
Catalina keluar dari kamar tidur kakaknya yang terletak di Apartemen Torres Building. Ia mendekati Serge yang duduk di depan televisi ditemani segelas minuman. Melihat gelas itu, Catalina jadi ingin minum coklat hangat.
"Dia sudah tidur?" tanya Serge.
"Sudah, berkatmu Serge ... dia tenang dalam perjalanan pulang. Bahkan sampai saat ini. Dia terlihat baik ...."
Serge menepuk sofa panjang tempatnya duduk saat ini. Mengajak Catalina duduk di sebelahnya.
"Duduklah ...."
Catalina mengikuti ajakan Serge. Ia duduk, lalu membaringkan kepalanya ke sandaran sofa.
"Dia benar-benar menderita ... aku saudaranya satu-satunya, tapi sedikit pun aku tidak berpikir untuk melihat dan tahu tentangnya ...."
"Bukan salahmu ... Marylin menceritakan semuanya padaku. Ibunya membenci kalian, wajar saja ibumu membawamu menjauh dan tidak membawamu untuk bertemu dengan Marylin. Kalian berjauhan sejak kecil, bersaudara ... tapi tidak benar-benar saling mengenal."
"Tetap saja ... setelah dewasa, seharusnya aku mencoba untuk mengenalnya bukan," ucap Catalina lirih.
"Belum terlambat Catalina ... sekarang kau punya kesempatan. Dampingi dia ...."
Catalina mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Serge yang besar.
"Dia benar ketika mengatakan Tuhan telah berbaik hati mengirimkan dirimu untuk menjaganya," ucap Catalina.
"Dia mengatakan itu?" tanya Serge sambil tersenyum.
"Ya ... seluruh ketakutannya seolah luruh ketika melihat kau datang. Seolah tiada lagi yang perlu ia takutkan, tangisnya pun sangat lepas ... seolah kelegaan memenuhi seluruh rongga dadanya. kurasa, telah banyak peristiwa yang kalian lalui bersama, hingga bisa tertanam kepercayaan sebesar itu ...."
"Kau benar. Marylin sudah seperti saudaraku sendiri. Kami berbagi sepotong kecil roti ketika tidak ada lagi yang bisa kami makan, kami bekerja serabutan bersama-sama agar bisa menyewa tempat tinggal yang layak, lalu sisanya untuk membayar perawatan Stella, ibu Mary. Dia anak yang berbakti ...."
Air mata kembali menganak sungai dari sudut mata Catalina.
"Terima kasih, Serge ... terima kasih telah menjaga kakakku," isak Catalina.
"Hei ... Jangan menangis."
"Dia senang ketika melihatku datang ... tatapan matanya seolah melihat harapan. Tapi tetap ada kilat ragu membayang di tatapannya. Lalu ia melihatmu, dan seluruh belenggu kegelisahannya luruh ... Dia percaya dia akan pulang," bisik Catalina serak.
Serge mengulurkan tisu ke arah Catalina. Gadis itu mengambilnya dan segera membersit hidung.
"Itu membuatku sadar, aku belum melakukan usaha terbaik agar ia tahu aku peduli padanya, agar dia tahu aku sangat menyayanginya ...."
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Serge.
"Aku belum tahu ... tapi yang pasti, sekarang aku akan selalu berada didekatnya."
"Kau bisa tinggal di sini ... well ... ada satu kamar lagi di sini, sengaja diperuntukkan bagi tamu kami. Sejak aku dan Mary memperoleh penghasilan yang bagus dari pekerjaannya di B house, kami mengambil apartemen tiga kamar ini dan tinggal bersama. Yang itu kamarku." Serge menunjuk sebuah pintu di sebelah kirinya.
Catalina menghapus air matanya, sinar matanya tampak tertarik.
"Apa tidak apa-apa? Aku tidak akan mengganggu kalian kan?" tanyanya.
__ADS_1
Serge terkekeh, lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak sama sekali, Lina dan jangan berpikir yang tidak-tidak, aku dan Mary tidak punya hubungan asmara. Kasih sayang di antara kami tidak dibumbui oleh hal itu. Sama sekali, sedikit pun. Nothing ... aku mencintainya seperti adikku."
