."
"Dalam artian?"
"Dia jadi makin tampan." Seseorang berdecak di belakang Yoana, membuat ia menoleh dan mendapati suaminya sudah berada di dekatnya.
Claude yang mendengar suara berdecak itu langsung tersenyum lebar. "Aku tutup teleponnya ya, Yoan. Kau pasti akan sibuk kan?"
Tanpa menunggu jawaban sambungan telepon itu diputus oleh Claude. Ia segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong saku ketika merasakan dua lengan yang melingkar di pinggangnya.
"Kau sudah bangun? Kukira kau tidak akan bergerak sampai siang." Claude berbalik, menatap Catalina dalam balutan hoodie dan celana olahraga. Kepalanya ditutupi tudung, senyumnya muncul dengan amat manis.
"Aku sudah terbiasa tidur dengan seseorang yang berada di dekatku. Jadi, jika orangnya pergi, aku dengan cepat terbangun." Seringai menggoda muncul di senyum Catalina.
"Kau merayuku ya?" tanya Claude dengan mengedipkan mata.
Catalina hanya tertawa. "Ayo, ajak aku jalan-jalan ke sana." Tunjuk Catalina mengarah ke jalur setapak di sepanjang tebing.
"Ayo. Mataharinya cerah."
Pasangan itu menyusuri jalan, memandang pemandangan arah teluk dengan tangan saling bergandengan. Sesekali mereka saling menoleh, menatap, lalu berbagi senyum.
Bersama istrinya menghabiskan waktu selalu membuat hati Claude merasa puas, bahagia. Lalu ia ingat percakapannya dengan Yoana yang memintanya segera pulang.
Bersabarlah sebentar lagi, Yoan. Bertahanlah bersama bocah di sana beberapa saat lagi. Beri tambahan waktu untukku menikmati ini ....
Claude menghentikan langkah, membuat Catalina juga jadi berhenti.
__ADS_1
"Apa?" tanyanya heran.
Claude mendekat, memeluk pinggang istrinya. "Tidak ada. Hanya ingin melakukan ini."
Ciuman itu dalam dan indah. Penuh janji dan gairah, tanpa jarak dan menahan diri. Di bawah sinar matahari yang cerah, langit biru, deburan ombak dan nyanyian burung, sekali lagi pasangan itu saling memeluk dan berbagi ciuman. Mengukir kenangan hingga relung hati yang paling dalam.
**********
"Apakah dia tidur, Ayah?"
Luigi mendatangi ayahnya yang sedang berdiri sambil menggendong Luzi, putri mungilnya yang sudah dimandikan, sudah disusui, lalu dibawa ke halaman belakang mansion oleh sang kakek dengan dalih untuk berjemur. Salah satu alasan sang kakek agar bisa menggendong dan memandangi cucunya sampai berjam-jam.
"Ya."
"Kenapa tidak dibawa masuk kalau ia sudah tidur?" tanya Luigi.
"Aku suka menggendongnya."
"Kau akan lelah ketika beratnya bertambah."
"Ck! Tidak akan."
Luigi terkekeh. "Apa kau bersikap begini juga saat aku dilahirkan?"
"Persis, Luigi. Dia menolak bekerja. Dia tidak datang ke kantor dan yang ia kerjakan hanyalah memandangimu atau menggendongmu." Suara ibu Luigi terdengar dari arah belakang kedua pria itu.
"Aku tidak begitu, Esmeralda."
"Ya. Kau begitu. Sekarang kau begitu lagi karena ada cucumu."
Luigi melihat rona kemerahan melintas di wajah ayahnya. Namun ayahnya tidak lagi membantah.
"Ayolah, Kakek. Bawa Luzi ke sana. Dia sudah lama kau jemur," canda Esmeralda.
Mereka berjalan menuju beranda belakang, tempat kursi-kursi yang tersusun mengelilingi sebuah meja panjang.
Natalia datang ketika Luigi dan orang tuanya baru saja duduk. Ia membawa nampan berisi gelas-gelas. Di belakangnya mengikuti dua orang pelayan yang juga membawa nampan berisi kue dan juga pitcher berisi jus buah.
"Kau sudah menelepon orang tuamu, Nat?" tanya ayah Luigi.
"Sudah, Ayah. Kurasa sebentar lagi mereka tiba."
Seorang pelayan datang dari arah depan beberapa saat kemudian bersama pasangan Tuan dan Nyonya Ambroz.
"Mom!" sambut Natalia, segera meletakkan gelas dan menyonsong ibunya. Memeluk dan mencium pipinya.
"Ah, kau curang, Maldini. Kau menggendongnya setiap hari. Berikan dia padaku."
Kedua pria itu berbagi tawa, lalu ayah Luigi memberikan cucunya yang bergulung selimut merah muda pada ayah Natalia. Keduanya lalu mengambil tempat duduk berhadapan dan saling mengobrol riang seolah tidak peduli ada orang lain di sana.
