Embrace Love

Embrace Love
Ch 155. Be honest part 3


__ADS_3

Luigi menunggu Natalia bicara lagi. Wanita itu hanya diam setelah ia mengulang lagi pertanyaannya. Luigi memutuskan menceritakan tentang Catalina.


"Kau tahu ... Catalina pernah mengatakan padaku agar aku mulai menerima situasi yang terjadi .. Lalu mulai berbahagia. Pilihan yang harus kubuat sendiri untuk hidupku. Karena cinta sama sekali tidak bisa dipaksakan ... begitulah nasehat Lina ... Aku menyadari aku sama sekali tidak membantah saat ayah dan ibuku pertama kali mengemukakan ide tentang pertunangan kita. Aku juga tidak punya pendirian bukan? Mengiyakan rencana bertunangan dengan seorang Ambroz. Sementara menganggap apa yang kurasakan pada Catalina adalah cinta sejati ... Aku menyadarinya ketika aku memaksa menciumnya waktu itu."


Natalia memejamkan mata, menyiapkan hatinya mendengar penuturan Luigi tentang perasaannya.


"Setelah kupikirkan dengan matang, Maka aku menyadari aku pria yang sangat egois. Aku bersedia menuruti perintah ayah, tapi tetap mengejar Catalina. Apa mungkin aku mencintainya? Tapi aku tetap bersedia menikah dengan wanita lain. Jika saja Catalina menerimaku, lalu apa yang akan aku lakukan? Apakah aku akan melawan ayah, yang pasti akan menentang pilihanku. Atau aku akan membuat Catalina menjadi wanita simpananku di belakang ayah, bahkan di belakang kau sebagai istriku nanti? Atau menjadikannya istri yang kedua? ... sungguh bodoh ... itu bukan cinta, aku terpesona pada kebaikan hati Catalina, mengagumi sifatnya yang lembut dan penuh kasih sayang. Tapi seperti yang Catalina katakan padaku. Cinta tidak dapat dipaksakan. Ia mengagumiku dan menyayangiku sebagai seorang teman, tapi ia tidak bisa mencintaiku ... sekarang aku bersyukur ia menolakku."


"Dia mencintai Claude." sahut Natalia dengan suara pelan, tidak memungkiri rasa lega yang muncul di hatinya setelah mendengar Catalina sudah menolak Luigi.


"Ya. Dan Claude mencintainya."


Natalia mengangguk.


"Kau dulu mencintai Claude," ucap Luigi.


Natalia menarik napas panjang. Sekarang gilirannya, Ia juga harus menjelaskan. " Siapa yang tidak melirik pria itu? Kami sesama model di bawah B House berusaha menarik perhatiannya. Para gadis muda yang dihadapkan pada seorang pria tampan, penuh kharisma dan juga banyak uang. Seperti yang kau katakan tadi. Tetapi satu demi satu para gadis muda itu mundur, bahkan sebelum mereka memulainya. Hanya dengan sekali bertatapan dengan mata dingin dan kejam Claude. Atau dengan sekali ucapan sinis darinya, mereka mundur teratur. Aku sedikit keras kepala ... aku maju terus karena kupikir aku membutuhkan seseorang untuk membantu ayah. Aku tidak malu mengatakannya, karena memang itulah yang terjadi ... rasa percaya diri berlebihan karena merasa lebih dibanding teman-temanku yang lain. Gadis manja yang sombong ...." Natalia lalu menertawakan dirinya sendiri.


"Kau terus mendekatinya?"


"Ya."


"Lalu apa yang ia katakan padamu?"


"Bukan yang ia katakan, tapi yang ia lakukan. Setelah kupikir-pikir, ia sengaja melakukannya agar aku menjauh."


"Apa yang sebenarnya dilakukan Claude?"


"Oh ... dia mengubah strategi. Setelah tatapan dingin, kejam atau tatapan tidak peduli dan kata-kata sinis darinya tidak berhasil mengusirku, Claude terusik. Ia mengubah tatapannya jadi ... entahlah ... bagaimana menggambarkannya ... pokoknya membuatku bergidik ngeri."


"Coba lukiskan saja."