Catalina tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.
"Aku mau sekali, Serge ...."
"Tapi keluarga Bernard tidak akan melepaskanmu. Lagipula, bagaimana dengan Leon."
"Kurasa ... Yoana sudah sangat terlatih dengan Leon ... akan sangat sedih bila aku berpisah dengannya ... tapi kurasa tidak masalah ... aku tinggal di sini agar bisa menemani dan mengenal Marylin lebih dekat, lalu bekerja ke rumah Bernard ketika siang harinya."
"Bekerja? Kau?" tanya Serge heran. Apa yang ia lihat di mata Claude bukanlah tatapan seorang atasan pada bawahan. Tapi tatapan seorang pria pada seseorang yang ia cintai.
"Aku masih terikat kontrak perihal pengasuhan Leon dengan keluarga Bernard, Serge."
Serge tertawa terbahak, membuat Catalina mengerutkan kening.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Catalina.
"Apa Claude belum mengatakan apa isi hatinya padamu? Apa kau tidak merasakannya? Orang luar sepertiku saja tahu bagaimana perasaan laki-laki itu padamu."
Catalina sedikit merona mendengar ucapan Serge.
"Dia sudah mengatakannya ...."
Serge membelalak, "dan kau jawab apa, Lina!? Oh My ... bujangan yang dikenal dingin dan tidak suka di dekati wanita itu mengatakan perasaannya padamu! Luar biasa ...." Serge menggenggam dan menepuk-nepuk punggung tangan Catalina.
"Tidak dijawab juga sudah terlihat ... kau juga suka padanya kan? Kau memerah." Tawa Serge kembali terdengar, ia menatap Catalina dengan rasa penasaran yang kental, "katakan padaku, Lina ... apa dia sudah menciummu?" goda Serge.
Catalina mengerucutkan bibirnya, tidak menyangka melihat perilaku Serge yang ini.
"Berhenti membahas Claude! Kita sedang bicara tentang kepindahanku kemari!"
Serge menaikkan kedua bahunya sambil masih tertawa kecil.
"Kamarnya sudah siap untukmu. Hanya tinggal menunggu, kau bisa keluar atau tidak dari Mansion Bernard," ucapnya dengan rasa penasaran. Serge bertaruh Catalina akan sulit mencari alasan untuk bisa melaksanakan rencananya.
"Ah ... aku jadi ingin minum ... boleh aku minta segelas cokelat hangat?" tanya Catalina, memilih mengalihkan dulu perihal izin untuk keluar dari Mansion Bernard.
"Anggap rumahmu sendiri, Lina. Kau buat sendiri di sana ya." Serge menunjuk ke arah dapur. Catalina mengangguk dan segera bangkit meninggalkan Serge untuk menyeduh segelas cokelat hangat.
*********
"Apa rencanamu seterusnya?" Annete memegang bahu putranya yang duduk di kursi kerjanya di lantai atas. Ia berdiri di belakang Alrico, memahami kegelisahan yang menggayuti hati putranya itu.
Alrico menekuri meja kerjanya yang terbuat dari kayu eboni. Kayu hitam yang kuat dan berat tersebut sudah menjadi meja kerja di ruangan itu sejak zaman sang kakek. Ia terlihat seolah termenung menatap kilau meja, namun yang sebenarnya adalah ia tengah berpikir.
Marylin sudah dibawa pulang oleh Serge, Catalina dan keluarga Bernard. Namun, sebelum rombongan itu meninggalkan Mansion Cougar, ia sempat berbicara dengan Vincent dan Claude. Meminta waktu keduanya agar bisa bertemu dan berbicara. Alric tahu ia tidak akan dapat mendekati Mary lagi, namun Catalina pasti bisa. Dan agar bisa mendekati Catalina, maka ia harus mendekati keluarga Bernard dulu. Gadis itu berada dalam perlindungan keluarga Bernard.
