
Vincent tidak mempedulikan suara gedoran dan teriakan Simon. Ia menulikan telinga dan hanya fokus pada wanita yang ada dalam gendongannya.
Wajah Yoana sangat pucat, rambutnya kusut menutupi sebagian wajah, kepalanya tertekuk lemah ke arah dada Vincent dengan mata masih tertutup.
Vincent duduk di pinggir ranjang. Ia memeluk erat kekasih hatinya yang terlihat menyedihkan. Pelan ia mengayun Yoana di kedua kakinya. Mata Vincent menunduk tak lepas memandang wajah Yoana.
"Maafkan aku ... Yoana ... bangunlah Sayang ...."
Namun kedua mata itu masih tertutup. Vincent mendesah dan menutup mata, menyandarkan dagunya ke puncak kepala Yoana.
"Alissia ... kau mendengarku kan? Apa yang harus aku lakukan?"
Hanya keheningan yang menjawab pertanyaan Vincent. Hatinya sakit melihat Yoana seperti ini, namun juga tidak punya kuasa untuk mematahkan larangan tuan Antonio. Cintanya sudah lama sengaja ia kubur ke dasar hatinya yang sudah membeku, sengaja melakukannya agar dirinya bisa tetap tegak berdiri, hidup berdampingan dengan Yoana tanpa melihat lagi perasaan lembut yang dulu bertahta di hatinya untuk wanita itu.
Sikap dingin dan tidak peduli dari Vincent tidak pernah membuat Yoana surut. Yoana terus memujanya, hingga saat ini ....
"Aku mohon, Yoan ... mengertilah, jangan seperti ini. Aku lebih baik menerima marah dan teriakanmu ...."
Vincent kembali mendesah, ia melepas sepatu dan naik ke atas ranjang. Melempar beberapa bantal dan menyusunnya untuk kemudian bersandar sambil terus memeluk Yoana.
Dengan sangat lembut Vincent menyingkirkan helaian rambut Yoana yang menempel di pipi, ia mengangkat dagu wanita itu agar dapat melihat wajahnya dengan jelas.
"Aku mencintaimu, yoana ... tidak berubah ... Aku masih sangat mencintaimu ...."
Vincent berbisik putus asa. Ia mengelus pipi pucat Yoana, pindah ke puncak hidungnya yang mungil, hingga akhirnya berhenti di bibir, mengelus pelan bibir lembut yang tampak pucat itu. Vincent menunduk, bermaksud hanya sekedar mengecup, namun kerinduannya menyeruak keluar, berdesakan ingin mengulang dan merasakan kembali manisnya bibir yang dulu pernah berbagi ciuman penuh cinta dengannya. Vincent memagut dan mencecap, matanya terpejam, terbayang masa lalu saat ia masih punya kebebasan menunjukkan cinta yang dimilikinya untuk gadis muda penuh energi, nona muda keluarga Bernard.
Nona muda yang ternyata mencintai Vincent. Seorang pria dengan asal yang dipertanyakan, latar belakang yang tidak jelas, apalagi harta dan kekayaan ... Vincent tidak punya semua itu. Namun keluarga ini menerimanya, bahkan memberikan restu pada putri mereka yang mencintainya.
Vincent bahkan tidak berani memperlihatkan sedikit pun rasa tertariknya pada Yoana. Ia hanya terus belajar dan bekerja untuk tuan Antonio, menyadari dirinya menikmati diperlakukan dengan penuh kasih sayang seolah dirinya anak sendiri oleh Alissia. Vincent tidak mau meminta lebih, itu sudah cukup bagi jiwanya yang gersang.
Namun Vincent tidak menyangka, Antonio dan Alissia merestui hubungannya dengan Yoana ... hingga Tricia dan Rodrigo menghancurkan segalanya.
Vincent mengangkat wajahnya, memandang bibir lembab Yoana yang baru saja ia tinggalkan.
"Maafkan aku, Yoan ...." Vincent mengecup kening Yoana lalu bersandar ke belakang. Memejamkan mata sambil terus memeluk, mencoba merengkuh ketidaksadaran untuk mengistirahatkan jiwanya yang lelah.
__ADS_1
**********
Yoana bermimpi ... ia kembali ke masa lalu, dalam balutan gaun pesta berwarna ungu muda pemberian sang ayah, dengan lincah menari dan tertawa dalam dansa bersama ayahnya, lalu dalam putaran dansa tersebut, sang ayah melihat ibunya yang berputar bersama Vincent. Yoana merasa pinggangnya diangkat lalu diserahkan pada Vincent sebelum sang ayah menarik tangan ibunya dan membawanya kembali berputar.
Ayahnya bertukar pasangan dansa, melarikan ibunya yang tertawa lembut. Yoana menarik tangan Vincent dan mengajaknya keluar dari lantai dansa. Mereka menuju balkon yang terbuka, bersama menikmati embusan angin dengan tangan saling bertaut, lalu Vincent menarik pelan tangan Yoana sampai mereka berhadapan, mereka bertatapan, kilau cahaya di mata mereka memancar penuh nyawa, seolah apa yang ada di hati sudah tidak sanggup lagi tersimpan dan mendesak ingin keluar.
