
Vincent kembali berjalan ke arah pintu kamar mandi. Mungkin ini untuk yang ke sepuluh kalinya ia melangkah dan berdiri di depan pintu itu, mengulurkan tangan untuk mengetuk, tapi tidak pernah jadi melakukannya.
Yoana sudah lama sekali masuk dan tidak juga keluar. Suara cipratan air terdengar berulang kali, juga kran yang dibuka lalu di tutup. Entah apa yang dilakukan Yoana hingga perlu waktu selama itu di dalam sana.
Suara ponsel Yoana yang berdering membuat Vincent berbalik lalu melihat siapa yang menelepon. Robert Delaney. Pria itu lagi. Tapi seperti tadi, Vincent sengaja tidak mengangkatnya.
Lalu tiba-tiba ponselnya sendiri yang berdering, Vincent mengambilnya dan melihat. Claude. Segera Vincent menerima panggilan itu.
"Ya, Claude?"
"Vincent! Kau ada di mana?"
" Di suatu tempat."
"Yoana bersamamu?"
"Ya ...."
"Kalian kemana sebenarnya?" Sejak tadi ponsel tidak aktif. Robert datang mencari Yoan. Katanya sudah membuat janji. Tapi malah pergi denganmu."
"Suruh saja pria itu pulang. Yoana tidak akan pulang malam ini. Mungkin beberapa hari berikutnya juga."
"Apa! Robert sudah pulang sejak tadi, Vincent! Aku menelepon kalian berdua tapi tidak juga tersambung, dia juga mencoba menelepon Yoana dan ponselnya tidak aktif. Akhirnya ia pulang."
"Ya ... ponsel baru ku aktifkan beberapa menit yang lalu."
"Vince ... Di mana Yoan?"
"Di kamar mandi."
"Apa!?"
"Jangan menggangguku sekarang, Claude. Aku tengah mencari cara bagaimana membuat istriku keluar dari kamar mandi! Kau mengganggu!"
"What! Istri!? Hei! Apa maksudmu!?"
"Aku baru saja menikah dengan kakakmu. Tunggu aku pulang kalau kau mau buat perhitungan. Sekarang jangan ganggu aku."
"Tung ... tunggu, Vincent!"
"Apa lagi?"
"Kalian ... kalian benar-benar menikah?"
"Tentu saja. Jadi katakan pada Robert jika ia kembali datang atau menelepon. Jangan dekati istriku."
Vincent mematikan sambungan. Meninggalkan Claude yang masih berdiri kaku karena terkejut dengan mulut masih menganga sambil memandangi ponselnya di aula mansion Bernard.
"Ada apa?" tanya Hamilton dan Simon berbarengan.
"Astaga. Katanya mereka sudah menikah ...."
"Apa! Siapa!? Yoana!?" seru Simon.
__ADS_1
Claude mengangguk, menggelengkan kepalanya berulang kali, mencoba mencerna segala sesuatunya dengan pikiran jernih.
"Vincent dan Yoana?" tanya Hamilton.
Kembali Claude mengangguk.
"Astaga ...." ucap Simon, Terkejut, shock sekaligus kebingungan. Lalu seringai lebar muncul di wajah si bungsu Bernard itu. " Sepertinya Vincent kita tidak tahan lagi menyaksikan Yoana dan Robert jadi makin dekat."
Hamilton menggelengkan kepalanya berulang kali, merasa tidak percaya dengan pendengarannya.
"Aku tidak mengira ... Yoana akan menjadi yang pertama kali menikah di antara kalian. Mengingat ia hanya menginginkan Vincent dan bagaimana teguh nya Vincent dengan tekadnya untuk tidak menikah."
"Well ... bagaimanapun, hanya pria itu yang Yoan inginkan sejak dulu. Sekarang biarkan ia berbulan madu ... Yoana ingin punya bayi. Biarkan Vincent berusaha keras," sahut Simon lagi.
Ketiganya tertawa bersama, masih merasa terkejut dengan berita itu. Tapi tahu inilah yang Yoana inginkan sejak lama. Dan sekarang Vincent memenuhi keinginannya itu.
Di saat yang sama, di dalam kamar mandi yang lumayan luas, Yoana bercermin dan mencuci mukanya. Sebenarnya ia sudah melakukannya berulang kali sejak tadi. Ia mencoba menata degup jantungnya yang berdebar kencang, juga menenangkan rasa gugup yang mendatanginya. Aneh, ia menanti ini bertahun-tahun, namun sekarang ia malah sangat gugup.
Ketukan di pintu kamar mandi membuat Yoana menoleh.
"Yoan ... Kau sedang apa? Kau sudah terlalu lama di dalam sana ...."
"Mmmm ... sebentar. Aku akan keluar sebentar lagi, Vince."
Yoana menarik napas panjang. Merapikan rambut dan meneliti gaunnya di pantulan cermin. Setelah satu tarikan napas panjang, ia akhirnya membuka pintu dan menatap Vincent. Cahaya keemasan menerangi kamar tidur mereka, lirik romantis lagu Shania Twain mengalun pelan .
From this moment, I have been blessed
And for your love I'd give my last breath
from this moment on ....
"Kau kenapa?" tanya Vincent dengan tatapan menyelidik.
"Tidak ada ...."
"Sungguh?"
"Well ... Aku sedikit gugup," jawab Yoana dengan jujur.
Vincent tertawa, lalu menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
"Kenapa kau gugup? Ini hanya aku. Vincent. Kau sudah mengenalku selama bertahun-tahun ...."
