
Catalina merapatkan jaketnya, setelah ia siap, ia mendatangi Leon yang sudah bersiap dengan jaket hoodie bersama Nanny yang menjaganya. Tangan montok Leon menggapai-gapai ke arahnya ketika melihat Catalina masuk. Bayi itu tampak lucu dan menggemaskan
"Kau tampan sekali ... Mommy makin sayang padamu, Leon. Muachhhhh." Ciuman mesra itu mendarat di pipi montok Leon bersamaan dengan pintu yang terbuka.
"Kalian sudah siap?" tanya Claude yang menatap tertarik pada bibir Catalina yang tengah mencium mesra pipi Leon.
"Kebiasaanmu buruk sekali. Apa kau tidak tahu cara mengetuk pintu?" tanya Catalina kesal.
Claude hanya tersenyum tanpa menjawab. Ia menunggu dengan memegang pintu agar tetap terbuka. Catalina memeriksa Leon untuk terakhir kali, lalu melangkah keluar dari kamar diikuti Nanny yang memegang tas Leon. Claude menyingkir ketika gadis itu akan lewat.
Setelah semua orang sudah berkumpul di depan Villa, Claude mengarahkan semuanya masuk ke dua buah mobil yang telah disiapkan oleh Vincent untuk keluarga Bernard dan dua mobil lain yang berisi para pengawal mereka. Yoana mengernyit melihat para pengawal itu, Vincent jadi sedikit paranoid setelah insiden percobaan penculikannya kemarin.
Vincent, Yoana, Simon dan Hamilton memilih satu mobil, dengan Vincent yang akan menyetir. Sedangkan Claude, Catalina dan Leon serta Nanny pengasuh Leon berada di satu mobil lain yang akan dikendarai oleh Bruno.
Mereka melaju menuju tanah keluarga Bernard tempat dua makam yang berdampingan berdiri di keheningan hutan pegunungan.
Catalina merapatkan jaketnya. Memandang berkeliling di sekitar pemakaman itu. Desau angin terasa dingin dan sejuk membelai pipinya.
"Hening dan sepi," ucap Catalina.
Claude mendengar dan bergumam. "Ayah dan Ibuku menyukai suasana ini ... tenang," ucapnya lirih.
Mereka sampai di makam bertuliskan Alissia Bernard dan Antonio Bernard. Yoana tampak menaruh buket bunga yang ia bawa di masing-masing makam. tak jauh dari makam, ada satu tempat duduk panjang dari beton. Hamilton dan Vincent telah duduk di sana tanpa bicara. Hanya memandang ke arah ke dua makam.
__ADS_1
Ketiga saudara itu berdiri sejajar di depan makam dalam diam. Catalina tahu, ketiganya pasti tengah berdoa untuk kedua orang tua mereka. Catalina sendiri berdiri tak jauh dari sana bersama Nanny. Leon tidak rewel, ia ikut memandang ke arah tiga orang yang masih berdiri di depan makam.
Yoana kemudian berbalik, ia menatap Catalina dan mengulurkan tangan.
"Kemarilah Lina ... bawa Leonard kesini," ujarnya pelan.
Catalina melangkah maju, ia baru saja akan memberikan Leon pada Yoana ketika Claude menariknya dan membuatnya berdiri di samping dua saudara itu, tangan Claude menahan bahunya agar tidak bergerak. Yoana hanya diam dan kembali menatap makam, membiarkan Leon tetap dalam gendongan Catalina.
"Mom ... Dad ... perkenalkan cucu kalian, Leonard Bernard. Dia putra Simon. Kami akan menjaganya di keluarga Bernard dengan baik, kalian pasti mau bertemu kan ... jadi kami ikut membawanya." Yoana berbisik lirih.
Claude memandang makam dan bicara sendiri dalam hati, memberitahu isi hatinya pada kedua orang tuanya yang telah tertidur dalam damai.
Mom ... Dad ... ini Catalina, ibu asuh Leonard . Aku mencintainya Mom, Dad. Sekarang dia belum mencintaiku, namun aku akan terus berusaha membuat perasaan yang sama tumbuh dalam hatinya. Kuharap kalian merestui, dia gadis yang sangat baik, penyayang dan penuh kasih. Kalian pasti akan mendukungku sepenuhnya jika saja kalian masih hidup dan dapat bertemu dengannya.