"Aku mencintaimu, Yoana Bernard ...."
Nyanyian hati Yoana mengalun seiring kedua lengannya memeluk Vincent di balkon itu.
"Aku juga mencintaimu, Vince ...."
Ucapannya dibalas dengan senyum lebar, rasa bahagia membalut keduanya, mereka berpelukan dan mulai saling mendekatkan bibir, memberi kecupan singkat untuk kemudian sama-sama mengucapkan pengulangan pernyataan cinta secara bersamaan.
"Aku mencintaimu, Yoan."
"Aku mencintaimu, Vince."
Lalu keduanya sama-sama tertawa, Vincent menunduk menyatukan keningnya dengan kening Yoana, sebelum kembali singgah ke bibir Yoana dan menyatakan cinta dalam ciuman penuh gairah untuk gadis mungilnya itu.
Gambaran yang ia lihat di mimpi itu membuat air mata Yoana mengalir dalam tidur. Vincent membuka matanya ketika merasakan kulit pergelangan tangannya basah. Ia telah melempar jas dan menggulung lengan kemejanya hingga ke siku sebelum memejamkan mata dan berniat tidur.
"Yoan ... kumohon jangan menangis. Bangunlah ...." Vincent mengguncang bahu Yoana pelan. Guncangan itu membuat kening Yoana berkerut, lalu wanita itu membuka matanya perlahan.
"Ya, Yoana. Buka matamu ... ini aku." Vincent memegangi pipi Yoana dan mendongakkan kepalanya agar menatap Vincent.
"Vince ...." Yoana makin deras menangis.
"Jangan menangis. Aku sudah pulang." Jari Vincent kembali menghapus air mata Yoana yang jatuh.
"Oh, Vince ...." Yoana melingkarkan kedua tangannya ke sekeliling dada Vincent, menyurukkan wajahnya dan menangis tersedu.
Vincent hanya mengembuskan napas panjang dan membiarkan Yoana melepaskan kegelisahan dengan menangis dan memeluknya.
Setelah beberapa saat, Vincent mulai bergerak, ia melirik cahaya pagi yang mengintip lewat jendela. Menurunkan kakinya, ia menggendong Yoana dan bangkit berdiri.
__ADS_1
"Kau harus makan Yoan. Aku akan ke bawah dan meminta pelayan membawa makanan hangat buatmu. Sebelumnya kau harus mandi, jadi tunggulah di sini. Aku akan memanggil pelayan untuk membantumu."
Yoana membersit hidung, ketika Vincent menurunkan tubuhnya ke ranjang dan membaringkannya kembali.
"Kau memang jahat sekali ... dasar makhluk dingin tidak punya hati," ucapnya kesal, bermaksud memaki dengan marah, namun yang keluar hanyalah suara pelan dan lemah.
Vincent tersenyum. "Aku senang mendengarnya. Tunggulah, aku akan memanggil mereka."
Vincent berbalik dan baru akan melangkah ketika Yoana memanggilnya.
"Vince ...."
"Ya?" Vincent menoleh, menatap Yoana yang menatapnya lelah.
"Aku bermimpi ... saat di pesta dansa, ulang tahunku yang ke 20. Pertama kali kau mengucapkan kalau kau mencintaiku ...."
Vincent hanya diam, menatap tanpa berkedip mata yang sama yang ia lihat saat pesta dansa itu. Dengan cinta yang masih sama besarnya dan tidak berubah sama sekali. Namun tidak ada kata yang ia ucapkan, ia hanya berbalik dan meninggalkan Yoana yang menatapnya sampai hilang di balik pintu.
Harapan Yoana untuk mendengar Vincent mengatakan bahwa ia masih mencintainya seperti waktu itu langsung sirna. Ia tahu pasti perasaan Vincent masih sama, tapi Vincent menahan mulutnya untuk bersuara.
Yoana menarik napas panjang dan memejamkan mata.
"Apa aku harus mati dulu baru kau menyadarinya, Vince? Kita tidak terus-terusan memiliki waktu. Seharusnya kita bersama selagi waktu masih bersama kita ...." Yoana berbisik sedih. Menata dan kembali menguatkan hatinya. Setidaknya sosok itu masih bisa ia lihat setiap hari ... ia harus cukup dengan itu.
N E X T >>>
**********
From Author,
Tarik napas aja deh, mereka berdua menyedihkan menurutku sih...
Sapa yang buat menyedihkan? haha...
Author ingetin lagi ya pembaca yang budiman, cantik, ganteng dan tidak sombong. Jangan lupa klik like, vote, komentar, love, bintang limanya yaaaaaaa....gretong lohhhh, buat semangatin author yang mo keriting jari-jarinya ngetik cerita, hehe
__ADS_1
Terima kasiihhhhh...
Salam, DIANAZ.