Embrace Love

Embrace Love
CH 79. Love rays


__ADS_3

Catalina tiba di depan bangunan bernama Love Rays, rumah yang dijadikan panti asuhan. Matanya berkilau, bersinar cerah penuh kerinduan, lalu pintu depan terbuka dan barisan anak-anak yang sudah berdiri rapi mulai bernyanyi dengan dipandu oleh suster Tina.


Catalina tertawa senang, ketika rombongan anak-anak itu mulai mengelilinginya sambil bertepuk. Claude yang menggendong gadis itu tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah gadis itu. Ia mencatat dalam hati, satu lagi ke dalam daftarnya, apa yang membuat Catalina bahagia.


"Ya Tuhan, Catalina. Kami semua merindukanmu." Suster Rebecca mendatangi dan mengulurkan tangan, saling menggenggam dengan Catalina.


"Sebaiknya kita masuk, atau Tuan yang menggendongmu akan mulai kesulitan." Suster Rebecca memandang Claude, lalu menatap kaki Catalina yang setengah tertutup rok gaunnya.


"Halo suster Rebecca. Kau tentu merindukan Leon." Yoana menyapa dan mendekatkan Leon.


"Ya ampun. Kau sudah besar, Leon sayang." Suster Rebecca mengelus pipi montok Leon dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


"Sudah setahun ... aku senang kau dan Mommymu baik-baik saja, Leon. Aku sempat khawatir karena Catalina tidak pernah menelepon. Hanya mengirim uang tanpa berita sama sekali," ucap Rebecca.


"Uang?" Catalina baru akan meminta penjelasan ketika Claude mulai berjalan dan membawanya masuk. Yoana dan Leonard juga mengikuti. Suster Rebecca mengarahkan anak-anak untuk ikut masuk ke aula.


Ruangan yang tidak terlalu besar itu penuh dengan anak-anak. Usia mereka beragam, anak yang berusia kecil langsung merengek, meminta potongan kue ulang tahun dan juga beragam makanan yang sudah disediakan di sana.


Acara kecil itu akhirnya dengan cepat dilangsungkan. Leonard yang selesai bersenang-senang dengan para anak kecil itu akhirnya lelah dan tertidur. Alunan musik, suara balon yang pecah, nyanyian dan permainan terus berlangsung. Catalina cukup puas hanya dengan menonton, keinginannya untuk ikut bermain harus ia tahan karena kakinya yang belum bisa ia gerakkan terlalu ekstrim.


Kaki kanannya yang retak telah menyatu dan diperbolehkan menapak untuk melatih kembali kekuatannya. Kaki kirinya yang patah sebenarnya juga sudah boleh digerakkan. Dengan tongkat penyangga, ia kadang melatih berjalan dengan bertumpu pada kaki kanan. Namun karena tidak berani terlalu membebani kaki kanannya yang baru sembuh dari retak, Catalina memilih menggunakan kursi roda.


Yoana memandang pada Claude yang duduk di sebelahnya, ingat untuk menanyakan perihal uang yang diterima suster Rebecca atas namanya.


"Uang yang dimaksud Suster Rebecca ... kaukah yang mengirimkannya?"


Claude menoleh, memandang Catalina dengan rasa sayang yang makin besar. Memikirkan gadis itu punya kebaikan hati sebesar ini untuk orang lain. Semua anak di sini mengenalnya, di sini Catalina menghabiskan waktunya lebih banyak dengan menjadi relawan, semua dimulai sejak kecil, bersama dengan ibunya yang kala itu masih hidup.


"Yoana yang mengirimnya. Waktu ia menculikmu, ia sempat datang kemari dan bertemu suster Rebecca. Mereka sempat berkomunikasi. Yoana mengirimkan donasi itu atas namamu."


"Ya ampun. Kenapa?"


"Menggantikan dirimu yang selalu hadir di sini untuk mereka. Kami berharap uang itu berguna untuk mereka."

__ADS_1


"Tentu saja akan sangat berguna untuk panti ini, Claude. Terima kasih. Harusnya kalian tidak perlu melakukannya."


"Gajimu terkumpul di rekening khusus untukmu, sesuai keinginanmu ketika kita menandatangani perjanjian untuk mengasuh Leon. Kuharap kau tidak akan pergi ... segera menjawab pertanyaanku tentang menemaniku sampai akhir. Katakan perasaanmu Catty ...."


Claude memandang Catalina dengan tatapan berbinar, tahu kalau ia membuat gadis itu malu dan mulai merona.


"It ... itu ...."


"Berhenti menggodanya Claude Bernard! Lagipula jika ia menjawab 'iya' sekarang. Pernikahan nya tidak akan dilangsungkan dalam waktu dekat. Aku tidak mau gaun pengantin spektakuler yang disiapkan desainerku nanti dipakai di atas kursi roda, atau digunakan dengan tongkat penyangga!" Yoana mengetuk kepala adiknya.


"Yoan ... pernikahannya bisa dilakukan nanti. Tapi suruh ia menjawabnya dulu," desak Claude.


"Jangan lakukan, Lina! Setelah kau menjawab, dia akan menciummu lalu memelukmu di depan anak-anak! Kau bayangkan saja nanti, mereka akan melotot ...."