"Seperti ... seperti mencoba menelanjangiku. Tatapan kotor, mesum dan membuatku memikirkan tentang pemerkosaan atau sekaligus pembunuhan." Natalia tertawa. "Tapi tatapan itu berhasil membuatku berhenti, Kemudian Yoana menjadi gusar melihat Claude yang mulai terusik. Keluarga itu saling menjaga dan melindungi. Ia memanggilku dan mengancam akan mendepakku dari B House sekaligus akan mematikan semua kemungkinan pekerjaan untukku sesudahnya di dunia modeling. Aku tahu aku tidak akan punya kesempatan lagi jika Yoana sudah melakukan itu. Apa yang bisa kulakukan? Ayah tidak lagi punya kuasa ... aku bahkan sedang mencari cara untuk menolongnya. Jadi aku menurut, aku berhenti mengejar Claude."


"Kau pernah punya pacar?"


Pertanyaan Luigi membuat Natalia mengangkat kepalanya dan menoleh.


"Beberapa. Aku berkencan tentu saja. Makan malam penuh lilin dan menikmati godaan menyenangkan dan pujian romantis."


"Dan tetap jadi perawan."


"Oh, tentu saja aku menikmati gairah ... ciuman curian, elusan sayang di pipi, kecupan lembut di kepalaku ... berdansa, menari, berbagi tawa dan pelukan di lantai dansa, bersikap genit dan menggoda, menikmati ketika pasanganku tampak tergerak dan memandangku dengan lembut ... Hanya saja, belum ada yang membuatku tertarik untuk melanjutkannya ke tempat tidur."


Selesai. Natalia merasa amat lega sekarang. Namun Luigi mendengus mendengar ucapannya.


"Itu, Natalia Sayang. Bukanlah gairah. Itu hanya bersikap menggoda dan genit. Ketika kau merasakan gairah saat seorang mencium mu, maka kau akan ingin ia melakukan hal-hal yang lebih lagi padamu selain berciuman."


Natalia hanya diam saja. Tidak nyaman jika percakapan tentang gairah ini dilanjutkan.


"Kurasa ini sudah cukup. Aku sudah mengatakan perasaanku tentang Catalina. Kau juga tentang masa lalumu dengan Claude ... Kita sudah membicarakan apa yang terjadi malam itu dengan saling jujur. Jadi Querida ... mari kita jalani pernikahan ini sepenuh hati. Bukan hanya demi Chiquita ... tapi karena pilihan kita sendiri, kita akan membuat pernikahannya bahagia. Bagaimana menurutmu? Kau mau?" bisik Luigi.


Setelah menghembuskan napas panjang, Natalia akhirnya mengangguk.


"Jadi bisa jawab pertanyaanku tadi? Apa kau bisa mencintaiku?"


Luigi mengelus perut Natalia yang sudah memasuki bulan ke sembilan. Istrinya akan melahirkan hanya beberapa minggu lagi. Ia menarik napas panjang dan menyandarkan keningnya ke bahu Natalia.


"Aku menyukaimu, Nat. Aku tahu tentang bayinya dan mulai mencarimu. Awalnya memang karena bayinya. Lalu aku bertemu ayahmu, yang menceritakan hal yang sebenarnya. Mataku terbuka, Nat. Hatiku tidaklah sebuta itu. Kau begitu sayang pada orang tuamu dan juga bayi ini. Kau menjaganya sendiri, menikmati mengandungnya walau suamimu tidak peduli ... aku belum bilang padamu ya ... aku suka, kagum, tertarik ... jatuh cinta pada gadis yang penuh kasih sayang, punya banyak cinta untuk ayah dan ibunya ...."

__ADS_1


Natalia menahan napas ... menunggu Luigi melanjutkan dengan jantung berdebar.


"Kurasa ... setelah melihat putri tuan Ambroz dengan cara pandang berbeda, aku ... mulai jatuh cinta padanya ...."


Kali ini kedua telapak tangan Natalia berkeringat, dadanya terasa sesak dan matanya langsung berair. Ia menahan agar tidak menunduk memandang kepala Luigi yang masih menyandarkan kening ke bahunya.


"Aku mau mengaku ... aku kehilangan ketika kau pergi dari apartemen. Meski aku tidak pernah memakan apapun yang kau masak saat itu, tapi aku terbiasa bangun tiap pagi dan melihatmu telah berdiri di dapur. Masakanmu sudah tercium wangi di seluruh apartemen. Air minum sudah ada di atas meja ketika aku kembali dari lari pagi, aku pulang malam dan melihat pintu ruang kerja, tahu kau tidur di sana dengan sebuah majalah di atas perut. Kemudian kau pergi ... dan aku merasa kehilangan sesuatu, Nat ... aku mengaku ... di setiap pagi ketika bangun kau tidak ada di dapur, aku rindu melihat sosokmu lagi di sini ...."