"Tetap saja ... ini ... aku ...."
Vincent tersenyum geli.
"Hei ... Aku tidak akan melakukan apapun yang tidak tidak kau inginkan."
"Aku tahu, Vince."
Vincent tersenyum, lalu menarik Yoana dan memeluk pinggangnya. Ia menunduk menatap dengan sinar mata berkilau.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Yoana ...." Vincent mencium kening istrinya dan memejamkan mata.
"Aku juga mencintaimu, Vince." Yoana menjinjitkan kaki, lalu mengalungkan kedua lengannya ke leher Vincent. Keduanya sama-sama mendekatkan wajah, menyatukan bibir setelah pernyataan cinta mereka.
Perlahan tangan Vincent menurunkan ritsleting gaun di punggung Yoana. Setelah gaun tanpa lengan itu terbuka, tangan Vincent menurunkan gaun itu perlahan dari bahu Yoana, ia menarik dan perlahan mengeluarkannya dari satu lengan Yoana. Setelah selesai di satu sisi, Vincent melakukannya pada sisi yang lain. Setelah gaun tersebut lepas dari bahu dan lengan, gaun itu melorot jatuh ke kaki Yoana.
Vincent menggendong istrinya, membaringkannya ke atas tempat tidur, lalu ikut berbaring dan kembali singgah ke bibir ranum istrinya yang sudah menunggu. Tangan Vincent mulai berkelana, melepas semua sisa penutup tubuh istrinya sambil membelai tiap inchi kulit halus yang bisa ia sentuh. Desahan demi desahan lolos dari bibir Yoan, lalu tangan wanita itu mulai menarik kemeja Vincent, meminta agar melepaskan pakaian yang jadi pembatas di antara kulit mereka, membuat Vincent akhirnya bangkit dan mulai melucuti pakaiannya sendiri.
Setelah kembali berbagi cumbuan dan belaian, Yoana meminta lebih, menggeliat dan menggelinjangkan tubuhnya, seolah menuntut sesuatu, meminta Vincent membawanya ke tempat yang lebih tinggi, lagi dan lagi.
"Vince ...." ketika namanya disebut dalam desahan pengharapan yang amat dalam oleh orang yang dicintainya, maka Vincent memberikan apa yang Yoana minta. Mereka menyatu, keringat mereka bercampur jadi satu seperti tubuh mereka yang saling melekat dan berbagi kenikmatan. Vincent berhenti sesaat, menyadari wanitanya perlu waktu menyesuaikan diri dengan tubuhnya. Namun tubuh Yoana seolah protes, wanita itu bergerak-gerak tidak nyaman dan terus menggeliat.
"Vince ...."
"Shhh ... kau milikku sekarang, Sayang." ucapan posesif itu dibarengi dengan tubuh Vincent yang bergerak dalam tubuh Yoana. Merayu dan mengajak Yoana ikut mencapai puncak bersamanya. Memberi dan juga menerima dalam gerakan penuh kasih, mengakui dan membalut semua rindu yang tertahan bertahun-tahun, melepaskannya dalam irama melodi indah dengan gerakan tubuh mereka yang saling bertaut.
Vincent membuka mata, dan menatap intens ke wajah istrinya ketika desahan Yoana berubah jadi teriakan, namanya yang diteriakkan oleh bibir manis itu terdengar bagai nyanyian bidadari di telinga Vincent, mengajaknya ikut melayang dan naik hingga ke puncak tertinggi. Setelah deru gairah asmara itu meledak dalam kenikmatan surgawi yang mereka bagi, Vincent memeluk tubuh istrinya. Satu perasaan menyelinap datang, ia kini sungguh-sungguh merasa sudah pulang, pada pemilik hatinya yang sesungguhnya, pelepas dahaga dalam hidupnya yang kering. Satu kecupan mendarat di kening Yoana membuat wanita itu makin meringkuk masuk ke pelukan Vincent, bersembunyi dalam rengkuhan kedua lengan kuat yang melingkupinya.
Vincent menarik selimut dan menutupi tubuh mereka. Tersenyum membelai anak rambut Yoana yang berserakan di kening wanita itu.
"Kuharap aku bisa segera memenuhi keinginanmu ... menjadikanmu seorang ibu ...."
"Mmmmm ...."
"Tidurlah, Yoan ...."
"Mmmmm ...."
Jawaban Yoana membuat Vincent tersenyum, ia menatap lama ke wajah istrinya sambil mengelus pelan pipi yang teraba halus di jemarinya itu. Mata Yoana mulai tertutup rapat, tubuhnya meringkuk makin dalam ke pelukan Vincent. Setelah beberapa kali menguap, Vincent tertidur beberapa saat kemudian dengan lengan tetap memeluk istri tercintanya yang juga telah jatuh tertidur.
Cast : Yoana Nueva Machado (Yoana Bernard)
Cast : Vincent Nueva Machado
NEXT >>>>
*********
From Author,
Ikuti kisahnya terus, dan bersabar tunggu updatenya ya. Jangan lupa klik tombol like alias jempol, tombol favorite alias love, beri komentar, saran ataupun kritik membangun, biar Author makin semangat untuk nulis.
Bagi yang belum kasih rate, tolongin dong tekan tombol bintang, kemudian klik bintang lima ya๐๐
Yang punya poin dan koin, bisa bantu author dengan klik Vote agar performa novel ini makin naik.
Untuk semua bantuan para Readers semuanya, author ucapin terima kasih banyak๐
Salam hangat, DIANAZ.
__ADS_1