Catalina tertawa. "Dia akan menciumku jika aku mengatakan iya, Yoan. Bagaimana jika aku menjawab tidak?"


"Maka pulang dari sini, aku akan mengajakmu langsung menikah. Tidak akan menunggu kakimu sembuh," jawab Claude.


Tawa Catalina langsung berhenti, ia mengerucutkan bibirnya. Yoana mendengus. "Aku percaya dia akan melakukan itu, Lina. Kau sudah tidak bisa kemana-mana, Miss Seymor."


Kedatangan Suster Rebecca dan beberapa anak mengalihkan pembicaraan itu.


Catalina menghabiskan sisa waktu kunjungan itu di sebuah bangku di taman samping rumah panti. Di kejauhan ia melihat Claude kembali bersama Yoana. Mereka mengapit suster Rebecca yang berjalan di tengah-tengah, terlihat bersemangat menjelaskan sesuatu.


"Lahan di belakang masih cukup luas. Kami bermaksud menambah gedung sehingga anak-anak punya kamar yang layak dan tidak berjejalan. Tapi sampai saat ini masih harus bersabar ...," ucap Suster Rebecca dengan tangan menunjuk lahan yang ia maksudkan.


"Catalina mewariskan sejumlah uang dari mendiang ibunya. Gadis itu bermaksud membantu membangun tambahan gedung baru di belakang. Mewujudkan mimpi ibunya. Ia menabung dan mengumpulkan donasi untuk panti ini."


"Lalu ia menerima bekerja di Eliza Hospital ... ia masih mengirimkan uang kemari," Suster Rebecca menatap lembut gadis yang duduk di bangku taman di kejauhan.


"Kenapa ia menggunakan uangnya untuk panti? Bukankah dirinya juga butuh uang?"


"Aku pernah menanyakannya. Dia mengatakan kebutuhannya sudah tercukupi. Dia tidak butuh kemewahan, yang dia butuhkan kebahagiaan. Dan berada di panti ini membuatnya bahagia. Kurasa karena ia hidup sendiri sejak ibunya tiada. Hubungannya dengan kakaknya tidak terlalu baik. Jadi ia merasa senang punya banyak adik yang harus ia urus di sini." Suster Rebecca mengakhiri penjelasannya. Lalu seorang anak memanggil, mengajak suster Rebecca masuk dan mengatakan sesuatu tentang air yang tumpah.

__ADS_1


"Aku permisi dulu," ucapnya. Yoana dan Claude tersenyum mengangguk.


"Leon sudah tidur. Apa tidak sebaiknya kita pulang?" tanya Yoana.


"Kurasa begitu. Sebentar lagi kita pamit." Claude memandang ke belakang panti, lahan yang dimaksudkan akan dibuat gedung tambahan oleh suster Rebecca.


"Menurutmu ... jika gedung tambahan itu dibangun dari sekarang, apa akan selesai ketika kaki Catalina sembuh dan dapat berjalan sempurna?"


"Kenapa? Dokter tulangnya mengatakan, dalam waktu empat bulan setelah operasi diharapkan Catalina sudah benar-benar sembuh total. karena patah tulangnya merupakan jenis patah tulang tertutup. Akan butuh waktu lama jika yang kena adalah tulang paha, apalagi bila patah tulang terbuka, mungkin butuh waktu sampai enam bulan. Memangnya kenapa?" Yoana mendongak menatap Claude.


"Apa gedung baru yang diimpikan Catalina itu akan menjadi kejutan bila dijadikan hadiah pernikahan? Kurasa gadis itu tidak akan terkesan dengan berlian, mobil mewah atau benda-benda seperti itu ...." Claude menatap kakaknya yang menyunggingkan senyum.


"Baru kali ini aku mendengar ide mengejutkan yang luar biasa darimu, Claude. Bukan saja jadi kejutan. Kau akan membuat Cattymu yang cantik itu makin sayang dan juga mencintaimu," ucapnya.


Claude tersenyum lebar. "Jadi kau akan mengurus pernikahannya kan," ucapnya senang.


"Tentu saja. Lagipula ini akan sangat menarik, unik dan juga spektakuler,"


"Jangan berlebihan, Yoan. Aku tidak ingin Catty merasa tidak nyaman di pernikahannya sendiri. Aku hanya ingin cepat-cepat menikah. Jangan membuatnya sulit dengan hal aneh dan merepotkan."


"Itu bukan urusanmu! Kali pertama ada pernikahan di keluarga Bernard, antara kita bertiga, maka akan jadi berita utama paling tidak berminggu-minggu!" Lalu Yoana melenggang, meninggalkan Claude yang menepuk kening mendengar ucapan kakaknya itu.


N E X T >>>


**********


From Author,


Hai hai .... tunggu lanjutannya ya, kisah Mary menjelang. Nanti pas Mary, jangan kangenin Catty ya, soalnya Mary berada jauh, di negara lain dan terpisah dari semua orang.Tapi jangan khawatir, Cat bakal muncul juga kok.


Like, love, bintang lima, vote and komentarrnya, author tunggu... cup, salam manis๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Terima kasih ya,

__ADS_1


Salam, DIANAZ.


__ADS_2