
Alric Berjalan mengikuti ibunya yang berderap menuju ruang kerja di lantai bawah. Setelah ibunya masuk, ia masuk dan mengunci pintu.
Alric menatap berkeliling, ruangan itu sudah di bersihkan dan dirapikan seperti sedia kala. Namun jejak peristiwa malam itu masih tertinggal jelas di kepala Alric. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat dan melangkah masuk.
"Mom, bisa kita bicara di atas saja?"
"Kenapa? Otak warasmu jadi ingat apa yang kau lakukan di ruangan ini!?"
Alric memejamkan mata, " Mom ...."
"Aku mengatakan padamu hasil penyelidikanku, meminta bantuanmu mencari Marylin Seymor ... Lalu kenapa kau tidak menghubungiku setelah menemukannya!"
"Mom ... wanita itu dikatakan adalah orang yang bersama Alex dan meninggalkannya di jalanan... jadi kukira dialah penyebab Alex meninggal! Bukankah kau juga mencarinya karena hal itu!?"
Alric mengerutkan kening ketika melihat ibunya menggelengkan kepala.
"Tidak Alric. Aku mencarinya karena ingin menemuinya, agar aku bisa melihat ... kerusakan seperti apa yang disebabkan adikmu pada gadis itu. Marylin masih sangat muda saat kejadian itu menimpanya. Alex menggoreskan trauma padanya, sama seperti beberapa gadis yang lain. Para gadis yang harus aku urus ... karena aku tidak mampu mengobati penyakit putraku!"
Annete menangis, menatap Alric dengan dengan tatapan pedih.
"Sudah sejak lama aku tahu adikmu sakit, Alric. Sudah beberapa profesional yang kubayar agar bisa menyembuhkannya! Tapi tidak ada yang berhasil. Dia mengidap itu karena kesalahanku ... Aku membiarkan ayahmu memisahkannya dariku dan menyerahkan dia dalam pengasuhan seorang wanita maniak! Wanita yang menghancurkan jiwa putraku, dia diperlakukan dengan kekerasan sejak kecil! Bahkan menerima pelecehan sexual ... Aku bersyukur ketika ayahmu akhirnya mengizinkan aku mengambilnya dan dia hidup bersama kita, walaupun ia harus menerima sikap dingin ayahmu, tapi aku dan kau menerima dan menyayanginya. Ketika dia dewasa, mataku melihat putraku yang sakit melakukan hal-hal mengerikan pada para gadis. Dan aku hanya bisa melakukan hal yang aku bisa untuk mengatasi kerusakan yang sudah ia lakukan ...."
Annete duduk di sofa dan menghapus air mata dengan jari. Alric mengambil kotak tisu dan kemudian memberikan pada ibunya yang tak berhenti menangis.
"Kau memikul beban rasa bersalah, karena Alex menghubungimu untuk terakhir kali dan kau tidak mengangkatnya. Sudah berkali-kali ibu katakan kalau itu bukan kesalahanmu, Alric. Alexandro sudah tiada, kita harus menerima takdir ini!"
Alric menelan ludah ... Ia menunduk dan mulai menarik rambutnya sendiri.
"Aku tidak tahu sejauh apa kerusakan yang diperbuat Alex tujuh tahun lalu pada masa remaja Marylin, dan sebagai orang terakhir yang berada bersama Alex, aku ingin bertemu dengannya. Tetapi kini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri atas kekejaman yang kau perbuat padanya!" Annete menarik sebuah tisu dan mulai menghapus airmatanya lagi. Alric mengambil nafas dan menghembuskannya sebelum bercerita pada sang ibu.
"Tujuh tahun lalu ... Alex mengurung Marylin dan memaksa Marylin melayaninya. Gadis itu di selamatkan oleh seorang teman prianya sebelum sempat diperkosa oleh Alexandro. Mereka lari keluar dari gedung dan Alex mengejar. Sampai sebuah mobil yang lewat malam itu menabrak Alex. Marylin dan pria temannya tidak memeriksa keadaan Alex, mereka meninggalkannya seorang diri di sana ..."
Annete menatap putranya sulungnya dengan terkejut.
"Itukah yang terjadi malam itu?"
"Ya, Ibu ... Mary di jual malam itu oleh Agenor, si pemilik klub kepada Alex. Untuk memenuhi semua keinginan dan fantasi sexual Alex. Gadis itu berhasil lari dengan Serge, teman baiknya ...."
"Ya Tuhan ... Kau menyelidiki lagi hal ini?"
__ADS_1
"Ya ... Agenor berbohong tentang Marylin yang menjadi kekasih Alex dan hanya mengeruk uangnya ... Dia dijual oleh Agenor."
"Ya Tuhan ... Dia masih sangat muda saat itu ...." bisik Annete dengan sangat iba.
"Tapi tetap saja ... Mereka meninggalkan Alex malam itu. Alex sempat sadar ... Akulah yang ia hubungi sesaat sebelum ia tak sadarkan diri ...jika saja mereka kembali dan memeriksa, lalu membawa Alex ke rumah sakit, mungkin sekarang ...."