"Begitulah mereka jika sudah bertemu. Ayo Nat. Ajak ibumu duduk. Acuhkan saja mereka. Kuharap sebentar lagi Luzi menangis, jadi kita bisa mengambilnya segera."
Mereka semua tertawa. Luigi menatap ke arah ayahnya dan ayah Natalia yang memandang Luzi dengan pandangan sayang, bangga dan gemas. Lalu ia beralih memandang ibu Natalia dan ibunya sendiri yang saling menanyakan kabar, bercerita dengan satu tangan saling menggenggam. Pertemanan yang sudah terjalin berpuluh-puluh tahun. Kelebat Natalia yang lewat membawa dua gelas jus bertangkai mengalihkan arah mata Luigi. Ia melihat istrinya itu mendekat ke arah dua kakek yang sedang sibuk dengan cucu baru mereka itu. Mengulurkan satu gelas ke masing-masing kakek yang menerimanya dengan tersenyum. Lalu istrinya kembali, menuang lagi untuk ibunya dan ibu Luigi.
"Terima kasih, Sayang." Ibu Luigi mengangkat pipinya ketika Natalia mengulurkan gelas ke arah wanita itu. Natalia tersenyum dan segera menyambut kode dari ibu mertuanya itu. Satu ciuman mendarat di pipi Esmeralda. Lalu Natalia memberikan ciuman juga di pipi ibunya sendiri.
"Ini buatanmu?" tanya ibu Natalia, mengangkat sebuah kue kering dari dalam sebuah toples.
"Bukan. Mom yang buat. Aku masih harus banyak belajar tentang kue kering, Mom. Buatanku rasanya belum pas," ucap Natalia.
Esmeralda tersenyum bangga pada ibu Natalia. "Tapi dia pandai memasak," ucapnya sambil mengedipkan mata.
Natalia tersenyum malu, ia menuang jus dalam satu gelas lagi, lalu menatap ke arah Luigi. Bermaksud memberikan minuman itu pada suaminya. Tapi Natalia tertegun, Luigi tengah menatapnya dengan pendar itu lagi, kilau bercahaya yang selalu berpendar di mata Luigi saat menatap ke arahnya. Membuatnya merasa berharga, disayangi dan juga dicintai.
Natalia mendekat, mengulurkan gelas dan mencoba tersenyum dengan jantung yang berdebar-debar. Ia merasa seperti anak remaja yang baru berpacaran setiap suaminya menatapnya dengan tatapan itu.
"Kenapa menatapku? Ada yang aneh di wajahku?"
"Tidak. Kemarilah ...."
Luigi menarik pinggang Natalia hingga istrinya itu terduduk di pangkuannya.
"Apa yang kau lakukan! Ayah dan ibu ...."
"Mereka sedang mengobrol, mereka biasa saja, mereka melihat dan tidak heran. Mereka senang, mereka setuju, mereka baik-baik saja."
"Tetap saja! Kau ini ... aku mau duduk di kursi!" bisik Natalia sambil melotot.
"Tidak. Kau duduk di sini saja. Aku perlu mengatakan sesuatu padamu," ucap Luigi sambil mengambil gelas dari tangan Natalia dan meletakkannya ke atas lantai di bawah kursinya.
"Mengatakan sesuatu? Apa?" Natalia mendongak, memandang suaminya dan merasakan kedua lengan pria itu memeluknya.
"Aku mencintaimu, Querida ... terima kasih sudah bersabar denganku."
__ADS_1
Rona merah merambat naik ke wajah Natalia, debaran jantungnya makin cepat. Namun ia tersenyum bahagia. Luigi tentu saja sudah sering mengatakannya, tapi mendengarnya lagi dan lagi, selalu membuat hati Natalia membuncah dengan rasa bahagia yang amat sangat.
Dibalik obrolan antara sesama kakek dan nenek Luzi, pasangan kakek dan nenek itu saling berbagi senyum, lega, bahagia dan bersyukur atas perbaikan hubungan anak-anak mereka. Obrolan mereka tetap mengalir, seolah mereka tidak melihat ketika daddy Luzi menarik mommynya lalu terlihat membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu. Bisikan yang sepertinya membahagiakan, melihat rona merah yang sekarang bertahan di wajah Natalia.
**********
Alric memutar kepalanya, mencari di dalam ruang santai, ia mencari keberadaan Marry atau ibunya. Kedua wanita itu tidak terlihat.
"Mereka ke kandang Hermione, Tuan." Suara Diego terdengar di dekat sana. Diego berdiri dengan sebuah nampan, sesuatu yang ditutup sebuah tudung ada di atas nampan tersebut.
"Apa itu?" tanya Alric.