Simon Bernard selalu tampak paling sedih melebihi kedua orang saudaranya setiap mengunjungi makam kedua orang tuanya, ia tampak menghapus lelehan air mata yang tanpa sadar sudah menetes.
Simon tersenyum kecil ketika pikiran terakhir melintas di kepalanya. Kedua kakaknya sudah cukup sakit kepala mengurus semua tindakan kekanakan yang tak terhitung jumlahnya yang ia lakukan sejak ia remaja. Sekarang saatnya ia mandiri dan bekerja keras, ia sudah mempunyai seorang putra, jadi harus hidup bertanggung jawab. Hamilton akan membantu untuk mewujudkan keinginannya itu.
Vincent menyatukan kedua tangannya, ia membungkuk di tempat duduk dari beton yang berada tak jauh dari sana. Hamilton yang duduk di sebelahnya hanya diam dan tidak mengucapkan sepatah katapun sejak mereka sampai.
Apa kabar Anda, Tuan Antonio? Nyonya Alissia? Kuharap Anda berdua selalu berbahagia dalam damai dan ketenangan. Aku mengingat janjiku sampai saat ini Nyonya Alisssia ... aku akan menjaga keluarga anda dengan nyawaku, terutama putri anda satu satunya, Yoana ... sekali lagi, setiap datang kemari aku memohon maaf darimu Tuan Antonio, kau harus kehilangan istrimu karena aku ... wajar saja kau akhirnya tidak tahan melihatku dan mengusirku ... tapi aku tidak dapat meninggalkan keluarga Bernard, Tuan Antonio ... Maafkan aku, aku menjaga janjiku pada istri anda ....
Mata tua Hamilton menatap langit, membayangkan wajah Antonio dan Alissia Bernard di sana,
__ADS_1
Perjalananku masih sedikit panjang, Antonio ... putra dan putrimu belum ada yang menikah ... belum ada tempat bagi mereka melabuhkan hati, memberi dan menerima cinta dari seseorang yang akan menatap dengan penuh cinta seperti tatapan kalian satu sama lain. Namun, kalian punya seorang cucu sekarang. Leon ... putra Simon. Satu kesalahan si bungsu ini, yang membuat keluarga ini akhirnya berhati lembut dan makin dekat satu sama lain. Kehadiran bayi ini membawa perubahan yang baik ... Simon sudah mau berubah, Claude dan Yoana makin terlihat lembut, tidak lagi dingin dan pahit. Aku dengar Vincent juga tidak terlalu ekstrim lagi menghindari Yoana ... Ah, aku berharap semuanya membaik ... lihatlah selalu putra putri kalian dari atas sana, Antonio ... Alissia ....
Pandangan Hamilton lalu berlabuh pada Catalina. Angin yang berhembus menerbangkan rambut coklat keemasan gadis itu, Hamilton melirik pada telapak tangan besar yang menangkup bahu Catalina, pemandangan yang indah.
Apakah aku bisa berharap akhirnya Claude menemukan pelabuhan hatinya? Hamilton bertanya-tanya dan makin tertarik untuk melihat interaksi antara kedua orang itu.
Setelah mengucapkan doa mereka di dalam hati, satu demi satu mereka berpamitan pada Antonio dan Alissia Bernard. Catalina masih berdiri termangu di sana.
Halo ... aku Catalina Seymor. Aku merupakan bibi Leonard. Ibu Leonard adalah kakakku. Jangan menyalahkannya karena tidak mengasuh cucu kalian. Aku akan menggantikannya, mencintai dan menyayangi Leonard seperti putraku sendiri ....
Tepukan pada bahunya membuat Catalina menoleh.
"Ayo Catty ... sudah menjelang siang. Kita pulang," ucap Claude yang dijawab anggukan oleh Catalina. Gadis itu berbalik, berjalan mengikuti Claude ke arah mobil yang sudah menunggu mereka.
N E X T >>>
**********
From Author,
Maaf up lama Readers ... 🙏🙏🙏
Boleh minta tolong like, love, komentar, vote dan juga bintang limanya untuk novel author ini yah 🙏🙏🙏
__ADS_1
Terimakasih ...
Salam, DIANAZ