Air mata Natalia menetes tanpa suara. Rasa bahagia menyeruak dari dalam hatinya.


Benarkah ini ....


"Jangan diam saja, Querida ... apa kau bisa mencintaiku? Atau setidaknya menyayangiku dulu?" Luigi menegakkan kepalanya setelah selesai bicara. Lalu menghela pipi Natalia menghadap ke arahnya. Melihat pipi istrinya sudah basah, Luigi tersenyum.


"Kau benar. Kau memang mudah sekali menangis sekarang. Pengaruh hormon, begitu kan?" goda Luigi.


Natalia mengerucutkan bibirnya mendengar candaan Luigi. Ia menghapus pipi dengan telapak tangan.


"Nat ... aku menunggu ... jawaban."


"Umm ... kurasa ya."


"Ya apa?"


"Ya, aku menyayangimu tentu saja."


Luigi mengerutkan bibirnya. " Well ... setidaknya itu awal yang bagus. Tapi ...." Luigi berdeham, mencari kata-kata yang tepat untuk kembali menggali perasaan Natalia.


"Dan kurasa ya ... aku juga mulai jatuh cinta pada ayah anakku."


Luigi menunduk, menatap ke wajah istrinya yang tengah menggigit bibir, seolah tidak yakin atas reaksi Luigi terhadap kata-katanya.


"Aku bahagia sekali... terima kasih, Nat." Luigi mencium pipi Natalia yang lembab bekas air mata. Lalu ia beralih ke leher, menjelajah sampai ke belakang telinga. Ia merasakan istrinya mulai gemetar di pelukannya.


"Kau sangat sensitif di daerah ini bukan?" Luigi menempelkan bibirnya ke daerah telinga dan tengkuk Natalia. Ia tahu dari getaran tubuh wanita itu bahwa ia benar.


"En ... entahlah ...."


Tawa geli Luigi terdengar pelan di telinga Natalia.


"Bagaimana kalau aku menciummu ... kita lihat apa kau mau melanjutkan ke tempat tidur atau tidak setelahnya nanti, hm?"


Natalia menoleh dengan bibir cemberut. Merasa jengkel karena Luigi kembali menggodanya. Namun ketika melihat raut wajah suaminya itu, Natalia tidak melihat wajah geli atau bercanda. Bola mata Luigi menatap intens pada bibirnya.


"Aku hanya punya ingatan kabur tentang apa yang kita lakukan malam itu. Bagaimana kalau kau sedikit menyegarkan ingatanku?"


Natalia terkejut. "Menyegarkan ingatan? Ba, bagaimana?"


Luigi mengulurkan lengannya untuk menyentuh bibir Natalia. "Dimulai dengan ini...."Luigi mengecup bibir Nat yang lembab, mencium istrinya dengan lembut penuh perasaan, menyampaikan padanya perasaan mendamba yang telah bercokol di hatinya sejak ia mengejar istrinya itu ke rumah pinggir danau di Crystal Clear Lake.


Ketika tautan bibir mereka akhirnya lepas, keduanya sudah sama-sama terengah.


"Itu ... tadi ...terus terang membuatku jadi memikirkan untuk melanjutkan ke hal lain," bisik Luigi sambil terkekeh.


Natalia menghela napas, merasa tubuhnya lemas dan ujung-ujung syarafnya menggelenyar. Tiba-tiba pikiran tentang 'tidur' melintas di otaknya, membuat wajahnya makin merona.


"Bagaimana kalau kau meniduriku lagi, kali ini dalam keadaan sadar penuh. Aku benar-benar tidak keberatan." Luigi berbisik lagi. Pria itu mengedipkan matanya ketika Natalia menatapnya dengan mata terbelalak.


Seketika tawa Natalia pecah, wanita itu terbahak sambil mencubit pelan pinggang Luigi.

__ADS_1


"Kau ini ... jangan menggodaku terus," ucap Natalia di sela tawanya.


Luigi jadi ikut tertawa mendengar tawa renyah Natalia. Lalu ia mengatur posisi agar mereka bisa berbaring dan beristirahat.


"Sekarang ayo kita tidur ... sepertinya kau tidak tertarik pada tawaranku," ucap Luigi dengan raut wajah dibuat pura-pura kecewa.


Natalia mengikuti Luigi berbaring di sebelah suaminya itu. Mereka saling berhadapan. Luigi menarik selimut dan menutupkannya sampai ke dada mereka. Dengan mata saling memandang dan senyum masih tersungging di bibir, keduanya saling mengucapkan selamat malam.