"Puding, Tuan. Nyonya Ann meminta dibawakan ini tadi. Saya sendiri yang akan mengantarnya," ucap Diego.
"Berikan padaku."
Diego menaikkan alisnya.
"Sini." Alric mengambil nampan yang segera dilepaskan oleh Diego. Ia hanya menatap ketika tuannya itu melangkah keluar pintu menuju halaman belakang. Senyum kecil akhirnya terbit di bibirnya.
Langkah Alric berhenti di bawah pohon di dekat kandang Hermione. Tiga anak anjing berkeliaran di seputaran kaki Annete dan Mary yang duduk di bawah pohon di atas sebuah kursi beton.
"Apakah itu pudingnya?" tanya Annete.
"Ya." Alric mendekat, ia melihat gulungan benang di atas pangkuan Annete dan juga Mary. Dua wanita itu rupanya tengah merajut.
"Tidak. Tidak, bukan begitu Mary. Kau harus memutarnya seperti ini." Annete memperagakan cara yang benar pada menantunya. Mary memperhatikan dengan seksama, lalu keduanya kembali berkonsentrasi dengan jarum rajut dan benang masing-masing.
Alric meletakkan nampan di atas meja, membuka penutup puding, mengambil sendok dan memotong bagian puding. Memutuskan menyuapi kedua wanita itu agar pekerjaan mereka tidak terganggu.
Ia mengulurkannya pada ibunya. "Buka mulutmu, Mom."
Annete membuka mulutnya dan menerima suapan putranya.
"Kau juga, Mary."
Mary pun melakukan hal yang sama.
"Sebenarnya kalian membuat apa?" tanya Alric sambil terus mengulurkan suapan puding.
"Aku akan membuat sweater rajut untuk cucuku."
"Dan kau Mary? Apa yang akan kau buat?"
Mary mengangkat wajahnya dari jarum rajut, memandang Alric lalu melirik ke arah Annete. Tapi ia tidak menjawab.
"Dia ingin belajar membuat syal rajut. Aku tidak tahu untuk siapa. Tapi aku bisa menebaknya," ucap Annete.
"Untuk siapa?" tanya Alric.
Annete tertawa. "Ia bertanya syal warna apa yang kira-kira disukai dan akan dipakai oleh suaminya."
"Mom ...," tegur Mary, berusaha menghentikan Annete bicara lebih lanjut.
Alric menatap ke arah istrinya dengan senyum lebar.
"Ini ... makan lagi," ucapnya sambil menyuap ke mulut Mary.
"Jangan senang dulu. Aku baru belajar. Hasilnya belum tentu bagus. Kau belum tentu suka." Mary berucap setelah menelan puding yang ada di dalam mulutnya.
"Tentu saja aku akan suka. Akan kupakai ketika kau menyelesaikannya dan memberikannya untukku."
"Ya. Jika yang itu selesai, buatkan dia dengan warna berbeda, Mary Sayang." Annete berkata tanpa mengangkat wajahnya dari rajutan. Tidak menyadari kalau pasangan di dekatnya saling berpandangan dengan saling tersenyum.
Sebuah kecupan terdengar kemudian, membuat Annete mengangkat wajahnya dan melihat putranya sudah mendekat dan mencium istrinya. Dengan satu tangan, Alric mengelus perut Mary, seolah menyapa putrinya yang masih di dalam perut.
"Oh, Tuhan. Kau mengganggu saja," ucapnya, namun sambil tersenyum lebar.
Alric kembali duduk dengan seringai lebar. Senang karena sudah berhasil membuat Mary merah padam. Merasa malu karena dicium di depan ibu mertuanya.
"Habiskan ini. Buka lagi mulutmu, Mom." Alric kembali menyuap ibu dan istrinya. Di kejauhan, di beranda halaman belakang, Diego dan Gray memandang keluarga itu dengan senyum senang. Ikut bahagia melihat kehidupan tuannya yang sekarang diisi dengan kebahagiaan bersama ibu, istri dan calon bayinya yang sebentar lagi akan lahir.
END PART OF EMBRACE LOVE
*********
From Author,
Halo pembacaku. Terima kasih telah membaca kisah ini sampai akhir. Semoga menghibur dan jadi pengisi waktu yang menyenangkan.
Author sadar masih banyak sekali kekurangan dalam karya ini, author akan berusaha memperbaiki dan tentunya akan berusaha lebih baik lagi untuk karya-karya selanjutnya.
Untuk kisah Simon Bernard, mampir ke novel otor yang judulnya Pengantin Simon, hanya saja di sana Leon udah gak bayi lagi ya.
__ADS_1
Atas dukungan pembaca selama ini, komentar, favorite, like, rate bintang lima dan juga vote nya, author mengucapkan terima kasih banyak. Semoga kita semua sehat selalu ya. Aamiin.
Salam hangat, DIANAZ.