"Tidak ada yang dapat menghentikan takdir, Alric. Alex sudah tiada ... Tindakan Marylin yang meninggalkan Alex sangat bisa dimaklumi ... gadis itu pasti sangat ketakutan pada malam itu."
Alric mengusap wajahnya dan menhembuskan nafas panjang. Merasa sangat gelisah dan tertekan.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan, Mom?"
"Aku juga tidak tahu ... Dokter menyarankan agar dia dibawa untuk melakukan konseling."
"Ibu sudah menyuruh dokter memeriksanya?" Alric menegakkan punggung dan menatap ibunya.
"Ya ... Aku datang dan melihatnya sangat lemah dan kesakitan. Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan!? Seluruh kakinya lecet dan tergores, bahkan ada telapak kakinya yang terbelah, seperti tidak pernah memakai alas kaki saat menginjak tanah berbatu. Pinggul, punggung dan bahunya terdapat memar yang sangat besar, di pipinya juga!"
Alric diam sesaat, lalu bangkit dan berdiri, ia menatap lantai tempat dimana ia menggagahi Marylin. Kelakuan bejat yang membuatnya membenci dirinya sendiri. Merasa sangat tertekan akhirnya Alric melangkah ke dekat jendela dan memandang keluar.
"Dia tidak punya keluarga lain selain ibunya yang sakit ... padahal dokter menyarankan agar dia didampingi keluarga untuk melewati semua ini." Annete menatap punggung putranya dan menunggu tanggapan.
"Lalu apalagi yang kau tunggu? Bawa gadis itu kemari! Atau aku saja yang akan membawanya pada adiknya itu! Aku berjanji membawa Marylin pergi dari sini, dengan bujukan itulah aku bisa membuatnya menelan makanan yang kuberikan ...."
Alric berbalik ke arah ibunya dan berucap," Aku ingin bertemu dengannya, Mom ...."
"Reaksinya tidak akan bagus ...." ucap Annete.
"Aku tahu, Biarkan dia memukulku, mencakar bahkan berusaha membunuhku ... Mungkin akan membuatnya merasa lebih baik." Alric sangat berharap itulah yang akan terjadi.
**********
Diego baru saja tiba di mansion Leopard ketika ponselnya kembali berdering. Nama Vincent tertera di layar ponselnya. Sejak pertukaran yang mereka lakukan untuk membebaskan Catalina, Vincent dan Diego memberikan nomor kontak masing-masing, termasuk juga nomor kontak tuannya. Sudah beberapa kali Vincent dan juga Claude menghubungi mereka, namun karena sedang mengurus masalah Agenor. Mereka mengenyampingkan dulu panggilan itu.
"Ya, Tuan Machado?"
"Apakah kalian sudah datang ke kediaman kalian yang bernama Leopard itu?" tanya Vincent langsung.
" Ya, Saya baru tiba. Ada apa Tuan Machado?"
__ADS_1
"Kami akan datang ke sana... Dimana Marylin?"
Diego menarik nafas panjang, mau tidak mau mereka harus menghadapi keluarga Bernard.
"Ada ... bersama Tuan Lucca. Segera ia kan membawanya menemui kalian ...."
"Begitu ... Kami akan datang. Banyak hal yang perlu kita bicarakan ...."
"Saya akan menunggu Anda di sini," ucap Diego. Lalu ia mendengar panggilan terputus.
Diego meletakkan ponselnya ke atas meja, lalu ia pergi menuju penjara bawah tanah. Dua orang pengawal yang ditempatkan di pintu mengganggukkan kepala ketika melihatnya dan segera membukakan pintu.
Diego tiba di depan jeruji Serge. Pria itu bangkit dari duduknya di lantai, lalu mendekat ke arah Serge.
"Akhirnya kau datang ... Lepaskan aku ... Kau menyelidiki sesuai yang kukatakan kan? Kau sudah tahu kebenarannya sekarang kan!? Sekarang lepaskan aku! Kau bajing** siala*," maki Serge
Ia melirik ke kandang sebelah ketika Lady Rose mengaum. Dengan satu kode dari jarinya, seorang pengawal mulai membuka kunci penjara Serge.
Serge menarik nafas panjang, " Syukurlah ... Ya Tuhan ... Sekarang dimana Maryku? Pertemukan aku dengannya!"
Ucapan Serge hanya mendapatkan tatapan datar dari Diego.
"Ikuti aku ... bersihkan dulu dirimu, lalu makanlah. Buat dirimu senyaman mungkin, Serge." Diego melangkah lebih dulu, mengajak Serge keluar dari ruangan itu.
Tanpa menunggu disuruh dua kali, Serge berjalan cepat meninggalkan penjaranya, melirik sebentar ke arah Lady Rose dan bergidik. Ia melangkah cepat, bahkan mendahului Diego menaiki tangga dan tiba lebih dulu.
N E X T >>>>
**********
From author,
Ikuti kisah selanjutnya ... Reaksi Mary melihat Alric.🤔🤔🤔
Jangan lupa tekan tombol like, tekan love, bintang lima, vote dan juga komentarnya. Agar lebih semangat lagi thor menulis kisahnya ya😘😘😘
Yuk, ajak temannya ikut baca kisah ini. Terima kasih banyak ya semua.
"Salam hangat, DIANAZ.
__ADS_1