
Perjalanan ke rumah sakit diwarnai dengan celoteh Annete dan Mary di kursi belakang mobil. Dua wanita itu mendiskusikan jenis kelamin bayi di dalam perut Mary. Alric duduk di samping sopir dan hanya mendengarkan. Keyakinannya sendiri tentang jenis kelamin bayinya adalah perempuan. Seorang bayi perempuan. Yang bermata biru dengan rambut coklat keemasan seperti Marylin.
"Perempuan ataupun laki-laki, sama saja, Mary Sayang. Kita doakan dia sehat, lahir ke dunia dengan lancar. Kau juga sehat dan melahirkan tanpa komplikasi apapun. Itu yang paling penting."
"Tapi, tentu kau punya tebakan, Ann. Kalau aku, aku menduga bayinya laki-laki?"
"Kenapa kau mengira begitu?"
"Karena aku mengalami hal yang sama seperti saat aku mengandung Leon. Aku tidak mengalami mual berlebihan, aku makan dengan lahap, tidak mengalami perasaan yang berbeda seperti saat aku mengandung Leon."
"Itu hanya dugaan. Bisa saja memang begitu pembawaanmu kalau sedang hamil. Agar kita tahu apakah memang begitulah pembawaanmu, kau bisa memiliki beberapa bayi lagi setelah ini. Jadi kau tahu apakah ada bedanya saat hamil Leon, hamil yang ini dan yang seterusnya." Annete tertawa renyah, ia menatap Mary yang terlihat mengernyit. Namun tak urung bibir Mary tersenyum agak malu.
"Yang ini saja belum lahir, Ann."
Annete menepuk pelan punggung tangan Mary. " Kuharap kau menikmati masa mengandungmu, Mary."
"Aku menikmatinya, Ann."
Alric melirik sekilas ke arah belakang ketika mendengar ucapan Mary.
"Kalau begitu tidak ada masalah jika memang suamimu mau mansionnya diisi dengan banyak bayi bukan?" Annete berbisik di telinga Mary. Membuat Mary tertawa malu mendengar ucapannya.
Alric yang hanya diam sambil membayangkan tentang bayinya mendengar tawa Mary dan akhirnya bertanya.
"Apa yang membuatmu geli, Mary?"
"Tidak. Tidak ada."
Annete ikut tertawa mendengar Mary yang berbohong. Wanita itu pasti malu jika Alric sampai tahu yang yang tadi ia bisikkan ke telinga Mary.
Alric membiarkan saja. Ia tahu pasti Mary tertawa karena sesuatu yang ibunya bisikkan, namun ia tidak akan memaksa istrinya itu mengatakannya. Dari wajah Mary yang merona, Alric tahu Mary akan malu bila dipaksa untuk mengucapkan apa yang tadi Ann bisikkan.
Mereka tiba di rumah sakit, dan langsung menuju ruang perawatan Catalina. Claude menerima mereka dengan senyum lebar.
"Mary, Catty menanyakanmu sejak tadi. Masuklah, temui dia."
Marylin mengangguk, lalu masuk lewat pintu kaca bersama Annete yang mengiring di belakangnya. Catalina yang berbaring dengan posisi setengah duduk di atas ranjang rumah sakit menyambutnya dengan kedua tangan terbentang lebar.
"Mary! Ann! Senangnya ...."
Marylin langsung menyambut pelukan lengan adiknya. Ia ganti mendekap dan bertanya.
"Kami juga senang. Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja," ucap Catalina.
Setelah keduanya melepas pelukan, ganti Annete yang mendekap dan mencium pipi Catalina.
__ADS_1
"Pipimu sudah terlihat cerah dan merona. Aku senang ... kau akhirnya pulih kembali, Lina sayang."
"Terima kasih, Ann." Lalu Catalina melirik ke arah perut kakaknya. "Dan bagaimana kabar keponakanku, Mary?"
"Dia sehat, Lina. Kami akan mengunjungi dokter Luigi setelah ini."
Mary melihat kedua bola mata adiknya melebar mendengar ucapannya. "Kalian akan melihat jenis kelaminnya bukan? Oh, aku tidak sabar. Semoga saja perempuan!"
Mary tertawa. "Kenapa kau berharap perempuan?"
"Karena Leonard laki-laki, maka sekarang aku berharap dapat keponakan perempuan. "
"Kita akan segera tahu nanti setelah Mary periksa," ucap Annete.
Di luar pintu kaca, Claude menatap Alric yang terus menatap ke arah ruang di balik kaca. Mereka duduk di sofa yang berada di tengah ruang tunggu khusus ruang perawatan Catalina.
"Kapan bayinya akan lahir, Alric?" tanya Claude, menyela lamunan pria itu.
"Oh!? Itu ... sekitar 2 bulan lagi, Claude."
Claude mengangguk. "Sudah tahu jenis kelaminnya?"
Alric tertawa kecil mendengar pertanyaan Claude.
"Mary tidak mau setiap kuajak periksa."
"Mumpung Mary di sini, ada yang ingin kulakukan. Mungkin Mary dan Ann bisa menjaga Catty sebentar?"
