Embrace Love

Embrace Love
CH 45. Rainy night part 2


__ADS_3

Claude mendekat ke arah perapian. Duduk di samping Catalina yang tersenyum padanya, lalu keduanya kembali menatap pada lidah api.


"Menurutmu ... kenapa Vincent tidak datang?" tanya Catalina.


"Aku tidak tahu, Catty. Tapi ... Vincent tidak akan melakukannya dengan sengaja. Ia bahkan akan tetap menjemput jika keadaan terbilang aman. Jika ia tidak datang, maka pasti alasannya sangat serius. Ia memilih bertahan di Villa dan lebih aman membiarkan kita di sini daripada menjemput kita."


"Maksudmu ... tidak aman berada di luar villa?"


"Kemungkinan ya dan orang-orang yang kami bawa sangat sedikit. Akan sangat beresiko membiarkan mereka pergi menjemput dan membiarkan villa tidak terjaga. Vincent pasti meminta tambahan orang dan juga pengamanan. Tapi dengan cuaca buruk ini, bantuan mungkin baru akan datang besok pagi."


"Sepertinya kau sangat mengenal pikiran Vincent, Claude." Catalina menoleh, selimut Claude tidak membalut ke seluruhan tubuh pria itu. Claude tidak menggenggam selimut di dada seperti yang tengah ia lakukan, selimut itu membuka seperti kerah piyama di leher dan dada Claude dan menutup secara bersilangan dari pinggang ke arah bawah.


"Aku mengenalnya dengan sangat baik, seperti saudara-saudaraku yang lain," jawab Claude tanpa menoleh. Matanya tetap menatap api.


"Apa ia sudah lama bekerja di keluarga kalian?" Catalina melihat senyum terbit di bibir Claude, membuat wajah laki-laki yang terlihat dari samping di sebelahnya itu tampak misterius. Catalina melirik ke bawah, sedikit mengintip ke balik selimut, pemandangan dada telanjang yang tampak keras dan berotot itu membuat matanya terpaku.


"Aku masih berusia belasan saat Vincent pertama kali datang ke keluarga kami. Kudengar, Ibulah yang membawanya dan memaksa Ayah menerima Vincent saat itu." Claude tetap memandang lidah api ketika bercerita. Membuat Catalina leluasa memandangi sosoknya.


"Ibu bercerita, Vincent menolongnya ketika ibu di rampok saat baru saja keluar dari sebuah rumah sakit. Saat itu ibu tengah berkunjung karena salah satu temannya baru saja mengalami kecelakaan. Dua perampok itu membawa pisau dan menarik tas Ibu. Ibu membiarkan tasnya diambil, berharap perampok itu pergi, tapi keduanya menatap Ibu dan melihat ibu sebagai mangsa besar. Mereka dapat menjadikan Ibu sebagai jalan pemasukan uang yang lebih besar. Keduanya lalu menyandera Ibu. Membawanya ke sebuah pemukiman kumuh di pinggiran kota, tempat para penjahat dan para bandit."


Catalina mendengarkan cerita yang mengalir dari bibir Claude dengan mata tanpa sadar menelisik setiap centi sosok laki-laki itu. Ia menatap pada cahaya kekuningan yang menari di rahang tegas Claude, lalu di lehernya dan kemudian di dadanya. Catalina merasa hangat, darahnya berdesir dan menyadari jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mengedip, apakah ini efek hangatnya perapian, atau ... pikirannya melayang.


"Mereka bermaksud meminta tebusan, lalu ketika keduanya mulai menghubungi Ayah dan mengancam akan melukai Ibu, Vincent yang juga tinggal di pemukiman itu melihat ulah mereka. Ia mendengar Ibu yang menangis dan memohon agar jangan dilukai. Dua perampok itu selesai hanya dalam hitungan menit. Ia mahir senjata apapun, keduanya tergeletak dengan senjata mereka sendiri mengenai tubuh mereka. Lalu Vincent pergi begitu saja, ibu harus berlari mengejarnya dan tanpa takut menarik lengannya."


Claude tiba-tiba menoleh dengan senyum menyeringai ke arah Catalina. Membuat Catalina merasa tertangkap basah. Pipinya merona, merasa dirinya sangat nakal karena berdebar dengan memandangi dada seorang pria. Sedang Claude menyeringai karena teringat keberanian ibunya.


"Vincent masih seorang penjahat kala itu, namun Ibu menariknya dan menawarkannya pekerjaan ... Vincent hanya menertawakan ibu. Pria itu akan kembali berlalu ketika Ibu kembali menarik lengannya dan menawarkan hal lain."

__ADS_1


Claude melihat wajah Catalina yang merona, gadis itu pasti sudah merasa hangat, hawa panas perapian membuat pipi Catty terlihat memerah.