"Aku akan menemui Claude Bernard dulu, Mom," ucap Alric pelan.
__ADS_1
"Aku akan mencoba mendekati Miss Catalina, kuharap aku bisa tahu semua tentang Mary dari adiknya itu. Tapi itu semua harus seizin kepala keluarga Bernard," tambah Alric lagi.
Annete mengangguk, ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia sudah punya rencana sendiri, yang ia harap dapat membantu Marylin dan meringankan beban di hatinya sendiri.
"Apakah salah satu dari mereka ada yang mengatakan akan menuntutmu?" tanya Annete pada Alric yang menoleh dan memandang ibunya.
"Belum ada yang tahu tentang apa yang telah aku lakukan pada Mary ketika mereka datang menjemput, Mom. Mereka hanya mengira kalau aku mengurungnya dengan hewan buas singa gunung yang ada di sini. Jadi belum ada yang menyinggung tentang masalah itu."
"Siapkan saja kuasa hukummu! Kurasa sekarang mereka sudah tahu! Mary pasti telah bercerita."
"Karenanya aku akan menemui Claude secepatnya. Menjelaskan kesalahpahaman ini ...."
"Kesalahpahaman yang berakhir mengerikan! Akibat kau tidak mendengarkan kata-kata ibumu!"
Alric mengerutkan kening, lalu mengangkat tangan, tanda tidak mengerti apa maksud dari ibunya itu.
"Aku menyimpan rahasia penyakit Alex darimu, tidak mau membuatmu merasa makin terbebani. Sudah cukup kau selalu merasa bersalah ketika memikirkan panggilan telepon dari Alex sebelum meninggal. Karena itu ibu memintamu segera memberitahu ibu, jika kau sudah menemukan Marylin Seymor. Tapi kau tidak melakukannya ... karena sudah berlalu beberapa waktu, ibu kira kau juga tidak menemukannya. Jadi ibu tidak menanyakannya lagi."
Alric terpaku sesaat, lalu ia memutar kursi agar bisa menghadap sepenuhnya pada Annete.
"Kau menemukannya, tapi tidak memberitahu ibu ... tapi sudahlah, tidak bisa diubah lagi ... sudah terjadi ...." Annete menyentuh rambut Alric dan mengelusnya.
"Aku punya rencana sendiri Alric. Tidak ada yang tahu kalau aku adalah ibumu. Aku akan mendekati Marylin dan mengawasinya dari dekat. Entah bagaimana caranya nanti, akan aku pikirkan. Mary mengenalku ... Aku pernah mengatakan padanya kalau aku akan segera pergi dari mansion ini. Sepertinya ia berpikir kalau aku hanyalah salah seorang yang bekerja di sini."
Alric menaikkan alisnya. "kau merencanakan apa, Mom?"
"Hanya suatu pertemuan tidak sengaja, lalu kembali menjalin komunikasi. Aku ingin mengawasi dan melihat sendiri, kalau ia benar-benar baik-baik saja. Lagipula ...."
Annete terdiam, tidak sanggup melanjutkan isi pikirannya.
"Lagipula apa, Mom?"
Annete menggelengkan kepala. Memutuskan tidak mengatakan apa yang ia pikirkan. Salah satu alasan yang membuatnya ingin mengawasi Marylin selain ingin memastikan kalau wanita itu baik-baik saja, ia juga ingin memastikan kalau peristiwa buruk itu tidak meninggalkan jejak lain, seperti terbentuknya sebuah kehidupan baru di rahim wanita itu ... ya, Annete ingin memastikan Marylin tidak hamil.
N E X T >>>>
**********
From Author,
Nah loh, Catty mau pindah dari mansion Bernard. Bagaimana ntar Leon ... dan juga omnyaππππ
Ikuti kisahnya lagi besok yahπππ
Jangan bosan ya kalau thor ingetin jangan lupa klik like, love, bintang lima dan komentar ya, kan gretong....gak pake susyahππ
Yang punya poin, koin, boleh dong Vote buat Cattyπππ
Terima kasih ya ....
Salam hangat, DIANAZ.
__ADS_1