"Selamat malam, Nat. Tidurlah ...." Luigi merapikan rambut Natalia yang menutupi pipi dan telinga istrinya itu.


"Selamat malam, Luigi. Kau juga tidurlah," balas Natalia. Perasaannya amat lega dan bahagia.


Namun keduanya tidak memejamkan mata. Masih terus saling memandang dengan mata berbinar. Sama sekali tidak terlihat mengantuk atau siap untuk tidur. Lalu kilau jahil kembali melintas di mata Luigi. Dengan senyum lebar ia kembali menggoda Natalia.


"Bagaimana kalau malam ini gantian aku yang melakukannya? Aku yang menidurimu?" tanyanya sambil tersenyum miring. Nada manis penuh rayu terdengar di suaranya.


"Ya ampun kau ini! Berhenti membuatku malu!" Natalia berbalik memunggungi suaminya dan menarik selimut hingga menutupi sampai seluruh kepala.


Luigi tertawa, lalu Natalia merasakan suaminya itu mendekat, merasakan lengan kokoh yang memeluknya dari belakang di bawah selimut. Dari belakang kepalanya Natalia mendengar lagi bisikan Luigi.


"Jangan malu, Querida ... karena aku memang menginginkanmu ...."


Natalia merasa dadanya membuncah dengan rasa bahagia mendengar ucapan Luigi. Suaminya menginginkannya. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka Luigi mengatakan bahwa ia jatuh cinta, lalu mengaku merindukan kehadiran Natalia kembali di dapurnya, lalu ini ... Luigi menginginkannya ... Tapi kondisinya yang hamil besar saat ini ....


"Apa itu mungkin dilakukan dengan kondisi tubuhku yang seperti ini?" Natalia memaksa bibirnya untuk menanyakan hal itu, suaranya seperti tercekik. Ia malu setengah mati, bersyukur kepalanya masih tertutup di bawah selimut.


Luigi menurunkan selimut dari kepala Natalia dengan perlahan, ia makin mendekat, menempelkan tubuhnya ke punggung Natalia dan berbisik.


"Tentu saja bisa, Sayangku. Aku akan menunjukkannya padamu, dan memastikan semuanya aman ...."


Jari-jari Luigi dengan cepat menemukan pita pengikat gaun Natalia. Ia menariknya lepas, lalu mulai menurunkan ritsleting kecil di bawah pita pengikat gaun tidur itu. Dari belakang punggung Natalia, Luigi mulai menunjukkan pada istrinya bagaimana ia melakukan hubungan intim suami istri untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka yang penuh rintangan dan kesalahpahaman. Dengan penuh kasih dan sepenuh hati, ia mencurahkan cinta dan rasa sayangnya pada setiap sentuhan. Menggantikan memorinya yang hilang saat dulu tidur dengan istrinya itu. Membuat memori baru yang akan mereka simpan dan pastinya akan bertambah seiring waktu.


Kali ini ... Luigi memastikan ia mengingat setiap reaksi Natalia, setiap desahan, getaran tubuh, dan juga namanya yang dibisikkan dengan nada yang terdengar indah di telinga Luigi. Luigi melakukan semuanya dengan amat lembut, bertekad menghapus ingatan buruk tentang perlakuan kasar yang ia lakukan pada kali pertama bagi Natalia dulu.


Ketika senandung cinta itu telah selesai, Luigi dan Natalia merasakan hal itu sangat membekas. Menyisakan perasaan lembut jauh sampai ke dasar jiwa mereka yang paling dalam.


Beberapa saat berlalu, masih dalam pelukan suaminya, dibalut kepuasan dan kebahagiaan, dengan mata mulai mengantuk, Natalia mengucapkan kalimat yang berasal dari dalam hatinya.


"Aku mencintaimu Luigi ... Ayah Chiquita ...."


Luigi mengeratkan pelukannya, menunduk menatap mata Natalia yang hampir menutup.


"Dan aku mencintaimu Querida ...."


Luigi memejamkan matanya. Ketenangan ia rasakan di dalam dirinya ketika meresapi kebenaran dari kalimat yang baru saja ia ucapkan untuk istrinya itu.


NEXT >>>>>


**********


From Author,


Jangan lupa tekan like ya my Readers😊🤗 tekan love, bintang lima dan komentarnya juga. Soalnya author sampai pegel ngerangkai kata sekaligus mikir sampai part ini akhirnya bisa di up😂😂


Yang punya poin dan koin, bantu author vote yah, biar author makin semangat😘😘


Terima kasih semua. Luv you ....


Salam hangat, DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2