"Ibu menawarkan agar Vincent ikut dengannya, hidup bersama keluarga Bernard . Punya orang tua yang akan mengurusnya dan juga tiga orang adik, Vincent berhenti melangkah, pria muda itu menoleh pada Ibu lalu bertanya dengan tertarik tentang ucapan ibu mengenai tiga orang adik."


Catalina mendengarkan dengan tertarik, telinganya penasaran mendengar cerita Claude, matanya tergoda dengan pemandangan sosok Claude, sedang hatinya mulai melembut dengan perasaan yang ia sendiri tidak mengerti.


"Ia mengikuti Ibu. Dibawa Ibu keluar dari negara itu dan masuk ke keluarga Bernard. Aku dan Simon menyambutnya dengan riang, keahliannya dengan berbagai hal membuat kami mengaguminya. Hanya Ayah dan Yoana yang melihatnya pertama kali dengan perasaan curiga dan berhati-hati. Mereka membiarkan dan menerima Vincent hanya karena Ibu yang memaksa."


"Dan sampai sekarang ia masih bersama kalian," ucap Catalina.


"Ya ... aku bersyukur Ibu membawanya kala itu."


Catalina mengangguk lalu meletakkan kepalanya ke atas lutut.


"Berbaringlah Catty ... tidurlah," ucap Claude.


"Tidak mau ... lain kali saja cerita Vincent, bagaimana jika kau ganti dengan cerita tentang dirimu."


"Aku?"


"Ya ... kau. Apa kau pernah punya kekasih?" Pertanyaan langsung Claude itu membuat rona merah di pipi Catalina makin menjadi. Gadis itu langsung cemberut.


"Itu bukan urusanmu!" ucapnya ketus, Claude tertawa ketika Catalina menolehkan kepalanya ke arah berlawanan.


"Ayolah Cat, jangan malu-malu, aku ingin tahu," bujuk Claude dengan suara lembut.


"Kubilang bukan urusanmu," sahut Catty pelan, tidak ketus lagi seperti tadi, namun ia masih menolehkan kepala ke arah berlawanan sambil menyandarkan pipinya ke atas lutut.

__ADS_1


"Dulu aku pernah punya satu tunangan, rencananya kami akan menikah ... saat itu ide menikah tidaklah terlihat tidak menyenangkan. Tapi wanita itu berubah pikiran. Dia meninggalkan aku dan pergi tanpa mengucapkan apa alasannya ... terakhir kudengar, itu karena ada seorang pria lain." Claude berhenti, memandang api dan berpikir tentang masa lalunya dengan Tania Sweyn. Catalina kembali menoleh ke arah Claude ketika mendengar suara Claude berhenti. Ia penasaran dengan ekspresi Claude saat ini.


Namun, dengan heran Catalina menyadari, Claude sedang tersenyum.


"Saat itu tidak ada perasaan kehilangan yang aku rasakan. Aku sedikit marah karena ia membuat orang-orang berpikir yang tidak-tidak karena ada seorang wanita yang meninggalkanku." Claude tertawa kecil.


"Aku membuat kejadian itu sebagai alasan tidak mau lagi didekati oleh wanita manapun. Seolah Aku sudah patah hati sangat berat, tidak ada yang mau mendekati karena wajah dingin dan kejam yang selalu aku pamerkan ... berguna sekali untuk menyingkirkan para wanita yang mengejarku."


Catalina memandang terkejut saat Claude tiba-tiba menatapnya dengan mata berkilau, laki-laki itu menoleh dengan senyum lebar.


"Sekarang aku bersyukur Tania meninggalkan aku. Karena aku sudah menemukan seorang gadis yang akan aku jadikan istri, seorang Nyonya Claude Bernard." Kilau di mata Claude makin berkilat, membuat Catalina merasa bergidik, matanya tidak bisa lepas memandang Claude.


"Tidurlah Catty. Besok kita akan pulang." Claude mengucapkannya sambil tersenyum, lalu pria itu berbaring, seolah baru saja ia tidak mengatakan satu berita yang membuat bulu roma Catalina bergidik.


Siapa dia? Siapa gadis itu, Claude?


Catalina ingin bertanya, ia baru saja membuka mulut ketika Claude bergerak menyamping, berbaring dengan memunggunginya.


"Tidur saja Catty ... atau kau mau melihat dulu apa yang ada di balik selimutku? Kau menatap sedari tadi bukan?" Nada geli yang kental mewarnai ucapan yang menggoda itu. Membuat Catalina merona dan langsung berdecih marah.


"Siapa yang menatapmu! Matamu rabun!" seru Catalina marah, gadis itu berbaring dan bergerak diiringi suara keras dengan sengaja, mengeluarkan kejengkelannya. Ia menggenggam selimutnya erat-erat dan memunggungi Claude di belakangnya.


Claude menyeringai. Kau tertangkap basah, Cat ....


N E X T >>>


**********

__ADS_1


__ADS_2