"Kita bisa tanya langsung pada mereka."
Claude dan Alric bergerak bersamaan ke pintu kaca. Mereka masuk dan tiga wanita di dalam sana langsung menolehkan kepala.
"Mary ... Ann ... aku ada keperluan, bisakah kalian tetap di sini sementara aku keluar? Tidak akan lama ...." Claude mulai meminta izin pada Mary dan Ann.
"Tidak!" Catalina menggelengkan kepalanya berulang kali. Matanya menatap khawatir ke arah Claude.
Semua mata menatap ke arah Catalina.
"Tidak, Claude. Kau tidak boleh pergi." Catalina kembali menggeleng.
"Cat ... hanya sebentar," bujuk Claude.
"Tidak. Mary akan periksa ke dokter Luigi, Ann akan menemaninya dengan Alric. Jadi ia tidak bisa menjagaku."
"Aku bisa menundanya. Tak apa. Pergi saja, Claude," ucap Mary.
"Tidak. Tidak boleh. Claude ...."
__ADS_1
Claude memandang mata biru Catalina yang tampak cemas dan khawatir. Merasa heran dengan perilaku gadis itu. Karena Claude tidak juga menjawab, Catalina menangkap mata Claude dan memberikan tatapan memohon.
"Claude, Please ...." bisiknya.
Claude luruh, tentu saja ia akan memenuhi keinginan gadis itu. Jadi ia mengangguk. Ia diam saja walau ia heran kenapa Catty bersikap begitu. Ia bertekad mengetahui jawabannya nanti, ketika para tamunya sudah pulang.
**********
"Aku mau segera keluar dari sini. Pergi mengunjungi Mary, jalan-jalan dengan Leon ... pergi belanja lagi dengan Yoan ... aku sungguh sudah bosan dengan bau rumah sakit," keluh Catalina ketika Mary dan suaminya serta Ann sudah pergi meninggalkan ruang perawatan.
Claude tersenyum. "Apa tidak ada satupun yang mau kau lakukan bersamaku? Kau mau mengunjungi Mary, jalan-jalan dengan Leon, belanja dengan Yoana ... Aku? Apa kau tidak mau melakukan sesuatu juga bersamaku?" tanya Claude dengan mengulang pertanyaannya.
"Tentu saja kau akan ikut denganku, apapun yang akan kulakukan. Kau akan bersamaku ketika mengunjungi Mary atau melakukan apapun setelah keluar dari sini."
Claude duduk di pinggir ranjang, lalu memegang tangan Catalina. "Catty ... katakan kenapa tadi kau tidak mau aku tinggal? Mary tidak keberatan menggantikanku sebentar tadi."
Catalina menghembuskan napas panjang dan berat.
"Karena aku tidak mau kau menemui wanita itu dan membuat perhitungan. Aku tahu Claude ... aku sudah mengingatnya sekarang."
"Wanita?"
"Ya. Kau akan mencarinya bukan?"
Tidak ada nama yang disebutkan di antara mereka. Tapi mereka tahu siapa yang dimaksud.
"Aku bukan akan mencarinya, Cat. Dia sudah ditangkap. Setelah kau masuk rumah sakit, Vincent sudah menghubungi Blaird dan menyelidiki keberadaan wanita itu. Ia baru saja akan bersiap-siap melarikan diri. Aku memang ingin menemuinya di selnya sekarang."
Catalina menggelengkan kepalanya. Ia tahu, jika ingin menghilangkan jejak Tania, Claude dapat melakukannya.
"Jangan lakukan, Claude. Dia punya seorang ibu yang sudah tua. Biarkan proses hukumnya berjalan sebagaimana mestinya."
Claude terpana, ia telah memikirkan puluhan cara untuk melenyapkan Tania Sweyn. Dan sekarang, dengan mata memohon, kekasihnya sendiri memintanya tidak melakukan itu. Hukuman penjara saja tidak termasuk dalam daftar hukuman yang ingin Claude berikan pada wanita itu.
"Untuk orang seperti Tania, penjara sudah merupakan hukuman yang amat berat. Ibunya tetap akan bisa menjenguknya di penjara nanti. Dia gelap mata karena mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu ... Jadi jangan melakukan hal apapun dengan menghilangkan jejak Tania dari pandangan ibunya, Claude."
Claude diam dengan wajah datar. Tidak bereaksi.
"Sekarang aku ingat ketika mobil itu melaju mendekat, aku sempat melihat wanita itu di balik kemudi. Aku seketika mengenalinya ... Kurasa saat itu ia menangis ... well, entah itu benar atau tidak, pandanganku langsung kabur dan aku langsung tidak sadarkan diri setelahnya."
Claude meraup tubuh Catalina, memeluknya erat dan menyandarkan kepalanya ke bahu gadis itu.
"Claude?"
"Diamlah, Catty ... Cepatlah sembuh. Begitu keluar dari sini, Aku akan segera membawamu menikah. Kita akan menikah. "
Catalina hanya tersenyum, ia mengulurkan kedua tangan, memeluk balik tubuh Claude dan menyandarkan kepalanya ke bahu pria itu.
__ADS_1
NEXT >>>>>
*******